PUISI-PUISI
EMPAT HARI BERTAPA DI BINTANG SEPI
15-18 JANUARI 2026
REKOR FIKTIF
Kamu adalah rekor yang dipaksakan
berdiri di atas karpet anggaran keuangan
yang besar dan kasar
Kualitas dari setiap identitas
Menjadi angin bagi penghargaan bergengsi
Objektivitas tidak lagi menjadi nilai
keberlangsungan cipta, karya dan karsa
Aku menolak terkesima
Berontak pada galaksi raya
Karena cinta bukan sebatas mata
Tapi kesadaran luas jiwa manusia
TING
Ting
Adalah remaja yang hilang bunganya
Ting
Menjadi penyair angin dingin mendesir
MASA LAMPAU MERACUNI KITA
Masa lampau adalah rapot merah
yang menyala bagai api di tungku
dapur penciumanmu
Pengalaman menjadi sampah anorganik
yang bertahun-tahun tak teruraikan
Di mana letak tuntunannya
bila cuma cerita wanginya cempaka
Atau pahitnya mahoni
di lidah terkunyah tajamnya gigi
Asap kimia membuat sesak di dada
Kepalsuan cinta merusak suara jiwa
Bukan masalah dulu tapi hikmat
sejauh mana kau bawa dari hilir ke hulu
Masa lampau meracuni kita
dengan satu ingatan
untuk melangkah di masa kini
dan nanti
LELAKI NGALOR NGIDUL
Lelaki ngalor ngidul
Dengan mata lenggak-lenggok
mengisi obrolan di warung kelontongan
Mulutnya prapen yang menguapkan
asap dupa dan kemenyan
Angin berusaha menyapanya
Tapi ia adalah mobil balap
yang memiliki sirkuit bukitan
Semakin ngebut melindas batu-batu
kelokan dengan mudah dilewati
kanan kiri tak juga menepi
Siapa orang tak terkagum
harumnya bunga gardenia
Lelaki ngalor ngidul bukan sekalor
Energi berat pikiran
dan kurangnya kerjaan
membuat ia berjaya dalam omongan
BAPAK PERADUAN
Segembol pakaian yang ia bawa
adalah sisa kenangan lama
saat berumah tangga
Semburat fajar menyala
Anginnya terlalu tua
Bapak peraduan
Zaman telah mengusirnya dari peradaban
Karena ia tak lagi hasilkan uang
Langit tak memberi jalan
pada langgengnya perjodohan
HUJAN DI BULAN JANUARI
Hujan di pagi hari membawa gairah
pada mimpi yang pernah mati
Menyingkirlah wahai bayang-bayang
kerasnya jalanan dalam peraduan
Angin kali ini lembut sekali
Kasur dan selimut tak jahat lagi
Meresaplah paras-paras para dermawan
Karena langit terbuka lebar
Malaikat rahmat taburkan bunga setaman
di halaman rumah orang-orang
yang berdoa dengan ketulusan
Bulan Januari
SI KILAT
Kamu
wahai yang bertamu
ke berandaku
Keajaiban
Kan kau temukan
Ketika membaca sajakku
Kilat membawa hujan kata
Satu mengandung sejuta
Teman dan kerabat
Tak mesti selamanya bersama
Tulisan lebih cepat dari mata
Bagaimana kamu bicara
Lalu mengkritiknya?
Sementara cahyanya
Hancurkan dada
WANITA DENGAN TILIK
Dengan hati bagai terlilit
serabut-serabut tembaga
sulit aku harus melupakanmu
Selangkah pijakan
jurang di depan mata
memiliki ketinggian
yang tak mampu kuduga
Bergetarlah segala sumsum
urat-urat pikir raga dan jiwa
Kamu bagai langit malam
mengawasiku
melalui bintang gemintang
tanpa dermawan
memberiku kebebasan
Ucapanmu bagai tilik
menyumpahi pelana kudaku
Terhamparlah karpet-karpet bara
membakar akal dan kepala
PUISI TANPA IMAJI
Kulit ketam kulit durian
Aku menyelam tak ada ikan
Berang-berang menerkam macan
Zaman keterbalikan dalam angan
Bagai sayur tanpa garam
Saat kulahap pada kelam
Tak kutemukan keindahan
Cuma sajian dingin terkesan
Entah kenapa masih dianggap
Seperti sesak dipelihara pengap
Mungkin karena segan kekuasaan
Gunung menjulang tak bisa diterjang
Sajakku berpendaran imaji
Pendek diksi lugas maknawi
Metafor muncul dari naluri
Sungguh bukan memuji
Tapi cermin inspirasi
Bukan bangga dan senang hati
Lautan menyimpan kadar asin
Untuk saudara kurang bermimpi
Belajarlah lagi makan nasi dingin
Nasi panas merusak paras
Uapnya wangi pakai daun salam
Logika dan jiwa tak selaras
Bagai bulannya tak muncul malam
Drakula oh drakula
Takut sinar cahya mentari
Kelapa oh kelapa
Puisi beriring rasa enak dibaca
CAPRICORN DI SINAR SATURNUS
Engkau adalah tanah yang gerah
dengan cekcok para politikus
di lingkar kekayaan
sumber daya hayati negeri ini
Saturnus memancar memberi pencerahan
gencar membidik bagai panah-panah langit
Tergeraklah hatimu dalam kritik
meski terperosok kamu
ke semak-semak belukar
di pinggir pohonan logika tanpa nama
Kambing laut terlarut pandangan subjektif
Tertukar mata menyahut ego yang fiktif
Kamu bimbang menghadapi peradaban
Kecerdasan tanpa perkumpulan
hanya gairah kesepian
Kecerdikan tak memiliki pamor
bagai air mendet sulit ngegelontor
Amarah adalah pelarian ketidakmampuan
diri berdamai dengan kehendak dan mimpi
Capricorn
YANG TERPILIH
Kamu adalah belangkas di cawan suci
Kesetiaan yang diutus dari tanah surgawi
Mendekatlah kepadaku dengan kemurnian
Karena mata hati tak salah jalan arti
Wahai perunggu berlapis emas
yang terpilih di tepi sankranti
Janganlah cemas
Meniadakan diri dalam sepi
Ketetapan telah membuka tirainya
Rasi bintang terang benderang
Dalam ukiranmu
AZIMAT KEKASIH GEULIS
Kamu adalah kekasihku yang geulis
bagai bintang timur
Menghadaplah kepadaku
wahai wanitaku, keajaibanku
Waktu amleng dalam kepiluan
duka derita merusak daging
balung, nafas dan raga
Satu dekade menggerogoti sepi
tanpa bulan dan mentari
Malam ini kusambat engkau
dengan kalimat keramat
yang mengandung roh-roh halus
agar membawamu kembali
bertepi diri istirah di kota ini
Datanglah hadirlah ….
(Azimat di muka jendela
dihembus angin menari-nari
Talsimat di pohon delima
Ditiup mantra-mantra
Gemerlap venus menyala
Wewangian terendus mesra
Kemenyan maghribi
Membelah segala hati
Maka bertemulah cinta sejati)
MALAM HANCAKU
Kamu bersila di dalam sajakku
bagai purnama tiga belas yang tabu
Awan bergumulan seperti rambut
kuntilanak yang tergerai melambai-lambai
Blusukanlah serigala malam
memberi kabar antara luka rindu
dengan getar suaranya
yang berdesakan guyub
melolong menembus tujuh lapis bumi
Entah aku atau kamu yang terjebak
dalam sulaman kata-kata melelahkan
Setiap bulan, tahun dan musim
Kelamnya adalah demikian
sepanjang kain tiga ratus ribu kilometer
NOTASI PIRING PECAH
Satu per tiga puluh enam
dalam sepuluh ketuk
Kamu pecahkah piring jiwanya
Dengan palu lidahmu besi terantuk
Ada gejolak keraguan berkorekan
memenuhi pikiran cita masa depan
Kini berantakan
Entah kamu pahlawan, ilmuan,
sastrawan atau pemutus harapan?
Sudah seribu puisi ia cipta
bersetubuh dengan waktu
berdesakan kerat-kerat aktivitas rindu
Kini ia tak lagi lapar dahaga
Karena tempat sampah purba
sudah memakan serpihan-serpihannya
PUISI SEBAGAI SENI AGUNG
Puisi adalah seni agung yang berada
di bawah sayap malak metatron
Terjepitlah segala kuasa raja-raja
karena kebasannya menyatukan kembali
tanah kering bumi yang dingin
Sejauh mata memandang ia terbang
melampaui samodra pikiran tanpa perkiraan
Oh angin dari delapan penjuru
menyudutkan logika bahasa kata
kerasnya sang pemburu
Puisi sejak tiga ribu sebelum masehi
Adalah suara hati yang berdiri teguh
sebagai tekad, mantra dan cahaya
bagi naluriah manusia
Bagaimana mungkin ia bisa lenyap
hilang tenggelam dalam gelombang duka
sementara manusia masih bercengkerama
menggandeng suka duka di dunia yang fana
MENGENDARAI JEJAK LANGKAHMU
Mengendarai jejak-jejak langkahmu
di jalanan dan gang berkelok-kelok itu
aku termenung antara dua persimpangan
Perpisahan dalam kembara goresan jiwa
yang pernah kita warnai dengan berbagai
kisah kelaparan dan dahaga
membuatku sedikit meneteskan air mata
Kawan menemui tangga surganya
bersanding hening bersama
malaikat rahmat memanjat langit
tanpa kabar udara bertiup di telinga
sungguh terlalu dini dia harus pergi
LELAKI LUGU
Bunga, pohon dan tugu
Itu dari seorang lugu…
Lelaki yang sepi dalam keramaian
Adalah dia sang penentu keadilan
Matahari menyoroti hatinya
Sudah bertualang jauh ia
Bersama bunyi dan sajaknya
Lelaki sebentar waktu pergi lagi
Menggandeng pedih luka cinta
Untuk ditanamnya di kebun kata
Berharap tumbuh menjadi legenda
ARIES DALAM PERJALANAN
Angin membawanya ke pusaran
lelahnya perjalananan.
Bibit-bibit suka dan duka
ditanamnya dalam tiap perhentian.
Datanglah nyawa berbadan
menaburkan pupuk-pupuk impian
Pertemuan-pertemuan baru
bagai tali hantu yang terasa kuat
tak terlihat hubungan tak menentu.
Aries mewarisi kesabaran
dari raja bumi.
Ketentuan menggariskan karismanya
di hadapan muka para dermawan
dan pembesar.
Berkatlah segala di sisinya.
Hancurlah mata-mata sinis di hadapnya.
Aries berkembang serupa matahari siang hari.
BUAT TOKOH PUISI…
ranisreb artsas irahatam anamid
ublak id paleg ukebmem halet se
ayrus halada umak
ukkajas hariah
BAIKLAH JIKA…
krang kreng krong
kring krang kring
krung kreng krong
Apakah ini mantra
yang terbit dari mata air sukma?
clak clik cluk clek
clik clak clek clok
clek clak clik cluk
Mantra hujan turun sebagai harapan
Bagaimana kamu menjawab pertanyaan?
PELAMINAN ZAMRUD KHATULISTIWA
Kita berdua sepasang bintang
yang melengkapi pelaminan
di zamrud khatulistiwa
Dalam kebangkitan gejolak kerinduan
Bagai kesejahteraan dan keamanan
yang mesti ditegakkan di negeri ini
Malaikat baik hati sudah melepas
kewenangannya agar manusia
mengurus ketahanannya
bersama akal pikiran
keilmuwan dan nurani
Berpadulah kecintaan antara rakyat
dan pejabat sehingga muncul keramat
aturan yang cermat dan ditaati
Seiya sekata dalam kemesraan
mengurus kemerdekaan
PANTAI UJUNG GENTENG
HALAMAN RUMAHMU
Di Kota Sukabumi Selatan yang menawan
Pantai Ujung Genteng halaman rumahmu
pertama mengenalmu malam itu
Aku pahami kamu dengan mataku
Sebagaimana ku tatap pemandangan
saat dalam perjalanan
menuju tempatmu singgah
dan burung-burung melepas lelah
Kita berbincang sampai larut kelam
datang berdentang jam dua belas
langit menghitam
dan bintang menambah kehangatan obrolan tentang cita angan
duniawi masa depan
Kedua aku berkunjung kepadamu
Membawa logika dan akal sehatku
Kurang mesra sepertinya
bagai tertipu matahari yang nampak kecil
dalam pandangan ternyata lebih besar dari bumi
Siang tak lagi bisa meletakkan debunya di mukaku
karena sudah kujawab pertanyaan di pesisir lautan luas
Ketiga aku menengokmu
sambil memangku perasaanku
Kusandarkan diriku pada kursi kalbu
Maka kutemukan kamu
seindah warna-warni pelangi kala senja
mengembang setelah hujan
membasahi tanah kerinduan
Pantai Ujung Genteng Sukabumi Selatan
DI SENJA CIHAMPELAS BANDUNG
Setelah kita bicara mesra
di senja cihampelas Kota Bandung yang macet
Masih kukenangkan kilauan matamu
semarak mengandung butiran bintang angkasa rasa
menyala-nyala menyinari mimpi-mimpiku saat malam tiba
Jauhlah segala dukacita bila wajahmu
bertamu ke rumahku yang penuh debu
Menyingkirlah jiwa-jiwa politik penuh intrik
kala ketukan pintu mulai terdengar
dalam khayalanku
Sungguh pesonamu menyihir kerasnya sifatku
dan liarnya hidupku
Cihampelas Bandung
PENANTIAN DI PANTAI SELATAN
Berkelana di tebalnya rambutmu yang tergerai
bagai lintasan konstelasi zodiak
Aku menemukanmu dekat lautan senja
merah mawar sebelah pilar langit perahu
yang hendak berlayar
Tangkaplah gairah kerinduanku
yang selama tujuh musim semi tak bertemu
Wahai kekasihku, aku tahu kamu menungguku
di gemerlapan pasir-pasir putih pantai selatan itu
Tempatmu biasa duduk bersama burung-burung,
ikan dan tedong-tedong karang bintang
Di sini aku merasakannya dengan segenap rona jiwa
berjuta bunga penantian masih bermekaran
GENGGAMAN ARIES
Genggamlah tangannya
Kamu akan dapat meraih sinarnya
Terik di luar lembut di dalam
Kamu tak bisa menebak
apa yang terkandung di dada
Karena mata hanya melihat
yang nampak saja
Salju dingin menjadi hangat
Kepolosannya melahirkan berkat
Tak perlu merasa sia-sia
Aries mangangkat namamu
Ke cakrawala biru
GURUH UNTUK PENYAIR RUMAHAN
Bagai guci di lemari yang usang
Penyair di rumah sendirian
Tak berdaya melihat kenyataan
Delusi digital adalah sumber informasi
yang digarap dengan lahap
Wahai yang duduk dengan nyaman
di taman halaman rumah besar
Bagaimana kamu bisa dinilai sastrawan
Sejak zaman enheduanna
puisi tidak dicipta dari duduk dan diam
Tapi dari penghayatan akan kekuatan alam,
kepahitan, keterasingan, pembuangan,
kekacauan sosial
kemunduran nilai budaya
merosotnya keadilan
dan kelabunya nilai kebenaran
Pengembaraan lahir dan batin
gejolak zaman, diri dan kehidupan
Bersatu padu menjadi lagu musik
getaran rindu
Lalu mencari kekuatan kata
Sebagai jalan keluar untuk bicara
Empati dibangkitkan
sebagai modal utama
suatu karya
Kita sudah mengingkari diri
Dengan kedamaian yang dapati
uang, mewahnya kendaraan
penghargaan, kehormatan
bukan berarti tamat berdiri
Tapi awal mula kamu berpuisi
Berpartisipasi menggali makna tersembunyi
Seperti kamu bayi lagi
Dan kamu bukan siapa-siapa
di dunia ini
PETIR UNTUK KAUM INTELEKTUAL
Ada gunung meraung-raung
Bersuara tak jelas di balik lembah
Ada piagam berkalung-kalung
Apa artinya bila ditelaah
Terlalu banyak intelektual
Entah darimana gelar didapatkan
Aku masih waras berakal
Kata nasihat bukan kebanggaan
Karena hari mewanti-wanti
Pengagungan diri tercela hati
Ruh manusia terdekat diri
Akan sulit untuk nanti dikaji
Bagaimana disebut intelektual
Bila tidak bersikap dermawan
Kecerdasan itu berimbang
Antara pikiran dan kelakuan
Masyarakat membutuhkan bimbingan
Tak sekedar karya tulis atau ucapan
Aku pun perlu satu pengertian
Agar membaik semua bidang kehidupan
Di mana kaum intelektual berada
Belum terwujud juga keadilan sesama
Sekedar mencari nama apa maknanya
Kenyamanan diri pasti berakhir juga
Ke mana mereka pergi
Apa ke goa-goa sunyi
Bertapa mencari ilusi
Posisi mana mereka berdiri
Bagai batu filsuf yang misteri
Kalau cuma kritik dan saran
yang awam pun lebih kerap
Jika sekedar nasihat keramat
Aku sendiri pun lebih siap
Intelektual adalah kaum istimewa
Bagai emas berlian bagi negaranya
Tetapi ia juga memikul beban harapan
Rakyatnya yang mencari kebenaran
Jika keadaan ekonomi merosot
Intelektualnya mesti disorot
Jika situasi sosial memburuk
Intelektualnya masa garuk-garuk
Kita terlalu dini menisbatkan sebutan
Yang padahal belum teruji memecahkan
Permasalahan semakin bertumpukan
Bagai sampah yang kulihat di jalanan
Petir ini adalah pertanyaan sikap
Atas suatu fenomena mereka sigap
Membela yang lemah dan tak berdaya
Membedah persoalan secara nyata
Kaum intelektual adalah cahaya
Yang diutus langit memberi pencerahan
Menuntun di kegelapan
Menuju pintu gerbang kesejahteraan
BULAN PUISI
Bulan puisi adalah bulan di mana
aku dan kamu bertemu
pada suatu waktu
Di bawah mata-mata langit biru
Malaikat turun memenuhi
tangga kahyangan
Dengan rasa haru
membawakan minuman surga
Cawan-cawan berlian
Dan bunga emas cakrawala
Pohon dan rumputan cemburu
Kita buta seribu muka
Kita tuli dari semua hari
Kita lupa sejuta nama
Tinggal kata yang berdaya
Menjadi jembatan dua jiwa
LELAKI BULAN CAPRICORN
Kambing laut loncat semangat
Kakinya kuat sekuat mulutnya
Karang laut bertingkap
Mampu juga ia sergap
Satu dasawarsa
Lelaki melewati masa
Membaca tekstual dunia
Argumen mana yang tak terpatahkan
Narasi dari tiap pembicaraan
punya tameng ia menahan
Sungguh tajam melihat kelemahan
Tapi sayang hidup bukan ditentukan
semata dengan kecerdasan
Sampai datang bulan capricorn
Ia bagai makan popcorn
yang menikmati kesendiriannya
dalam sinema dan film
Jodohnya entah di mana
Rizkinya lari ke mana
SI KUNING BAK TERBUKA
Si kuning kebut di jalan
Besar truk bak terbuka menyeka
Tak sebesar pikiran dan rasa
Getir pengendara
Matahari menyala tegas wibawa
Satu, dua tiga langkah tersalip
Tetangga sebelahnya
Marah gerah
Masalahnya bukan hanya aturan
barangnya berhamburan juga
Karena tak ada penutup
Angin menebak
Setan bikin onar
Satu persatu diterbangkan
Kalau itu uang
Ini malah si sampah bau
Putuslah asa
Manusia tak ada berjaya
SAMPAH DI DI GANG KOTA
Bagai mayat tergeletak
Karung-karung plastik hitam
Menambah mistik pada malam
Seonggok dua onggok, mogok!
Udara menebarkan bau tak sedap
Lengkap sudah lanskap
bagi sebuah kegagalan kota
Airnya olahan kimia
yang merusak pencernaan
Dan peradaban kemanusiaan
TAK ADA PILIHAN
Air tak punya pikiran
Angin tak ada perasaan
Kamu lepas dari pilihan
Banjir dan badai adalah renungan
Bagi nilai keadilan yang terlalaikan
Kebijakan berbuah simalakama
Ajang penghargaan prestise semata
Ayam kampung sambel cabe
Jika tak beruntung kamu cape
Kita bicara dalam sajak
Meski tanpa ada yang mengajak
Karena tulisan adalah buah kesadaran
Bukan sebagai ciri kecerdasan
Awal sejarah peradaban
Naluriah alami kemanusiaan
yang dihadirkan oleh kekuatan gaib
sebagai ciri keberadaan
SANG PECINTA
Sang pecinta adalah lampu
yang terbakar kala menerangi
ruang hati
Kursi, meja, lukisan dinding
menjadi makna dari hening
Dalam kerapuhan
mesti ia dapatkan
Sang pecinta adalah nafas sesak
yang dipaksakan untuk bergerak berontak
DIAM ADALAH BARA
Tangkaplah segala kenyataan
yang menghampirimu dengan rela
Seperti Enheduanna
Menemukan jalan kepada Inanna
Dengan perasaan yakin tanpa keraguan
Melangkahlah
Karena diam adalah bara
ARIES YANG MERENUNG
Aries merenung di teras rumahnya
Hatinya adalah kebun luas
tanpa tanaman, sayur dan buah-buahan
Bagaikan patung
Ia terpatri berdiri mencari mata hati
Menganggap dirinya tak beruntung
Terpagarlah langkah-langkah mimpi
Uangnya sebagai aksesoris di lemari
KEDATANGAN PISCES
Pisces datang kepadaku
Membawa sejuta nada lirih
dan kelembutan
Matanya bagaikan bulan
Tergerai rambut bersama mimpinya
Seolah menyerap energi semesta
Aku duduk dalam pengabdian
Dihadapnya terpaku membatu
Serangkaian kalimat adalah tata surya
Seperti udara dingin
bahasanya gaib menerka
Meremas seluruh daya
Pisces pergi setelah mencabut hatiku
Dengan tanpa tatapan
Sudah larut sakitnya karena kecewa
DALAM DINDING TAKDIR
Hujan terdengar di kaki pagi
Lelaki terpungut irama sepi
Setitik api menyala dalam diri
Semangatnya gelora sejati
Sepuluh tahun menjaga mimpi
Menyarang sinar sang mentari
Melukis warna-warni pelangi
Di kanvas langit petang hari
Wahai lelaki tak ada jalan
Di balik dinding dinginnya takdir
Usaha agar segala tidak percuma
Berakhir juga dalam langkah sia-sia
SAJAK SERTIFIKAT TANAH
Udara pagi menyengat bau racun
Kimia olahan dadakan diaduk
mesra mengagetkan jiwa menguap
menyapa tanah-tanah kaum jelata
Tak ada biaya apa daya
Surat-surat memperumit suasana
Ekonomi sedang gawat
Muncul keharusan sertifikat
Girik, letter c, petok D, kekitir
membuat khawatir dan getir
Pikiranku bagai disambar petir
Memperbaiki aturan tanpa melihat
kondisi sebagian masyarakat
berarti mengenyampingkan keadilan
Kesejahteraan tak bisa diharapkan
Karena
paksaan era baru
zaman modern di bawah langit kelabu
Aku mencium debu
Berderai air mata pilu
Yang lemah mengelus kalbu
Kesabaran dipaksakan
dalam bentuk yang tidak menentu
Bumiku hasil keringat sepuluh tahun
receh dari uang logam hanyut
Tergusur oleh satu tanda tangan
Kebijakan tidak membawa keberuntungan
Kebijakan memaksa mengeluarkan
saku kosong yang sudah bolong
Niat yang baik membuatku tercekik
ditulis
15-18 Januari 2026

Komentar
Tulis komentar baru