Esensi puisi
Satu huruf dalam bait ini
Adalah sebungkus nasi
Untuk mengganjal perut saat dini hari.
Waktu remaja kita tinggal
Langkah-langkah lalu adalah jejak yang kita pinang
Pada angan akan rencana yang dicipta
Kekasih, pernahkah kau sangka kita akan menjadi yang terbuang
Terasing dalam dunia yang entah dimana
Puas kita tak lagi tuntas melepas dahaga
Dimanakah kita ?
Yang datang menemuimu selagi matahari merangkak dari punggung bukit
Mengetuk ceret,chemex,dan cangkir pagimu
mengetuk mimpi dari kata-kata yang tak kunjung temu
Di tubuh ini, sudah menjadi pelabuhan
Tempat berlabuhnya malam-malam
Dan sesekali kunang-kunang berangan
Untuk bertandang.
Embun telah lama mati
Terkikis waktu yang tengah berlari
Waktu yang sampai saat ini menyembunyikan diri
Dan tak pernah tersesat meski seorang diri.
Malam ini, segala riak kebahagiaan mengetuk - ngetuk dadaku
Mengusir aneka sepi yang menahkodai detak jantungku
Senyum tersungging di samping lampu remang-remang
Turunlah, turun ketanah yang dalam
Kupaslah, kupas dengan otak yang gemuruh
Karena di sana ada cahaya yang mengalir
Dari akar dan bebatuan.
Aroma telah mendidih, dari tanah nenek moyang.
Digulungnya dari nafas-nafas yang pecah dan
Nadi yang lelah, Menyibak segala amarah dari
Komentar Terbaru