Skip to Content

Mungkin Aku Lupa

Aku mungkin lupa

dimana kusimpan aroma hujan

yang kauberi padaku waktu itu

Juga warna mata dan rona senyummu

 

KETIKA POLITISI BERPUISI

ketika politisi berpuisi

alih alih orasi

caci dan maki

Perempuan Jalang

PEREMPUAN JALANG, 1

 

Di perempatan kota, sepasang mata jalang menyala

senyum-senyum mungilnya hangus terbakar tanduk-tanduk kerisauan

IRAMA NAN BERSENANDUNG

IRAMA NAN BERSENANDUNG

Kemirau @ Sang Murba

 

“HAIRAN sungguh aku dengan orang sekarang!” Rasa kesal jelas terpancar di wajah Long Nah. Segala yang terbuku di hatinya selama ini bagaikan tidak tertahan-tahan lagi.

Mega Dini SariMungkin Aku LupaombiKETIKA POLITISI BERPUISI
Joan UduPerempuan JalangKemirauIRAMA NAN BERSENANDUNG

Puisi

Manusia Gerobak

Melangkah tanpa alas kaki

sambil mendorong gerobak air

Panasnya jalan pukul dua belas siang

Seakan tak dirasakan ketika dia tersenyum

Kataku,

Teriakan Hati!

Mengapa harus begini

Berhari-hari tanpa perkataan

Aku benci!

Kau egois!

Rasakanlah perasaanku

Sungguh,

Hanya engkau yang ada di hatiku

Kehidupan Sang Buruh Malang

Pagi merekah gerobak merangkak

Tuntutan kerja didepan  mata

Terik panas membakar badan

Catatan!

Catat, Catat, dan Catat!

Gerutu siswa pada sang guru

Tiap minggu selalu begitu

Maklum!

Mungkin lembaran kurang disaku

Kemeja berdasi rambut berombak

Lagu Dari Negeri Seribu Pulau

Di sini!

di negeri ini pernah mati nurani kami

pernah terkoyak tali silahturahmi

antar sesama kami Salam-Sarani

 

Sering kami mencaci berbalas aksi

PERCAKAPAN HUJAN DAN AROMA TANAH

bila hujan bercakap

aku teringat pisau kekata

bersayap melunglaiku

hujan menabur aroma

tanah basah

bau kematian melompati

segenap angan

REFRAIN PENAKLUK

1. kami dititis dewa
aliran darah ini terbaur
syailendra dan meurah silu
nenek moyang kami perantauan
pasai dan pagaruyung
penegak risalah yang belum terkabar

JALAN KERIS

SAJAK M. HARYA RAMDHONI JULIZARSYAH


JALAN KERIS I


sejak moyang kami belajar berdaulat,
peralihan kuasa selalu berakhir

DUA PUISI ACEP ZAMZAM NOOR

KETIKA


1

Ketika gempa yang begitu sopan
Menggoyang kampung kami
Kudengar semua nyanyian, semua tarian

Puisi Terakhir Rendra

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler