Skip to Content

Molotov Terakhir

peluru melesat. menerobos kulit yang asing. menembus dada berdetak tegas

pemilik langkah yang enggan mundur

walau udara memanas di dalam kepala

Belum Usai

Isi kepala yang terkelupas barisan perhitungan logika angka satu plus sepuluh titik enam akar dua, yang kau yakini tak ;pernah ku temui di saat aku bekerja

Mungkin Aku Lupa

Aku mungkin lupa

dimana kusimpan aroma hujan

yang kauberi padaku waktu itu

Juga warna mata dan rona senyummu

 

KETIKA POLITISI BERPUISI

ketika politisi berpuisi

alih alih orasi

caci dan maki

Salman ImaduddinMolotov TerakhirLalik KongkarBelum Usai
Mega Dini SariMungkin Aku LupaombiKETIKA POLITISI BERPUISI

Karya Sastra

MENUNGGU

MENUNGGU

 

Menanti

Kesekian kali

Aku di sini

Berbalut suramnya angin malam

 

Sendiri

merindu untukmu

MENUNGGU

Menanti

Kesekian kali

Aku di sini

Berbalut suramnya angin malam

 

Sendiri

merindu untukmu

sembilu membunuh pilu

Haru di Malam Tahun Baru

Malam ini terasa hampa

Dalam hati hanya nestapa

Panah waktu nyaris bertemu

sang legenda

Filsafat sebuah romansha telah terucapkan 

Angin kebahagiaan mulai kurasakan

Usai ku arungi samudra kasih sayang

Zona kepedihan telah terlewatkan

gadis tanpa suara

Dalam segala cerita

menolak semua rasa yang ada

semakin banyak yang menyapa

makin lihai diri menoreh luka

 

mereka hanya sejenak bertamu

Kepada Ruang

kepada ruang ia bertanya.

Menuju Permukaan

Dalam samudra luas nan buas

Aku tenggelam begitu dalam

Hingga kusentuh terumbu karang

Puing-Puing Kita

Hari ini nyaris tamat

Kutatap waktu lamat-lamat

Kupandang remang sekitar

Melolong pilu dan gemetar

 

Namun. apakah sudah usai? 

Perpaduan Rasa

Sekian kali aku termenung

Wajahmu terpapar pada cermin indahku

Tersenyum dan memangku anak cucu

Membuatku terhempas dan masuk

 

Rona-rona wajahmu

Sindikasi materi

Bookmark



Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler