Skip to Content

Esai Deri Hudaya; Puisi Gusjur Mahesa, Kegilaan dan Religiusitas Timur Zaman Mataram

Foto Deri Hudaya

Hidup itu Yin-Yang. Berpasang-pasangan. Tapi dalam praktiknya rumit. Kadang-kadang kita dihadapkan masalah seperti buah simalakama. Dua pilihan yang sama-sama buruk. Tapi harus kita pilih …. Gila atau korup?—GM

 

I

Puisi sering dilihat sebagai karya seni dengan medium bahasa, khususnya kata, sebagai tumpuan ekspresinya. Ia relatif pendek tapi padat dibanding genre sastra lainnya. Selazimnya generalisasi, pengertian ini mengandung sejumlah kelemahan, meski tidak sepenuhnya bisa ditampik. Di media massa, di buku-buku, di kutipan-kutipan puisi di media sosial, atau puisi yang dijadikan lagu folk, dalam pengertian inilah puisi dimengerti. Pendekatan kata jadi semacam konvensi.

Chairil Anwar punya andil dalam hal itu. Sebelumnya, ketika puisi terikat—bersifat tradisional—masih menjadi acuan, pertaruhan utamanya terletak pada pertautan sampiran dan isi, hitungan larik dan bait, pola-pola rima, bukan pada kata itu sendiri. Setelah hadirnya Chairil, sastrawan angkatan ’45 itu, pertaruhan puisi mengerucut pada kata. Lebih lanjut, puisi bebas menggantikan konvensi puisi terikat.

Saya bayangkan, setiap kali menulis, Chairil akan berkerut kening mencermati kata demi kata, dan setelah lama puisinya dipublikasikan, ia bisa prustasi dengan kata-katanya sendiri. “Hidup hanya menunda kekalahan …. Ada yang tetap tidak terucapkan …,” tulisnya dalam Derai-derai Cemara, puisi yang lahir menjelang akhir hayatnya.

Sementara dalam penghayatan Ahda Imran, laku penyair di hadapan kata membuatnya seperti seorang mistikus:

 

Pelajaran Pertama Menulis Puisi

 

Yang kau perlukan adalah menyeru makhluk halus

yang berdiam di balik kata-kata. Tapi kau hanya

akan mendapati kata-kata jika ia tahu kau mencarinya

 

Serulah dia tanpa ia mendengar suaramu

 

Puisi itu ada di halaman-halaman akhir Rusa Berbulu Merah, ditempatkan berturut-turut bersama tiga puisi lainnya pada bab: Empat Pelajaran Menulis Puisi. Saya tafsirkan keempatnya sebagai kredo kepenyairan Ahda. Pada puisinya, penyair tidak dihadirkan sebagai penjaga martabat kamus atau seorang kukuh dengan pengalaman empirik kata sehari-hari, namun lebih sebagai penemu realitas wingit di balik kata yang tidak mudah didefinisikan, yang ada namun tak kasatmata, yang kontradiktif, sebut saja "Sang-Lian”.

Tentu banyak penyair lain yang memosisikan kata secara istimewa, antara tegangan intelektual dan spiritual bahasa. Bertolak dari sana lahir metafor, simbol, serta imaji-imaji yang khas. Gusjur Mahesa[1] tidak demikian, ia berpandangan lebih lempeng terhadap kata, dan begitu kentara dalam Mending Edan daripada Kebagian Korupsi, sebuah judul puisi yang dijadikan tajuk bukunya kali ini.

 

anjing goblog

ternyata teman makan teman itu ada

ternyata sodara minum darah sodara sendiri itu ada

ternyata seniman memeras keringat seniman lainnya itu ada

anjing goblog

 

sejak saat itu aku tak percaya lagi seniman

aku keluar jadi seniman dan memilih jadi edan

 

Setelah membacanya saya merasa bahagia mendapat tawaran untuk menulis catatan ini.[2]

 

II

Gusjur Mahesa menempuh pendidikan formal sampai tahap magister dan bekerja sebagai dosen pendidikan. Biografi akademik itu tidak membuatnya gamang ketika mengaransemen banyak—bukan hanya satu-dua—umpatan di dalam puisi. 

Saat membacanya saya seolah kembali ke masa-masa di kampung, di mana pakaian saya tidak harus rapi tersetrika, di mana saya boleh telanjang bulat di pinggir jalan, di mana saya boleh memamerkan titit saya dengan paras jatmika ketika turun hujan, di mana saya boleh memaki paman atau kakek saya tanpa membuat mereka marah, alih-alih tertawa ngakak dan matanya berbinar—seakan pancaran mata mereka mengatakan bahwa umpatan saya yang sering tidak fasih telah menyingkirkan beban hidup yang menekan pundak mereka.

Saya beruntung memiliki masa kecil yang boleh disebut bebas, padahal ada di tengah lingkungan yang cukup konservatif; nenak saya guru ngaji sementara ibu dan bapak saya adalah guru SD sekaligus aktivis Golkar. Selama tidak melukai perasaan orang lain—dan itu jarang terjadi karena orang-orang sekitar selalu penuh pemakluman. Saya juga bisa menyapa kakak-kakak saya dengan sepenuh rasa sayang dengan kata “bebel”. Kakak yang saya sapa kerap menjawab dengan, kadang-kadang, penuh ketulusan: “Naon kehed?”[3]  Beruntung, Soeharto yang saya hormati tidak pernah datang ke rumah masa kecil saya.

Demikianlah, ingatan paling jauh sekaligus intim itu berlintasan ketika saya membaca manuskrip kumpulan puisi ini. Ada sesuatu, semacam kebebasan, yang tidak semua orang berani lakukan.

 

Definisi Partai

PARTAI berasal dari kata

PART dan TAI

PART itu bagian

TAI itu podol

 

podol itu waduk

waduk itu bohong

bohong itu rujit

 

Jadi partai itu

bagian dari…

rujiiit anyiiiing…

 

Beberapa puisinya memang verbal, beberapa lainnya tubruk sana-tubruk sini, ceplas-ceplos sekenanya, terkesan ringan sekaligus jujur. Ia tidak mengandalkan kata atau frasa semacam “senja”, “melankoli”, “hujan rintih-rintih” yang lazim saya tulis dalam puisi sebagaimana kebiasaan anak-anak bucin pecinta senja sejati. Ia juga tidak mengikuti teknik menulis yang rigorus (ketat), berdarah-darah bersama kata, tabah menyelami lapisan terdalam dari diksi, bersetia pada sisi intelektual dan spiritual bahasa, sublimasi, yang ditempuh para penyair seperti dua nama figur yang saya sebut di awal tulisan.

Menginsyafi bahwa puisinya lain, Gusjur menyatakan sikapnya tidak dengan heroik, salah satunya dengan catatan kecil di puisi Jujur Dulu dan Kini: “Aing penyair gelo.”

Memang tidak salah, yang bisa mengumpat tanpa membuat orang lain menjadi marah, selain anak kecil, salah satunya adalah orang gelo (gila). Pembahasan mengenai motif kegilaan Gusjur telah diawali Zulfa Nasrulloh dengan mengutip pandangan Michael Foucault di catatan penutup buku antologi puisi pertama Gusjur bertajuk Mending Gelo daripada Korupsi, ditambah dengan catatan mendalam lainnya yang ditulis Pungkit Wijaya.

Diterbitkannya antologi keduanya ini, masih oleh Situs Seni, dengan memperlihatkan kecenderungan yang nyaris sama, hanya bergeser dari tajuk gelo kepada edan, ibarat penegasan bahwa Gusjur yakin dengan pilihannya. Begitu juga objek besar yang disasar puisi-puisinya, ia konsisten untuk memaki korupsi. 

 

III

Kegilaan, sebagaimana penelusuran Foucault, alat ukurnya berbeda-beda dari zaman ke zaman, dari satu tempat ke tempat lain, tergantung konteks. Konsep gila yang menyeluruh tidak alamiah, tapi dipengaruhi oleh rezim kewarasan yang menguasai pandangan umum. Zaman Renaisans, masa ketika rasio dijadikan sumber segala, orang gila adalah orang-orang yang tidak mampu berpikir rasional. Para penganut bumi datar bisa disebut orang gila jika menggunakan ukuran Renaisans. Begitu juga, barangkali, dengan pemuja teori konspirasi. Begitu juga orang yang tidak punya  cukup kemampuan secara konseptual untuk mencerna puisi.

Setiap orang pada gilirannya bisa menjadi gila dalam keadaan-keadaan tertentu, dilihat dari sudut-sudut tertentu. Dalam kenyataan hari ini, profesor yang hidup terus-menerus di laboratorium dan jarang berbaur dengan masyarakat, seniman yang larut dengan fantasi tanpa memedulikan sekitar, seorang sufi yang mempraktikkan cara ibadah yang berbeda dengan lingkungan religiusnya, dengan mudah bisa dicap sebagai orang gila. Dari pelbagai sudut dapat diidentifikasi, setidaknya kegilaan bersandar pada kondisi ekstrim penyimpangan, perbedaan, ketidakpedulian, keluar dari konsep utama, bukan mayoritas.

Dunia kepenyairan sama sekali tak menabukan penyimpangan. Penyair yang berkhidmat pada kata punya kecenderungan untuk merontokkan definisi yang berderet di kamus, berkelindan dari makna empirik sehari-hari. Mereka juga dengan sengaja membuat sempalan dari puisi kanon.[4] Joko Pinurbo pada awalnya mengikuti puisi imajis Sapardi Djoko Damono, lalu membedakan diri dengan mereduksi humor. Selama ini, puisi Gusjur tidak pernah dibicarakan secara interteks dengan puisi kanon manapun. Meski ia lama mempelajari teater di Bengkel Teater yang sekaligus jadi kediaman Rendra, sulit untuk mencari rujukan puisinya pada puisi W.S. Rendra. Barangkali, sempalan ekstrim inilah yang membuatnya gigih dan percaya diri untuk menyatakan diri sebagai penyair gila.

 

Akulah presiden republik gelo*

Akulah si gila disingkirkan si waras 

Siap menghadapi kamu

Muuuuuuu……ach 

Muach 

Muach

—Kesaksian Joker

 

Dalam taraf tertentu perbedaan tidak selalu dilihat dengan mata terbelalak. Ia sama alamiahnya dengan keunikan. Sebab setiap orang menginginkan keunikan, lalu apakah nilai keunikan itu? Di manakah letak kegilan dalam perbedaan-perbedaan tidak terbatas? Ia masih dipandang unik karena populasinya benar-benar minor. Ia disebut gila karena kehadirannya menimbulkan gangguan tak tertanggungkan. Ia gelo karena punya potensi untuk diasingkan, untuk terbentur benteng kokoh konvensi seperti terbaca dalam puisi berikut:

 

Puisiku

 

Puisiku

Adalah catatan harian

Membaca sejarah kehidupan

 

Lantas kau mau apa?

Aku tak peduli nyinyiranmu

Ini puisi atawa bukan

 

IV

Di tahun ’70-an, jauh sebelum Gusjur menulis puisi, ada gerakan mBeling yang bernada ngehek terhadap puisi yang diakui puisi pada zamannya, sekaligus mereka nyinyir terhadap kebesaran penyairnya. Salah satunya bisa saya lacak pada karya Jeihan Sukmantoro berikut:

 

Sutardji

 

seorang lelaki sambil buka baju

berteriak lantang

aku sutardji calzoum bachri

turunan bangsa bahari

ini dadaku

 

dari kejauhan sekelompok anak

berteriak:

itu tidak lucu, tanpa susu!

 

1974 

 

 

Sutardji merupakan sosok sebagaimana Chairil Anwar, bahkan dilabeli “Presiden Penyair Indonesia”. Pada masanya puisinya jadi model-arketipe yang ditiru oleh banyak penyair muda. Penulis antologi O, Amuk, Kapak ini kerap membacakan puisi-puisinya di panggung sambil menenggak bir sambil telanjang dada. Namun dengan entengnya Jeihan menulis: “Itu tidak lucu, tanpa susu!” Ketika sesuatu terlampau berpengaruh, ketika itu juga satire dimungkinkan meluncur dari arah tidak terduga.

Puisi yang tidak berada di tengah, berpesai-pesai di pinggiran sejarah panjang puisi modern Indonesia. Ada yang jadi gerakan, ada yang dilekati nama genre tertentu, ada yang dilakukan seorang diri, ada yang hanya dibaca oleh segelintir orang (obskur), ada yang gagal diakui sebagai puisi. Sepertinya penyimpangan dari konvensi dan kanon bermula ketika konvensi dan kanon itu ada, semacam benda dan bayang-bayangnya.

Dulu, karena media massa dan penerbit mayor berwatak konvensional, terlalu konvensional bahkan, dunia bayang-bayang itu tidak mudah memperlihatkan diri. Belakangan ini, lantaran ditopang oleh media sosial dan penerbit independen, pemberontakan jadi semakin mudah terlihat. Rifki Syarani Fachry, misalnya, mencurat-coret buku Ontosfi Ibn ‘Arabi karya Fahmi Farid Purnama dan hanya menyisakan beberapa kata saja, mengambil fotonya, mengunggahnya di media sosial, dan menyatakan itu sebagai puisi.

Lalu Wahyu Heriyadi menerbitkan buku puisi Sunda digital yang harus dibaca dengan bantuan aplikasi pemindai barcode, sebab setiap halamannya memang berisi barcode. Di dalam puisi Wahyu, barcode tak ubahnya metafor gelap jika dibaca langsung dengan mata telanjang. Sementara Lutfi Mardiansyah, juga Willy Fahmy Agiska, belakangan ini menulis puisi bernada slebor. Ibe S. Palogai membuat puisi dengan mencurat-coret karya penyair klasik Tiongkok bernama Li Yu dengan huruf kapital: Aku punya buku catatan, isinya puisi-puisi cinta & mati muda, mawar & ciuman, aku membakarnya saat remaja. Tapi kini hidup membuatku menjadi pengecut lalu menulis puisi lagi.

Bahkan Afrizal Malna menulis puisi Krikil di Tokyo[6] dengan gokil. Ia mencampur aduk bahasa standar dan bahasa slang (prokem), menceritakan perjalanan puisinya nyaris tanpa tendensi. Seperti main-main.

Saya tidak bisa menyebutkan semuanya. Yang bisa saya tangkap, mereka seperti merayakan sikap tak hendak tunduk pada apa yang telah lama menjadi acuan estetika dalam puisi di Indonesia. Apalah artinya kanon. Apalah artinya konvensi. Nonsens dengan kelaziman puisi. Barangkali, penyair yang berada di lajur utama dimungkinkan tidak nyaman, mesti menemukan argumentasi kembali, sebab seperti itulah biasanya fungsi kehadiran oposisi atau sparing partner dalam wacana. 

Di sisi lain, barangkali ini erat relevansinya dengan zaman. Istilah-istilah yang menunjukkan ketidaktertiban seperti posttruth (melampaui kebenaran), postmodern (melampaui kemodernan), hipperrealitas (melampaui kenyataan), hoax, matinya narasi besar, juga wolfmotherinlaw dan fakeshoot, saat ini kian santer dibicarakan. Dalam tensi semacam ini, apakah puisi-puisi itu akan bisa membelokkan perhatian mayoritas publik sastra seperti puisi bebas meminggirkan puisi terikat di awal kemerdekaan republik? Saya tidak hendak berspekulasi lebih jauh.

Yang jelas, puisi-puisi aneh dan nyeleneh itu, yang bosan mengeksplorasi sisi intelek dan spiritualnya, yang justru mereduksi gimik, yang penyairnya boleh mengaku gila, kini mendapat tempat. Ia bisa didiskusikan di komunitas-komunitas sastra, di ruang-ruang akademik.[7] Di tengah situasi zaman seperti ini, kegilaan yang disodorkan melalui antologi puisi kedua Gusjur terasa ada dalam porsi natural.

Yang tetap sulit diikuti, ia mampu menghadirkan puisi penuh caci-makinya di ruang publik (bukan hanya ruang sastra) dengan kalem. Beberapa tahun lalu dalam sebuah pengajian agama di Ciamis, di Sanggar Rengganis—saat bangunan itu belum runtuh oleh puting beliung—ia sempat membacakan puisi-puisinya. Sebagian penonton tertawa, sebagian lainnya melongo, dan salah seorang penonton di dekat panitia menggeleng-geleng kepala, lalu berbisik ke panitia, “Kang, kenging anu kieu ti mana?” (Kang, dapat ini dari mana).

Gusjur lumayan sering mengunggah video dokumentasi pembacaan puisinya di laman facebook. Penampilannya khas, rambut jambul layaknya anak Punk, kadang memakai songkok, pakaiannya penuh tempelan seperti anak Vespa, dan tangannya memegang golok yang terbuat dari kayu—tanpa ditutup-tutupi. Kegilaannya tidak selesai di dalam teks, tetapi juga menyeruak di ruang publik. Ia mampu merepresentasikan kekalutan orang tertindas oleh realitas politik dengan tidak berlarat-latar, tidak juga berhero-hero, namun dengan humor yang mudah ditangkap—yang tetap saja pedih. Inilah ekstrim lainnya yang bisa mengendap di dalam ingatan kolektif. Apa yang ada di dalam dan di luar teks seperti saling berkesinambungan. Setelah teks lahir penulisnya tidak lantas mati.

Saya tidak bisa membayangkan Gus Mus menulis puisi seperti yang ditulis oleh Gusjur dan membacakannya di panggung, walau kedua-duanya kritis terhadap sengkarut politik.

 

V

Saya sengaja menyebut nama penyair santun sekaligus ulama kharismatik di fragmen sebelumnya. Ada perkara yang belum saya sentil sedikit pun berdasarkan judul catatan ini, yakni tentang religiusitas Timur zaman Kerajaan Mataram pada puisi-puisi Gusjur Mahesa (GM). Seharusnya ini menjadi puncak pembahasan. Akan tetapi, harus saya akui, saya tidak tahu apakah ada unsur religius di dalam puisi-puisinya? Haddduuuh, apalagi zaman Mataram.

Akhirul kata, wallohu alam ….

 

Singajaya, 16-20 Agustus 2020

 

Catatan Tambahan:

[1] Disarikan dari hasil wawancara melalui WA pada Gusjur Mahesa (19/08/2020), jeda percakapan ditandai dengan elipsis (…), beberapa pilihan kata disesuaikan agar lebih mudah dipahami: “Saya pas make ‘anjing goblog’ itu ‘kan koteksnya lagi marah sama koruptor. Kalau sedang bahagia, rindu, pasti mesra …. Hidup itu Yin-Yang, Lingga-Yoni. Berpasang-pasangan. Hitam-putih. Surga-neraka. Baik-buruk. Pahala-dosa. Tapi dalam praktiknya ternyata rumit dan njlimet. Kadang-kadang kita dihadapkan pada masalah seperti buah simalakama. Dua pilihan yang sama-sama buruk. Tapi harus kita pilih. Memilih gelo atau korupsi? Pejabat yang jujur, tak korupsi, hidupnya bisa miskin. Adakah yang mau? Kebanyakan orang munafik. Lebih jujur Joker (tokoh sekaligus judul sebuah film fenomenal di tahun 2019).” 

[2] Saya membaca manuskrip MEdKK sambil mulai menulis catatan ini pada hari-hari menjelang perayaan HUT RI ke-75, beberapa hari setelah Jerinx SID ditahan polisi karena mengatakan IDI sebagai kacung WHO. Jerinx—dalam lidah British, gering dalam lidah Sunda—sepertinya belum menguasai seni mengumpat, dan IDI tidak mampu menjangkau humor ala-ala badut pandemi (sebutan Majalah Tempo pada Jerinx), sementara negara sedang sibuk-sibuknya mengurus “Omni Bus Low” sehingga lupa menjaga kehormatan “justice” di tengah masyarakat demokrasi berbasis online.

[3] Di film berbahasa Inggris, kedua umpatan agak arkaik ini bisa disejajarkan, meski makna linguistiknya berbeda, dengan “fuck”, “bitch”, “mother fucker”, dll. Jika ingin memahami makna harfiah dari kedua umpatan yang mengandung kearifan lokal Sunda ini silakan membeli kamus bahasa yang disusun oleh R.A. Danadibrata. Jika anda menghormati keluhuran budaya nusantara dan memang peduli dengan kemajuan dunia literasi, sila beli produk bermutu yang dibuat oleh anak bangsa, jangan selalu pinjam sambil berniat tak hendak mengembalikan atau mencuri pdf.-nya. Saya hanya mengingatkan, harga kamus tidak semahal sepeda impor yang laku keras di tengah pandemi dan krisis.

[4] Kanon di sini berarti puisi yang telah dilegitimasi memiliki mutu tinggi dan berpengaruh pada perkembangan puisi setelahnya.

[5] Keterkaitan puisi Joko Pinurbo dengan puisi Sapardi Djoko Damono mengacu pada wawancara Hasan Aspahani terhadap Joko Pinurbo di kanal youtube Juru Baca. Keterpengaruhan ini adalah kelaziman jika kita percaya pada teori interteks-nya Julia Kristeva.

[6] Puisi Afrizal Malna tayang di Basabasi.co edisi 7 Mei 2017.

[7] Di masa pandemi begitu banyak diskusi daring, atau istilah kerennya webinar. Agar jumlah pesertanya banyak, panitia biasanya menyediakan sertifikat elektronik gratis. Subhanalloh… semacam motif nasi bungkus untuk mengumpulkan massa dalam aksi demo abal-abal.

 

Catatan Tambahan Lagi:

Tulisan ini merupakan sebuah prolog untuk antologi puisi kedua Gusjur Mahesa bertajuk Mending Edan daripada Kebagian Korupsi yang akan diterbitkan Situs Seni pada tahun ini.

 

 

Deri Hudaya, lahir 3 September 1989 di Singajaya, Garut. Ia belajar menulis puisi di Majelis Sastra Bandung. Novel bahasa Sunda bertajuk Sandékala karya Godi Suwarna sedang diterjemahkannya ke bahasa Indonesia dan direncanakan segera terbit.

Komentar

Foto Yussak Anugrah

sekian tahun mengenal Gusjur,

sekian tahun mengenal Gusjur, yang saya rasakan setiap bertemu dan bergumul dengan dia hanya perasaan ngeri dan sedap. tulisan ini seakan menjernihkan air yang selama ini butek. nuhun Deri.

Foto Deri Hudaya

Nuhun, Kang Yusak

Nuhun, Kang Yusak, tos keresa maca. Beliau semacam guru yang tak hendak menggurui. Kereeen.

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler