Skip to Content

Puisi Kehidupan

kenapa engkau cemburu

kutulis nama-nama yang pernah menjadi kekasihku

kulukis wajah-wajah menawan yang pernah menjadi kekasihku

kukenang kekasih-kekasihku dalam puisi

kusiramkan air keteduhan

kusiramkan air setiap pagi pada kembang-kembang yang kutaman

karena aku mengerti ia akan digempur oleh teriknya matahari

kusiramkan air pada kembang-kembang yang kutaman

jangan puja aku

jangan puja aku karena tumpahan hatiku

jangan puja aku karena kasih sayangku

jangan puja aku karena belian lembut tanganku

jangan puja aku karena dekapan perlindunganku

Jangan Paksa Aku

jangan paksa aku menghentikan langkahku

setelah aku melangkah dan menghayati langkah ini

meskipun semula aku enggan melangkah

dan aku begitu tidak yakin bisa melangkah

Antrian Panjang

ribuan manusia berjajar berdesakan

menunggu giliran jatah kehidupan

tak ada yang bisa mengalah

Untaian Buat Ibu

ketika aku lahir ayahku tiada menungguimu

engkau berbaring di atas tikar dan satu bantal

dengan seorang dukun menunggui

kini ia seperti telah mati

berpuluh-puluh tahun ia mengais rezeki di sini

di terminal ini

sejak anak-anaknya masih bayi

hingga anak-anaknya menggendong bayi

HIDUP (IV)

HIDUP (IV) 

: Bunga kasih

Oleh: Gerobakata Kenarock

 

Biarlah langit malam ini menjadi hitam

Tanpa ada kilau bintang maupun bulan

HIDUP (III)

HIDUP (III)

: Perempuanku

Oleh: Gerobakata Kenarock

 

Basuhlah dengan perlahan tangan dan wajah

meski ditengah dingin menggigit kulit

HIDUP (II)

HIDUP (II) 

: Basuh lukamu

Oleh: Gerobakata Kenarock

 

Andai saja kita bisa memilih titah hidup

tentu akan dapat mendahului sesal

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler