Skip to Content

MENGENANG CHAIRIL ANWAR

Foto ombi

Teriakan: Aku mau hidup seribu tahun lagi” masih menggema hari ini. Tak ada yang bisa menentang, Chairil Anwar tetap menjadi sastrawan puncak yang dimiliki bangsa ini.
Mengenang wafatnya Chairil Anwar pada 28 April 1949 silam, yang masih menyemak dalam hati adalah kenapa Chairil (sepertinya) dibiarkan sendiri? Setiap menyebut kata sastra, kita melihat padanannya dalam diri anak Payakumbuh ini. Sampai hari ini, puisi Chairil masih memenuhi halaman buku pelajaran bahasa Indonesia. Memang, satu-dua ada nama sastrawan lain tertera dalam ujian atau bahan ajar, tapi tidak pernah semasif Chairil.


Hal ini memang terkait dengan strategi pendidikan di Indonesia.
Chairil dibesarkan HB Jassin, pucuk kritikus Indonesia. Di antara mereka tidak ada patgulipat atau ”main sabun”. Karya Chairil memang master, Jassin menjelaskannya secara mumpuni pula. Kritik tentang puisi Chairil menyebar di mana-mana. Dan di sinilah copypaste terjadi. Tidak hanya melewati tahun, tapi juga periode dan orde. Puisinya itu ke itu saja. Kalau tidak ”Aku”, ya ”Krawang-Bekasi”. Salah Chairil kah? Atau salah Jassin?


Kita bisa paham, pilihan strategi pendidikan Demokrasi Terpimpin. Syahwat Presiden Soekarno mengejar Barat, membuat sastra terlupakan. Buku Ilmu Pasti memenuhi perpustakaan di segala jenjang pendidikan.


Begitu juga di Orde Baru. Fokus ke perbaikan ekonomi, membuat sastra, sekali lagi, dilengahkan. Tidak terlihat karya sastra mutakhir hadir di dalam buku ajar.  
Herannya, memasuki era reformasi, perhatian terhadap sejarah sastra juga tidak mengalami perubahan. Kanonisasi (pengelompokkan) sastra masih membelah dua, Angkatan ’45 dan ’66. Pengelompokkan riwayat sastra Indonesia yang lain hanya menjadi perdebatan tak berujung di media massa.


Pemerintah sudah memberi keluasan pada setiap sekolah untuk membangun kurikulum sendiri lewat KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Kurikulum ini membolehkan sekolah menentukan bahan ajar.  Ini kesempatan baik, sebenarnya. Setiap sekolah bisa memilih sastrawan (atau semua sastrawan) di Indonesia yang ada di daerahnya untuk dimasukkan dalam pengajaran. Bisa kita bayangkan, nama Gus Tf, Iyut Fitra dan Zelfeni Wimra muncul di Payakumbuh. Di Padang, nama Yusrizal KW atau Romi Zarman. Di Jawa Barat, nama Acep Zamzam Noor, Sony F.M. muncul di setiap buku ajaran di setiap tahunnya. Tidak melulu Chairil yang dijadikan referensi.


Masalahnya mungkin terletak pada kesiapan KTSP. Berpuluh tahun hanya ”membeo” memang tidak bisa langsung diharapkan gesit. Manajemen pendidikan yang baik, pelatihan guru yang berkesinambangan masih manjadi igau-igau kita semua.


Chairil memang ingin hidup sepanjang masa seperti sebuah dialog dengan istrinya, ”Tapi kalau umurku ditakdirkan pendek, anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburku menabur bunga.” Pelajar memang menabur bunga di ziarahnya di Karet, Jakarta. Tidak itu saja, pelajar juga menziarahi ”makam-makam” puisinya di seluruh buku yang ada. Tak cukup di situ, setiap lomba baca puisi, nama Chairil muncul. Tak hanya di makamnya Chairil sendiri. Tapi juga di dunia hari ini. Chairil kita biarkan jadi ”pengelana” buah dari pahitnya sejarah. Sejarah yang tidak memihak.


Sumber: Padang Ekspres Kamis 28 April 2011 (Tajuk Rencana:  Jangan Jadikan Chairil Pengelana, Selamanya)

Komentar

Foto Muhammad Anwar

chairil anwar tetap yang

chairil anwar tetap yang terbaik

Foto ugi sastrais

yang meresahkan

Itulah yg membuat resah para pegiat sastra saat ini.mantap sekali pak bila sastrawan sastrawan kita bisa dikenal para pelajar.cuma sayang budaya copypaste itu sudah sangat kuat.lagilagi mereka hanya menaruh chairil dalam lembar materi di buku2 pelajaran bhs indonesia.harusnya materi pelajaran sastra itu berkembang sesuai perkembangan sastra indonesia tanpa meninggalkan pendidikan sastra dari angkatan terdahulu..
trus kapan hal itu akan terwujud pak?

Foto Beni Guntarman

Kekuatan bahasanya memang beda...

Puisi-puisi karya Chairil Anwar setiap kata-katanya punya kekuatan, setiap katanya sekan hidup dan menyentak....karya Chairil Anwar pada setiap judul puisinya menggiring pembaca ke suatu titik imajinasi tertentu....Namun penyair besar Indonesia memang bukan cuma Chairil Anwar, kita masih punya W.S. Rendra yang mungkin belum banyak yang menyadarinya betapa besar pengaruh Rendra terhadap penyair-penyair muda angkatan yang jauh di bawahnya...kajian terhadap karya-karya Rendra masih jarang kita jumpai, tidak sebanyak kajian terhadap karya Chairil Anwar...ya mungkin karena ia si burung merak yang tidak gampang dirayu oleh penguasa!

Beni Guntarman

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler