Skip to Content

4 HARI BERTAPA DI BINTANG SEPI, AGUNG GEMA NUGRAHA

Foto Agung Gema Nugraha
files/user/14117/1775635161644.jpg
1775635161644.jpg

PUISI-PUISI 

EMPAT HARI BERTAPA DI BINTANG SEPI

15-18 JANUARI 2026

 

 

 

 

REKOR FIKTIF

 

Kamu adalah rekor yang dipaksakan

berdiri di atas karpet anggaran keuangan

yang besar dan kasar

 

Kualitas dari setiap identitas

Menjadi angin bagi penghargaan bergengsi

 

Objektivitas tidak lagi menjadi nilai

keberlangsungan cipta, karya dan karsa

 

Aku menolak terkesima

Berontak pada galaksi raya

Karena cinta bukan sebatas mata

Tapi kesadaran luas jiwa manusia

 

 

 

TING

 

Ting

Adalah remaja yang hilang bunganya

 

Ting

Menjadi penyair angin dingin mendesir

 

 

 

 

MASA LAMPAU MERACUNI KITA

 

Masa lampau adalah rapot merah

yang menyala bagai api di tungku

dapur penciumanmu

 

Pengalaman menjadi sampah anorganik

yang bertahun-tahun tak teruraikan

 

Di mana letak tuntunannya

bila cuma cerita wanginya cempaka

Atau pahitnya mahoni 

di lidah terkunyah tajamnya gigi

 

Asap kimia membuat sesak di dada

Kepalsuan cinta merusak suara jiwa

 

Bukan masalah dulu tapi hikmat 

sejauh mana kau bawa dari hilir ke hulu

 

Masa lampau meracuni kita

dengan satu ingatan

untuk melangkah di masa kini

dan nanti

 

 

 

 

 

LELAKI NGALOR NGIDUL

 

Lelaki ngalor ngidul

Dengan mata lenggak-lenggok

mengisi obrolan di warung kelontongan

Mulutnya prapen yang menguapkan

asap dupa dan kemenyan

 

Angin berusaha menyapanya

Tapi ia adalah mobil balap

yang memiliki sirkuit bukitan

Semakin ngebut melindas batu-batu

kelokan dengan mudah dilewati

kanan kiri tak juga menepi

 

Siapa orang tak terkagum

harumnya bunga gardenia

 

Lelaki ngalor ngidul bukan sekalor

Energi berat pikiran 

dan kurangnya kerjaan

membuat ia berjaya dalam omongan

 

 

 

BAPAK PERADUAN

 

Segembol pakaian yang ia bawa

adalah sisa kenangan lama

saat berumah tangga

 

Semburat fajar menyala

Anginnya terlalu tua

 

Bapak peraduan

Zaman telah mengusirnya dari peradaban

Karena ia tak lagi hasilkan uang

Langit tak memberi jalan

pada langgengnya perjodohan

 

 

 

 

HUJAN DI BULAN JANUARI

 

Hujan di pagi hari membawa gairah 

pada mimpi yang pernah mati

Menyingkirlah wahai bayang-bayang 

kerasnya jalanan dalam peraduan

Angin kali ini lembut sekali

Kasur dan selimut tak jahat lagi

 

Meresaplah paras-paras para dermawan

Karena langit terbuka lebar

Malaikat rahmat taburkan bunga setaman

di halaman rumah orang-orang

yang berdoa dengan ketulusan

Bulan Januari

 

 

 

SI KILAT

 

Kamu 

wahai yang bertamu 

ke berandaku

Keajaiban

Kan kau temukan

Ketika membaca sajakku

 

Kilat membawa hujan kata

Satu mengandung sejuta

Teman dan kerabat

Tak mesti selamanya bersama

 

Tulisan lebih cepat dari mata

Bagaimana kamu bicara

Lalu mengkritiknya?

 

Sementara cahyanya 

Hancurkan dada

 

 

 

WANITA DENGAN TILIK

 

Dengan hati bagai terlilit 

serabut-serabut tembaga 

sulit aku harus melupakanmu

Selangkah pijakan 

jurang di depan mata 

memiliki ketinggian 

yang tak mampu kuduga

 

Bergetarlah segala sumsum 

urat-urat pikir raga dan jiwa

Kamu bagai langit malam 

mengawasiku 

melalui bintang gemintang 

tanpa dermawan 

memberiku kebebasan

Ucapanmu bagai tilik 

menyumpahi pelana kudaku

Terhamparlah karpet-karpet bara 

membakar akal dan kepala

 

 

 

 

PUISI TANPA IMAJI

 

Kulit ketam kulit durian

Aku menyelam tak ada ikan

Berang-berang menerkam macan

Zaman keterbalikan dalam angan

 

Bagai sayur tanpa garam

Saat kulahap pada kelam

Tak kutemukan keindahan

Cuma sajian dingin terkesan

 

Entah kenapa masih dianggap

Seperti sesak dipelihara pengap

Mungkin karena segan kekuasaan

Gunung menjulang tak bisa diterjang

 

Sajakku berpendaran imaji

Pendek diksi lugas maknawi

Metafor muncul dari naluri

Sungguh bukan memuji

Tapi cermin inspirasi

 

Bukan bangga dan senang hati

Lautan menyimpan kadar asin

Untuk saudara kurang bermimpi

Belajarlah lagi makan nasi dingin

 

Nasi panas merusak paras

Uapnya wangi pakai daun salam

Logika dan jiwa tak selaras

Bagai bulannya tak muncul malam

 

Drakula oh drakula

Takut sinar cahya mentari

Kelapa oh kelapa

Puisi beriring rasa enak dibaca

 

 

 

 

CAPRICORN DI SINAR SATURNUS

 

Engkau adalah tanah yang gerah

dengan cekcok para politikus

di lingkar kekayaan

sumber daya hayati negeri ini

 

Saturnus memancar memberi pencerahan 

gencar membidik bagai panah-panah langit 

 

Tergeraklah hatimu dalam kritik

meski terperosok kamu

ke semak-semak belukar

di pinggir pohonan logika tanpa nama

 

Kambing laut terlarut pandangan subjektif

Tertukar mata menyahut ego yang fiktif

 

Kamu bimbang menghadapi peradaban

Kecerdasan tanpa perkumpulan

hanya gairah kesepian

Kecerdikan tak memiliki pamor

bagai air mendet sulit ngegelontor

 

Amarah adalah pelarian ketidakmampuan

diri berdamai dengan kehendak dan mimpi

 

Capricorn 

 

 

 

YANG TERPILIH 

 

Kamu adalah belangkas di cawan suci

Kesetiaan yang diutus dari tanah surgawi

Mendekatlah kepadaku dengan kemurnian

Karena mata hati tak salah jalan arti

 

Wahai perunggu berlapis emas

yang terpilih di tepi sankranti

Janganlah cemas 

Meniadakan diri dalam sepi

 

Ketetapan telah membuka tirainya

Rasi bintang terang benderang

Dalam ukiranmu

 

 

 

AZIMAT KEKASIH GEULIS

 

Kamu adalah kekasihku yang geulis

bagai bintang timur

Menghadaplah kepadaku 

wahai wanitaku, keajaibanku

Waktu amleng dalam kepiluan 

duka derita merusak daging

balung, nafas dan raga

Satu dekade menggerogoti sepi 

tanpa bulan dan mentari

 

Malam ini kusambat engkau 

dengan kalimat keramat 

yang mengandung roh-roh halus 

agar membawamu kembali

bertepi diri istirah di kota ini

 

Datanglah hadirlah ….

 

(Azimat di muka jendela

dihembus angin menari-nari

Talsimat di pohon delima

Ditiup mantra-mantra

Gemerlap venus menyala

Wewangian terendus mesra

Kemenyan maghribi

Membelah segala hati

Maka bertemulah cinta sejati)

 

 

 

 

MALAM HANCAKU

 

Kamu bersila di dalam sajakku

bagai purnama tiga belas yang tabu

Awan bergumulan seperti rambut

kuntilanak yang tergerai melambai-lambai

 

Blusukanlah serigala malam

memberi kabar antara luka rindu

dengan getar suaranya

yang berdesakan guyub

melolong menembus tujuh lapis bumi

 

Entah aku atau kamu yang terjebak

dalam sulaman kata-kata melelahkan

Setiap bulan, tahun dan musim

Kelamnya adalah demikian

sepanjang kain tiga ratus ribu kilometer

 

 

 

NOTASI PIRING PECAH

 

Satu per tiga puluh enam

dalam sepuluh ketuk

Kamu pecahkah piring jiwanya

Dengan palu lidahmu besi terantuk

 

Ada gejolak keraguan berkorekan

memenuhi pikiran cita masa depan

Kini berantakan

Entah kamu pahlawan, ilmuan, 

sastrawan atau pemutus harapan?

Sudah seribu puisi ia cipta

bersetubuh dengan waktu 

berdesakan kerat-kerat aktivitas rindu

 

Kini ia tak lagi lapar dahaga

Karena tempat sampah purba

sudah memakan serpihan-serpihannya

 

 

 

 

PUISI SEBAGAI SENI AGUNG

 

Puisi adalah seni agung yang berada 

di bawah sayap malak metatron

Terjepitlah segala kuasa raja-raja

karena kebasannya menyatukan kembali

tanah kering bumi yang dingin

Sejauh mata memandang ia terbang

melampaui samodra pikiran tanpa perkiraan

 

Oh angin dari delapan penjuru 

menyudutkan logika bahasa kata

kerasnya sang pemburu

 

Puisi sejak tiga ribu sebelum masehi

Adalah suara hati yang berdiri teguh

sebagai tekad, mantra dan cahaya

bagi naluriah manusia

 

Bagaimana mungkin ia bisa lenyap

hilang tenggelam dalam gelombang duka

sementara manusia masih bercengkerama

menggandeng suka duka di dunia yang fana

 

 

 

 

MENGENDARAI JEJAK LANGKAHMU

 

Mengendarai jejak-jejak langkahmu 

di jalanan dan gang berkelok-kelok itu

aku termenung antara dua persimpangan

 

Perpisahan dalam kembara goresan jiwa

yang pernah kita warnai dengan berbagai

kisah kelaparan dan dahaga

membuatku sedikit meneteskan air mata

 

Kawan menemui tangga surganya

bersanding hening bersama 

malaikat rahmat memanjat langit

tanpa kabar udara bertiup di telinga

sungguh terlalu dini dia harus pergi

 

 

 

 

LELAKI LUGU

 

Bunga, pohon dan tugu

Itu dari seorang lugu…

 

Lelaki yang sepi dalam keramaian

Adalah dia sang penentu keadilan

Matahari menyoroti hatinya

Sudah bertualang jauh ia

Bersama bunyi dan sajaknya

 

Lelaki sebentar waktu pergi lagi

Menggandeng pedih luka cinta

Untuk ditanamnya di kebun kata

Berharap tumbuh menjadi legenda

 

 

 

 

ARIES DALAM PERJALANAN

 

Angin membawanya ke pusaran 

lelahnya perjalananan. 

Bibit-bibit suka dan duka 

ditanamnya dalam tiap perhentian.

Datanglah nyawa berbadan 

menaburkan pupuk-pupuk impian

 

Pertemuan-pertemuan baru 

bagai tali hantu yang terasa kuat 

tak terlihat hubungan tak menentu.

 

Aries mewarisi kesabaran 

dari raja bumi. 

Ketentuan menggariskan karismanya 

di hadapan muka para dermawan 

dan pembesar.

 

Berkatlah segala di sisinya. 

Hancurlah mata-mata sinis di hadapnya.

 

Aries berkembang serupa matahari siang hari. 

 

 

 

BUAT TOKOH PUISI…

 

ranisreb artsas irahatam anamid

ublak id paleg ukebmem halet se

ayrus halada umak

ukkajas hariah

 

 

BAIKLAH JIKA…

 

krang kreng krong 

kring krang kring

krung kreng krong 

 

Apakah ini mantra

yang terbit dari mata air sukma?

 

clak clik cluk clek

clik clak clek clok 

clek clak clik cluk

 

Mantra hujan turun sebagai harapan

Bagaimana kamu menjawab pertanyaan?

 

 

 

 

PELAMINAN ZAMRUD KHATULISTIWA

 

Kita berdua sepasang bintang

yang melengkapi pelaminan 

di zamrud khatulistiwa

 

Dalam kebangkitan gejolak kerinduan

Bagai kesejahteraan dan keamanan

yang mesti ditegakkan di negeri ini

 

Malaikat baik hati sudah melepas

kewenangannya agar manusia

mengurus ketahanannya 

bersama akal pikiran 

keilmuwan dan nurani

 

Berpadulah kecintaan antara rakyat

dan pejabat sehingga muncul keramat

aturan yang cermat dan ditaati 

Seiya sekata dalam kemesraan

mengurus kemerdekaan

 

 

 

 

 

PANTAI UJUNG GENTENG

HALAMAN RUMAHMU

 

Di Kota Sukabumi Selatan yang menawan

Pantai Ujung Genteng halaman rumahmu

pertama mengenalmu malam itu

 

Aku pahami kamu dengan mataku

Sebagaimana ku tatap pemandangan

saat dalam perjalanan 

menuju tempatmu singgah 

dan burung-burung melepas lelah

 

Kita berbincang sampai larut kelam 

datang berdentang jam dua belas 

langit menghitam 

dan bintang menambah kehangatan obrolan tentang cita angan 

duniawi masa depan

 

Kedua aku berkunjung kepadamu

Membawa logika dan akal sehatku

Kurang mesra sepertinya

bagai tertipu matahari yang nampak kecil

dalam pandangan ternyata lebih besar dari bumi

Siang tak lagi bisa meletakkan debunya di mukaku

karena sudah kujawab pertanyaan di pesisir lautan luas

 

Ketiga aku menengokmu

sambil memangku perasaanku 

Kusandarkan diriku pada kursi kalbu

Maka kutemukan kamu

seindah warna-warni pelangi kala senja  

mengembang setelah hujan 

membasahi tanah kerinduan

 

Pantai Ujung Genteng Sukabumi Selatan

 

 

 

 

DI SENJA CIHAMPELAS BANDUNG

 

Setelah kita bicara mesra

di senja cihampelas Kota Bandung yang macet

 

Masih kukenangkan kilauan matamu 

semarak mengandung butiran bintang angkasa rasa

menyala-nyala menyinari mimpi-mimpiku saat malam tiba

 

Jauhlah segala dukacita bila wajahmu

bertamu ke rumahku yang penuh debu

Menyingkirlah jiwa-jiwa politik penuh intrik 

kala ketukan pintu mulai terdengar

dalam khayalanku

 

Sungguh pesonamu menyihir kerasnya sifatku

dan liarnya hidupku

 

Cihampelas Bandung

 

 

 

 

PENANTIAN DI PANTAI SELATAN

 

Berkelana di tebalnya rambutmu yang tergerai

bagai lintasan konstelasi zodiak

Aku menemukanmu dekat lautan senja

merah mawar sebelah pilar langit perahu

yang hendak berlayar

 

Tangkaplah gairah kerinduanku

yang selama tujuh musim semi tak bertemu

 

Wahai kekasihku, aku tahu kamu menungguku

di gemerlapan pasir-pasir putih pantai selatan itu

Tempatmu biasa duduk bersama burung-burung,

ikan dan tedong-tedong karang bintang

 

Di sini aku merasakannya dengan segenap rona jiwa

berjuta bunga penantian masih bermekaran

 

 

 

 

GENGGAMAN ARIES

 

Genggamlah tangannya

Kamu akan dapat meraih sinarnya

Terik di luar lembut di dalam

Kamu tak bisa menebak

apa yang terkandung di dada

Karena mata hanya melihat

yang nampak saja

 

Salju dingin menjadi hangat

Kepolosannya melahirkan berkat

Tak perlu merasa sia-sia

Aries mangangkat namamu

Ke cakrawala biru

 

 

 

 

 

GURUH UNTUK PENYAIR RUMAHAN

 

Bagai guci di lemari yang usang

Penyair di rumah sendirian

Tak berdaya melihat kenyataan

 

Delusi digital adalah sumber informasi

yang digarap dengan lahap

 

Wahai yang duduk dengan nyaman

di taman halaman rumah besar

Bagaimana kamu bisa dinilai sastrawan

Sejak zaman enheduanna

puisi tidak dicipta dari duduk dan diam

Tapi dari penghayatan akan kekuatan alam,

kepahitan, keterasingan, pembuangan,

kekacauan sosial

kemunduran nilai budaya

merosotnya keadilan 

dan kelabunya nilai kebenaran

Pengembaraan lahir dan batin

gejolak zaman, diri dan kehidupan

Bersatu padu menjadi lagu musik

getaran rindu

Lalu mencari kekuatan kata 

Sebagai jalan keluar untuk bicara

Empati dibangkitkan 

sebagai modal utama

suatu karya

 

Kita sudah mengingkari diri

Dengan kedamaian yang dapati

uang, mewahnya kendaraan

penghargaan, kehormatan 

bukan berarti tamat berdiri 

Tapi awal mula kamu berpuisi

Berpartisipasi menggali makna tersembunyi

Seperti kamu bayi lagi

Dan kamu bukan siapa-siapa

di dunia ini

 

 

 

PETIR UNTUK KAUM INTELEKTUAL

 

Ada gunung meraung-raung

Bersuara tak jelas di balik lembah

Ada piagam berkalung-kalung

Apa artinya bila ditelaah

 

Terlalu banyak intelektual

Entah darimana gelar didapatkan

Aku masih waras berakal

Kata nasihat bukan kebanggaan

 

Karena hari mewanti-wanti

Pengagungan diri tercela hati

Ruh manusia terdekat diri

Akan sulit untuk nanti dikaji

 

Bagaimana disebut intelektual

Bila tidak bersikap dermawan

Kecerdasan itu berimbang

Antara pikiran dan kelakuan

 

Masyarakat membutuhkan bimbingan

Tak sekedar karya tulis atau ucapan

Aku pun perlu satu pengertian

Agar membaik semua bidang kehidupan

 

Di mana kaum intelektual berada

Belum terwujud juga keadilan sesama

Sekedar mencari nama apa maknanya

Kenyamanan diri pasti berakhir juga

 

Ke mana mereka pergi

Apa ke goa-goa sunyi

Bertapa mencari ilusi

Posisi mana mereka berdiri

Bagai batu filsuf yang misteri

 

Kalau cuma kritik dan saran 

yang awam pun lebih kerap

Jika sekedar nasihat keramat

Aku sendiri pun lebih siap 

 

Intelektual adalah kaum istimewa

Bagai emas berlian bagi negaranya

Tetapi ia juga memikul beban harapan

Rakyatnya yang mencari kebenaran

 

Jika keadaan ekonomi merosot

Intelektualnya mesti disorot

Jika situasi sosial memburuk

Intelektualnya masa garuk-garuk

 

Kita terlalu dini menisbatkan sebutan

Yang padahal belum teruji memecahkan

Permasalahan semakin bertumpukan

Bagai sampah yang kulihat di jalanan

 

Petir ini adalah pertanyaan sikap

Atas suatu fenomena mereka sigap

Membela yang lemah dan tak berdaya

Membedah persoalan secara nyata

 

Kaum intelektual adalah cahaya

Yang diutus langit memberi pencerahan

Menuntun di kegelapan 

Menuju pintu gerbang kesejahteraan

 

 

 

 

BULAN PUISI

 

Bulan puisi adalah bulan di mana 

aku dan kamu bertemu

pada suatu waktu

Di bawah mata-mata langit biru

 

Malaikat turun memenuhi 

tangga kahyangan 

Dengan rasa haru 

membawakan minuman surga

Cawan-cawan berlian

Dan bunga emas cakrawala

 

Pohon dan rumputan cemburu

 

Kita buta seribu muka

Kita tuli dari semua hari

Kita lupa sejuta nama

Tinggal kata yang berdaya

Menjadi jembatan dua jiwa

 

 

 

 

LELAKI BULAN CAPRICORN

 

Kambing laut loncat semangat

Kakinya kuat sekuat mulutnya

Karang laut bertingkap

Mampu juga ia sergap

 

Satu dasawarsa

Lelaki melewati masa

Membaca tekstual dunia

Argumen mana yang tak terpatahkan

Narasi dari tiap pembicaraan

punya tameng ia menahan

 

Sungguh tajam melihat kelemahan

 

Tapi sayang hidup bukan ditentukan

semata dengan kecerdasan

Sampai datang bulan capricorn

Ia bagai makan popcorn

yang menikmati kesendiriannya

dalam sinema dan film

 

Jodohnya entah di mana

Rizkinya lari ke mana

 

 

 

SI KUNING BAK TERBUKA

 

Si kuning kebut di jalan

Besar truk bak terbuka menyeka

Tak sebesar pikiran dan rasa

Getir pengendara

Matahari menyala tegas wibawa

Satu, dua tiga langkah tersalip

Tetangga sebelahnya 

Marah gerah

 

Masalahnya bukan hanya aturan

barangnya berhamburan juga

Karena tak ada penutup

Angin menebak

Setan bikin onar

Satu persatu diterbangkan

Kalau itu uang

Ini malah si sampah bau

Putuslah asa 

 

Manusia tak ada berjaya

 

 

 

SAMPAH DI DI GANG KOTA

 

Bagai mayat tergeletak

Karung-karung plastik hitam

Menambah mistik pada malam

 

Seonggok dua onggok, mogok!

 

Udara menebarkan bau tak sedap

Lengkap sudah lanskap

bagi sebuah kegagalan kota

Airnya olahan kimia

yang merusak pencernaan

Dan peradaban kemanusiaan

 

 

 

 

TAK ADA PILIHAN

 

Air tak punya pikiran

Angin tak ada perasaan

Kamu lepas dari pilihan

 

Banjir dan badai adalah renungan

Bagi nilai keadilan yang terlalaikan

 

Kebijakan berbuah simalakama

Ajang penghargaan prestise semata

 

Ayam kampung sambel cabe

Jika tak beruntung kamu cape

 

Kita bicara dalam sajak 

Meski tanpa ada yang mengajak

Karena tulisan adalah buah kesadaran

Bukan sebagai ciri kecerdasan

Awal sejarah peradaban

Naluriah alami kemanusiaan

yang dihadirkan oleh kekuatan gaib

sebagai ciri keberadaan

 

 

 

 

SANG PECINTA

 

Sang pecinta adalah lampu 

yang terbakar kala menerangi

ruang hati

 

Kursi, meja, lukisan dinding

menjadi makna dari hening

 

Dalam kerapuhan

mesti ia dapatkan

 

Sang pecinta adalah nafas sesak

yang dipaksakan untuk bergerak berontak

 

 

 

 

DIAM ADALAH BARA

 

Tangkaplah segala kenyataan

yang menghampirimu dengan rela

Seperti Enheduanna 

Menemukan jalan kepada Inanna

Dengan perasaan yakin tanpa keraguan

Melangkahlah

Karena diam adalah bara

 

 

 

 

ARIES YANG MERENUNG

 

Aries merenung di teras rumahnya

Hatinya adalah kebun luas

tanpa tanaman, sayur dan buah-buahan

 

Bagaikan patung

Ia terpatri berdiri mencari mata hati

Menganggap dirinya tak beruntung

Terpagarlah langkah-langkah mimpi

Uangnya sebagai aksesoris di lemari

 

 

 

 

KEDATANGAN PISCES

 

Pisces datang kepadaku

Membawa sejuta nada lirih

dan kelembutan

Matanya bagaikan bulan

Tergerai rambut bersama mimpinya

Seolah menyerap energi semesta

Aku duduk dalam pengabdian

Dihadapnya terpaku membatu

Serangkaian kalimat adalah tata surya

Seperti udara dingin 

bahasanya gaib menerka

Meremas seluruh daya

 

Pisces pergi setelah mencabut hatiku

Dengan tanpa tatapan

Sudah larut sakitnya karena kecewa

 

 

 

 

DALAM DINDING TAKDIR

 

Hujan terdengar di kaki pagi

Lelaki terpungut irama sepi

Setitik api menyala dalam diri

Semangatnya gelora sejati

 

Sepuluh tahun menjaga mimpi

Menyarang sinar sang mentari

Melukis warna-warni pelangi

Di kanvas langit petang hari

 

Wahai lelaki tak ada jalan

Di balik dinding dinginnya takdir

Usaha agar segala tidak percuma

Berakhir juga dalam langkah sia-sia

 

 

 

SAJAK SERTIFIKAT TANAH

 

Udara pagi menyengat bau racun

Kimia olahan dadakan diaduk

mesra mengagetkan jiwa menguap

menyapa tanah-tanah kaum jelata

 

Tak ada biaya apa daya

Surat-surat memperumit suasana

Ekonomi sedang gawat

Muncul keharusan sertifikat

Girik, letter c, petok D, kekitir

membuat khawatir dan getir

Pikiranku bagai disambar petir

 

Memperbaiki aturan tanpa melihat

kondisi sebagian masyarakat

berarti mengenyampingkan keadilan

 

Kesejahteraan tak bisa diharapkan

Karena

paksaan era baru

zaman modern di bawah langit kelabu

 

Aku mencium debu

Berderai air mata pilu

Yang lemah mengelus kalbu

Kesabaran dipaksakan

dalam bentuk yang tidak menentu

Bumiku hasil keringat sepuluh tahun

receh dari uang logam hanyut

Tergusur oleh satu tanda tangan

 

Kebijakan tidak membawa keberuntungan

Kebijakan memaksa mengeluarkan

saku kosong yang sudah bolong

 

Niat yang baik membuatku tercekik

 

 

 

 

ditulis

15-18 Januari 2026

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler