Skip to Content

Sastra Populer

Foto Uman Rejo SS

MERAMBAH DUNIA SASTRA POPULER

 

Pengantar

Pembicaraan tentang sastra populer di Indonesia sering dikontestasikan dengan pembicaraan tentang sastra serius. Penggunaan istilah “sastra serius” ini sangat tidak kritis dan problematis. Kontestasi populer/serius tidak pas. Dalam ranah musik tidak ada kontestasi antara musik pop dengan “musik serius”. Dalam ranah budaya tidak ada kontestasi antara budaya pop dengan “budaya serius”. Hanya dalam ranah sastra Indonesia istilah “sastra serius” menjadi latah dalam setiap lidah para pembicaranya.

Istilah populer yang mengacu pada populus lebih cocok dikontestasikan dengan istilah elit, kanonik, atau klasik. Menurut The Grolier International Dictionary. Vol. 2, (1986: 1020), popular berarti:

1. Widely liked or appreciated. 2. Liked by friends, associates, or acquaintances; sought after for company. 3. Of, representing, or carried on by common people or the people at large. 4. Fit for or reflecting the taste and intelligence of the people at large. 5. Accepted by or prevalent among the people in general. 6. Suited to or within the means of ordinary people. 7. Originating among the people (Latin popularis, of the people, from populus, people).  

Sedangkan menurut Peter Nagourney, “popular literature is a specialized simplification, a catch-all phrase usually including whatever texts–”best-sellers”–happen to be commercially successful in the culture at any time.”

Menurut The Grolier International Dictionary. Vol. 1, (1986: 423-424), elite berarti: “1. The best or most skilled members of a given social group. 2. A narrow and powerful clique (Latin eligere, elect).” Menurut Peter Nagourney, “elite literature assumes a hierarchy of “texts” based upon the imposition of distinction, conferring admission to the pantheon of classics, by a relatively small group of critics and teachers.” Menurut The Grolier International Dictionary. Vol. 1, (1986: 197), canon berarti:

1. An ecclesiastical law or code of laws established by a church council. 2. A secular law, rule, or code of law. 3. A basis for judgement, standard, criterion. 4. The book of the Bible officially recognized by the church. 5. The part of the Mass beginning after the Sanctus and ending just before the Lord’s Prayer. 6. The calendar of science accepted by the Roman Catholic Church. 7. An authoritative list, as of the works of an author. 8. Music. A composition or passage in which the same melody is repeated by one or more voices, overlapping in time in the same or a related key. 9. Printing. A size of type, 48-points (Latin canon, measuring line, rule, model, from Greek kanon, rule).

Dalam buku The Western Canon: The Books and Schools of the Ages (1994), Harold Bloom menempatkan Shakespeare sebagai pusat kanon budaya barat yang menjadi basis penilaian, standar, dan kriteria bagi para penulis lainnya.

Menurut The Grolier International Dictionary. Vol. 1, (1986:248), classic sebagai kata sifat berarti:

1. Of the highest rank or class. 2. Serving as an outstanding representative of its kind, model. 3. Having lasting significance or recognize word. 4. Pertaining to ancient Greek or Roman literature or art, classical. 5. Of or in accordance with establish principles and methods in the arts and sciences. 6. Of lasting historical or literary significance.

Sedangkan sebagai kata benda berarti:

1. An artist, author, or work generally consider to be of the highest rank or excellence. 2. Plural. The literature of ancient Greece and Rome. 3. Something considered to be typical or traditional.

Sebagaimana halnya dalam dunia sosial dikenal istilah elit sosial, dalam dunia musik dikenal istilah musik klasik, dan dalam dunia religi dikenal istilah kitab kanonik. Begitu pula dalam dunia budaya dikenal istilah budaya adiluhung (elite/high culture) yang dikontestasikan dengan budaya populer (popular/low culture). Kenapa dalam dunia sastra Indonesia lebih latah memilih istilah “sastra serius”?

Istilah sastra elit bagi sastra Indonesia mungkin terdengar ironis, karena baik para sastrawan maupun para ahli sastra Indonesia tidak elit samasekali. Dunia sastra Indonesia identik dengan dunia kemiskinan. Baik para sastrawan maupun para ahli sastra Indonesia adalah para pekerja sastra sampingan, karena dunia sastra Indonesia tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri. Dunia menyebalkan semodel itu bagaimana bisa disebut elit yang merepresentasikan kekayaan dan kekuasaan. Dengan demikian istilah sastra elit tidak cocok buat sastra Indonesia.

Dalam ranah religi, sastra Indonesia juga tidak mengenal istilah kitab kanonik, yang ada istilah “kitab kuning”. Betapa tidak kritisnya istilah “kuning” yang mengacu pada warna kualitas rendah jenis kertasnya, bukan pada kualitas isi dan jenis kitabnya seperti pada istilah “kanonik”. Istilah sastra kanon tidak lazim bagi lidah sastra Indonesia.

Begitu pula dengan istilah sastra klasik yang mengacu pada kualitas tinggi sastra Yunani dan Romawi di belahan dunia barat tidak menjadi alusi historis sastra Indonesia. Tidak heran jika istilah sastra klasik tidak digunakan dan lebih suka menggunakan istilah “SASTRA SERIUS”. Kasihan sekali!

 

Sastra Populer

Sastra populer dapat difahami secara negatif sebagai sastra yang tidak elit, tidak kanonik, dan tidak klasik. Dalam ranah sastra Indonesia, sastra populer dapat pula difahami secara negatif sebagai sastra yang tidak serius, main-main, dan “gak penting gitu loh”. Dengan demikian, sastra populer boleh diabaikan oleh kaum elit sosial, elit intelektual, dan elit akademis dalam dunia sastra. Apa yang dapat diperoleh dari mempelajari, mengkaji, dan meneliti sastra yang tidak serius, main-main, dan tidak penting itu? Dengan kecongkakan elitisme akademik tentu saja jawabannya: Tidak ada! Lalu kenapa sastra populer digemari orang banyak? Lagi-lagi dengan kecongkakan elitisme akademik, jawabannya: orang kebanyakan itu awam, berselera rendah, dan bukan ahli sastra.

Begitulah posisi sastra populer dalam sistem budaya hirarkis yang tidak demokratis. Populer yang identik dengan “merakyat” dianggap rendah, tidak indah, dan bahkan salah. Kasihan sekali! Elit sastra Indonesia lebih suka memuja-muja sastra serius, walaupun tidak laku di pasaran akan tetapi hingar-bingar di mimbar-mimbar. Akibatnya kehidupan sastra serius Indonesia selalu membutuhkan penopang dan subsidi silang demi kelangsungannya. Inilah representasi ketimpangan budaya Indonesia! Yang komersial dianggap sial-dangkal, yang tidak laku dianggap bermutu.

 

Dekonstruksi Perspektif

Perspektif yang meninggikan sastra elit dan merendahkan sastra populer semodel itu sudah sepatutnya didekonstruksi. Elit sastra perlu merakyat, menyimak sastra populer adalah menyimak suara rakyat. Sebaliknya mengelu-elukan sastra elit dengan berbagai teori dan metodologi hanyalah mendengarkan suaranya sendiri yang menggema. Mana yang lebih ilusif dan absurd, menganggap gema suara sendiri sebagai suara liyan, atau menganggap suara liyan sebagai impian? Sastra elit dianggap dekat dengan realitas, dan sastra populer dianggap eskapis baik secara realis, historis, maupun futuris. Sastra elit diperlakukan sebagai ajaran; sastra populer sebagai hiburan. Kenapa elit lebih menyukai ajaran, dan rakyat lebih menggemari hiburan? Karena dengan ajaran itulah elit mengindoktrinasi, memanipulasi, dan menguasai cita-rasa rakyat. Sedangkan dengan hiburan, rakyat meresistensi, melarikan dan membebaskan diri dari elitisme budaya semodel itu. Dalam bidang apapun elitisme adalah representasi dari kooptasi dan korupsi. Begitu pula dalam bidang sastra.

Estetika dan poetika sastra elit mengkooptasi dan mengkorupsi cita-rasa populer dengan cara meminggirkan, merendahkan, dan menihilkan nilai-nilainya. Teori dan metodologi elit sastra mengeluarkan sastra populer dengan kriteria dan standardisasi artifisialnya.

 

Hirarki/Heterarki

Berpikir hirarkis telah menjadi kebiasaan buruk dalam dunia akademik. Elit/populer, tinggi/rendah, baik/buruk, dan sebagainya, seolah-olah kokoh pada posisinya masing-masing. Elit tidak populer dan populer tidak elit; tinggi tidak rendah dan rendah tidak tinggi; baik tidak buruk dan buruk tidak baik. Cara berpikir demikian tidak memberi peluang bagi cara berpikir heterarkis. Dalam cara berpikir heterarkis, elit bisa menjadi populer dan populer bisa menjadi elit, tinggi bisa menjadi rendah dan rendah bisa menjadi tinggi, baik bisa menjadi buruk dan buruk bisa menjadi baik.

Berpikir hirarkis mengukuhi oposisi biner secara statis; sedangkan berpikir heterarkis mendekonstruksi oposisi biner secara dinamis. Dengan cara berpikir heterarkis mudah difahami jika terjadi pertukaran posisi-posisi oposisi biner. Logika heterarkis ini juga berkaitan dengan dinamika historis. Misalnya dalam sejarah kesusastraan Inggris pada awalnya novel adalah genre sastra populer karena pada awal kemunculan novel, sastra elit didominasi oleh roman. Baru kemudian bersamaan dengan naiknya kelas menengah borjuis ke dalam elit sosial, novel mulai masuk ke dalam ranah sastra elit. Sedangkan dalam ranah sastra Indonesia tidak memiliki perbedaan historis yang signifikan antara roman dan novel.

Dengan cara berpikir heterarkis tersebut keberadaan sastra elit yang populer dan sebaliknya sastra populer yang elit menjadi mudah difahami, dan bukan sebagai contradictio-in-terminis. Akan tetapi jika menggunakan cara berpikir hirarkis yang statis, persoalan tersebut adalah sebuah kemustahilan.

 

Konsep Teoretis

Pembicaraan tentang sastra populer tentu saja mengacu pada konsep-konsep teoretis. Misalnya konsep genre dan formula. Menurut The Grolier International Dictionary. Vol. 1 (1986:550), genre berarti:

1. Type, class, variety 2. A category of art distinguished by a definite style, form, or content, especially a style of painting concern with the picking scenes and subjects of common everyday life. A distinctive class or category of literary composition (Latin genus, race, kind).

Genre menurut Paul DiMaggio, perlu dibuat dalam paradigma produksi konsumsi. Dari segi produksi, genre ibarat menu yang ditawarkan oleh produser, sedangkan dari konsumsi genre merupakan pilihan yang ditentukan oleh konsumen. Genre sastra populer sebenarnya sangat bervariasi. Sebagai salah satu genre sastra populer yang paling dominan adalah novel populer.

Drama populer lebih dikenal dengan nama teater rakyat. Dalam ranah kesusastraan Inggris lebih dikenal dengan istilah melodrama yang dikontestasikan dengan great drama. Menurut Earl F Bargainner, melodrama sebagai formula memiliki struktur naratif yang meliputi:

1. The dramatic use of the shortest route. 2. To arrive at a state of completeness. 3. The state being one of virtue triumphant and evil defeated, and 4. The producing throughout the course of the play, of immediate identifying emotions-shared images, meanings, and values—5. For a wide and unsophisticated audience.

Melodrama memiliki genre-genre yang meliputi melodrama militer dan pelaut, melodrama pabrik, melodrama komedi, melodrama sensasi, melodrama perang, melodrama domestik, melodrama gotik, melodrama extravaganza, dan lain-lain. Dalam drama televisi Indonesia antara lain Extravaganza di Trans TV, Kabaret di TV One, dan lain-lain. Adapun puisi populer lebih dikenal dengan nyanyian rakyat. Oleh karena itu tidak mengherankan jika pembicaraan tentang sastra populer didominasi oleh novel populer.

Ada tiga genre utama novel populer, yaitu novel detektif, novel horor, dan novel porno. Dan tentu saja ada genre hibrida dari genre utama tersebut. Baik novel detektif, novel horor, maupun novel porno memiliki formulanya masing-masing. Novel detektif digerakan oleh keingintahuan, novel horor digerakkan oleh ketakutan, dan novel porno digerakan oleh kesenangan. Sedangkan turunan hibridanya antara lain novel misteri, novel sain-fiksi, dan roman picisan (percintaan), novel petualangan, novel koboy, dan lain-lain.

Genre novel populer yang menggabungkan media kata dan citra dikenal dengan istilah graphic novel atau komik. Keberadaan komik atau novel bergambar ini semakin terpinggirkan dari ranah sastra, dan bahkan dianggap sekedar bacaan anak-anak dan bukan sastra sama sekali. Komik silat misalnya, membentuk ekistensinya sendiri di luar ranah sastra. Sedangkan komik yang diadaptasi dari novel sastra lebih eksis dalan ranah sastra anak-anak.

Formula menurut The Grolier International Dictionary. Vol. 1 (1986:517), berarti:

1. An established form of words or symbols for use in a ceremony or procedure. 2. An utterance of conventional notions or beliefs, a hackneyed expression, cliché. 3. Chemistry. a. A symbolic representation of the composition or of the composition and structure, of a chemical compound. b. The chemical compound so represented. 4. A prescription of ingredients in fixed proportion recipe. 5. A liquid food prescribed for an infant and containing most required nutrients. 6. A mathematical statement, especially an equation, of a rule, principle, answer, or other logical relation. (Latin formula, diminutive of forma, form).

Sedangkan menurut John Cawelti, a literary formula is a structure of narrative or dramatic conventions employed in a great number of individual works. Istilah formula memiliki dua pengertian: “1. The first usage simply denotes a conventional way of treating some specific things or person. 2. The second common literary usage of the term formula refers to larger plot type.” Pada pengertian kedua ini oleh para ahli sering dinamakan archetypes, pola yang muncul dalam banyak kebudayaan yang berbeda.

 

Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian sastra populer dapat dikelompokkan ke dalam tiga metode utama yaitu metode penelitian tekstual, metode penelitian produksi-konsumsi, dan metode penelitian pembaca. Penelitian sastra populer secara tekstual mengacu pada formalisme, kritisisme baru, dan strukturalisme. Penelitian produksi-konsumsi sastra populer mengacu pada sosiologi dan psikologi sastra. Sedangkan penelitian pembaca sastra populer mengacu pada estetika resepsi dan respon pembaca. Di samping metode-metode tersebut, penelitian sastra populer juga mengacu pada metode-metode postrukuralisme.

 

Membaca Sastra Populer

Membaca karya sastra dapat dipilah ke dalam dua kategori: (1) membaca sebagai ajaran (reading for understanding) dan (2) membaca sebagai hiburan (reading for enjoyment). Kategori pertama digunakan dalam membaca karya sastra elit; sedangkan kategori kedua digunakan dalam membaca karya sastra populer. Dengan menggunakan cara berpikir hirarkis, membaca karya sastra elit itu interpretif, kritis, dan serius; sedangkan membaca karya sastra populer itu eskapis, sepintas-lalu, dan main-main. Meskipun demikian, dengan menggunakan cara berpikir heterarkis, kategorisasti tersebut dapat dipertukarkan. Membaca karya sastra populer dapat dilakukan secara interpretif, kritis, dan serius, misalnya dalam konteks pembacaan akademik.

Menurut Gregory H Singleton sebagai model pengkajian yang “subtle elitist predilections and the dominance of methods of literary criticism.” Pengkajian sastra populer dapat juga dilakukan secara populer dalam bentuk esei maupun kritik sastra populer seperti yang banyak dilakukan di media masa. Sebaliknya, membaca sastra elit pun dapat dilakukan secara eskapis, sepintas-lalu, dan main-main, misalnya dalam konteks mengisi waktu senggang.

Dengan cara berpikir tersebut sudah sepatutnya membaca sastra populer dalam konteks akademis sebagai tugas mata kuliah, dilakukan secara interpretif, kritis, dan serius. Bukan sekedar hiburan, tetapi menjadi ajaran yang bisa dipetik dari pengkajian sastra populer. Seperti yang dilakukan dalam membaca roman. Kenapa roman dikategorikan ke dalam roman ideal dan roman gagal? Menurut Janice A Radway, roman ideal memiliki struktur naratif yang meliputi:

1. The heroine’s social identity is destroyed. 2. The heroine reacts antagonistically to an aristocratic male. 3. The aristocratic male responds ambiguously to the heroine. 4. The heroine interprets the hero’s behavior as evidence of purely sexual interest in her. 5. The heroine responds to the hero’s behavior with anger or coldness. 6. The hero retaliates by punishing the heroine. 7. The heroine and hero are physically and/or emotionally separated. 8. The hero treats the heroine tenderly. 9. The heroine responds warmly to the hero’s act of tenderness. 10. The heroine reinterprets the hero’s ambiguous behavior as the product of previous hurt. 11. The hero proposes/openly declares his love for/demonstrates his unwavering commitment to the heroine with a supreme act of tenderness. 12. The heroine responds sexually and emotionally. 13. The heroine’s identity is restored.

Struktur naratif tersebut tersusun dalam oposisi biner secara diametral yaitu no 1 beroposisi dengan no 13, no 2 dengan no 12, dan seterusnya. Sedangkan dalam roman gagal tidak terstruktur dengan baik seperti halnya dalam roman ideal. Disamping itu, roman ideal merupakan dunia janji-janji patriarki, sedangkan roman gagal merupakan permasalahan sehari-hari patriarki.

Roman ideal adalah roman yang baik dan memuaskan pembaca. Sebaliknya, roman gagal adalah roman yang buruk dan mengecewakan pembaca. Eskapisme dianggap menyenangkan karena ada jarak estetik dengan realitas kehidupan pembaca. Sebaliknya, realisme dianggap membosankan karena sekedar pengulangan realitas kehidupan sehari-hari. Eskapisme menawarkan mimpi, fantasi, dan harapan yang berbeda dengan realitas sehari-hari. Sedangkan realisme menjejali pembaca dengan realitas sehari-hari yang biasa-biasa saja.

Tidaklah mengherankan jika sastra elit memiliki segmentasi pembaca yang berbeda dengan sastra populer. Perbedaan segmentasi tersebut mestinya disikapi secara demokratis dan heterarkis, bukan disikapi secara birokratis dan hirarkis. Sikap demokratis dan heterarkis ini penting untuk menjembatani kesenjangan antara elitisme dan populisme baik dalam ranah sastra maupun sosial-budaya.

 

Simpulan

Secara terminologis istilah sastra populer juga disinonimkan dengan sastra massa (mass literature). Istilah sastra massa tidak sekokoh istilah media massa, begitu pula istilah budaya massa (mass culture) tidak sekokoh istilah budaya populer. Ketika Leo Lowenthal menjuduli bukunya, Literature and Mass Culture (1984), isi bahasannya tentang budaya populer. Begitu pula dalam konteks sastra, mass literature mengacu pada popular literature seperti dalam judul tulisan Peter Nagourney, “Elite, Popular and Mass Literature”. Istilah tersebut lebih sesuai dikontestasikan dengan sastra elit (elite literature) bukan dengan sastra serius. Sedangkan secara pragmatis, dalam ranah penerbitan sastra populer dikontestasikan dengan sastra klasik.

Teori yang digunakan dalam penelitian sastra populer dapat mengacu pada formalisme, kritik sastra baru, strukturalisme, dan postrukturalisme. Sedangkan metodologi penelitian sastra populer dapat mengacu pada orientasi penelitian tekstual, penelitian produksi-konsumsi, dan penelitian pembaca.

Perihal genre Cawelti menawarkan teori formula yang dapat diterapkan untuk mengklasifikasikan sastra. Sedangkan menurut DiMaggio, sistem klasifikasi seni perlu dilakukan dalam paradigma produksi-konsumsi. Dengan demikian klasifikasi genre sastra tidak hanya berdasarkan kajian tekstual dengan mempertimbangkan formula yang ditawarkan oleh Cawelti, akan tetapi juga memperhitungkan peran produsen sebagai penyedia menu sastra serta peran konsumen sebagai penikmat menu sastra tersebut. ***

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler