Skip to Content

Perempuan Jalang

PEREMPUAN JALANG, 1

 

Di perempatan kota, sepasang mata jalang menyala

senyum-senyum mungilnya hangus terbakar tanduk-tanduk kerisauan

Renjana

Renjana

Oleh Iyus Yusandi

 

senja kini

lembayungmu tak ronakan semburat jingga

Mungkin Aku Lupa

Aku mungkin lupa

dimana kusimpan aroma hujan

yang kauberi padaku waktu itu

Juga warna mata dan rona senyummu

 

Sajak Ombak

Ada yang ingin disampaikan ombak

melalui gulungannya

sesuatu yang ingin ia ceritakan

bersama deburan

tapi, selalu tertahan di bibir pantai

Joan UduPerempuan JalangIyus YusandiRenjana
Mega Dini SariMungkin Aku LupakesaSajak Ombak

Puisi

Aku, Kau dan Hujan Di Bulan Juni

Puisi

MH. Dzulkarnain

 

Aku, Kau dan Hujan Di Bulan Juni

;Sherly

 

Nuansa Kerja

bila yang menguasai hatimu

bekerja itu mencari penghidupan

maka engkau akan merasakan

betapa beratnya setiap langkahmu

dan kian hari

Lalu Setelahnya Apa?

Lalu Setelahnya Apa?

(28 Juli 2021, Biru)

 

Rumah Susun

Sepeninggalmu, aku hanya mencatat pendar matahari

Pada retakan tembok rusun pengap

Bersama hari-hariku yang abu

Hingga yang kulihat hanya wajahmu puitis

 

Hiduplah Dalam Puisiku

Aku ingin memindahkan kau

Ke dalam puisiku

Bersama sungai

Yang tak tercemar kata-kata

Tanpa asap pabrik

Tanpa bau pasar

Tanpa galian tambang

BAGIAN DARI HATI

Nestapa cahaya kian meredup

Impian siran kian sendu

Sebuah Kemerdekaan

jika kemerdekaan itu untuk membebaskan

sudahkah rakyat ini terbebaskan

terbebaskan dari beban kehidupan

terbebaskan dari beban tekanan yang tak beralasan

Sajak Sejak Waktu Itu

Kau kesepian hampir di setiap malam. Tak seorang pun datang merayu dan mencumbu untuk berbagi uang. Sejak peristiwa itu, tubuhmu terasa jauh. Tak lagi dapat dinikmati.

KAU TIDAK BISA SEMBUNYI

 

 

 

 

KAU TIDAK BISA SEMBUNYI

 

Pekat

Seraya debur ombak membasuh

Angin mendentingkan keheningan

Langit bertelanjang dada

Dan bumi setia tak terbungkus.

 

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler