Skip to Content

#4334_#437 Lilik Puji Astutik (III)

Foto Hakimi Sarlan Rasyid
files/user/8241/199480724_952046722252127_1292212625263719109_n.jpg
199480724_952046722252127_1292212625263719109_n.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AKU TERSESAT Lilik Puji Astutik

 

Hujan menghujam petir menyambar

Gelap mencekam halilintar menggelegar

Angin menari pada dedaunan

Hingga ranting patah berjatuhan

 

Pekat menghalangi pandangan

Aku meraba untuk sampai tujuan

Tertatih perlahan tanpa haluan

 

Aku tersesat pada kemunafikan

Hingga semua harus tertutup dengan kepalsuan

Merana dalam bentang kerinduan

 

Kerinduan abadi yang ingin kumiliki

Tiba-tiba terlepas tak terkendalikan

Kemudian kembali aku mencari

Perlahan ingin kutemui apa yang pernah terabaikan

 

Krian Sidoarjo, 2 November 2021

 

 

 

 

RINDU PADA TEPIAN MIMPI

Lilik Puji Astutik

 

Mata tak jua terpejam

Cahaya remang menjadi teman

Airmata deras mengalir tak teredam

Rindu ini tak jua lepas dari angan

 

Duhai pelita dalam kegelapan

Mengapa tak hadir dalam impian

Datanglah sejenak beri kedamaian

 

Rindu pada tepian mimpi

Terus saja jemari menari

Menghadirkan dirimu dalam setiap diksi

 

Malam yang kian larut dendangkan rindu

Hati kian tergoda dengan bayanganmu

Yang tiba-tiba menggairahkan hasrat

Pada rindu yang kian tersesat

 

Krian Sidoarjo, 12 Oktober 2021

 

 

 

 

AKU RINDU

Lilik Puji Astutik

 

Tak perduli apa yang terjadi

Hati terus berulah kembali

Mencari jejak yang tak pasti

Hingga raga letih untuk menuruti

 

Duhai hati berhentilah

Raga ini begitu lelah

Terombang-ambing rasa yang jengah

 

Seharusnya menggelar sajadah

Agar raga tak kembali lemah

Merangkai doa agar terbuang keinginan yang salah

 

Tapi hati mengapa kau kuat mengikat

Hingga rasa begitu dalam terikat

Mengatakan aksara aku rindu

Hingga bibir selalu mengulum pilu

 

Krian Sidoarjo, 19 September 2021

 

MENGECUP SENJA

Lilik Puji Astutik

 

Senja bermandikan cahaya

Redup terpandang mata

Indah menawan rasa

Berdetak jantung memuja

 

Kerinduan mengecup mesra senja

Hanya memeluk samar terasa

Hilang saat purnama tiba

 

Krian Sidoarjo 21 September 2021

 

AKU HANYA INGIN MEMANDANGMU

Lilik Puji Astutik

 

Beribu kali jemari meminta

Dalam tengadah teriring seribu doa

Sakit ini begitu pahit terasa

Merindu pada padang gersang sahara

 

Mengapa masih ada rasa

Bila hati tak mungkin menyatukan raga

Bila rasa hanya menambah beban dosa

 

Tuhan mengapa Kau gerakkan hati

Bila hanya kesedihan yang harus ternikmati

Karena rindu hanya mampu memeluk diksi

 

Aku hanya ingin memandangmu

Sesaat saja dalam tatap sendu

Mungkin takdir memang tak pernah mengijinkan bersatu

Dan biarkanlah rindu hanya menjadi diksi pilu

 

Kria Sidoarjo, 23 September 2021

AKU BENCI DENGAN RASAKU

 Lilik Puji Astutik

 

Tiba-tiba rindu menyeruak dalam hati

Seraut wajah menggoda kembali

Membuat hati terus saja ingin berlari

Mencari rasa yang tak pernah bisa terpahami

 

Aku benci dengan rasa

Yang selalu membuat  aku menggila

Hingga hati terombang-ambing dilema

 

Seharusnya hentikan bila tak ingin kecewa

Lalu siapa yang bisa cegah rasa

Bila selalu dalam pesona juga damba

 

Angin senja bawa pulang kembali

Rasa yang tak pantas aku miliki

Biarlah semua berakhir terhenti

Agar jiwa tak semakin tersakiti

 

Krian Sidoarjo,15 September 2021

AKULAH SEPI Lilik Puji Astutik

Aksara terangkai pada barisan diksi

Dalam kalimat yang tak bisa terpahami
Sungguh takdir apakah ini
Yang membuat hati jungkir balik tak mengerti

Selalu merasa sendiri walau dalam keramaian

Selalu merasa ditinggalkan walau banyak teman
Selalu merasa gelisah dalam ketakutan

Seperti terhukum oleh waktu

Seakan hari adalah perjalanan syahdu
Hingga tercoret aksara yang begitu pilu

Akulah sepi yang abadi

Dalam keriuhan diksi yang tertulis perih
Tiap aksara hanya tangisan juga jeritan hati
Melenggang dalam sunyi hingga mati

Krian Sidoarjo, 14 September 2021

 

 

TERGODA Lilik Puji Astutik

 

Tawamu renyah sekali

Seperti renginang bau terasi

Kembali kutergoda seperti gadis remaja

Yang baru merasakan jatuh cinta

 

Kegilaan apa ini

Terus menghadirkanmu dalam diksi

Membuat aku ingin memaki

 

Merindumu seperti warna pelangi

Begitu indah walau tak mungkin termiliki

Jauh di atas awan terasa dekat dalam hati

 

Aku tergoda tanpa meminta

Bagaimana bisa kuredam rasa

Bila hadirmu terus menjadi pesona

Merobek hati yang kian mendamba

 

Krian Sidoarjo, 30 Agustus 2021

 

AKHIR EPISODE RINDU  Lilik Puji Astutik

 

Kusetubuhi luka pada senja

Saat september datang penuh cerita

Resah merambah kedalaman hati

Hingga hancur semua rasa yang termiliki

 

Begitu hati sangat tersakiti

Jiwa memberontak ingin memaki

Meredam walau jeritan melengking tinggi

 

Mengapa hati terus merindu

Bila takdir melarang bertemu

Sungguh terasa sakit saat hati harus berlalu

 

Episode terakhir perjalanan rindu

Yang tak jua bisa untuk bersatu

Kandas pada bahtera tak beraroma cinta

Tenggelam dalam harapan hampa

 

Krian Sidoarjo, 3 September 2021

 

HARAPAN SEMU Lilik Puji Astutik

 

Terpahat aksara dalam kerinduan

Hanya sepi yang datang menyapa

Lalu kugenggam semu harapan

Saat hadirku tak lagi bisa menyapa mesra

 

Rindu hanya terbingkai dalam puisi

Nyatanya tak jua hati bisa memahami

Debaran rasa yang tak terpeduli

 

Duhai kelana jiwa

Apakah tak bisa kau membaca

Aksara yang kurangkai dengan berjuta makna

 

Lalu angin bermanja dengan sinar mentari

Panas meradang mengisi relung hati

Rindu makin menjadi api

Kau diam menikam dalam seribu duri

 

Krian Sidoarjo jawa timur, 4 September 2021

 

SENDIRI  Lilik Puji Astutik

 

Udara panas menghukum raga

Debu-debu berterbangan memenuhi udara

Sendirian meringkuk dalam kamar

Dalam gelap saat matahari terang bersinar

 

Peluh membasahi raga

Jiwa memberontak pada siapa

Harusnya menangis atau tertawa

 

Bila takdir sudah menyatu dengan perjalanan

Siapa yang sanggup melawan

Hanya diam dalam keinginan

 

Saat sayap sudah terpatahkan

Hanya tangis yang sanggup tertumpahkan

Angin jangan coba henti rasa ini

Biar ternikmati rindu dalam sunyi sendiri meresapi

 

Krian Sidoarjo, 29 Agustus 2021

 

 

KEMANAKAH HILANGNYA ELANGKU

Lilik Puji Astutik

 

Menukik menatap tajam

Seperti elang yang menyambar

Mata memandang dan menghujam

Mengapa kini semua pudar

 

Elang terbang tinggi

Tak meninggalkan jejak penuh misteri

Hilang entah kemana kepakan sayap dan pergi

 

Kemanakah hilangnya elangku

Yang hanya singgah lalu tinggalkan rindu

Hingga membuat rasa berharap selalu

 

Mendekap rasa rindu menatap awan

Tak jua kau tinggalkan angan

Musim telah lama berganti

Hati tetap mencari elang yang telah lama pergi

 

Krian Sidoarjo, 28 Agustus 2021

 

CORETAN USANG  

Lilik Puji Astutik

 

Saat rasa mulai bergeliat manja menyapa

Aku henti aksara agar tak tersulut gelora

Rindu ini seperti coretan usang

Yang tak bisa dibaca tapi dibuang sayang

 

Saat sebuah nama tertulis

Dalam aksara yang berbaris

Begitu indahnya rasa terlukis

 

Kamu menjelma bak dewa

Membuat riuh ria rasa

Hingga terus kudekap namamu di dada

 

Kamu seperti coretan usang

Yang kadang tak pantas dipertahankan

Namun namamu selalu membuat aku melayang

Dalam derai rindu yang tak bisa aku tanggalkan

 

Krian Sidoarjo, 19 Agustus 2021

 

TUHAN MENGAPA KAU CIPTA RINDU

Lilik Puji Astutik

 

Lelah hati mengolah rasa

Saat rindu mulai menyerang dada

Hingga luluh lantah hati

Menahan tangis yang tak bisa terbendung lagi

 

Tuhan mengapa KAU cipta rindu

Bila adanya hanya untuk menyiksa sepanjang waktu

Hingga raga meratap pilu

 

Ingin henti tak berharap kembali

Membungkus rasa agar tak mencari

Seraut wajah yang selalu menjadi penggoda hati

 

Tuhan mengapa KAU cipta rindu

Bila hanya untuk menyiksaku

Membingkai rasa agar hati tak mendua

Menepi sendiri tengadah dalam setangkup doa

 

Krian Sidoarjo, 21 Agustus 2021

 

TELAH KAU CURI  Lilik Puji Astutik

 

Hatiku telah kau curi tanpa datang

Pasrah dalam kegelisahan

Mengapa aku kian sayang

Walau hanya sekejap dalam perjumpaan

 

Duhai angin yang berlalu

Mengapa hadir dalam titik rindu

Bila gigil hanya antarkan beku

 

Seraut wajah pada setengah purnama

Tak jua hilang saat pagi tiba

Terus menghadang hingga jingga merona pada senja

 

Telah kau curi hatiku

Dengan tatap lembut yang menggoda jiwa

Setengah hatiku telah kau pergi bersama pesona semu

Yang membuat hati kian merana

 

Krian Sidoarjo, 22 Agustus 2021

 

TERSIKSA RINDU  Lilik Puji Astutik

 

Jemari terus menari

Diantara rindu yang tak mau menepi

Terbelenggu rasa hasrat tak sanggup menggapai

Hanya diam dalam kisah yang tak sampai

 

Rabu rindu tiada arti

Menangis terhempas dalam sepi

Mengapa hati ini terus mendekap mimpi

 

Hanya sekali kita melewati

Tawa yang tak pantas ternikmati

Hingga angan kian melambung tinggi

 

Tuan rindu ini sangat menyiksa

Hati tersayat seribu luka

Diammu membuat aku kian merana

Mungkinkah suatu masa kita berjumpa

 

Krian Sidoarjo, 18 Agustus 2021

 

GALAU  Lilik Puji Astutik

 

Kerinduan memuncak pada singgasana rasa

Gemuruh dalam dada mengalahkan ombak samudra

Hati terbakar meradang bara membara

Tak sanggup menahan esok kan tiba

 

Kelana rasa tak sanggup henti keinginan

Saat seraut wajah hadir pada angan

Terlalu merindu pada sebuah bayangan

 

Duhai malam biarkan sepi tenggelamkan hati

Dalam balutan rasa rindu yang tak bisa terpahami

Terus berlari dan mencari dalam kegalauan yang ternikmati

 

Angin pagi berbisik lirih meratap pilu

Rindu kian membucah membelenggu rasa

Dalam lantunan doa di pagi yang syahdu

Kuberharap damai kan memeluk saat senja tiba

 

Krian Sidoarjo, 19 Agustus 2021

 

TERJEBAK LUKA Lilik Puji Astutik

 

Menanti pada ujung senja

Diantara langit yang mempesona

Berhias indah warna jingga

Pada temaram yang menggoda hasrat jiwa

 

Angin berbisik nada sendu

Diantara ranting-ranting yang hampir layu

Jatuh dedaunan pada gigil yang beku

 

Hasrat melambung diantara remang senja

Rindu datang membawa nestapa

Bibir terkatup bisu menahan tangis luka

 

Senja selalu menyapa dalam luka

Saat damba hanya menjadi hiasan dalam problema

Melepas raga tak sanggup melupa

Bayangan teduh hadir dalam rindu yang kian membara

 

Krian Sidoarjo, 12,Agustus 2021

 

 

KEKASIH BAYANGAN  Lilik Puji Astutik

 

Hanya mampu memuja

Lewat canda tawa dalam barisan aksara

Tak bisa mengucapkan kata cinta

Menekan hati agar tak merengkuh problema

 

Menghadirkan dalam rindu

Wajah teduh pada bayangan semu

Hanya tersenyum saat desiran halus menyentuh kalbu

 

Begitu cinta melekat harap

Walau raga tak mampu mendekap

Rindu ini semoga tak tersingkap

 

Hanya kekasih bayangan

Yang hadir saat jiwa dalam kegelisahan

Mengulum cinta lewat angan

Karena kamu tak mungkin bisa kudekap dalam kenyataan

 

Krian Sidoarjo 11 Agustus 2021

 

MASIH ADA HUJAN  Lilik Puji Astutik

 

Masih ada hujan pada bulan Agustus

Seperti harapan yang tak pernah putus

Walau menahan rindu yang begitu membuncah

Tetap menanti mengharap tiada lelah

 

Gerimis seperti tangis hati

Mengiris pedih menyayat bagai belati

Mengapa tersingkir sebelum rindu terobati

 

Bagaimana bisa berlabuh bila tak berdermaga

Pecah bathera terombang ambing ombak samudra

Lalu kemana kan tambatkan rasa

 

Masih ada hujan pada bulan Agustus

Yang menyirami bumi dengan begitu tulus

Seperti kerinduanku yang selalu setia menanti

Sampai engkau kembali menjenggukku disini

 

Krian Sidoarjo, 10 Agustus 2021

 

 

RESAH PADA SUDUT MALAM  Lilik Puji Astutik

 

Terbaring sendiri mendekap sepi

Rindu mengapa tak jua menepi

Sedang hanya milik sendiri

Angin pun serasa ikut tak peduli

 

Keresahan melanda pada sudut malam

Diantara cahaya yang temaram

Tak berwarna hanya memandang buram

 

Lalu terdengar suara yang begitu mencekam

Dari hati yang paling terdalam

Menjerit dalam rintihan yang begitu suram

 

Tuhan mengapa aku harus bermain dengan takdir

Bila bukan untukku namanya terukir

Mengapa dia singgah dalam hatiku

Hingga memasung rasa dalam rindu

 

Krian Sidoarjo, 9 Agustus 2021

 

 

APA ARTI RINDU INI Lilik Puji Astutik

 

Kucoba untuk melupa

Tapi rasa siapa yang bisa sangka

Akan berlari atau diam sendiri

Menanti senja yang akan kembali

 

Ingin melupa tapi tak bisa

Kau seperti butiran rasa

Yang berjatuhan saat rindu tiba

 

Mengapa harus ada rindu

Bila hanya hadirkan luka dalam hatiku

Hingga semua terasa sepahit empedu

 

Apalagi artinya rindu ini

Bila kau tak pernah bisa pahami

Mengapa kerinduan datang dalam kebimbangan

Hingga aku hanya memeluk kepedihan

 

Ploso Jombang 7 Agustus 2021

 

 

TERPAPAR RINDU Lilik Puji Astutik

 

Mengapa harus terjadi

Perjalanan yang membuat luka hati

Terpesona pada yang tak termiliki

Hingga menghadirkannya dalam diksi

 

Aku terpapar rindu

Dalam gejolak yang semu

Membuat hati tiada tentu

 

Datang bersama angin semilir

Mengapa harus hadir

Bila tak sanggup untuk diukir

 

Aku terpapar rindu

Rindu yang kugantung dalam rangkaian diksi

Hingga membuat aku termanggu

Dalam sepi yang tertitah pada waktu

 

Krian Sidoarjo, 7 Agustus 2021

 

 

SAAT RASA JATUH

Lilik Puji Astutik

 

Saat rasa jatuh pada tempat yang salah

Melekat kuat mengikat rasa hingga terlena

Bagaimana memunguti kembali bila hati kian pasrah

Menjadi budak rindu yang kian membara

 

Saat rasa jatuh kerinduan mulai melambung tinggi

Mengapa terus menari diantara rangkaian diksi

Hingga raga lelah dalam balutan sepi nan sunyi

 

Saat rasa jatuh pada senja yang berhias jingga

Kupeluk erat bayangan yang selalu kudamba

Entah sampai kapan aku harus memuja walau tak lagi berjumpa

 

Saat rasa jatuh kurangkai aksara dalam diksi

Untuk kunikmati saat rindu menggelitik hati

Membuat hasrat kian tak terkendali

Entah syetan mana yang merasuki

 

Krian Sidoarjo, 2 Agustus 2021

 

ILUSI DALAM PELUKAN PELANGI

Lilik Puji Astutik

 

Lelah aku berharap dalam tarian rindu

Mengapa takdir tak indah dalam pelukan

Semua terasa mengikat dalam belenggu

Hingga ragaku terbang dalam ketidakberdayaan

 

Mengapa kau kirim pelangi

Bila kemudian kau tinggal pergi

Hingga menyiksa dalam hati

 

Haruskah kutemui dalam ilusi

Saat rindu membawa untaian diksi

Sedang pelangi tak sudi menemani

 

Masih ada sisa hujan di bulan Juli

Yang membuat gigil semakin menikam hati

Kemana harus aku mencari

Kepingan hati yang tercampakan lalu kau tinggal pergi

 

Krian Sidoarjo, 10 Juli 2021

 

 

RINDU BERMAIN API

Lilik Puji Astutik

 

Gigil pagi di bulan juli masih setia menemani

Rasanya menembus hingga ke jantung hati

Beku lara memeluk rindu yang tak pernah terakhiri

Pagipun kian menambah syahdu barisan ilusi

 

Mengapa harus merindu bila tak memiliki

Seharusnya berhenti tak menambah rumit lagi

Mengapa harus bermain api bila tersakiti diri sendiri

 

Rindu kian membara pada rasa

Gigil pagi tak sanggup henti keinginan yang menjelma

Berputar-putar pada langkah yang penuh dilema

 

Hasrat kian terbang menembus awan

Mengapa dirimu selalu hadir pada angan

Bila aku harus selalu kehilangan

Saat kebersamaan yang selalu aku inginkan

 

Krian Sidoarjo 28 juli 2021

 

PANTASKAH KAU KURINDUKAN

Lilik Puji Astutik

 

Semilir angin senja membawa dahaga

Dalam kerinduan yang tak pernah putus dari rasa

Mengapai yang tak termiliki hingga hati terluka

Terbakar ego yang kian terbakar bara

 

Pantaskah kau kurindukan

Sedang takdir tak pernah mempertemukan

Apalagi kita dapat singgah dalam pelukan

 

Hati tak usah lagi merindu

Bila hanya bisa mendekap bayangan semu

Yang membuat hati kian terbelenggu

 

Semilir angin senja bawalah kembali rasa

Agar aku bisa menata hati untuk melupa

Segala pesona yang pernah singgah pada mata

Melangkah tertatih membuang segala yang tak pantas didamba

 

Krian Sidoarjo 1 Agustus 2021

 

RINDU MENDERA LUKA

Lilik Puji Astutik

 

Gigil bulan juli masih memeluk rindu

Sepasang pipit tak sanggup bernyanyi merdu

Kutilang tertawa mendendangkan lagu sendu

Mentari tak sanggup hilangkan gigil yang membeku

 

Pagi masih menyapa penuh gairah

Diantara detak jantung yang kian lelah

Menunggu kepastian rasa penuh gelisah

 

Duhaiku rindu masih membingkai aksara

Hati ini tak bisa diajak berdamai dengan rasa

Hingga luka mendera dalam jiwa

 

Gigil pagi dibulan juli

Menorehkan luka yang tiada henti

Mungkin takdir tak seindah mimpi

Hingga luka mendera dalam setiap detakan nafas ini

 

Krian Sidoarjo, 27 Juli 2021

 

KARENA KAMU  Lilik Puji Astutik

 

Aku kehilangan aksara

Saat rindu mendera rasa

Pada pagi yang penuh pesona

Dalam rangkaian hasrat yang penuh problema

 

Karena kamu dunia terasa indah

Gairah hasrat menjulang tiada terkira

Dalam balutan kerinduan yang selalu basah

 

Karena kamu hati selalu gelisah

Ilusi melambung tinggi terpenuhi rasa cinta

Hingga hatiku jatuh terkapar dalam lelah

 

Hasrat tak jua terhenti

Entah kapan bertemu kembali

Sedang semua dirimu telah jauh pergi

Meninggalkan aku sendiri dalam sunyi nan sepi

 

Krian Sidoarjo, 30 Juli 2021

 

HARUSKAH AKU MEMBENCI

Lilik Puji Astutik

 

Biarlah terlelap rasa pada senja

Saat hati mulai membingkai kembali luka

Rindu selalu menjadi baitan petaka

Saat sapa mulai mengukir aksara

 

Terus saja terluka saat menyapa

Rindu gersang pada padang sahara

Ingin mengapai tak ikut memilikinya

 

Diamlah hati agar tak menangis lagi

Bukankah telah kau sadari

Kau hanyalah sekeping rasa yang tak pernah terkehendaki

 

Sejak awal pertemuan hati terus berlari

Ingin menikmati indahnya hati yang tak termiliki

Haruskah aku membenci

Pada perjalanan yang telah terlewati

 

Krian Sidoarjo, 21Juli 2021

 

MASIH ADA GERIMIS DI BULAN JULI

Lilik Puji Astutik

 

Embun masih setia menemani pagi

Gigilnya pilu menusuk hingga ke hati

Andai bisa kutarik kembali

Waktu yang berlalu tinggalkan ilusi

 

Masih ada gerimis di bulan juli

Membuat gigil kian memeluk erat pagi

Seperti nyanyian awan yang rindu pelangi

 

Duhai tuan yang selalu datang dalam mimpi

Mengapa hadir bersama gelisah dalam diksi

Bila ragamu tak bisa kumiliki

 

Masih ada gerimis di bulan juli

Mengantar bayangan yang selalu kembali

Dalam rindu yang begitu abadi

Menjerat pesona hingga aku tersiksa sendiri

 

Krian Sidoarjo ,22 Juli 2021

 

KAPANKAH RINDU BERAKHIR Lilik Puji Astutik

 

Begitu gigil memeluk erat pagi

Mencekam hingga menusuk hati

Suara ketidakberdayaan merenda mimpi

Walau tak terajut rasa ingin memiliki

 

Rindu seperti permainan api

Kadang menyambar hingga membakar diri

Atau memberi nikmat pada padang ilusi

 

Rindu melaju tak terkendali

Mengharapkan satu nama hadir disini

Menanti hingga ajal menjemput nanti

 

Kapan rindu akan berakhir

Bila rasa seperti sungai yang selalu mengalir

Bila satu nama selalu terukir

Memberi warna indah pada angin semilir

 

Krian Sidoarjo, 24 Juli 2021

 

BIARKAN AKU MERINDU  Lilik Puji Astutik

 

Biarkanlah aku bermanja lewat aksara

Untuk menuang segala kerinduan yang ada

Tak mungkin aku datang ke sana

Apalagi untuk mendekap mesra

 

Kamu adalah kegelisahan yang aku cipta

Kuhadirkan dalam bayangan yang sempurna

Indah sangat menawan pada rasa

 

Kamu adalah keindahan yang selalu ingin kunikmati

Dalam serangkaian diksi dalam puisi

Hingga aku terus merindu dalam rasa yang tak pasti

 

Biarkalah aku bermanja lewat aksara

Karena ku tak yakin kita bisa berjumpa

Walau kerinduan menumpuk pada rasa

Aku akan mengikat sempurna agar dia tak menjamah

 

Krian Sidoarjo, 24 juli 2021

 

TERSESAT  Lilik Puji Astutik

 

Purnama tertutup awan

Singgah hati pada kegelapan

Melangkah tak pasti dalam kesunyian

Sendiri menikmati alur kegelisahan

 

Aku tersesat pada hasrat semu

Rindang kerinduan tak jua melayu

Hasrat jatuh dalam desahan pilu

 

Duhai tuan yang selalu menjadi damba

Mengapa kau jatuhkan pesona

Bila hanya untuk titipkan luka

 

Mencoba kembali bangkit

Menanti hati yang begitu terasa sakit

Walau langkah tak begitu jauh tersesat

Namun rasa ini sungguh sangat tersayat

 

Krian Sidoarjo, 27 Juli 2021

 

 

 

 

 

 

 

 

SAAT MALAM TAK BERPURNAMA 

Lilik Puji Astutik

 

Rembulan mengintip dari balik jendela

Ronanya jatuh pada hias kaca

Memantul indah seberkas cahaya

Sunyi menambah indah suasana

 

Saat malam tak berpurnama

Nyanyian sunyi menggema

Pada ujung malam yang tak berwarna

 

Altar rindu yang aku cipta

Kian membelenggu juga menyiksa

Adakah dia akan pergi dan sirna

 

Saat malam tak berpurnama

Kulepas semua kerinduan yang penuh dilema

Agar tentram memeluk jiwa

Melangkah pasti dalam mengapai bahagia

 

Krian 17 Juli 2021

 

GIGIL ANGIN DI BULAN JULI

Lilik Puji Astutik

 

Malam terasa begitu beku

Hingga raga terasa begitu kaku

Saat jiwa terus mendekap rindu

Yan tak pernah sampai hulu

 

Sungai-sungai mulai kering

Berguguran daun juga ranting

Mata inipun rasanya tak sanggup berpaling

 

Walau perih telah menyayat luka

Terus saja hati memuja

Dalam rindu yang terdekap mesra

 

Gigil angin di bulan juli

Menambah luka hati ini

Hampa harap dalam menanti

Hanya sepi yang datang kembali

 

Krian 16 Juli 2021

 

SAAT KERINDUAN TAK TERJAWAB

Lilik Puji Astutik

 

Saat kerinduan tak terjawab

Saat angin hanya berlalu pergi

Kemudian sepi tertelan waktu dan lenyap

Aku masih menyimpan rindu di hati

 

Mengapa terus saja terangkai rindu

Bila hanya membuat hati tersayat sembilu

Perih hingga menyiksa dalam kalbu

 

Waktu terus mendera hati kian tersiksa

Rindu terus mengembara dalam dilema

Saat hasrat jatuh pada tumpuan yang salah

 

Saat kerinduan tak terjawab

Lisan tertawa terbahak-bahak

Hati kian terasa begitu pengap

Entah kemana langkah kaki kam terpijak

 

Krian 17 Juli 2021

 

AKU DAN DESIRAN ANGIN Lilik Puji Astutik

 

Aku peluk keresahan dalam pekat malam  

Langkah kaki terseok dalam gundah

Mata nanar menatap suram

Memekik lirih terkapar jiwa lelah

 

Desiran angin porak porandakan angan

Aku menari-nari pada kepiluan

Ingin berlari hati telah terpenjarakan

 

Mengapa kerinduan seperti ilalang kering

Raga merintih sendiri saat tak mampu bersanding

Aku menyerah kalah sebelum bertanding

 

Desiran angin membawa anganku terbang

Entah kemana jiwa ini terdampar

Anganpun kian melambung tinggi melayang

Saat jiwaku lelah ragaku lunglai terkapar

 

Krian Sidoarjo,15 Juli 2021

 

KERINDUAN DALAM LUKA Lilik Puji Astutik

 

Senja memeluk jingga penuh mesra

Sinarnya jatuh pada pohon cemara

Indah menawan hingga terkulai rasa

Bangkitkan rindu yang tak pernah reda

 

Kerinduan ini seperti angin yang berlalu

Semilir bernyanyi lagu sendu

Meratap dalam rasa yang terus membelenggu

 

Aku ingin menangis menjerit menghiba

Mengapa selalu saja tersayat luka

Saat rindu datang menghampiri jiwa

 

Kisah kita seperti bara api yang menyala

Saat mendekat pasti terbakar dilema

Saat menjauh hati tak bisa terima

Kerinduan ini seperti menikmati buah simalakama

 

Krian 13 Juli 2021

 

TERKURUNG RASA SEMU Lilik Puji Astutik

 

Pagi rejam rindu dengan luka

Tersentuh mawar tak beraroma

Hanya duri yang menancapkan bisa

Perlahan hati terkoyak dalam dekap derita

 

Mengapa harus merindu bila tak bisa bertemu

Mendekap mesra hanya bayangan semu

Hingga hati meratap pilu

 

Seharusnya tak hadir rasa yang pantas

Hingga membuat hati terkuras

Dalam jedah bathera yang kandas

 

Terkurung rasa semu

Hingga rasa menjerumus luka

Setangkai mawar pun telah melayu

Saat sadari rasa ini semakin sesakkan jiwa

 

Krian 8 Agustus 2021

 

KEMBALIKAN HATIKU  Lilik Puji Astutik

 

Langit masih menyimpan berjuta misteri

Walau bertaburan berjuta bintang

Tak satupun yang dapat aku miliki

Hingga ingin rasanya aku terbang melayang

 

Mengapa tercipta rindu diantara suram kelabu

Yang membuat hati redup lelah menunggu

Dalam penantian yang tak pernah berlabuh

 

Purnama elok memancarkan cahaya

Bintang bercanda saat malam tiba

Sepi menyiksa hati yang penuh gelisah

 

Kembalikan hatiku jangan kau bawa pergi

Kan kukirim seribu doa dalam kesucian hati

Aku masih ingin menetap disini

Bersama bunga yang elok mewangi

 

Krian Sidoarjo, 6 Juni 2021

 

JIKA Lilik Puji Astutik

 

Panas membakar rasa dalam keresahan

Ilalang kering di tepi jalan berterbangan

Daun-daun kuning berguguran

Jatuh satu-satu dari dahan

 

Jika takdir adalah kepastian

Maka biarkan langkah kaki dalam keteguhan

Tak perduli apa yang menjadi rintangan

 

Selaksa doa menjadi pelipur harapan

Kala diri terbelenggu dalam ketidakpastian

Pasrah karena semua telah tergariskan

 

Jika raga tak ikut memiliki

Juga masa akan terakhiri

Maka biarkan semua tersudahi

Dalam kisah yang telah ditakdirkan ilahi

 

Krian Sidoarjo,2 Juli 2021

 

TERJERAT ILUSI Lilik Puji Astutik

 

Menggoda dan tergoda

Hati siapa yang bisa menebak rasa

Bila ilusi menari pada padang sahara

Bisakah hati akan berbunga

 

Benih terhempas angin berantakan

Tak jua tersemai dalam kekeringan

Lelah menanti dalam kegalauan

 

Menggoda dan tergoda

Rasa diam dan menetaplah didada

Jangan berharap untuk berjumpa

 

Hadirmu tak diinginkan

Jangan merajuk tetap diam

Biarlah waktu hanya memberi harapan

Tetaplah tersudut pada warna kelam

 

Krian Sidoarjo, 2 Juli 2021

 

ADAKAH RINDU KAN SAMPAI Lilik Puji Astutik

 

Kerinduan terbakar api kecewa

Dalam seribu tanya dalam hati

Rasa nyeri menusuk dada

Saat aksara lepas tak terkendali

 

Air banjiri mata hujan berderai menahan luka

Mengapa terus saja menghiba

Bila tak ada yang pedulikan rasa

 

Angkuhmu tingkat dewa

Dalam tahta yang tak bisa terjamah

Hati meramu rasa kecewa yang terus mendera

 

Adakah rindu kan sampai

Atau melayu saat rasa menggapai

Seperti bibit yang tersamai

Tanpa derai hujan yang membelai

 

Krian Sidoarjo,4 Juni 2021

 

RINDU RINDANG LUKA Lilik Puji Astutik

 

Gerimis masih menemani walau juni telah berlalu

Hati yang merindu kian beku

Adakah engkau tahu aku menunggu

Walau sejenak untuk bisa menatapmu

 

Rindu begitu rindang

Hatipun terus berdendang

Irama syahdu kasih sayang

 

Hasrat tak jua sampai

Hati tak jua bisa dirantai

Terus berlari mencari

 

Rindang rindu berbingkai luka

Kemana akan kutambatkan rasa

Bila langit hanya pejamkan mata

Saat melihat aku begitu merana

 

Krian Sidoarjo, 1 Juli 2021

 

 

MASIH KUSIMPAN SATU NAMA Lilik Puji Astutik

 

Langit kelam hujan datang

Kilat menyambar tatap nanar

Hati kian terbang melayang

Rindu dalam hati tak pernah pudar

 

Masih kusimpan satu nama

Yang selalu merobek hati dengan siksa

Merejam jiwa dengan luka

 

Seharusnya membuang kenangan tak berguna

Tak menyimpan untuk jadi damba

Karena takdir tak mungkin menyatukan rasa

 

Masih kusimpan satu nama

Yang sempurna menyiksa dalam kerinduan

Hingga tak sadar aku terjerat dalam dera

Yang menghukumku dalam kepiluan

 

Krian Sidoarjo, 30 Juni 2021

 

HARUSKAH AKU TERUS MERINDU Lilik Puji Astutik

 

Gerimis kecil menghias pagi

Gigilnya pilu menusuk hingga ke hati

Rasa begitu dingin hingga membalut sunyi

Sendiri meratapi nasib yang tak bisa dipahami

 

Seharusnya tanggalkan semua kisah

Agar jiwa terlepas dari gundah

Tak terbaring dalam dekapan gelisah

 

Haruskah aku terus merindu

Bila takdir tak menghendaki untuk bersatu

Seharusnya melepas semua kisah lalu

 

Aku masih seperti yang dulu

Memeluk kisah yang hangus terbakar jadi abu

Walau sakit tetap tergenggam dalam kalbu

Khianat yang kau beri terus menyayat hatiku

 

Krian 28 Juni 2021

 

RINDU TERHADANG SAMUDERA Lilik Puji Astutik

 

Tertatih hati melupa

Saat rindu mulai menggoda

Dalam diam hanya mampu meraba

Adakah kan tersampaikan semua rasa

 

Rindu terhadang samudera

Hati meminta untuk menatap mesra

Entah kapan kan berjumpa

 

Hanya setangkup doa

Yang mampu redam gejolak jiwa

Sadari tak pernah memilikinya

 

Duhai kelana rasa

Henti semua rindu yang tak biasa

Agar hati bisa menerima

Bahwa takdir tak pernah menyatukan raga

 

Krian Sidoarjo 26 Juni 2021

 

PEKAT Lilik Puji Astutik

 

Tersudut sepi dalam riuh rasa

Kerinduan seperti api yang penuh jelaga

Pekat menutup setiap sudut pandangan mata

Terus mencari dalam detak jantung jiwa

 

Gelap mengunci setiap pandangan hati

Lelah jiwa padamkan gejolak yang merajai

Ingin berhenti tapi keinginan terus berlari

 

Duhai jiwa-jiwa yang berkeliaran pada temaram

Tetaplah tenang dalam kelam malam

Jangan berlari terus ke sudut suram

 

Dalam pekat malam tanpa pelita

Pandangan nanar melangkah dalam gulita

Sepi mendayung rasa dalam doa

Semoga Tuhan mengampuni segala dosa

 

Krian Sidoarjo 15 Juni 2021

 

 

HUJAN MENIKAM RINDU  Lilik Puji Astutik

 

Langit gulita meradang udara

Perlahan gerimis jatuh berderai

Hujan bernyanyi dalam aksara

Seperti memetik gitar yang tak berdawai

 

Hujan menikam rindu

Seperti rasa yang tak pernah tertelan waktu

Terus berharap bertemu walau tiada tentu

 

Angan terbang seperti layang-layang

Tertiup angin tinggi melayang

Tak tentu arah kemudian terbuang

 

Hujan datang bersama sambaran petir

Mengapa kisah itu terus terukir

Ingin semuanya berakhir

Saat hujan menikam rindu biarlah gigil mengecup getir

 

Krian Sidoarjo 24 Juni 2021

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler