Skip to Content

Mungkin Aku Lupa

Aku mungkin lupa

dimana kusimpan aroma hujan

yang kauberi padaku waktu itu

Juga warna mata dan rona senyummu

 

Renjana

Renjana

Oleh Iyus Yusandi

 

senja kini

lembayungmu tak ronakan semburat jingga

Sajak Ombak

Ada yang ingin disampaikan ombak

melalui gulungannya

sesuatu yang ingin ia ceritakan

bersama deburan

tapi, selalu tertahan di bibir pantai

Perempuan Jalang

PEREMPUAN JALANG, 1

 

Di perempatan kota, sepasang mata jalang menyala

senyum-senyum mungilnya hangus terbakar tanduk-tanduk kerisauan

Mega Dini SariMungkin Aku LupaIyus YusandiRenjana
kesaSajak OmbakJoan UduPerempuan Jalang

Puisi

Solitude 2

“Solitude 2”

 

Seumpama belati,

Akulah,

Karat pertama di kiri-kananmu yang melahirkan aus hingga tak kelihatan lagi bahwa kamu adalah belati,

 

Mantra

“Mantra”

 

Manuskrip tua,

Di atas meja kayu berngengat itu dibukanya kembali,

“Bejana, Api, dan Perburuan Semalam”

 

“Bejana, Api, dan Perburuan Semalam”

 

 

Bejana,

Di dapur rumah-mu,

 

"Mula-Mula"

"Mula-Mula"

 

Pertama kalinya,

Ketika dunia masih mula-mula,

 

Siapa,

Yang bergelantungan di rongga-rongga kedap udara?,

 

--Abrakadabra--

--Abrakadabra--

 

Serenada,

Baru saja selesai dipertontonkan,

Di belakang mata,

Di bawah telinga,

 

Hom pim pa,

"09 Januari 2021"

"09 Januari 2021"

 

Lima senti ke timur,

Dari kota Semarang,

Sampailah di Jalan Tunjungan Surabaya,

Co-Vi -Desease 19

"Co-Vi -Desease 19"

 

 

Wuhan,

 

Bukanlah Kediri atau Sumedang,

Tempat,

Tahu kuning sama-sama dinobatkan,

 

KETIKA AIR MATA

 

 

KETIKA AIR MATA

 

Ketika puisi menjadi air mata

KELOPAK CONGKAK

 

 

KELOPAK CONGKAK

 

Yang menyerah tunduk

Terkulai layu dipeluk

Kuharap, Bukan Kita

Ada yang tak menyadari, burung-burung berkicau pagi ini

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler