Skip to Content

#4334 dan #437_Nur Rofik K S

Foto Hakimi Sarlan Rasyid
files/user/8241/IMG_20200717_144035.jpg
IMG_20200717_144035.jpg

 

Nur Rofik Kartika Setyawati, TRENGGALEK - JAWA TIMUR.
Gemar menulis sejak di sekolah dasar (di buku notes/diary)
Ketertarikakan di dunia literasi ini, mendorong saya menulis 2 antologi puisi, KIDUNG PLESIRAN (2019) dan LINGKARAN BULEVAR (2020).

 

PELET SI MASTER

Nur Rofik KS

 

Merayu dalam petisi

Menunjuk hati tak berisi

Menyalalah semua ambisi

Merebut setiap kongsi

 

Bermandikan peluh para pesuruh

Berdiri tegak seakan dewa

Bergelaktawa memuaskan hasrat

 

Si master menuju kursi lusuh

Siapkan sesajen jiwa

Suap para demon berwajah malaikat

 

Pelet asmara terbang melayang

Penuhi buana sedang tayang

Para jelata nanar memandang

Pasrah pada Sang Maha Sayang

 

 

Panggul, 13 September 2020

 

 

LEPAS LIAR SI BAJU BIRU

Nur Rofik KS

 

Buana riuh bilik suluk bergemuruh

Pertapa memejam mata, tafakur

Menyibak tabir, hingga ego luruh

Memindai fatwa alam, tanpa terukur

 

Pitawat disuarakan demi keselamatan

"Basuh diri , tudungi alat pernafasan,

heningkan jiwa di wisma, bagai tahanan

 

Dua kali setahun jagung, raga serupa benduan

Rasa tertindas, dilibas tanpa kebebasan

Gapura diacak, rantai dirantas atas nama kenikmatan

 

Bak si baju biru yang terlepasliar

Meramaikan perayaan yang disangka aman

Melalaikan wejangan seakan hilang sabar

Mempersetan rafik bagai dijadikan umpan

 

Panggul, 3 September 2020

 

AKU MALU, TUHAN

Nur Rofik KS

 

 

Aku malu, Tuhan

Jauh hari sebelum Wuhan

Para okultis berpetaruh untuk menahan

Agar umat menjauhi keserakahan

 

 

Tuhan, aku malu

Wejangan hanya tertebar dingin

Wasiat terngiang dicerna bak kekangan

 

 

Tuhan, aku malu

Tentara-Mu melaju bagai angin

Menerjang mayapada tanpa sandungan

 

 

Aku malu, Tuhan

Insan ini hanyalah penutur recehan

Beriman sekedar dalam ocehan

Nasehat terekam cuma sebatas gubahan

 

 

 

Panggul,

2 September 2020

 

BUKAN KEHENDAK
Nur Rofik KS

 

Jagad meronta manusia mendulang rasa
Alam menyapa tegas tanpa peduli siapa
Mayapada bergeliat geram melihat dusta
Angkasa meringkik, memekik penuh murka

 

Menjauhkan raga menutup ranah
Membungkam tiga indra terindah
Memicu sengketa bagai bocah

 

Memberi sentilan, dikata bertingkah
Mengirim gertakan, dibilang serakah
Menyebar kritikan, dikira bermegah

 

Bumi bergerak dalam garis alam
Tanpa ingin, tanpa kehendak juga
Bertasbih, memuji, menebar salam
Tunduk, takluk, pada Sang Pencipta

 

Panggul, 11 Agustus 2020

 

LAPAK BESTARI
Nur Rofik KS

 

Alam beringas memberi sentilan keras
Hingga papan belajar ditikam mati
Tetapi, ilmu tetap diajarkan dengan tegas
Dan, jiwa yang tunduk memberi simpati

 

Saung sejuk dikaki bukit
Hamparan rumput hijau segar
Saksi abadi tercurah budi pekerti

 

Bilik keluarga sedikit sempit
Zawiat tempat sajadah terhampar
Mengumbar senyum senang di hati

 

Balai-balai wisata lapang nan luas
Balai desa hijau indah menawan hati
Mereka bersorak girang dengan keras
Menyanjung para pencari ilmu sejati

 

Panggul, 13 Agustus 2020.

 

SURATAN ZAMAN
Nur Rofik KS

Cantik molek berisi
Bumi dipenuhi ambisi
Mayapada menjerit pilu
Suratan berakhir kelu

Zaman berganti berpoles bedak
Sayangnya, tanpa peduli ahlak
Teguran Tuhan, tak berjejak

Panggul, 11 Agustus 2020

 

PENCOLENG PELUH
Nur Rofik KS

Raga basah bermandikan sendu
Terik mentari diantara rindang dedaunan
Menjadi atap jiwa penuh rindu
Akan langkah hati membaca kehidupan

Lektur dijaja menggugah rasa
Bukan hanya pajangan indah
Atau pemanis taman balai masa

Melirik manis sang pemangsa
Mencekal lengan serasa pecah
Membuai sadis merenggut nyawa

Melansir warta memerindah jenama
Sonder menolehkan riwayat pegiat
Sosok temaah pemakan sesama
Yang jelak saudara mandi keringat

Panggul, 9 Agustus 2020

 

 

KEJORA BINTANG MALAM
Nur Rofik KS

Malam bersimpuh merapal dosa
Melagukan hitungan semua karsa
Hening menemani dengan leluasa
Tanpa peduli para pengunjuk rasa

Duhai gelap, tatap sang langit
Seberkas cahaya dalam redup
Menampar muka dengan sengit

Duhai langit, tampakkan kejora
Diantara seringai para dewi
Yang bermandi darah asmara

Bintang bersimpuh merapal pujian
Memohon Sang Khalik memberi ampunan
Gelap merapat enggan berjauhan
Dan, bintang hanya pasrah akan suratan

Panggul, 3 Agustus 2020


 

TEREKAM SETAN
Nur Rofik KS

Gendewa kaca benggala mengiring bisu
Hingga setan damai mengembang nafsu
Dedemit menari melonjak menekan hati
Menyanyikan nada membuat jiwa mati

Nurani dipasung dalam tabir
Manusia bersumpah hanya di bibir
Sukma melayang tanpa pikir

Ketika amarah direkam setan
Netra mencelang penuh bulatan
Rohani terbang dalam kesesatan

Wahai hayat yang sedang gundah
Tatap mesra Sang Pencipta resah
Penulis garis hidup dalam buku abadi
Hanya pada ALMALIK tempat mengabdi

Panggul, 26 Juli 2020

 

PEMANGSA HATI

Nur Rofik KS

Buyung tersimpuh dalam kemanjaan
Bapa menahan panah saat kemarahan
Biyung memejam mata karena kegundahan
Ketika buah hati mengunyah fuad wali dalam kenakalan

Pemoles kata perkasa melesatkan senjata peremuk sukma
Si centil pecinta kudapan mesra terkulai tanpa daya
Rayu adam merasuk memamah kalbu hawa tanpa sisa

Alam bergejolak dalam kebisingan manusiawi
Ketika jalma mengumbar keinginan tanpa kendali
Hingga pandemi menggeramus nurani insan untuk menasihati

Bila darah daging sudah mengunyah fuad pengampu hidup,
Kala lelanang jagad selalu memamah kalbu si geulis hingga redup,
Ketika anak adam bernafsu menggeramus nurani sesama karena sanggup,
Haruskah Sang Penguasa alam melapukkan mayapada dengan sekali tiup?

Panggul, 3 Juni 2020

 

MERAPAL ILHAM
Nur Rofik KS

Kelembutan senja membelai manja
Menutup cakap pun membungkam kata
Menampik suara menolak bahana
Si burit merayu mesra menuju Sang Pencipta

Zaman memaksa alam kembali gelap
Jiwa hening dirasa hingga terlelap
Hindari sukma dimakan roh kalap

Tertunduk atma dalam sepi lengang
Dosa, khilaf pun alpa kembali terngiang
Meronta nafsu , sesal bergejolak bimbang

Rapal isyarat menyusuri gejala alam
Tangan Tuhan tunak menuntun ilham
Kaji wejangan Almalik dalam diam
Untuk menjadi hamba Halikuljabbar pembawa salam


Panggul pesisir selatan, 2 Mei 2020

 

4334 Nur Rofik ini bernafas sufisme. Di antara kata-kata yang dipilihnya ada yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang sudah tenggelam dalam nafas “kedalaman pemahaman”.

Puisi yang sama, diubah. Nur Rofik tentu saja mempunyai hak bertahan pada puisi aslinya. Dan boleh mempertimbangkan saran perubahan yang diajukan.

 

MERAPAL ILHAM
Nur Rofik KS

Senja lembut membelai manja
Menutup cakap membungkam kata
Menampik suara menolak bahana
Senja merayu mesra menuju Sang Pencipta

Alam kembali didekap gelap
Jiwa dalam hening rebah terlelap
Tangan menengadah penuh harap

Tertunduk jiwa dalam sepi lengang
Dosa khilaf dan alpa kembali terngiang
Meronta nafsu sesal bergejolak bimbang

Isyarat dirapal menelusuri gejala alam
Tangan Tuhan syahdu menuntun ilham
Mengkaji wejangan Almalik dalam diam
Menjadi hamba Haliquljabbar pembawa salam


Panggul Pesisir Selatan, 2 Mei 2020



Selamat berlatih. Dan mulailah berpikir untuk apa aku berpuisi?

Hakimi Sarlan Rasyid
202005022048_Kotabaru_Karawang

 

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler