Skip to Content

Februari 2019

Puisi-puisi Hafidz kertas

Esensi puisi

 

Satu huruf dalam bait ini

Adalah sebungkus nasi

Untuk mengganjal perut saat dini hari. 

 

(P) ULANG

Waktu remaja kita tinggal

 

Langkah-langkah lalu adalah jejak yang kita pinang

 

Pada angan akan rencana yang dicipta

 

MENIKMATI DOSA PERTAMA

Kekasih, pernahkah kau sangka kita akan menjadi yang terbuang

Terasing dalam dunia yang entah dimana

Puas kita tak lagi tuntas melepas dahaga

Dimanakah kita ?

LELAKI YANG MENJATUHKAN MIMPI DI CANGKIR KOPI

 

Yang datang menemuimu selagi matahari merangkak dari punggung bukit

Mengetuk ceret,chemex,dan cangkir pagimu

mengetuk mimpi dari kata-kata yang tak kunjung temu

Saya dan tubuh?

Di tubuh ini, sudah menjadi pelabuhan 

Tempat berlabuhnya malam-malam

Dan sesekali kunang-kunang berangan 

Untuk bertandang. 

 

Terlahir kembali

Embun telah lama mati

Terkikis waktu yang tengah berlari

Waktu yang sampai saat ini menyembunyikan diri

Dan tak pernah tersesat meski seorang diri. 

 

Dermaga senyuman

Malam ini, segala riak kebahagiaan mengetuk - ngetuk dadaku

Mengusir aneka sepi yang menahkodai detak jantungku 

Senyum tersungging di samping lampu remang-remang

Iqra'

Turunlah, turun ketanah yang dalam

Kupaslah, kupas dengan otak yang gemuruh

Karena di sana ada cahaya yang mengalir

Dari akar dan bebatuan. 

 

Peta hujan

Aroma telah mendidih, dari tanah nenek moyang. 

Digulungnya dari nafas-nafas yang pecah dan 

Nadi yang lelah, Menyibak segala amarah dari 

Serumpun harapan

 



Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler