Skip to Content

November 2012

Jarak Yang Kau Ciptakan

Hanya perlu bertanya kepadaku

Untuk mengusir  kabut itu

Aku tahu inginmu

 

Hanya jus mangga

Dengan ekspresi seadanya

Kamu?

Kakiku membeku

Kau tak mencariku

Seperti itulah caramu berlalu

Hanya Bergumam

Sekilas berlalu tanpa menderu

Sekali lagi pada hari ini setelahnya sebelum hitungan kelima

Tak ada yang berubah

Semestinya memang tak ada yang berubah

Pandangan Pertama

Sebenar-benar warna biru

Hari ini bergaris putih

Wajahmu selalu seperti itu

Tanpa riak bergerak

Dan aku terlanjur melarut

Bersemu jingga

Masih untuk pesona pagi

Hanya ingin mengungkapkan

Sebelum akhirnya kisahmu

Terkubur lembaran menua

Aku merasakan dengan sadarku

Harus seperti apakah

Aku mencintaimu

Kepada Diri

Tidak perlu pembicaraan lagi

Tentangmu

Tentangku

Bersama angin

Bersama debu

Tidak tentang kebersamaan kita

Seperti Sebelumnya

Tanpa berfikir wujud aku tetap memilih menjadi ada

Tanpa adamu aku tetap memilih wujud menjadi

Aku ingin kau tahu

Aku ada

Selalu ada

Kepada Pesona Pagi

Harimu tak kulihat senyuman

Tak ada yang bisa kupinta dari sebuah kenangan

Pada setiap waktu yang mereka sebut malam

Kupintakan cahaya terang

Cahaya terang

Dari yang Kulihat

Mungkin hanya ingin tahu

Usah mendengar yang mungkin tak nyata

Usah menjelang yang seharusnya tak terjadi

Meski arah lahar selalu selatan

Kamu yang kulihat

Kartika terduga rentetan keriuhan

Ini hari yang ditunggu

 

Gerakmu tak kuhindarkan

Urung melahirkan tanya

Sesuatu yang kau utarakan selanjutnya



Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler