Skip to Content

PUISI-PUISI ERRY AMANDA

Foto Hakimi Sarlan Rasyid

 

 

 

K E S A K S I A N
--- Erry Amanda
Berdiri di sini
Angin musim berganti arah
Matahari menyelinap di balikkepul asap pabrik dan bau mulut
Ocehan pagi hari orang orang malas keluar rumah
Jalanan penuh debu dan asap tebal
Kebakaran di manamana
Kebakaran apa saja
Dan orang orang banyak diam sambil tolak pinggang
Bahkan senang ikut berdiang di kepungan bara
Berdiri di sini
Mendengar teriakan teriakan tiap hari
Tak jelas apa yang diteriakkan
Sedang di jalanan pesta telanjang kian panjang
Menelanjangi diri sendiri
Pabrik artis sinetron jaman didirikan
Teks teks bahasa gombal dihafalkan
Anak anak kecil ikutan audisi di sembarang tempat
Ini bukan stand up comedy namun perayaan dagelan
Berdiri di sini
Decak kagum juga makin hiruk
Tak jelas apa yang dikagumi
-- Bandung 25 10 19

S E D E R H A N A
--- Erry Amanda
Katakan padaku teman
Adakah sederhana kehilangan jaman
Ia bukan wajah cap kotak waktu
Tidak pula miskin keindahan
Sederhana bukan pejalan kaki di antara deru mesin atau jejeran kotak kardus berhinpitas di sela gedung menuding langit
Rumah berpenerang nya buah jarak atau lampu sentir
Sahabat
Sederhana itu bisa saja punya harta tujuh turunan
Ia tampil tidak berlebihan meski sepiring menu harga satu juta
Itu kebutuhan dan manfaat
Bukan berlian dan emas yang ditelan
Ia toh berakhir di kakus
Bau dan bentuknya sama persis dengan kotoran yang keluar dari kere pinggir jalan
Kemana pun membawa tinja dalam perutnya
Kesadaran itulah yang bermnama kesadaran di ruang kesederhanaan
Jangan katakan sederhana tak beralis tebal berbibir tanpa gincu namun menjaga kecantikannya tidak dijual murah
-- Bandung - 24 10 19 di atas hutan pinus gunung Manglayang.

 

 

SAAT SELEMBAR UBAN MASIH DIPERHITUNGKAN

--- Erry Amanda

Jemari masih kukuh menghitung dentang lonceng

Berulang nada yang sama jumlah yang sama

Lantas apa yang pantas diperhitungkan

Kendati ada di ruang lompatan waktu

Nol

Pisau waktu memotong diagon kehidupan

Kemudian sunyi memecah hiruk pikuk

Menjadi serpihan serpihan hasrat

Dan jalan jalan kian berliku

Hitung

Berapa juta ton nafas yang dihela

Sedang sejengkal ke depan lepas hitungan

Katakan usia berhenti pada hitungan dua puluh

Bersandar di rasa dan perasaan

Apa yang hendak dilakukan

Benarkah menjemput kematian

Sementara ketakutan

Diam di bibir nizan

--- Bandung 17 10 19

 

 

PERCAKAPAN DIAM

--- Erry Amanda

Alun subuh di deru mobil membelah bukit dan beku kabut

Getar gigil tubuhmu menyusun partitur tembang perjalanan

Belum genap sungguh

Mentari terang tanah dari getar jiwa pada tautan di tengah bayang

Halaman masjid setetes airmata doa digamitkan

Dan bincang diam di tengah tabirul ikram

Meletakkan segala yang pantas diletakkan

Soreang

Sepanjang jalan tanpa tikungan

Kita sama sama mendendangkan pupuh jiwani

Dari sekerat daging hanya di pisahkan ruang

Masih juga saling tatap meski di ruang paling diam

-- Bandung 071019

(mengenang 14 Maret 2019 bersamanya)

SENANDUNG RANTING & DAHAN
--- Erry Amanda

Menjumputi musim demi musim
Senandung panjang ranting dan dahan jaman
Gemulai seperti tarian gambyong
Jelita putri dusun
Lentik jemari menyusuri sejumlah pergantian
Meski di alur waktu siang dan malam

Jangan kau herankan ketika rembulan
Bersolek siang hari
Ketika jiwa mulai kumuh peradaban
Begitu entah
Membadai di gincu percakapan
Lantas jangan tanya soal kebenaran

Ini bukan jaman lintasan tanpa hambatan
Katakan
Rambu telah pantas menghukum diri sendiri

--- Bandung 22 09 19

PERAYAAN BARA API
--- Erry Amanda
Nagri Gung Binathara dan berjuta tangan kraman
Menyisir belantara menciptakan menara api sepanjang jaman
Meninggalkan dongeng tentang gambut dan rimba jati
Menciptakan busung para punggawa praja
Membuat lukisan rumah rumbia di lorong lorong sempit gedongan berbeton
Ranting dan daun kering kehidupan berserakan sawah panen racun
Tangan siapa sesungguhnya
Begitu setia mengabdi bajingan demi sebungkus plastik di mal
Duka anak negri disumbat celotah pidato iklan kemanjuan jaman
Buah diekspor penanam makan daun kering
Menyaksikan rimba dan mukiman terbakar atau dibakar
Tak selang sejengkal berdiri rumah megah dan pabrik pabrik
Cukupkah kami hanya berdoa dan bersujud atas nama anak bangsa
Sedang kami hanya mampu mengibarkan bendera saban tahun
Ijinkan kami hari ini hingga nanti
Mengibarkan bendera setengah tiang
 Bandung – 17 09 2019

 

 

 

 

NOCTURNO

-- Erry Amanda

 

Menyusuri lorong lorong sepi lampu pendar sayup cahaya diselimuti kabut musim semi

Malam kian larut

Telah lama perkampungan kota sepi suara kecuali geretak rumah rumah tanpa penghuni riuh suara angin

Udara beku terus menyusuri malam

 

Sebatang rokok sejak sore enggan dibakar dan secangkir kopi pahit tinggal ampas di atas meja sudut emperan rumah di bawah pohon yang sebagian masih meranggas daun

Seribu sore yang lalu aku menutup halaman buku tentang kerinduan yang enggan untuk dibaca ulang

Kisah usang pantas untuk dikebumikan di ruang paling sunyi

Dalam jiwa

 

Sayup dari kejauhan Copin menggugah langit senyap dari rintih piano yang berpetualang tentang langkah hari tak berulang

dari gemuruh rasa dan hasrat berselimutkan kabut menuju jalan pulang

 

Sejenak melintas sayup dawai harpa menelusup di jemari kesendirian yang sempurna

Malam pun tak pernah tertuntaskan

Salju mulai turun

menghamparkan nada nada tak pernah selesai dikidungkan

 

 

-- Negeri jauh 14 Juni 2019

 

MUSIM GUGUR

(sepanjang Trans Siberia)

Erry Amanda

 

Berjalan di hamparan daun-daun luruh dimainkan angin

Ujung musim semi menghantar kisah suka cita

Burung burung mengepak sayap di atas hutan bunga

Melantunkan nyanyian cinta alam sepanjang jaman

 

Berdiri si sana

Di hamparan bumi TuhaTak Negara tak bangsa taka sing tak pribumi

Bukan pelancong di tanah yang berpetak nama

Cinta masih sesegar di dusun di mana pun

Ia adalah rasa semua bangsa kehidupan

 

Dan

Sunyi adalah hening memakna ruang seluruh ruang

Jelajah waktu di telapak langkah para pejalan kaki

Renungkan saja titi nada hitung dan jumlahkan

Berapa trilyun komposisi diciptakan

Sebutkan rancak dinamika tata musical jiwa

Adakah yang lebih mulia dari kidung kidung pupuh yang dilantunkan

Sedang ia adalah dunia rasa tanpa memilah bangsa

 

Musim gugur ranggas daun ruang mukiman

Menenun perjalanan jaman hingga saat dituntaskan

 

 

--- Bandung 14 September 2019

NEGRI NYAMUK
--- erry amanda
Lengking sayap gerutu nyamuknyamuk membakar langit
Absurditas seutas nyawa riuh di coleteh siang malam
Desingnya begitu silet
Anakanak akiaki
Berumah kotak korek
Menyaklsikan permainan bencana
Cermin pantul penjaranya penjara
Perayaan hahahihi
Dan
Kuburan tanpa pelayat
-- Bandung 31 Agustus 2020 - 01:38

 

 

DAN KETIKA ITU
--- erry amanda
Dan ketika itu
Kau bawa rembulan keliling hutan
Di antara ranting ranting patah
Daun daun jati berguguran
Sambil melantunkan kidung entah
Kau belah malam
Di sana ku temukan jejakmu yang hilang
--- Bandung 01 September 2020

 

 

 

SUATU KETIKA

--- Erry Amanda

 

suatu ketika mentari membuka jendela hari

aku sudah tidak berdiri di depanmu

sedang

gema suara suara memanggil

surau seberang jalan

masih seperti dulu

bunga bunga di teras masih sendau gurau

berkisah tentang kita

wajahku sudah luruh di antara embun dan daun daun

atau gericik air yang sama sama kita mainkan

sudut ruang itu

susunan dawai lantun jiwa dari jemari lelaki

ditimang matahari dan deru angin

ia tak akan senyap di relung jiwmu

aku tahu

jalan jalan yang telah kita petakan

jejaknya masih mengalir di deras nadi bathinmu

aku yakini

di deras sungai yang mengalir dari sudut mata kita

kau tak perlu membuka pintu lagi

sebab aku sudah tak akan mengetuknya

hanya lengkingku masih menggema

di sana

di pintu lain dalam dirimu

 

 

--- Bandung dini hari, 02 Agustus 2018

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler