Jika kamu mengerti Bahwa lukaku kini bukan lagi luka main-main. Kini ia kuberi pupuk doa dan siraman semangat
Aku sering kesulitan menulis sajakku Seperti aku juga sering lupa bagaimana caranya jatuh cinta. Padahal aku ingin menulis apa yang aku punya.
Ragaku layak serpihan abu Tiba-tiba hilang dibawah angin. Kemudian aku diam. Tanpa mau bertanya kemana mata angin berhenti.
Catatanku ini penuh gemuruh Pada waktu awan hitam meliuk Pada saat rupamu lenyap perlahan. Lukisan duniaku ini penuh dengan fatamorgana.
Kau harus percaya bahwa Tuhan sedang tidak menghukum kita ia juga tidak sedang menguji arti sebuah kebersamaan. lagi-lagi waktu selalu aku persalahkan
Kesabaran terbesar adalah duri dalam daging Dapatkah kau mengunyah satu persatu daging-daging tak berdarah dan tak berdosa?
Komentar Terbaru