Skip to Content

Menggenggam Dunia Bersama Gol A Gong

Foto Shofiyah Qonitat

Agenda akhir pekan yang telah tersusun sejak jauh hari agaknya amat bermanfaat. Dimana Hari Sabtu dan Minggu tidak hanya tidur atau diam di rumah sampai tiba-tiba datanglah petang kemudian gelap. Awalnya saya mendapati tautan yang dikirim teman Facebook, saya amati pemberitahuan tentang workshop kepenulisan. Minggu siang 24 November 2013, saya bersama teman-teman Pramuda FLP Bekasi menghadiri workshop writing motivation “Menggenggam Dunia dengan Menulis” bersama Gol A Gong di aula FISIP UNISMA Bekasi.

Semangat saya begitu membara untuk mengikuti acara ini. Kebetulan saya mengikuti Gol A Gong dalam akun twitternya. Acara dimulai pukul 13.00 WIB. Peserta hadir tepat waktu dan dipersilakan duduk di tempat yang disediakan. Acara dibuka dengan lantunan ayat suci Al Qur’an yang dibacakan oleh Haden Mulyono selaku ketua Forum Lingkar Pena Bekasi.

Terpampang di layar yang dihadapkan kepada peserta. Foto Mas Gong dengan satu tangannya memegang bola dunia. Sebagai simbol tema acara siang itu. Mengawali pelatihan ini Mas Gong memperkenalkan dirinya dan berbagai pengalamannya di dunia pertelevisian secara singkat. Pada slideshow yang dijelaskan di depan, Mas Gong begitu sapaan akrabnya mempresentasikan 4 point tentangnya. Pertama; Sejarah hidupnya, lalu proses kreatifnya menulis, konsep dan terakhir novelnya yang akan segera difilmkan; Balada Si Roy. Saya sendiri belum pernah membaca kisah Roy dalam novel tebal itu. Mas Gong bilang usia novel itu kini sudah 25 tahun. Bekali-kali menolak untuk difilmkan, namun beberapa waktu kedepan mungkin segera dibuat. Saat ini sedang proses mencari pemain yang layak memerankan tokoh Roy pada novel tersebut.

Kesan pertama yang saya lihat pada diri suami Tias Tatanka ini adalah kesederhanaan. Seperti yang pernah saya dengar bahwa penulis itu terkenal tulisannya, tidak penting orangnya. Mas Gong memperlihatkan kepada kami. Penampilannya begitu sederhana apalagi dengan tangannya yang hanya satu. Tentu amat menggugah para peserta,  sebab cara dia menyampaikan sudah sangat membangkitkan minat berpikir untuk memunculkan ide dan menuliskannya. Bahwa keterbatasan yang ada tidak serta merta membatasi kita untuk berkarya. Tidak perlu khawatir ataupun minder. Selama baik dan bermanfaat. Mas Gong juga mengatakan, menjadi orang berguna lebih penting daripada menjadi orang penting.

Dari pelatihan ini beberapa peserta baru mengetahui sosok Gol A Gong. Jika hanya membaca kisahnya tentang tangannya yang hanya satu, kini saya dan teman-teman bisa menatapnya secara langsung. Tak ada raut kesedihan atau merasa kurang pada diri seorang ayah yang memiliki empat anak itu. Menurutnya, menulis adalah pekerjaan intelektual. Dimana menjadi seorang penulis itu harus sehat jasmani, oleh karena itu dia menyarankan para pemula untuk berolahraga dan juga menjaga kebersihan. Pada kesempatan itu ia menyampaikan ideologi seorang laki-laki. Bahwa laki-laki itu harus berani, mencintai ibunya, melindungi perempuan, peduli terhadap sekitar dan mencintai alam.

Banyak materi seputar literasi yang diutarakannya kepada peserta workshop. Melatih para peserta untuk mampu menganalisa tulisannya. Menyarankan untuk “Don’t show but tell” lalu ia juga beberapa kali melempar pertanyaan dan tiba-tiba memberi buku karyanya sebagai sovenir. Di akhir acara ditutup dengan pertanyaan rebutan yang membuat peserta antusias menjawab untuk mendapat sovenir serupa. Kemudian meminta tanda tangan serta foto bersama. Dia tak bisa berlama-lama, sebab pendiri Rumah Dunia itu harus melanjutkan perjalanannya ke Rengasdengklok.

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler