Skip to Content

JANGKUNG ASMORO GORESAN PENANYA

Foto Hakimi Sarlan Rasyid
files/user/8241/110137827_930170937464026_1622018718760701467_o.jpg
110137827_930170937464026_1622018718760701467_o.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sastra dan Kulit Kacang

 

Sastra secara umum adalah dunia kepenulisan, atau dunia literasi, tapi pada dasarnya sastra tetap harus pada standarnya, lalu apakan semua puisi itu sastra? Sejenak mari kita berandai andai, jika semua puisi itu sastra, lalu kenapa mesti ada dua kata? Lalu apa beda sastra dan puisi?

 

Sastra adalah filosofi dari imajinasi pemikiran manusia, yang akan membawa kebaikan juga dampak positif secara pemikiran dan pemahaman, perumpamaan yang pada dasarnya akan menjadi tuntunan kedua dalam hidup dan kehidupan, sastra adalah sebentuk kitab kitab kehidupan, itulah kenapa sastra kita sebut tuntunan kedua, inilah yang membedakan kitab sastra dan kitab suci, basic dari kitab suci adalah wahyu, sedang sastra adalah imajinasi atau daya pikir manusia untuk kemaslahatan.

 

Puisi adalah curahan hati, atau alam imajinasi seseorang yang di tuang dalam bentuk tulisan atau lisan, yang menggunakan bahasa atau kiasan sebagai diksi pengantar dalam menyampaikan maksud dan maknanya, lalu apakah puisi itu sastra? Jawabnya bisa ya bisa tidak, lalu apakah sastra itu puisi? tentu jawabnya sama bisa ya bisa tidak, karena sastra bisa berbentuk apa saja, esai, gurindam, novel, cerpen, juga dalam bentuk bentuk lain, intinya sastra adalah olah pikir yang tertuang dalam sebuah tulisan yang membawa manfaat pada kehidupan.

 

Lalu apa sastra itu kulit? tentu bukan, yang membuat puisi berkelas sastra adalah isi dan makna dari sebuah puisi juga keindahan diksi dan kiasan yang akan mengantar pada banyak pemahaman, puisi yang baik akan masuk ke dalam alam pikir pembaca dan seolah itu untuknya, maka berpuisi adalah menjelajah nalar dan imajinasi semua orang secara tak langsung, itulah perlunya diksi dan kiasan dalam berpuisi, lalu bagaimana puisi yang terang benderang? Jawabnya adalah, sah saja itu di sebut puisi. Karena berpuisi tak kenal batasan, sebab imajinasi adalah kebebasan asasi, selama tidak melanggar hak dan ketentuan dasar tuntunan pokok, jikapun melanggar itu tetap bisa di kategorikan puisi, mesti akan di sebut aliran kiri, di sini sastra adalah isi bukan sekedar kulit kacang, tapi setiap isi pasti ada kulitnya, jadi bagi yang masih sekedar menyentuh kulit tak harus berkecil hati, sebab satu saat nanti akan sampai pada isi.

 

Teruslah berpuisi, tanpa harus berfikir sastra terlebih dulu, sebab perlu perjalanan panjang untuk sampai kesana, sederhana kan?

*Lahhh kamu itu siapa too Kung? Kok berteori?

Gelem wacanen ra gelem, tinggalen, kok repot!!!

Gkgkgkgk,

 

Djangkungasmoro, 060119

 

Lelaki Dan Sebatang Lidi

Sesekali menengoklah, terserah engkau mau terus berjalan atau berhenti, memisahkan diri dari sebagian satu perjalanan itu sedikit perlu bagiku, entah untuk sekedar menyinggahi sepi, atau menanak nurani yang kian matang dan nyaris gosong terpanggang abu perjalananmu, bukankah terik mentari telah menjadi topi abadi di sela perjuanganmu? Atau kuyub hujan kadang jatuh pada waktu yang tak kau ingini, Tuhan itu maha Asyik kata Sujiwo Tejo, aku mengangguk geli tanda setuju mesti tak kutemukan di catatan kitab yang berdebu itu, entahlah sampulnya saja aku lupa entah apa warnanya,

Singgahlah barang sejenak di peraduan milik kita dulu, tak banyak yang tersisa memang, hanya seikat sapu lidi dan tikar usang yang menghangatkan diri dalam gulungan, jika kau mau ambillah sebatang sapu lidi itu, jangan kau tanya untuk apa, sebab padanyalah semua bermula, agar kau tak tinggi hati, mati nurani, juga menyia nyiakan sepi, basuh saja sebilah lelahmu, sebab tak ada kuncup yang tak meninggalkan tunas, begitu juga perjalananmu, tak ada pundak yang kuat, tak ada jala yang rapat, semua serupa sebatang lidi, yang katamu menyerupai Alif,

Djangkungasmoro 010121

 

Lagi Lagi Puisi

Di semenanjung pagi ini seulas senyum sang Bagaskara begitu sempurna, beralis mendung tipis dan berbedak agan anganku sendiri, rimbun daun bambu seolah penanda jika tanah sudah mulai basah dan akar akar bersorak melepas gersang yang menindihnya selama ini, elok juga sepagi ini aku masih melipat dingin yang tak kunjung pudar,

 

Masih tentang puisi yang mengisi sebagian ruang kosong di kepalaku, seolah berdesak dengan penghuni penghuni yang datang silih berganti, sebab puisi telah berdiam begitu lama di sana, mesti kadang terdesak oleh para penghuni baru yang tak lama juga akan pergi,

 

Puisi itu makluk apa sih? Tiba tiba muncul pertanyaan dalam sisi kiri otakku, sehingga banyak persepsi yang saling silang tentang wujud juga sifatnya, dia tak berkaki tapi bermata, dia tak teraba tapi terasa, dia lemah tapi menindih, dia kejam tapi di cinta, dia hidup tapi tak bernyawa, tapi dia menyatu dalam alam imaji manusia, beda kadar juga beda himne dan irama tergantung wadah yang menampungnya, puisi adalah air, angin, api, batu, tanah,hujan, molek tubuh bidadari,langit juga bulan dan matahari, bahkan seisi semesta ini wujud puisi, sebab semua itu bisa saja jadi tubuh puisi jika di jadikan diksi,

Jadi jika puisi itu di batasi bolehlah kita pertanyakan jangan jangan itu bukan puisi, atau bentuk lain yang berjubah puisi, atau apalah apalah yang bermimpi menjadi puisi,

 

Sah dan sah saja apapun itu di dunia perpuisian, akan tetapi puisi itu milik semesta, setiap yang punya rasa berhak memiliki puisi,

Sadarkah kita acapkali kita takluk oleh sebuah puisi? Sebegitu hebatkah puisi yang konon bisa mencuci hati, meruntuhkan tirani, bahkan puisi bisa menjadi pembunuh paling kejam di muka bumi ini,

 

Lalu seberapa kuat kita jika ingin menaklukkan puisi? Atau kita hanya ingin lebur tergilas roda rodanya yang bergerigi?

 

Semua ini tak perlu jawaban, cukup sedikit masukkan di sisi ruang hati, boleh mengangguk atau menggeleng, sebab puisi adalah penggembala para hati yang masih bisa di sebut hati.

 

 

#djangkungasmoro

Boemiayoe 261220

Berpuisi Itu Relaksasi
Berpuisi inti dasarnya melepas himpitan yang menindih hati, nurani dan juga jiwa, banyak puisi yang lahir dari rahim kecemasan, kegelisahan juga kerisauan,
Laluuu masih relevankah berpuisi di ikat dengan aturan aturan?
Pikiren Dewe,
Soo, di dunia sastra berulang kali saya tegaskan jika puisi khususnya, tak akan ada teori yang sempurna sebab teori dalam puisi hanya bersifat analisis teste saja, bahkan ada teori yang hanya di landasi selera, adanya teori karena telah lahir puisi lebih dulu, logikanya sederhana bagaimana yang sudah berwujud dan bernama di perdebatkan, jikapun di teorikan mestinya tidak untuk merubah wujud juga sifat sifat puisi itu sendiri,
Jadi berpuisi itu layaknya kita melakukan relaksasi jadi nggak perlu pusing dengan ikatan ikatan yang bersifat teoritis, kecuali kita berpuisi memang untuk satu tujuan yang sifatnya bersayap,
Kui nek aku, nek yang lain aku ra ngerti,
22

 

 

Rembulan Bersolek

 

Cintaku tak seburuk rupaku
Kata Durga di satu pagi
Mimpinya tentang Arjuna
Juga cemburunya pada Srikandi
Pada rembulan kesiangan
Yang pucat pasi
Hilang nada dan aliran tari
Secawan cinta dan miris hati
Durga tetaplah dewi
Sekar suci yang mati suri
Di amuk rupa yang tak di ingini
Durga memeluk sunyi
"andai kau tau hatiku" bisiknya pada rembulan setengah jadi, derai air matanya benar benar seorang putri, ingin di cinta ingin di puji
Bukan jadi simbol keji
Durga, bukan tanpa nurani
Seleralah yang menghukumi
Durga juga dewi
Sama seperti Drupadi
Djangkungasmoro

 

 

Seorang pemuisi konon mesti imajiner,
Ehh Boss,. Bukan hanya pemuisi, semua pekerja seni dan pencipta itu mesti imajiner, kalau tidak ya namanya tukang kunci, jadi kerjanya bikin duplikat, atau bisa juga di sebut duplikator, yaaa semacam aligator gitu dehh, nahhh yang terakhir ku sebut itu ada juga lhoo yang jadi apresiator puisi, kritikus puisi dan lain lain,
Teori sastra terbaru juga ada namanya "dumak dumuk mathuk"
Dan "othak athik gathuk"
Syaratnya gampang asal sama sama setuju jadi,
Lha wong sastra itu ada sebelum kita lahir kok, kita yang tinggal menikmati kok malah repot ini itu, gini gitu,Ina inu, wiss too percoyo ae Karo aku, puisi itu ya puisi, nggak harus visioner, imajiner, lambe njeber, dan lain lain, kita menulis dan mewakili banyak hati dan rasa, tidak sesat nalar, jujur, bisa terang benderang bisa kiasan.
Bolak balik tak bilangin, bagus atau tidak sebuah puisi itu seperti kayu jati, di buktikanya nanti bukan saat ini, sesuatu yang relatif itu nggak usah di bikin pusing, ngene ae kok repot, Njoo nggolek puisi neng got got, tumpukan sampah juga di jurang malam yang kelam sekelam kelamnya, biar kita tau jika berpuisi itu bukan hanya menulis, tapi juga merasa dan meraba,

 

 

Kemana Pedang Kau Arahkan?

 

Saat ini mungkin bukan saat yang tepat, sastra di perdebatkan, karena sastra itu seharusnya mempersatukan banyak dunia, banyak bahasa banyak hati dan banyak pola pikir,

Kita coba mengikuti saja apa yang telah di perbuat oleh Prof Hudan Hidayat, Abah Hakimi Sarlan Rasyid, Bpk Noorca M Masardi, dan senior senior lain, sehingga sastra kian tersentuh secara utuh, bukan sepenggal, tak elok kita mengaku orang sastra, kalau bahasa saja kita tak paham, dan menjadikan bahasa sebagai benda penusuk tirani, sarana pembenaran diri, dan alat mendiskriminasikan satu karya atas karya yang lain,

Sastra adalah sarana dan wadah kita menuang dan membahasakan hidup dan kehidupan setelah melewati perenungan panjang tentang hidup itu sendiri, seorang yang mengaku sastrawan medtinya tak bisa mencela hasil karya orang lain atau pendapat orang lain tanpa dasar dasar yang memang mendasar,

Mari kita menghidup hidupi sastra, jika belum bisa, maka jangan menjatuhkan mental orang yang sedang memelihara sastra, jika tak sepaham katakan akasan yang se sastra sastra nya,

Dan bagi yang ingin hidup dalam sastra, hiduplah selayaknya sastrawan, yang tetap berpegang pada prinsip perjuangan dan spirit ala sastra,

Mari kita berlomba dengan cara orang sastra, santun juga menjadikan bahasa jadi alat untuk merevolusi segala tatanan yang belum mapan.

Ingatlah pendahulu kita

Umbu Landu Paranggi

W S Rendra

Taufiq Ismail

Chairil Anwar

Kurasa itu contoh yang bisa kita teladani bagaimana mereka bersastra

Tak salah mengarahkan pedang,tak salah menikam

Mereka tahu kepada siapa harus bersuara,

Salam sastra,

(Djangkungasmoro)

 

Ijinkan Aku pergi
Ada derai pucuk pucuk tanpa tunas
Kembang tanpa aroma
Aku hampa dalam gelapmu
Lunglai di lalap gelisah
Sayang, jikapun cintamu gugur
Gugurlah sebagai nama
Jikapun aku tiada
Ingatlah aku pernah berbisik indah kala itu
Senandung bianglala
Di kala sore nanti
Adalah lambaian tanganku terakhir kali
Aku mengiringmu dalam doaku
Biar ku sepuh sendiri tulang tulangku
Pada retak pertemuan itu
Aku menggalimu lebih dalam
Dari nisanku sendiri
Tak ada lagi kata sakit
Juga rintihan di tepian padam
Aku mengejamu
Di setiap akhir malamku
Aku pamit undur diri.
Djangkungasmoro
Tuhan,

Di mana nisan cintaku?
Yang ku pelihara di kaki kemboja itu
Yang kemarin Kau pinjami sejenak nyawa baru
Aku ingin menghuninya lebih lama lagi
Tuhan, peluk aku sekehendakMu

Djangkungasmoro

 

 

Lukisan Di Gelas Kaca

Di bibir gelas kaca itu
Kau meninggalkan senyumu
Di dalam gelas kaca itu
Wajah utuh terpatri rapi di mataku

Di gelas kaca itu
Ku lukis indah setiap langkahmu
Di gelas kaca itu
Tak ku biarkan rindu menguar

Di gelas kaca itu
Kita tak bisa menjadi satu
Di gelas kaca itu
Kau tinggalkan ribuan cerita untukku

Di gelas kaca itu setiap hari aku menjengukku

Djangkungasmoro (200720)

 

Begitupun Aku

Tak kan kulihat lagi jendela terbuka di awal pagi
Juga sapa sang Surya mengantar nyanyian riang bocah bocah bersepatu hitam
Tak ada lagi ukiran mendung menghias langit
Sebab hari begitu terang dalam sebuah ingatan

Malam nanti adalah malam tak biasa untuk kita
Tak ada lagi kopi dan canda ringan di meja kecil tua
Tempat di mana kita menuang butiran rindu itu

Pagi ini hanya menyisakan ingatan
Pada malam pekat tanpa bintang
Hanya bulan kecil dan sedikit samar
Yang menjadi jembatan sedih dan tawa

Pagi ini kau telah sampai
Pada rumah yang dulu sempat kau takutkan dan kemudian kau rindukan
Pagi ini hanya aku yang punya rindu itu
Dan kuharap kau berkata, "begitupun aku"

Djangkungasmoro (210720)


 

Sajak Sepasang Bulan

Bukalah jendela kamarmu lebih pagi
Sebelum jari jari ini datang mengetuknya
Sambutlah, aku akan bertandang bersama cahaya baskara

Memelukmu lalu lebur dalam jiwamu
Akan aku bacakan lirih di telingamu
Tentang sepasang bulan di matamu
Yang kelak akan meminjamkan cahayanya

Saat malam bertandang nanti
Dan gelap setia mengikuti
Rapal mantra telah hilang tuah
Berguguran seperti daun daun tua

Dan tinggal sepasang bulan yang kita punya

Djangkungasmoro (200720)

 

Besok Aku

Besok aku hanya sebuah debu
Terkikis habis dari ingatanmu
Besok aku hanya lukisan bisu
Berserak di pojok ruang hatimu

Besok aku bukanlah pohon rindu
Berdiam di ingatan
Besok aku akan sebau tak berbangakai
Bermandi daki dan caci maki

Besok bukan saja aku
Yang akan mengarak sesal dan ingatan
Besok saat hanya nisan kita yang diam berjajar

Tertulis nama di lapuknya fana

Djankungasmoro (200720)

Komentar

Foto Hakimi Sarlan Rasyid

.

.

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler