Skip to Content

Aktifitas Sastra tak Biasa Yanto Bule

Foto Wiko Antoni
files/user/14391/IMG-20260604-WA0010.jpg
IMG-20260604-WA0010.jpg

KREATIVITAS DAN USAHA KERAS YANTO BULE: MENJEMPUT BAHASA DARI HUTAN KE HALAMAN BUKU

Kalau kita dengar kata "Suku Anak Dalam" atau sering disebut juga Suku Kubu, yang terbayang biasanya adalah kehidupan yang masih lekat dengan alam, tinggal di dalam rimba, dan punya cara bicara yang unik yang jarang dimengerti orang luar. Nah, di sinilah letak hebatnya Yanto Bule! Ia tidak cuma melihat mereka sebagai bagian dari cerita masa lalu, tapi melihat bahasa mereka sebagai harta berharga yang harus diselamatkan.

 
KREATIVITAS YANG TAK BIASA
Biasanya, melestarikan bahasa daerah itu terasa berat, kaku, dan membosankan. Tapi Yanto Bule melakukannya dengan cara yang cerdas dan kreatif:

Membuatnya jadi "Kamus Kecil" yang Ramah
Ia tidak menyusunnya sebagai buku tebal yang penuh istilah rumit. Ia membuatnya sederhana, lengkap dengan padanan kata sehari-hari, percakapan umum, bahkan dilengkapi gambar. Jadi siapa saja — mulai warga biasa, pelajar, sampai aparat — bisa langsung mempelajarinya tanpa bingung. Dari kata panggilan keluarga, nama hewan, tumbuhan, sampai kalimat sederhana seperti "Jangan lupa makan kalau lapar", semuanya disajikan dekat dengan keseharian.

Menjembatani Dua Dunia
Ini yang paling keren! Bahasa yang tadinya hanya hidup di antara pepohonan dan sungai, ia bawa masuk ke dunia modern. Ia membuatnya menjadi alat komunikasi agar tidak ada lagi salah paham antara masyarakat umum dan Suku Anak Dalam. Bahkan Kapolres Merangin sendiri menyebutkan, buku ini membantu menjaga kerukunan dan keamanan daerah. Jadi bahasa ini bukan sekadar dihafal, tapi dipakai untuk hidup berdampingan.

Bukan Hanya Bahasa, Tapi Jendela Budaya
Lewat daftar kata yang ia susun, kita bisa melihat bagaimana cara pandang mereka terhadap alam: nama buah hutan, alat berburu, hingga istilah untuk menyebut pimpinan daerah. Yanto Bule berhasil mengemasnya sehingga kita belajar bahasa sekaligus menghargai cara hidup mereka.

 
USAHA KERAS YANG TAK CUKUP SEHARI

Menyusun kamus bahasa suku yang jarang terdengar ini bukan pekerjaan ringan lho! Bayangkan saja:

- Ia harus turun langsung ke lokasi, bertemu warga, mendengarkan, mencatat, memastikan arti kata agar tidak salah tafsir.
- Ia harus memilah kata mana yang paling sering dipakai, menyusunnya agar mudah dipahami orang luar.
- Ia sadar masih ada kekurangan, tapi justru itu yang membuatnya terus semangat memperbaiki.

Bukan tanpa alasan Bupati Merangin menyebutnya seniman serba bisa — ia sudah berkarya lewat cerpen, film dokumenter, dongeng anak, dan sekarang melengkapi perjuangannya lewat kamus ini. Ia membuktikan bahwa satu orang yang peduli bisa menyelamatkan satu bagian besar dari identitas bangsa.

 

Penutup

Yanto Bule membuktikan: melestarikan bahasa tidak harus dengan gaya yang kaku dan berat. Ia melakukannya dengan hati, kreativitas, dan ketekunan. Hasilnya? Bahasa yang tadinya terancam hilang ditelan zaman, sekarang ada di tangan generasi muda, siap dipelajari dan diwariskan lagi.

Sungguh pekerjaan mulia! Ia tidak hanya menulis kamus, tapi menyambungkan akar budaya agar tidak terputus. Teruslah berkarya, Saudaraku!

tentang penulis:
Wiko Antoni (lahir di Rantaupanjang, 4 April 1978) adalah seorang akademisi, penyair, kritikus, dan sutradara teater asal Jangkat Timur, Kabupaten Merangin, Jambi. Ia diakui secara luas sebagai pionir sastra cyber sinematik AI di ruang sastra media sosial, sekaligus pelopor musikalisasi puisi AI sinematik Melayu. Lewat eksperimen kreatifnya, ia memadukan kekuatan sastra sufistik, eksotisme budaya Nusantara, dan kearifan lokal Melayu dengan teknologi Generative AI untuk melahirkan bentuk ekspresi digital baru yang inovatif.Profil & Jejak KreatifIdentitas & Domisili: Lahir di Rantaupanjang. Saat ini berbasis di Rantau Suli, Jangkat Timur, Jambi, dan mengajar sebagai dosen di Universitas Merangin.Pendidikan & Fondasi Seni: Menyelesaikan studi seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang dan Universitas Negeri Padang, yang membentuk dasar estetikanya dalam teater dan sastra sejak akhir 1990-an.Pelopor Sastra Cyber Sinematik AI: Melalui konsep yang dikenal sebagai Sasekai (Sastra Sekai), ia mengonversi puisi-puisi tekstual menjadi karya narasi interaktif global berbantuan AI, menjadikannya salah satu penggerak utama evolusi sastra digital kontemporer.Kanal Puisi AI Sinematik Melayu: Melalui platform digital dan artikel-artikelnya di portal seperti Jendela Sastra, ia aktif memublikasikan musikalisasi puisi berbasis video AI. Karya-karyanya seperti "Sumpah Bunga dan Putri Gunung", "Jaran Goyang", dan "Dendam Sijundai" kerap diangkat sebagai objek kajian akademis dan teaterikal digital.Visi Estetik: Menjadikan teknologi digital sebagai mimbar spiritual untuk menyuarakan kedalaman jiwa Melayu, ketuhanan (sufistik), dan kritik eksistensial agar budaya tradisional tidak punah di tengah arus zaman.

 

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler