Skip to Content

Horarium

Foto Joan Udu

 

HORARIUM, 1

Kulinting namamu, Mempelai

(dengan desiran angin, dengan bisikan

lembut liukan anak sungai).

 

Tak mampu aku bersegara

mengejamu beribu tahun cahaya

lamanya. Telah tiba waktuku

memagut, menjelangmu.

 

Tetapi kerap kuletih melinting

namamu. Tuhankah engkau, bukan?

Ataukah sengau suara angin?

 

Sukabumi, 9/7/2017

 

HORARIUM, 2

Hujan hari ini tumpah dari kantungnya

semakin ke sini, semakin gerimis

semakin gerimis semakin lirih

semakin lirih semakin sepi melenting

dari genting yang satu ke yang lainnya.

 

Hujan benar-benar membunyikan sunyi di sini

aku meringkuk di celah detaknya, seperti penyair

yang kedinginan di antara barisan puisi

atau seperti rahib yang menggigil di jeda

bait doa. Sunyi, sunyi sekali.

 

Aduh, mungkin perlu begini, ayah

kupindahkan saja sungai sajak ini ke matamu

siapa tahu kelak ia tumbuh jadi samudra raya

yang ikhlas, yang mau deburkan sunyi dan sepiku.

Bolehkan, ayah?

 

HORARIUM, 3

Tuhan

tiada lekang

aku menumpang.

 

Aku ialah

anjing musim hujan

yang hanya tahu

menyalak.

 

Tuhan

aku membuta

aku tidak tahu

berkaca.

 

(untuk ayah yang berulang tahun di 4 September; untuk ayah yang membangunkan kata-kata, jadi sajak, jadi doa yang mungil; untuk ayah yang adalah segalanya)

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler