Skip to Content

Veronica Um Kusrini

 

Veronica Um Kusrini, lahir di Kulon Progo, Yogyakarta, 20 Februari 1980. Menempuh pendidikan SD hingga SMA di Kulon Progo, dan menyelesaikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Hidupnya didedikasikan penuh pada dunia pendidikan. Setelah menyelesaikan pendidikan S-1-nya (2003), dia menjalani pengabdian pertamanya sebagai guru di SMP Pius Kutoarjo, dilanjutkan kemudian di SMA Don Bosco II Pulomas, Jakarta Timur. Setelah itu hijrah negeri tetangga, Dili, Timor Leste (2006 - 2008), mengabdikan diri di SMA Canossa, SMA Hati Kudus Yesus, dan memberikan ekstrakurikuler Jurnalistik di sebuah Seminari Menengah di Ballide. Sesekali diminta untuk turut serta menjadi juri dalam ajang Lomba Mading antar sekolah yang diselenggarakan oleh SMA Sao Jose, Dili. Saat ini, ia menjadi guru tetap di SMP Global Prestasi, Bekasi, Jawa Barat, setelah sebelumnya mengabdi di SMA Kristen Kalam Kudus, Bandung.

Studi sastra sebenarnya bukanlah pilihan hatinya yang sesungguhnya, namun pertemuannya dengan sastra membuatnya jatuh cinta melebihi apa yang dipikirkan pada awalnya. Menulis sastra, baginya, merupakan salah satu sarana pembebasan. Kesenangannya menulis sudah dimulai pada awal mengenal sastra, namun ketidakpercayaandirinya membuat cukup banyak tulisan yang hanya dibaca sendiri dan hilang begitu saja. Karena kelegaan kemudian telah menjadi bagiam yang selalu diinginkannya, proses menulis menjadi sebuah kegiatan yang amat menyenangkan. Puisi adalah pilihannya, walalupun bentuk prosa sudah lebih dulu ditekuninya.

Informasi Pengguna

Aktif sejak: 04/11/2014

Veronica Um Kusrini

Informasi Umum
Nama: 
Veronica Um Kusrini
Lokasi: 
Bekasi
Minat: 

Berminat pada dunia pendidikan dan menulis.

Tidak ada tulisan.

Tidak ada tulisan.

JenisTulisanKomentarPengunjung
  Veronica Um KusriniOrang LainTotalHari Ini
Berita
Karya Sastra293419,4131
Wawasan
Bookmark
Dapur Sastra1
JUMLAH294419,4131

Komentar

Foto Steven Sitohang

Halo dan Salam Kenal. . .

Halo mbak Veronica Um Kusrini.
Entah karena alasan apa aku terkesan dengan beberapa tulisan mbak. Aku lihat di atas bahwa sastra bukanlah pilihan hati, aku pernah membaca beberap novel karangan Goethe -tapi aku lupa yang berjudul apa, yang ku ingat adalah hal sebaliknya mungkin saja terjadi, bagaimana jika mereka yang memilih mbak, dan mbak tak kuasa menolaknya. Mungkin alasanku terkesan dengan tiap tulisan di ladang mbak, -jika aku boleh berpendapat- karena mbak jatuh cinta pada satu hal yang amat tepat. Aku adalah pemula, yang baru mencoba menjelajahi belantara hutan ide yang -menurut Rene Descartes- amat banyak tersimpan hasil alamnya, yang dapat dituangkan menjadi tulisan menurut Hemingway. Jadi semoga dengan usahaku untuk berkenalan dengan mbak ini, kita dapat bertukar pikiran dan apresiasi yang memdalam pada labirin sastra bukan hanya pada permainan kata. Karena aku pun jatuh cinta pada hal yang menyejukkan jiwa karena kebebasannya, kata Pramoedya.

Salam kenal mbak.

Salam sastra, terus berkarya! Jika ada waktu harap mampir ke ladangku, gerbangnya tak pernah terkunci 24 jam seminggu :)

-steventurhang

Foto Veronica Um Kusrini

Sobatku, Steven Turhang ...

Sobatku, Steven Turhang ... (Semoga panggilan ini cukup santun )

Agak riang hati ini bahwa dalam satu hal kita mempunyai kesamaan : "jatuh cinta pada hal yang menyejukkan jiwa karena kebebasannya, kata Pramoedya".

( Namun sungguh tak santun bila saya berbicara banyak sebelum menerima salam kenal dari Sobat baruku Steven Turhang, terima kasih tak terhingga karena satu hal ini.)

Kembali ke topik kita, saya langsung termenung dalam waktu yang tidak singkat : "bagaimana jika mereka yang memilih mbak, dan mbak tak kuasa menolaknya?" Mengapa demikian? Karena saya tak pernah terpikir bahwa dapat terjadi apa yang namanya "sebaliknya" di mana mereka memilih saya. Entahlah, saya serigkali menemukan ada kata-kata yang menari-nari dan memintaku untuk segera menuliskannya, saat itu juga. Dia menjadi semacam kerinduan, kerinduan yang harus segera dipenuhi, dan ketika saya menuliskannya, saya menemukan ada yang tenang di dalam hati dan jiwa saya, ada perasaan bebas. Proses apakah itu, saya tak pernah mampu memahaminya sampai saat ini. Dan benar, saya memang tak mampu menolaknya. Mungkin saya bisa menolak namun yang terjadi kemudian adalah perasaan kehilangan yang begitu menyakitkan.

Terima kasih untuk penguatannya bahwa saya telah jatuh cinta pada hal yang tepat. Semoga memang demikian adanya. Terima kasih pula untuk pintu gerbang yang selalu terbuka 24 jam selama seminggu, ini pasti akan menjadi awal yang amat baik untuk lebih mengenali kenapa saya tak pernah mampu benar-benar menolaknya.

Salam

 

Komentar

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler