Skip to Content

Puisi Kehidupan

Perempuan Penenun

Senja turun

rintih burung menyesali 

angin kering yang cepat datang

perempuan itu menenun lagi

terlalu gerah menenun di kala siang, katanya

KAMI = PEREMPUAN

Nanti setelah kami mati

Siapa bakal pengganti?

Ketika kamu tidak mau hamil 

Untuk melahirkan anak-anak negeri

Ketika berombongan

Yang Tersisa Dari Kita

-160-

YANG TERSISA DARI KITA!

Oleh: Emil E. Elip

 

Setiap jalan kehidupan adalah baik

Setidaknya bagi diri kita sendiri.

Anda dan Aku

( catatan buat Pengelana )

 

Mataku mengerjap

Menyusur ubin mencari kata

Merangkai menjadi bahasa

Yang kutahu dan anda mengerti

Senja Ke 15 ( dalam bulan Mei )

Bumi masih hangat

alalang masih ngantuk

daunnya bergelung, tapi

tajamnya masih sama...

 

Emprit, kutilang...

ciblek gunung, tekukur...

Angka Jadi Suara

Tangan-tangan kotor itu membuat

kita menggigil

Saat kerja berhenti

Saat mesin kerja mati

Ketika tubuh bergerak apa adanya

PAGI ( yang lain )

Langit redup

Angin diam

Pohon diam

Burung bersahutan, 

mengeluhkan hidupnya...

 

 

 

 

 

Sederhana Saja

Di satu siang yang bau aspal

ilalang layu mencium bumi

lambainya pelan seperti merajuk

terlalu terik rupanya

 

Bunyi sepatu bot berderak

Aku Pulang

Jelaga malam sedikit tersisa

di sudut sini...

Rona emas tiba tanpa banyak kata

Benda bulat menggelindingkan lancar 

Menuruni jalan licin

 

Hati terasa penuh

Sarat duka lara nestapa

Otakku

Otakku membual lagi

mau keluar jalan-jalan katanya

buat apa... lelah jawabnya

aku ingin lari menggapai kilometer

berapapun...

 

Otakku seperti ingin meleleh 

ngampar di aspal... tersengal

setelah seharian menekuni sahara

yang tak kukenali wujudnya

 

Otakku ingin kubungkam

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler