Skip to Content

Utopia dalam Mimpi Adam

Foto asepKnz

Di tengah suasana batin rakyat yang merana, Adam ikut masygul – sedih, kesal, dan sebal. Emosinya meledak, laksana habis menyaksikan gocekan striker kesebelasan kesayangan yang tendangan bolanya mengoyak jaring gawang lawan dengan cantik, namun wasit menganulirnya sebagai gol tidak sah. Pemain, official, dan supporter pun sontak menuding wasit, “masuk angin”!

Dalam bahasa tubuh yang murung, Adam sesegera mematikan televisinya. Hari ini, dia merasa dihujani berita kekalahan besar dalam perjuangan menegakkan demokrasi di negerinya. Sebuah antiklimaks memang terjadi, ketika kebenaran hakiki dan suara hati nurani rakyat sudah dihukum mati oleh palu hakim mahkamah yang bersekongkol dengan penguasa durjana.

Dengan perasaan berat, Adam memilih pergi ke peraduan, berharap menemukan kedamaian dalam mimpi. Layar mimpinya pun terbuka lebar. Di sana, Adam melihat kecamuk perang dengan suara gemuruh di kerajaan kuno Hastinapura, dalam penggalan lakon Mahabarata. Dua kekuatan bangsawan, Pandawa dan Kurawa, berseteru dalam ambisi meraih takhta kekuasaan di negeri yang subur itu.

Di tengah peperangan yang sengit, Adam seakan menemukan dirinya menjadi saksi bisu terhadap pertarungan epik itu dengan dada berdebar keras. Dia menyaksikan dengan penuh was-was saat kubu Pandawa, yang dipimpin oleh Yudistira, melawan dengan semangat kebenaran dan keadilan. Sementara Kurawa, di bawah pimpinan Duryodana, menggunakan segala cara licik dan manipulatif untuk mencapai tujuan mereka.

Adam merasa kebingungan dan putus asa saat melihat bagaimana Pandawa berjuang dengan gigih, namun dihadapkan pada tantangan yang sangat besar dari Kurawa yang licik dan brutal. Dalam ketidakpastian itu, Adam mendengar suara di dalam dirinya yang memberikan semangat dan harapan untuk kemenangan kubu Pandawa.

Di medan perang yang riuh itu, Yudistira memandang para prajuritnya yang berkumpul dengan mata berkobar penuh semangat. "Wahai para prajuritku, kita tidak boleh menyerah pada tirani dan kejahatan! Kita berperang untuk kebenaran dan keadilan!"

Dari balik tirai mimpi, mata Adam terus memantau setiap gerakan prajurit Pandawa dan Kurawa, sementara perasaan campur aduk dari harapan, kecemasan, dan kebingungan berkecamuk di dalam dirinya. Ingin rasanya Adam ikut menghunuskan pedang. Ini mengingatkannya pada adu argumen yang sengit antara para penegak kebenaran dan pembela kaum durjana di ruang mahkamah yang mulia.

Mata Adam teralihkan ke sisi lain medan perang. Ia menyaksikan Duryodana, pemimpin Kurawa, tersenyum angkuh. "Hik, hik, hik, hik... Mereka tidak menyadari kekuatan yang kita miliki. Kita punya segalanya untuk menumpas mereka!"

***

Tampilan layar mimpi berpindah lagi ke balik tembok istana kerajaan. Di sana ada Kresna, sahabat Yudistira, yang memperingatkan akan bahaya yang mengancam. "Yudistira, kamu harus waspada terhadap tipu daya musuh. Mereka tidak akan segan-segan menggunakan segala cara untuk memenangi pertarungan."

Perang berlangsung alot. Sementara itu, Semar dan para punakawan Pandawa mencari jalan keluar dari kebuntuan ini. "Bagaimana kita bisa mengalahkan musuh yang begitu licik dan bengis?” tanyanya.

Gareng, dengan keyakinan yang kokoh, menjawab, "Kita memiliki kekuatan moral dan dukungan dari para dewa. Kebenaran akan selalu menang atas kejahatan."

Di medan perang, pertempuran memuncak antara Pandawa dan Kurawa. Meskipun kalah jumlah, Pandawa melawan dengan gagah berani.

Bima unjuk diri. "Kami tidak akan mundur sedikit pun! Demi kehormatan keluarga kita, kami akan bertarung sampai titik darah penghabisan!"

Sedangkan Duryodana bersiteguh harus menang, bagaimana pun caranya, halal atau haram. "Serang mereka dengan segala kekuatan dan siasat yang kita miliki! Jangan biarkan satu pun dari mereka bertahan!"

Akhirnya -- mirip ending film, sinetron, pertunjukan teater atau pagelaran wayang -- kebenaran dan keadilan memenangkan pertarungan atas kejahatan dan tirani. Pandawa meraih kemenangan, membuktikan bahwa kekuatan moral dan integritas tidak pernah bisa dikalahkan oleh aksi durjana.

Duryodana ikut tersungkur dan mampus. Yang membuatnya meregang nyawa bukan lawan, tapi kawan-kawan Kurawa-nya. Mereka berebut memuntahkan panah beracun ke kubu Pandawa sehingga terjadi chaos di antara mereka sendiri. Seribu panah “toxic” di tangan gang kurawa salah sasaran, malah menghujani tubuh Duryodana yang angkuh dan ambisius untuk membangun dinasti kekuasaan.  

***

Layar mimpi itu seketika berubah hening tanpa gambar. Debar dada Adam ikut mereda.

Adam terbangun dari tidurnya dengan rona wajah dan senyuman ceria. Mimpinya telah memberi semangat dan harapan akan kemenangan atas kejahatan. "Kita menang, kita menang!" serunya, sambil terduduk di atas ranjang.

Sementara istrinya, Elina, terheran-heran. "Menang apanya, Mas! Mimpi apaan, sih, kok dibawa ke alam nyata?!" ledeknya sambil berdelik.

"Oalah, keliru aku...," Adam klemas-klemes sambil kembali berbaring dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu tertidur lagi, berharap melanjutkan mimpi beromansa utopis. Ya, sebuah harapan idealis, yang ironisnya sangat bertolak belakang dengan realita keras politik di negeri sang pemimpi. ***

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler