Skip to Content

Puisi Kehidupan

suatu senja di pinggir desa

arena teduh, tiada bising tiada gaduh

angin semilir berputar perputar

menukar pandangan yang samar

aku kembali menikmati akrabnya

sentuhan 1

berjalan di atas timbunan pasir

tampak butir-butir gemerlapan

berjalan pada sebuah lorong desa

lusuh memukau

sapa dan terka seperti terus bicara

aku adalah rumput-rumput liar

aku adalah rumput-rumput liar

yang ditakdirkan oleh Sang Penguasa Alam Raya

untuk menjaga keseimbangan di bumi

daun dan batangku tersebar menjalar

entah

entah apa yang ia cari

sampai seluruh jalan ia jelajahi

entah apa yang ia pikirkan

sampai seluruh waktu hanya terisi buah pikiran

entah apa yang ia nantikan

tak ada cerita

tak ada cerita yang akan kutulis

tak ada gagasan yang kutemukan

meskipun telah kuselusuri lorong sepi

yang biasa aku lewati untuk menggugah imajinasi

keramaian yang sepi

entah berapa lama aku tak duduk di sini

di tengah dinginnya malam yang pekat

di kota dingin yang tak lagi sedingin dulu

kota Batu yang dingin yang tak membuat kedinginan

tuntun kami pada jalan-Mu

tatapan mata hatiku dari sudut renungan

menyapa sela-sela kesibukanku

untaian perjalananku, istri dan anak-anakku

bahwa saat ini semua mendaki

melalui kontemplasi

dari sudut kamar semadi

di ujung malam yang hening dan bening

kutangkap rasa tapak perjalanan hidupku

istriku dan anak-anakku

semua melangkah menggapai asanya

melati itu tak lagi mewangi

melati dan aneka kembang merekah di seluruh taman

aneka warna menghias setiap sudut pandang

tapi ternyata tidak memantulkan keindahan

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler