Tak bisa ku ingat. Rangkai demi rangkai kata. Hari demi hari. Ketia itu bersamamu. Sejenak semuanya hening. Tak ada suara nyaring terdengar di telingaku. Engkau pergi. Entah kemana..
Saat mata arah angin menuju titik perpisaan disanalah kau tinggalkan.
Bungkam saja senja agar kau tetap disini,
Bersama diriku dan kesendirianku.
Kau yang bernama rindu.
sudah mau berganti saja hari demi hati
air di danau ku sudah tak sebening dahulu,
sekarang banyak taman kepalsuan tumbuh dibawahnya,
Dingin Pasar Subuh Revolusi Kehidupan Garam dalam Tumis Bayam
Dingin ini mampu mengembangkan senyumku
IDE
Malam ini hujan datang Terpaan angin yang begitu kencang Rindu yang semakin dalam Serasa hati semakin tergunjang
Ku coba untuk diam Tapi hati ini berkata "sayang kapan engkau datang"
Sudah sekian lama kita tak jumpa
Di ujung senja rasa ini menjelma
Nama Mu hadir didalam kalbu
Langit tampak legam
Bintang-bintang menangis
di persimpangan malam
Sementara rembulan retak
di antara titik rinai hujan
yang tak kunjung padam
Debu mengepul semburat
Asap-asap mengumbar pekat
Menghisap udara metropolutan
Di antara rambu-rambu kemacetan
Gedung-gedung menusuk cakrawala
Komentar Terbaru