arena teduh, tiada bising tiada gaduh
angin semilir berputar perputar
menukar pandangan yang samar
aku kembali menikmati akrabnya
berjalan di atas timbunan pasir
tampak butir-butir gemerlapan
berjalan pada sebuah lorong desa
lusuh memukau
sapa dan terka seperti terus bicara
aku adalah rumput-rumput liar
yang ditakdirkan oleh Sang Penguasa Alam Raya
untuk menjaga keseimbangan di bumi
daun dan batangku tersebar menjalar
entah apa yang ia cari
sampai seluruh jalan ia jelajahi
entah apa yang ia pikirkan
sampai seluruh waktu hanya terisi buah pikiran
entah apa yang ia nantikan
tak ada cerita yang akan kutulis
tak ada gagasan yang kutemukan
meskipun telah kuselusuri lorong sepi
yang biasa aku lewati untuk menggugah imajinasi
entah berapa lama aku tak duduk di sini
di tengah dinginnya malam yang pekat
di kota dingin yang tak lagi sedingin dulu
kota Batu yang dingin yang tak membuat kedinginan
tatapan mata hatiku dari sudut renungan
menyapa sela-sela kesibukanku
untaian perjalananku, istri dan anak-anakku
bahwa saat ini semua mendaki
dari sudut kamar semadi
di ujung malam yang hening dan bening
kutangkap rasa tapak perjalanan hidupku
istriku dan anak-anakku
semua melangkah menggapai asanya
melati dan aneka kembang merekah di seluruh taman
aneka warna menghias setiap sudut pandang
tapi ternyata tidak memantulkan keindahan
Komentar Terbaru