Skip to Content

Perempuan Jalang

PEREMPUAN JALANG, 1

 

Di perempatan kota, sepasang mata jalang menyala

senyum-senyum mungilnya hangus terbakar tanduk-tanduk kerisauan

Renjana

Renjana

Oleh Iyus Yusandi

 

senja kini

lembayungmu tak ronakan semburat jingga

Mungkin Aku Lupa

Aku mungkin lupa

dimana kusimpan aroma hujan

yang kauberi padaku waktu itu

Juga warna mata dan rona senyummu

 

Sajak Ombak

Ada yang ingin disampaikan ombak

melalui gulungannya

sesuatu yang ingin ia ceritakan

bersama deburan

tapi, selalu tertahan di bibir pantai

Joan UduPerempuan JalangIyus YusandiRenjana
Mega Dini SariMungkin Aku LupakesaSajak Ombak

Puisi

LELAKI PENUH LUKA

tutup pintu itu perlahan
agar tak terganggu
lelap tidurnya.
ia terlampau lelah setelah
membangun istana
pasir di siang hari.
biarkan ia bawa sejenak

Kursi

Hei!

Kursi itu buat duduk

Jangan engkau naiki degan sepatu penuh debu

Kamu tahu,

Dia ada karna tetesan peluhku.

Pulanglah Ayah

Sembilan tahun sejak hari itu

Tak lagi kulihat wajahmu

Ayah...

Recehan adalah harga diriku

Karna recehan juga kau menghempaskanku

Ayah...

Manusia Gerobak

Melangkah tanpa alas kaki

sambil mendorong gerobak air

Panasnya jalan pukul dua belas siang

Seakan tak dirasakan ketika dia tersenyum

Kataku,

Teriakan Hati!

Mengapa harus begini

Berhari-hari tanpa perkataan

Aku benci!

Kau egois!

Rasakanlah perasaanku

Sungguh,

Hanya engkau yang ada di hatiku

Kehidupan Sang Buruh Malang

Pagi merekah gerobak merangkak

Tuntutan kerja didepan  mata

Terik panas membakar badan

Catatan!

Catat, Catat, dan Catat!

Gerutu siswa pada sang guru

Tiap minggu selalu begitu

Maklum!

Mungkin lembaran kurang disaku

Kemeja berdasi rambut berombak

Lagu Dari Negeri Seribu Pulau

Di sini!

di negeri ini pernah mati nurani kami

pernah terkoyak tali silahturahmi

antar sesama kami Salam-Sarani

 

Sering kami mencaci berbalas aksi

PERCAKAPAN HUJAN DAN AROMA TANAH

bila hujan bercakap

aku teringat pisau kekata

bersayap melunglaiku

hujan menabur aroma

tanah basah

bau kematian melompati

segenap angan

REFRAIN PENAKLUK

1. kami dititis dewa
aliran darah ini terbaur
syailendra dan meurah silu
nenek moyang kami perantauan
pasai dan pagaruyung
penegak risalah yang belum terkabar

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler