Skip to Content

Peradaban Kota

Foto Beni Guntarman
files/user/2512/Peradaban_Kota.jpg
Peradaban_Kota.jpg

Pada gincu dan kecupan panjang bibir wanita 

kotaku membara disegala sudutnya dan terluka

duka lembut bersumberkan pada jiwa yang patah

pada rintih tangisnya hati wanita mendua

 

Hatinya mudah bergoyang dihembus angin

bergoyang bagai butir-butir air di daun keladi

dan ia pun meradang, melompat bagai kucing liar

mengendus di kegelapan malam dengan mata jalangnya

 

Dalam kecupan panjang dan bekas gincu bibir wanita

langit kotaku berjelaga hitam, di mana-mana hitam

hitam pada gedung-gedung pencakar langit

dan juga pada taman serta lampu penerangan malam

 

Polusi kehidupan di kota-kota

polusi yang tak kenal kecup penghabisan

selagi muram kasih tak bertulang

tak bertiang  penopang beban kehidupan

 

Gincu dan kecupan panjang bibir wanita adalah wajah kita

wajah kehidupan di kota yang menumpuk-numpuk kemiskinan 

adalah kepalsuan, kepura-puraan, atau kebohongan hati 

tak ubahnya seperti wanita yang berhati mendua

 

Dalam kemiskinan harta, moral, dan himpitan hidup sehari-hari

bagai butir-butir air di daun keladi, hati kita mudah goyah 

ladang subur bagi para petualang syahwat kekuasaan

yaitu para poiltikus, petualang sejati dari lembah kebohongan!

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler