SAJAK BUMI DAN BANGUNAN
Bumi dan bangunan
ke mana kan kubawa harapan?
Dalam kegelisahan
Aku menatap lembayung senja
Semesta raya, uang dan harta
Sungguh lepas dari sastra
Aturan kesepakatan sepihak
Apakah akan kita terima
Sementara deru ombak
Dari berbagai hasrat bagai ular
Liar, nakal, brutal
Mematuk setiap yang kenyal
Kehidupan mesti menjunjung keadilan
Bumi dan bangunan
Aku mengingat phytagoras
Lalu terbawa menuju Bayazid
Malam yang berkaca-kaca
Membuka segala tabir tua
Kita berlomba-lomba menjadi kaya
Sebatas apa terlihat mata kepala
Hati malah sengsara
Penuh gundah gulana
Akhirnya terpenjara batin menderita
Bumi dan bangunan
Kehormatan atau pelayanan?
Aku tidak bicara perpajakan
Tapi percintaan dalam pertanyaan
Bukan mengigau tak sadarkan
Justru merangkai persaudaraan
Bumi dan bangunan
Apa kita temukan
Mungkinkah itu warisan
Turun temurun dari nenek moyang
Keberadaan kita berasal dari ketiadaan
Keangkuhan membawa petaka sesalan
Oh kamar gelap
Oh liang lahat
Tidak aku bukan pematah semangat
Julukanku pembawa berkat
Ini puisi
Dari potensi seni manusiawi
Tak bisa dilarang atau disingkirkan
Cuma sirna bila tidak dibaca
Boleh kamu beri makna
Sesuai interpretasi
Tapi tanpa penilaian baik buruk
Karena itu masalah etika
Berlaku sesuai budaya
Sementara puisi adalah karya
Dinikmati dan dirasakan
Diuraikan dengan kecerdasan
Akan menambah khazanah pengetahuan
Seperti bumi dan bangunan
Dipelihara atau dibiarkan?
Jika ingin tahu sebenar fakta
Tanyakan penciptanya
Agung Gema Nugraha
2025
Komentar
Tulis komentar baru