Skip to Content

Mungkin Aku Lupa

Aku mungkin lupa

dimana kusimpan aroma hujan

yang kauberi padaku waktu itu

Juga warna mata dan rona senyummu

 

Renjana

Renjana

Oleh Iyus Yusandi

 

senja kini

lembayungmu tak ronakan semburat jingga

Sajak Ombak

Ada yang ingin disampaikan ombak

melalui gulungannya

sesuatu yang ingin ia ceritakan

bersama deburan

tapi, selalu tertahan di bibir pantai

Perempuan Jalang

PEREMPUAN JALANG, 1

 

Di perempatan kota, sepasang mata jalang menyala

senyum-senyum mungilnya hangus terbakar tanduk-tanduk kerisauan

Mega Dini SariMungkin Aku LupaIyus YusandiRenjana
kesaSajak OmbakJoan UduPerempuan Jalang

Prosa

Dua Ratus Kalimat Cinta untuk Mey

Lantunan ayat-ayat cinta itu kembali hadir dalam kemarau hatiku yang kian gersang, dua ratus ayat cinta itu menggantikan sembilan puluh delapan harapan yang hanya menjadi kenangan yang kian menyesakkan. Kini seratus dua harapan baru telah menjemputku untuk menjadi wanita yang paling sempurna setelah jubah hitam sempat menyelimutiku saat aku merasa benar-benar rapuh.

SUATU PAGI DI PARANGTRITIS

PAGI DI PARANG TRITIS

 

CATATAN MASA REMAJA

CATATAN MASA REMAJA

 

1

 

MENDUNG (2)

Ibu yang tinggal di depan rumah kosong sedang menimang cucunya. Belum 2 bulan bayi itu. Ibu sang bayi tidak memberi asi, kepada anak pertamanya itu. Ibu muda. Baru 22 tahun. Sayang, sungguh sayang dia tidak mau menyusui bayinya. Hari-hari awal setelah kelahiran, bahkan hampir sebulan, bayi itu selalu menangis siang malam. Sekarangpun masih. Setiap pagi.

MENDUNG (1)

MENDUNG

 

Kakek dan Kakek

Pagi itu sebelum sampai Parangtritis, disebuah rumah yang menjual penganan di depannya, kami berhenti. Maksudnya akan membeli makanan untuk sarapan. Entah apa nama makanannya aku tidak tahu. Yang aku ingat ada nasi dalam bungkusan kecil. Ketika dibuka dipantai baru aku tahu nasi itu dicampur dengan irisan tempe goreng dan bihun warna coklat, mungki karena dimasak kecap.

Rindunya kerinduan

Aku habis bermain dengan senyumu sedari tadi, lembar demi lembar kenangan yang sempat ku hindari kembali ku senyumi. Aku terlalu dalam berimajinasi hingga rinduku berat kembali. Seperti inilah ku jalani, setiap malam ku habiskan dengan memilih-milih hayalan untuk ku jadikan pelampiasan angan.

Sindikasi materi

Bookmark



Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler