Skip to Content

Master

 

Sulaiman Saha lahir sebagai putra sulung daripada dua bersaudara, buah kasih Zulkifli bin Yusuf dan Nuraini binti Ibrahim. Beliau membesar di sebuah desa kecil bernama Kampung Jalaebah, Rueso, Narathiwat, wilayah yang bukan sekadar titik geografis, melainkan ruang batin yang terus berdenyut dalam hampir seluruh karya sastranya. Patani, baginya, bukan latar; ia adalah suara, luka, doa, dan ingatan yang enggan diam.

 

Sejak kecil, Sulaiman hidup di persimpangan tradisi lisan, agama, dan realitas sosial yang keras. Dari surau, lorong kampung, suara hujan, hingga bisik-bisik trauma kolektif masyarakat Patani—semuanya membentuk sensibilitas kepenyairannya. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi rumah perlindungan bagi identitas yang terancam lupa.

 

Perjalanan akademiknya membawanya merantau ke Indonesia, menimba ilmu di Universitas Jember, dalam bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Di tanah rantau, beliau bukan sekadar mahasiswa, tetapi pengamat—merekam perbezaan, memungut makna, dan menyusun jarak antara “aku” dan “tanah asal” sebagai bahan bakar kreatif. Dari perantauan itulah lahir kesedaran bahawa pulang bukan hanya soal tubuh, tetapi juga tanggung jawab intelektual dan moral.

 

Sekembali ke Patani, Sulaiman memilih jalan pengabdian. Beliau mengajar sebagai guru bahasa Melayu di Sekolah Nahdatusyuban Pedau Jabat, membentuk generasi muda agar tidak kehilangan kata-kata untuk menyebut diri mereka sendiri. Dalam bilik darjah, beliau bukan sekadar pengajar tatabahasa, tetapi penanam keberanian—bahawa menulis itu hak, dan membaca itu bentuk perlawanan yang paling sunyi namun paling tahan lama.

 

Kesungguhannya terhadap dunia literasi kemudian diterjemahkan secara lebih struktural melalui peranannya sebagai Direktur Penerbitan Buku Lokal Patani (KOPI). Di bawah payung KOPI, Sulaiman mendorong lahirnya penulis-penulis kampung, suara-suara pinggiran, dan naskhah-naskhah yang selama ini tak diberi ruang oleh arus besar penerbitan. Buku, baginya, adalah arsip perlawanan yang sopan—ia tidak berteriak, tetapi bertahan.

 

Sebagai penggerak sosial isu literasi, Sulaiman menjadikan pena dan buku bukan sekadar medium estetik, melainkan senjata kultural untuk menjaga maruah bahasa Melayu Patani dan kelangsungan ingatan kolektif bangsanya. Tulisannya sering bergerak di antara trauma dan harapan, antara luka sejarah dan imaji kebebasan, antara sunyi dan doa.

 

 

Karya-karya beliau antara lain:

 

 

  • Rasa Kisah Lupa – Antologi Puisi
  • Nang Ning Nong – Antologi Cerpen
  • Tekad Perantau – Kumpulan Puisi
  • Sesapa Mesra Selinting Cinta – Kumpulan Puisi
  • Semesta Ingatan, Trauma, dan Imaji Kebebasan

 

 

Di samping itu, beliau telah menulis dan terlibat dalam banyak lagi buku, baik sebagai penulis, editor, mahupun penggerak penerbitan—sebahagiannya lahir dari ruang kecil, diskusi kafe kampung, bengkel menulis, dan pertemuan-pertemuan sederhana yang diam-diam mengubah lanskap literasi Patani.

 

Sulaiman Saha adalah contoh bahawa sastera tidak selalu lahir dari kota besar. Kadang-kadang, ia tumbuh dari desa kecil, dari luka yang tak diberi nama, dari keyakinan bahawa selagi ada bahasa, masih ada harapan.


Informasi Pengguna

Foto Master
Tidak tersambung. Terakhir tersambung 7 minggu 2 hari lalu. Terputus
Aktif sejak: 19/12/2025

Sulaiman Saha

Informasi Umum
Nama: 
Sulaiman Saha
Lokasi: 
Narathiwat, Patani,Thailand
Minat: 

Membaca & Menulis & Mengkaji

Tidak ada tulisan.

Tidak ada tulisan.

Tidak ada tulisan.

Tidak ada tulisan.

Tidak ada tulisan.

Tidak ada tulisan

Komentar

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler