Skip to Content

SAJAK BUMI DAN BANGUNAN

Foto Agung Gema Nugraha

SAJAK BUMI DAN BANGUNAN

 

Bumi dan bangunan 

ke mana kan kubawa harapan?

Dalam kegelisahan

Aku menatap lembayung senja

Semesta raya, uang dan harta

Sungguh lepas dari sastra

 

Aturan kesepakatan sepihak

Apakah akan kita terima

Sementara deru ombak

Dari berbagai hasrat bagai ular

Liar, nakal, brutal

Mematuk setiap yang kenyal

 

Kehidupan mesti menjunjung keadilan

Bumi dan bangunan

Aku mengingat phytagoras

Lalu terbawa menuju Bayazid

 

Malam yang berkaca-kaca

Membuka segala tabir tua

Kita berlomba-lomba menjadi kaya

Sebatas apa terlihat mata kepala

Hati malah sengsara

Penuh gundah gulana

Akhirnya terpenjara batin menderita

 

Bumi dan bangunan

Kehormatan atau pelayanan?

Aku tidak bicara perpajakan

Tapi percintaan dalam pertanyaan

Bukan mengigau tak sadarkan

Justru merangkai persaudaraan

 

Bumi dan bangunan

Apa kita temukan 

Mungkinkah itu warisan

Turun temurun dari nenek moyang

Keberadaan kita berasal dari ketiadaan

Keangkuhan membawa petaka sesalan

Oh kamar gelap

Oh liang lahat

 

Tidak aku bukan pematah semangat

Julukanku pembawa berkat

Ini puisi

Dari potensi seni manusiawi

Tak bisa dilarang atau disingkirkan

Cuma sirna bila tidak dibaca

Boleh kamu beri makna

Sesuai interpretasi

Tapi tanpa penilaian baik buruk

Karena itu masalah etika

Berlaku sesuai budaya

Sementara puisi adalah karya

Dinikmati dan dirasakan 

Diuraikan dengan kecerdasan

Akan menambah khazanah pengetahuan

Seperti bumi dan bangunan

Dipelihara atau dibiarkan?

 

Jika ingin tahu sebenar fakta

Tanyakan penciptanya

 

Agung Gema Nugraha

2025

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler