Skip to Content

Kota Kelahiran Kedua

Foto Krissma Tesalonika Sarrena

Kota Kelahiran Kedua, Manggarai 
pondok kami
kampung kami 
jantung kami
sajak kami, Manggarai
dalam selimut kabut, dingin menusuk, dan nasib puluhan tahun
secangkir kopi Manggarai, obrolan dalam menikmati kompiang
di perempatan, hilir mudik bemo-bemo dan ojek
orang-orang Manggarai tidak menangih hangat mentari setiap hari
mereka hanya tersangkut dalam hujan dan dingin
memenuhi lapar yang berdebat dengan sajak-sajak penyair tua
Katedral
kami di sini, tidak bisa dipecahkan dengan rumus-rumus  
mengukur setiap jengkal kaki yang dibawa oleh ibu kaki
tapi, terhalang oleh juragan kopi dan cengkeh
Dulu kami seperti debu dan bayi yang didustahinakan
mengeja kota tanpa neon
mengingatkan kepada kota

pondok kami

kampung kami

jantung kami

sajak kami, Manggarai

 

dalam selimut kabut, dingin menusuk, dan nasib puluhan tahun

secangkir kopi Manggarai, obrolan dalam menikmati kompiang

di perempatan, hilir mudik bemo-bemo dan ojek

orang-orang Manggarai tidak menangih hangat mentari setiap hari

mereka hanya tersangkut dalam hujan dan dingin

memenuhi lapar yang berdebat dengan sajak-sajak penyair tua

 

Katedral

kami di sini, tidak bisa dipecahkan dengan rumus-rumus 

mengukur setiap jengkal kaki yang dibawa oleh ibu kaki

tapi, terhalang oleh juragan kopi dan cengkeh

 

Dulu kami seperti debu dan bayi yang didustahinakan

mengeja kota tanpa neon

mengingatkan kepada kota kelahiran kedua

yaitu Manggarai

 

 

Manggarai, 2016

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler