Skip to Content

Sastra Indonesia

Sastra cyber

Sastra cyber merupakan suatu revolusi. Sebagaimana internet menjadi revolusi media kedua setelah penemuan mesin cetak Guttenberg dan ketiga setelah kehadiran televisi. Sebelum munculnya sastra cyber, dunia sastra Indonesia sendiri telah memiliki beberapa kekhasan yang terkait dengan keberadaan teknologi media.

Mendefinisikan Ulang Sastra di Era Digital dan Siber

Pendahuluan

 

Revolusi digital telah merombak lanskap budaya secara fundamental, melahirkan bentuk-bentuk ekspresi artistik baru yang tidak terbayangkan pada era sebelumnya. Di ranah kesusastraan, pergeseran ini termanifestasi dalam kemunculan sastra digital dan sastra siber—sebuah fenomena yang menantang definisi tradisional tentang apa itu teks, siapa itu pengarang, dan bagaimana sebuah cerita dialami. Artikel ini menyajikan analisis komprehensif mengenai sastra digital dan siber, dengan fokus khusus pada konteks perkembangannya di Indonesia. Tujuannya adalah untuk membangun pemahaman yang mendalam dengan melacak genealogi istilah, membedah karakteristik unik yang membedakannya dari sastra konvensional, menelusuri jejak sejarahnya baik di tingkat global maupun lokal, serta menganalisis polemik dan potensi masa depannya. Melalui penelusuran ini, artikel ini akan menunjukkan bahwa sastra digital bukan sekadar pemindahan teks dari medium cetak ke layar, melainkan sebuah genre baru dengan estetika, struktur, dan dinamika sosialnya sendiri yang secara radikal mendefinisikan ulang hubungan antara penulis, teks, pembaca, dan teknologi.

Anak Bawang

Anak Bawang

Karya: RizalF

Wahai anak bawang titisan pandemi

SembahYang Senja

SembahYang Senja
Karya: RizalF

 

CELAKA

Celaka

Pura-pura aku dipuja

Layaknya benda berharga tak bernyawa

Karena mata-mata itu melihatku berbeda

Hmmmmmm

Ya, aku lahir dari putrakrama yadnya

sastra indonesia

Sastra Indonesia adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah politik di wilayah tersebut.

PUISI : Kenapa kita Masih Saja

Kenapa Kita Masih Saja?

 

Kenapa kita masih saja berdebat

Bukankah rambut kita sama lebat

Hitam cemerlang pesona malam

Kala aku mencinta

Senja menyambut kala Mentari mulai larut

Harapan membawa daksaku menghanyut

Bersama sukmamu,  yang selalu melambai

Cintaku,  semakin menjuntai

 

Puisi Moral Nominal

Moral Nominal

 

Apa ini? Ku saksikan tiap hari

Politisi bernyanyi

Polisi menari

Pejabat saling maki

 

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler