Skip to Content

GURINDAM KEDUA RAJA ALI HAJI

Foto Wiko Antoni

Merawat Hikmah dari Naskah Lama: Membaca Girindam Kedua Raja Ali Haji melalui Filologi dan Semiotika

Karya sastra klasik sering kali dipandang sebagai peninggalan masa lalu yang hanya layak disimpan di perpustakaan atau museum. Padahal, di balik lembaran naskah yang telah berusia ratusan tahun, tersimpan nilai-nilai yang masih berbicara kepada manusia modern. Salah satu karya yang terus hidup melintasi zaman adalah Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji, mahakarya sastra Melayu yang ditulis di Pulau Penyengat sekitar tahun 1847.

Melalui pendekatan filologi, gurindam tidak sekadar dibaca sebagai rangkaian bait yang indah, melainkan sebagai warisan intelektual yang merekam pandangan hidup masyarakat Melayu pada masanya. Filologi mengajarkan bahwa setiap teks klasik lahir dalam konteks sejarah, budaya, bahasa, dan sistem nilai tertentu. Karena itu, memahami gurindam bukan hanya membaca kata-katanya, tetapi juga merekonstruksi dunia yang melahirkannya.

Pada Girindam Kedua, Raja Ali Haji menulis nasihat yang sederhana tetapi sangat mendasar:

"Barang siapa meninggalkan puasa,
Tidaklah mendapat dua termasa.

Barang siapa meninggalkan zakat,
Tiadalah hartanya beroleh berkat."

Sekilas, bait ini tampak sebagai ajaran agama yang mengingatkan umat Islam tentang kewajiban berpuasa dan berzakat. Namun, pembacaan filologis menunjukkan bahwa pesan tersebut jauh lebih luas daripada sekadar hukum ibadah.

Dalam tradisi Melayu abad ke-19, sastra merupakan media pendidikan masyarakat. Gurindam berfungsi sebagai wahana penyebaran etika, agama, dan tata kehidupan. Raja Ali Haji memanfaatkan bentuk gurindam yang ringkas agar mudah dihafal, diajarkan, dan diwariskan secara lisan maupun tertulis. Karena itulah, setiap larik dipadatkan menjadi pesan moral yang kuat.

Melalui perspektif semiotika, kata puasa tidak hanya menunjuk pada ibadah ritual. Ia menjadi tanda pengendalian diri, kedisiplinan, dan kemampuan manusia menguasai hawa nafsunya. Sebaliknya, frasa "meninggalkan puasa" menjadi simbol kelalaian spiritual, yaitu ketika manusia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Demikian pula dengan zakat. Dalam gurindam ini, zakat bukan hanya kewajiban mengeluarkan sebagian harta, tetapi menjadi simbol kepedulian sosial. Ketika Raja Ali Haji menulis "tiadalah hartanya beroleh berkat," ia sedang mengingatkan bahwa nilai sebuah kekayaan tidak hanya ditentukan oleh jumlahnya, melainkan oleh manfaat yang diberikannya kepada sesama.

Menariknya, terdapat ungkapan "dua termasa" yang sering luput dari perhatian pembaca modern. Dari sudut pandang filologi, istilah ini perlu dipahami berdasarkan konteks bahasa Melayu klasik. Para peneliti umumnya menafsirkan "dua termasa" sebagai perlambang keseimbangan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Dengan demikian, kehilangan "dua termasa" berarti kehilangan harmoni hidup secara menyeluruh.

Pembacaan seperti ini memperlihatkan pentingnya filologi. Tanpa memahami konteks bahasa zamannya, pembaca masa kini mungkin hanya menangkap makna harfiah, padahal istilah-istilah dalam naskah klasik sering memuat konsep budaya yang lebih luas.

Jika dibaca melalui psikologi analitik Carl Jung, gurindam ini juga menawarkan perjalanan batin manusia. Puasa menjadi simbol proses mengendalikan diri menuju keutuhan kepribadian, sedangkan zakat melambangkan hubungan yang sehat antara individu dan masyarakat. Sebaliknya, meninggalkan kedua ibadah tersebut mencerminkan munculnya sisi bayangan (shadow) berupa egoisme, keserakahan, dan kelalaian yang dapat merusak keseimbangan hidup.

Di sinilah tampak keistimewaan Raja Ali Haji sebagai seorang pujangga. Ia tidak menyampaikan ajaran melalui uraian panjang, tetapi melalui simbol-simbol yang mampu bertahan melintasi zaman. Beberapa bait gurindam mampu memuat filsafat kehidupan yang tetap relevan hingga hari ini.

Bagi masyarakat modern, terutama generasi digital, membaca Gurindam Dua Belas melalui pendekatan filologi berarti membangun kembali jembatan antara masa lalu dan masa kini. Naskah klasik tidak lagi dipandang sebagai benda kuno yang membeku, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang terus dapat ditafsirkan sesuai perkembangan zaman.

Oleh karena itu, tugas filologi pada masa kini tidak berhenti pada penyuntingan naskah atau pelacakan manuskrip. Filologi juga berperan menghidupkan kembali makna-makna yang tersimpan dalam teks klasik agar tetap dapat berbicara kepada masyarakat masa kini. Dalam konteks tersebut, Gurindam Kedua karya Raja Ali Haji membuktikan bahwa sastra Melayu bukan sekadar warisan sejarah, melainkan sumber kebijaksanaan yang terus menuntun manusia memahami hubungan antara Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri.

Melalui empat larik yang sederhana, Raja Ali Haji mengajarkan satu hal yang tetap relevan sepanjang zaman: keberkahan hidup tidak hanya lahir dari apa yang dimiliki, tetapi dari bagaimana manusia menjaga keseimbangan antara spiritualitas, kepedulian sosial, dan tanggung jawab moralnya.


Wiko antoni memakai nama pena Penyair Jangkat Timur

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler