Skip to Content

Agustus 2022

PELINTAS MALAM

Pelintas Malam 

Celoteh Warung Kopi

Celoteh Warung Kopi

Sebelum matahari tengelam
Aku bertemu teman lama di sebuh warung kopi, "ayo ngopi" ajakku sambil memesan segelas kopi. Biar aku ceritakan padamu

Kepergian Teriring Duka

Luka, melukai, terluka 

Luka-luka menganga menebarkan aroma konspirasi 

Mata mati kaku 

Kaku terbujur putra bangsa korban kolaborasi 

Puisi ke 30 dalam MENGHITUNG RINDU (1)

 

 

SORE ADA MELATI LAYU  

 

Senja bersamamu

Puisi ke 29 dalam MENGHITUNG RINDU (1)

 

 

 

RINDU SEPERTI HUJAN PAGI  

 

Puisi ke 28 dalam MENGHITUNG RINDU (1)

 

 

 

LEBAH API CINTA  

 

Bibirmu jangan dusta

Puisi ke 27 dalam MENGHITUNG RINDU (1)

 

 

 

SENDIRI MENITI SUNYI  

 

Malam di tepi sebelah sini

Puisi ke 26 dalam MENGHITUNG RINDU (1)

 

 

SISA MIMPI DAN HARAPAN  

 

Lelah tapi aku masih menyisakan sebuah mimpi

TUHAN

Tengah malam dingin mengores kulit

Memasuki hitungan mundur

Menuju subuh

aku yang sujud 

Kokokan ayam melompat profil tinggi

Melinking jauh kelangat

BUNGA(NADA KUPU-KUPU BERCINTA

Binatang riuh  sakwa liar

Aroma masa kawin berlahan

sumbang irama alam

Bergaduh serperti mengejar berhala

Para petambak wanita tua itu



Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler