Skip to Content

MASA LALU YANG HARUS BERLALU

Foto April hamaro
files/user/5627/affair11-18d0b7e4948c46b3cd785493a9af1ca1.jpg
Kecemburuan

MASA LALU YANG HARUS BERLALU

Oleh April Hamaro

            Hancur hidupku ketika aku harus menikahi wanita yang tidak kucintai. Ayahku telah mencampuri urusan hatiku. Bagaimana dengan kekasihku, Sinar. Tentu ia akan sangat kecewa dan membenciku karena aku telah mengingkari semua janjiku padanya.

            Tanpa sepengetahuanku, Ayah dan Ibuku telah menjodohkanku dengan Nur Aisyah. Ingin rasanya  aku memberontak, namun kasihan Ibuku yang sudah tidak sehat lagi. Aku takut penyakitnya akan kambuh.

            “Hamid...jangan pernah membantah keputusan Ayah” Kata Ayah kepadaku

            “Selama ini, aku menurut perintah Ayah dan Ibu. Tapi untuk masalah perjodohan itu, aku sulit menerimanya Ayah” Aku mencengkram keras kepalaku. Benar-benar otakku akan segera pecah dan menjadi puing-puing kehancuran.

            “Keputusan Ayah dan Ibumu sudah bulat Hamid” Begitu kata Ayah kepadaku.

            Diam, kaku dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku harus memberitahukan hal ini kepada Sinar. Tentu hubunganku akan berujung pada kata hancur. Maafkan aku Sinar, aku tidak bisa melawan keputusan kedua orang tuaku. Ibu yang sudah lanjut usia menitip harapan besar kepadaku, anak lelaki satu-satunya yang ia miliki.

            Yang aku takutkan benar terjadi. Sinar sudah sangat membenciku, bahkan melihat wajahku saja ia merasa berat sekali. Perempuan yang sangat aku cintai kini berbalik membenciku.

***

            Bersama Nur Aisyah, kini kuarungi kehidupan berumah tangga. Tidak mudah bagiku untu mencintai wanita yang baru saja kukenal. Dapat terhitung berapa kata yang keluar dari mulutku untuk berbicara dengannya. Sinar masih selalu hidup di pikiranku, dia cinta pertamaku tapi bukanlah cinta terakhirku. Nur Aisyah sama sekali tidak pernah marah kepadaku. Aku bisa merasakan besarnya kasih sayang Nur Aisyah terhadapku melebihi besarnya kasih sayang Sinar di masa laluku.

            Setiap aku pulang dari kantor, diam-diam aku selalu datang ke rumah Sinar tanpa diketahui oleh istriku, Aisyah. Gaji yang kuterima setiap bulannya 60%  kuserahkan kepada Sinar, dan  35%  untuk Nur Aisyah Istriku. Salah atau bodohkah aku ini yang masih menaruh harapan cinta kepada kekasih lamaku. Hanya itu satu-satunya cara untuk membahagiakan Sinar.

             Tiba di rumah, secangkir kopi dan sepiring kue sudah tersedia di meja kerjaku. Padahal aku tahu, uang belanja yang selalu kuberikan untuk Nur Aisyah sangatlah sedikit. Hanya untuk membeli beras juga lauk seperti tahu dan tempe. Hanya itu saja. Untungnya Nur Aisyah tergolong pintar dalam soal tanam-menanam sehingga cukup mengirit uang belanja. Meski demikian, Nur Aisyah sama sekali tidak pernah memberi protes terhadap semua ini.

            Suatu hari aku memandang wajah lelahnya. Terbesit luka di hatiku. Ya Tuhan…apa yang terjadi?

            “Aisyah” suatu hari aku memanggil istriku.

            “I i iya Hamid”Jawabnya terbata

            “Mengapa kau memanggilku dengan sebutan Hamid. Bisakah kau mencoba memanggilku dengan kata sayang” Pintaku membuat Aisyah menangis.

            “Sa..a...yang” Katanya dengan lirih

            Aku memeluk Istriku erat. Ya Tuhan...betapa bodohnya aku ini telah membohongi Istriku selama ini.

            “Aisyah istriku...maafkan aku. Selama ini...” Aisyah menutup mulutku dengan jari telunjuk kanannya.

            “Aku sudah tahu Mas. Tentang kamu yang masih selalu menemui Sinar. Tentang gaji yang kau berikan kepadanya lebih besar dari uang belanja yang kau berikan kepadaku,”Aisyah benar-benar membuatku malu dengan semua ini.

            “Darimana kau mengetahuinya?,” Aku bertanya serius kepada Istriku.

            “Setiap kamu berangkat kerja. Sinar selalu datang ke rumah ini. Dan menceritakan semuanya bahwa kamu masih sangat mencintainya. Dan semua itu terbukti dari pembagian gaji bulananmu yang lebih besar untuknya. Sinar berusaha membuatku cemburu dan marah kepadamu Hamid agar aku segera meminta cerai denganmu . Namun cintaku kepadamu tidak akan luntur dengan cinta masa lalumu itu. Allah mempersaksikan pernikahan kita Hamid. Aku hanya ingin menjadi istri yang patuh kepada suaminya,” Aisyah menangis dalam dekapku.

            Aku malu, dan benar-benar malu dengan apa yang kulakukan. Menderas air mata ini. Sungguh, aku menyesalkan semuanya. Kini, kembali kutata hidupku untuk lebih baik dan bertanggung jawab atas istriku.

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler