Skip to Content

Permainan Kohesi dalam 100 Jam Karya Amalia Suryani dan Andryan Suhardi: Sebuah Telaah Stilistika

Foto Uman Rejo SS
  1. Pengantar

Sastra dan bahasa memunyai hubungan yang sangat erat. Karena adanya sastra itu berasal dari bahasa. Medium utama sastra itu berasal dari bahasa. Mengaji karya sastra berarti mengaji juga bahasanya. Ini merupakan konsep dari sebuah kajian stilistika. Menurut Sariban (2009: 144) penelitian stilistika lebih dapat dikembangkan secara luas dengan cara meneliti unsure-unsur linguistic dalam karya sastra. Penelitian stilistika berusaha mengungkap makna karya sastra dari gejala eksotis bahasa yang dipakai.

Teori yang dipergunakan untuk mengaji stilistika itu sangat luas. Tidak hanya gaya bahasa, majas, diksi atau pilihan leksikal, atau pola gramatikal saja. Tetapi stilistika juga memiliki kaitan dengan ilmu atau teori-teori yang lain yang dianggap relevan. Menurut Ratna (2009: 217) ilmu atau teori yang dianggap relevan diantaranya teks (wacana), hermeneutika, estetika, semiotic, dan postrukturalisme.

Pada kajian ini saya akan menggunakan teori teks (wacana) dalam mengaji novel “100 Jam” karya dua pengarang ini yaitu Amalia Suryani dan Andryan Suhardi. Teori teks (wacana) dalam hal ini, hanya saya fokuskan pada pemanfaatan unsure kohesinya saja. Karena makna sebuah wacana tidak semata-mata ditentukan oleh stuktur bahasa melainkan adanya kohesi dan koherensi yaitu keserasian hubungan antarunsur dan masuk akal (Ratna, 2009: 200).

 

  1. Pembahasan

Dalam sebuah karya sastra (khususnya novel) itu selalu terdapat yang namanya kalimat. Kalimat dalam sebuah novel ditulis oleh pengarang itu saling mengaitkan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya. Keterkaitan antar kalimat-kalimat itu yang masing-masing mengandung gagasan, tidak mungkin disusun secara acak, pasti selalu berhubungan. Antarunsur tersebut dihubungkan oleh unsure makna atau unsure semantic. Menurut Halliday dan Hasan (dalam Nurgiantoro, 2010: 306) bahwa hubungan semantic merupakan bentuk hubungan yang esensial dalam kohesi yang mengaitkan makna-makna dalam sebuah teks (sastra). Hubungan inilah yang dalam ilmu bahasa disebut dengan kohesi atau keutuhan.

Dalam novel “100 Jam” ini banyak sekali memanfaatkan bentuk-bentuk hubungan semantic seperti yang dijelaskan di atas. Menurut Nurgiantoro (2010: 306) hubungan semantic itu dibedakan menjadi dua yaitu hubungan yang bersifat eksplisit dan hubungan yang bersifat implicit. Hubungan yang bersifat eksplisit biasanya ditandai oleh kata penghubung, atau kata-kata tertentu yang bersifat menghubungkan, namun mungkin juga hanya berupa hubungan kelogisan. Sedangkan kalau hubungan yang bersifat implicit yaitu hubungan yang disimpulkan sendiri oleh pembaca.

“Kebakaran … kebakaran …”

Sayup-sayup suara itu terdengar, rasanya seperti dating dari kejauhan.

“Kebakaran … kebakaran …”

Perlahan teriakan-teriakan semakin jelas.

Nada panic dan cemas yang terbang bersama suara gaduh itu semakin mencekam.

Tangan kecil Meynar mulai sedikit bergerak.

(halaman 5)

 

Pada kutipan di atas, jelas terdapat hubungan semantic yang bersifat eksplisit. Karena pada kutipan tersebut ditandai dengan adanya kata penghubung seperti dan dan. Untuk menentukan lebih lanjut unsure kohesi yang terdapat dalam novel “100 Jam” ini saya mengikuti saran dari Nurgiantoro. Bahwa untuk mengungkapkan penggunaan bentuk-bentuk kohesi dalam sebuah karya sastra (novel) diperlukan adanya penyiasatan (Nurgiantoro, 2010: 306).

 

  1. Penanda Kohesi

Penghubungan antarunsur sebuah teks (novel) pada hakikatnya merupkaan penghubungan makna dan referensi, namun orang lebih melihatnya dari segi sarana formal sebagai penanda hubungannya (Nurgiantoro, 2010: 306). Menurut Leech dan Short (dalam Nurgiantoro, 2010: 306-307) penanda hubungan dalam kohesi itu ada dua macam yaitu sambungan (linkage) dan rujuk-silang (cross-reference).

Dalam novel “10 Jam” penanda kohesi yang berupa sambungan dalam bahasa Indonesia banyak sekali dan berbeda-beda fungsinya. Penanda kohesi yang berupa kata penghubung.

Meynar kecil langsung terbangun dan terduduk (halaman 5)

Lidah-lidah Si Jago Merah sudah melumat beberapa tiang kayu dan dinding pondok (halaman 6)

Bagai Sang Surya menyinari dunia (halaman 8)

Seorang Hansip sempat melihat mereka, namun tak berdaya karena para preman langsung menghilang di kegelapan malam (halaman 9)

 

Dan banyak lagi pennda kohesi yang berupa kata penghubung yang bias ditemukan dalam novel “100 Jam” ini. Selanjutnya, penanda kohesi yang menghubungkan antarkalimat yang terdapat dalam novel ini.

Sesungguhnya Topan, delapan tahun, yang dating di suatu malam diantar angin badai yang ganas (halaman 11)

Tapi yah … sepertinya didikan itu kurang berhasil buat Jasmine (halaman 12)

Dan akhirnya … tiba juga tahun ini (halaman 14)

Jadi itu yang bikin Beni shock berat (halaman 22)

 

Jadi dalam hal ini, bisa ditemukan dalam novel “100 Jam” ini. Selanjutnya penanda kohesi yang menghubungkan antarkalimat yang terdapat dalam novel ini. Jadi dalam hal ini, bisa dikatakan pengarang novel “100 Jam” ini Amalia Suryani dan Andryan Suhardi sangat royal dengan pemanfaatan unsur kohesi yang sambungan.

Selanjutnya penanda hubungan kohesi yang kedua yaitu rujuk-silang (cross-reference). Dalam novel “100 Jam” ini ditemukan pemnfaatan rujuk-silang tersebut. Rujuk-silang merupakan penyebutan kembali sesuatu yang telah ditampilkan sebelumnya (Nurgiantoro, 2010: 307). Rujuk-silang bisa berupa pengulangan kata atau kelompok kata yang sama.

Kebakaran!!! Kebakaran!!! Keluar!!! Kebakaran!!! Semua keluaaar!!! (halaman 5)

Toloooong!!! Tolong kami!!! Toloong!!! Kami didalam!!!(halaman 6)

Kami selamat … kami pasti selamat! Ya Tuhan … selamatkan kami. Selamatkan kami …, si Ibu terus berdoa dalam hati (halaman 8)

Namanya Jasmine. Jasmine saja, tanpa nama belakang. Jasmine pernah bertanya kenapa namanya harus terdiri dari satu kata (halaman 11)

 

Dan masih banyak lagi pemanfaatan rujuk-silang yang berupa pengulangan kata atau kelomopok kata dalam novel “100 Jam” ini. Menurut Leech dan Short (dalam Nurgiantoro, 2010: 308) penggunaan kohesi rujuk-silang sebagai sarana memeroleh efek estetis dalam karya sastra biasanya ditempuh melalui dua cara yaitu pengulangan ekspresif dan variasi anggun atau variasi elegan. Pengulangan ekspresif sama dengan repetisi.

Repetisi merupakan salah satu cara untuk memertahankan hubungan kohesi antarkalimat. Hubungan itu dibentuk dengan mengulas sebagian kalimat. Pengulangan yang berlebihan dapat membosankan. Pengulangan itu berarti memertahankan ide atau topic yang sedang dibicarakan. Dengan mengulang, berarti terkait antara topic kalimat yang satu dengan kalimat sebelumnya yang diulang (Rani dkk, 2010: 130).

Kebakaran!!! Kebakaran!!! Keluar!!! Kebakaran!!! Semua keluaaar!!! (halaman 5)

Toloooong!!! Tolong kami!!! Toloong!!! Kami didalam!!!(halaman 6)

Kami selamat … kami pasti selamat! Ya Tuhan … selamatkan kami. Selamatkan kami …, si Ibu terus berdoa dalam hati (halaman 8)

Namanya Jasmine. Jasmine saja, tanpa nama belakang. Jasmine pernah bertanya kenapa namanya harus terdiri dari satu kata (halaman 11)

Ada Yoga, tiga belas tahun, yang ditemukan dalam sebuah boks di kali tak jauh dari parit dengan kaki membiru dan mengeriput karena terlalu lama terendam air. Ada Biru, dua belas tahun, yang terbungkus kain bedong warna biru. Ada juga Febri, enam belas tahun, yang datang di bulan Februari 16 tahun silam. Ada Jasmine, yang tiba saat bunga melati dipekarangan panti sedang mengobral aroma khasnya yang wangi, segar, dan manis (halaman 11-12)

 

Dan masih banyak lagi pemanfaatan rujuk-silang melalui pengulangan ekspresif atau repetisi dalam novel “100 Jam” ini. Selanjutnya penggunaan rujuk-silang melalui variasi anggunatau variasi elegan. Menurut Nurgiantoro (2010: 309) variasi anggun sebenarnya juga mendasarkan diri pada prinsip pengulangan, namun dengan memergunakan bentuk pengungkapan lain. Pengungkapan lain di sini bisa berupa penggunaan bentuk-bentuk sinonim (khususnya sinonim berdasarkan kelayakan konteks).

  1. Bentuk Penggantian dan Pengurangan

Menurut Leech dan Short (dalam Nurgiantoro, 2010: 307) kohesi pun mengenal adanya prinsip penggurangan atau penggantian, yaitu prinsip yang memungkinkan kita untuk mengangkat apa yang akan disebut kembali atau untuk menghindari pengulangan bentuk yang sama. Dalam novel “100 Jam” ini bentuk penggantian atau pengurangan yang dipergunakan banyak memakai kata ganti persona.

Tangan kecil Meynar mulai bergerak, sepasang matanya yang lucu mulai terbuka membentuk bulan sabit (halaman 5)

Meynar tersentak bangun dan terduduk di ranjangnya yang hangat (halaman 9)

Meynar mengerang kesakitan, air matanya mulai mengalir, namun ia belum berani membuka mata (halaman 8)

Jasmine. Gadis kecil yang tak kecil lagi, kini beranjak dewasa. Ia tambah jadi cewek yang keras kepala dan suka melawan.

 

  1. Penutup

Dalam novel “100 Jam” karya Amalia Suryani dan Andryan Suhardi ini banyak memergunakan unsure kohesi di dalamnya. Sesuai dengan bukunya Nurgiantoro bahwa ada dua penanda dalam kohesi yaitu penanda sambungan dan rujuk-silang. Semuanya itu dimanfaatkan pengarang dalam novel ini dengan lihainya. Selain itu juga bentuk pengurangan atau penyingkatan juga banyak sekali dimanfaatkan pengarang dalam novel ini.

 

 

Daftar Pustaka

 

Atmazaki. 1990. Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. Padang: Angkasa Raya.

Junus, Umar. 1989. Stilistik: Satu Pengantar. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Nurgiantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.

Rani, Abdul dkk. 2010. Analisis Wacana: Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian. Malang: Bayumedia Publishing.

Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Stilistika: Kajian Puitika Bahasa, Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sariban. 2009. Teori dan Penerapan Penelitian Sastra. Surabaya: Lentera Cendekia.

Sudjiman, Panuti. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.

Suryani, Amalia dan Andryan Suhardi. 100 Jam. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan (diterjemahkan oleh Melani Budianta). Jakarta: PT Gramedia.

Widdowson, HG. 1997. Stilistika dan Pengajaran Sastra (diterjemahkan oleh Sudjijah dan Widjajti). Surabaya: Airlangga University Press.

 

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler