Skip to Content

CINTA YANG LUKA

Foto Salma Mukadar Sastra

Bukankah cinta itu berusaha?

Aaah saya begitu tersakiti olehnya.



Namaku bara, aku memiliki kekasih yang bernama enjelina. Dia adalah perempuan satu-satunya yang aku cintai, siapa pun mereka, tidak mampu membuatku berpaling darinya.



Pagi, saat cahaya berhasil menerobos etalase-etalase kamar. Ketika embun datang membawa kesegaran, dan bunga-bunga serasa memiliki hidup baru. Aku masih saja tenggelam bersama rasa.

Pagi adalah suatu pikiran yang membuatku selalu mengingatnya, tentang matanya yang menatapku penuh cinta, tentang sebuah pelukan mesra dan manja yang dia berikan, serta tentang kesibukan yang dia lakukan untuk menyogokkan secangkir kopi hangat di hadapanku, yang membuatku semakin cinta, lebih cinta lagi. Perempuan penyejuk pagiku yang indah. Yang membuatku selalu bermalas-malas dalam pelukannya.

Jika boleh jujur, aku selalu ingin terbagun di pagi hari jika pagiku di temani. Membuka bola mataku lalu melihat senyumnya. Pagi akan begitu terlihat pelangi. Enjelina membunuhku dengan cintanya, cinta yang selalu ingin aku genggam selamanya. merapatkan hatiku untuk tidak lagi berbagi, merapatkan jemariku untuk tidak lagi mengenggam yang lain, menutup mataku untuk tidak lagi melirik.

 

“Aku benar-benar merindukan enjelina.”



Setahun lebih kita berpacaran, penuh dengan cinta dan kasih sayang. Namun entah apa yang sedang terjadi. Enjelina berubah tanpa sekata patah pun. Enjelina selalu saja mengeluarkan kata terserah maupun terdiam ketika aku melontarkan banyak pertanyaan padanya. Walau itu melukai perasaanku. Cahaya cinta tiba-tiba saja menjadi mendung, pelangi hilang dan berganti menjadi hujan.

Aku tidak paham dengan situasi isi kepala enjelina, tidak juga mampu mendeteksi sedetail mungkin isi kepalnya. Bagaimana bisa, jika yang ada hanyalah keegoisan. Dia mungkin hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak dengan aku, walau hanya sepenggal pun tidak. Entah apa yang dia konsumsi hingga berubah sedrastis ini. Memberi luka hanya dengan sebuah kata dan tak berkata, yang membuatku begitu teriris, serupa pisau yang mengelupas jariku hingga berdarah.

Sudah aku pahami, bahkan dengan berbagai cara sebisaku. Namun enjelina masih saja ingin membunuhku tanpa bertindak. Hatiku di landa kebimbangan yang amat parah. Lamunanku selalu hadir di wajahku yang sudah sulit untuk tersenyum. Aku mengambil Hp yang berada di sampingku, lalu ku kirimkan enjelina pesan singkat.

 

"Bicaralah baik-baik, agar aku tidak khawatir menunggu kepekaanmu tiba.

sudah cukup beribadah kesabaran untuk menunggu cairnya egois yang sempat masih membeku dikepalamu. Pantaslah kau disebut sikeras kepala.” Kataku penuh sinis.

Namun yang terjadi, enjelina sama sekali tidak peduli. Dia tidak membalas apa pun. Aku semakin ragu dengan sifat dingin enjelina kepadaku. Setidaknya dia membalas walau hanya sehuruf atau dua huruf, agar aku tidak seragu ini kepadanya.

 

Waktu berjalan. Pagi semakin menjadi siang, serta siang semakin menjadi sore. Saat senja terlihat. Aku tidak ingin melihatnya. Jika aku melihatnya, serupa menyakiti diriku sendiri. Sebab melihat senja adalah melihat enjelina dengan wajahnya yang indah. Dia menyukai senja.

Pernah di sore yang cerah, enjelina memintaku untuk menemaninya melihat senja, duduk bersulam jari dengannya. Sewaktu enjelina belum berubah seperti sekarang ini. Aku masih saja tidak ingin beranjak dari ranjang di kamarku hingga sore di sapu oleh malam.

Ketika malam hadir membawa bintang-bintang yang bertaburan indah mengitari langit dengan warna rupa-rupa. Ku buka jendela dan ku lihat elok bintang-bintang nan indah. Dalam hati, "andai saja hatiku seelok dan seindah ini". Lalu tiba-tiba mataku basah. Sebasah hatiku yang di hujani.



Malam adalah cara tepat merindukanmu, walau kau selalu mengabaikan, dengan tidak ingin aku membesarkan rindu. Namun bukankah cinta butuh rindu? Atau kau yang tidak ingin mencintaiku dengan cara merindu. Malam ini langit indah, tidak dengan hidupku, dengan cintaku kepadamu, serasa di matikan. Jika kau tidak cinta, katakan padaku. Agar tidak ada penghianatan di atas sebuah hubungan yang mengecewakan sepihak.

Ini tidak adil. Bagiku ini tidak adil. Hujan begitu deras pada malam yang indah. Yaaa hujan di dadaku yang sesak, di mataku yang tak berpelangi. Aku hanya mampu menatap keelokan bintang, serupa menatap kekasihku, enjelina. Dalam hatiku; "cinta tidak harus sakit sepihak, jika seperti ini. Sudah pasti dia tidak cinta.” Hatiku selalu bertanya-tanya dan gelisah dalam tatapan yang bisu.

 

“Perasaanku takkanruan. Hari ini, aku dan enjelina harus ketemu,

biar ku minta kejelesan semuanya.”kataku dalam hati.

 

Kukirimkan sms untuk bertemu. Beberapa menit, dia membalas dengan menyetujui pertemuan itu. Aku bergegas menggantikan pakaianku lalu pergi ke tempat biasa aku dan enjelina ketemu.

Di sebuah kedai kopi, tepatnya di samping lautan yang di kelilingi lampu-lampu yang indah. Aku duduk menanti Enjelina. Tidak lama kemudian enjelina datang, wajahnya biasa- biasa saja.

 

“Sudah lama menunggu?“cetus enjelina

“Lumayan. Minum kopi juga?”

“Oh iya, tentu”

“Biar ku pesan”

“Ok terimakasih”

 

Setelah memesan kopi, aku menatap enjelina dengan penuh cinta namun perih. Mataku melotot selalu padanya. Walau dia memandang ke suatu tempat, tidak ingin melihatku.

 

“Apa yang kau pikirkan?

Hey! lihatlah aku.” kataku dengan penuh perih.

 

lalu enjelina membelokkan matanya hingga dekap dengan bola mataku yang hamper basah.

Dalam hatiku; “Kau tidak hanya memberi luka. Tetapi merengut seluruh bahagiaku menjadi perih yang sempurna.”

Namun enjelina hanya terdiam.

 

Andai saja kita adalah sepasang yang tidak mengenal, mungkin tak akan ada luka yang bertaburan dihatiku serta hujan di mataku. Tangan yang kugenggam bukan lagi instrumen untuk senyum. Bukan lagi tempat menepi pipiku bertepi. "Kataku dalam hati"

Enjelina sama sekali tidak peduli, dia terdiam tanpa berkata sedikit pun. Sedang aku teriris sembilu yang begitu mencampakan jiwaku.



“Apa mungkin kau tak lagi mencintaiku?

Atau aku yang terlalu mengharapkanmu lebih.

Enjelina, bicaralah”

“Ah aku tidak ingin membicarakan hal ini”

 

Dalam hati, apakah cinta memang seperti ini? apakah mencintai haruskah sesakit ini? Aaahk aku tak mampu menjabarkan segala perih karena cinta. yang aku tau ketika cinta diberi setia, maka mereka akan bahagia. Namun yang kurasa berbanding terbalik serupa yang kulihat pada sinetron-sinetron romantis. Kita memiliki porsi rasa yang berbeda, kau dengan sedikit cinta, namun aku dengan besarnya cinta yang begitu menyiksa tubuhku.



Di ujung harapan, aku begitu ingin meninggalkan segalanya dengan perih, melupakannya tanpa memikirkan segala yang menyiksa. Namun segalanya sia-sia, kau begitu memenjaraiku di dalam hidupmu yang egois. Menjadikanku manusia yang begitu memelihara air mata yang tak henti mengalir hingga ke tanah-tanah tandus. Hujanku tak jua membuatnya memelas tubuhku untuk bahagia.



Aku tidak bermaksut membuatmu jengkel dengan segala peran yang ada pada diriku, pun segala kemarahan yang hadir. untuk apa aku harus memaksamu untuk berkata, sedang kau memiliki mulut untuk berkata tanpa aku menyuruh. Apapun itu, mungkin kita tak harus saling menyapa, bila perlu tak saling memiliki hubungan erat. Agar kau tak terbebani denganku dan aku tak lagi memelihara berbagai macam genangan air yang mengalir sedikit-demi sedikit.

 

“Aku pernah ingat, dulu kau tak seperti ini.

Atau mungkin kau hanya berpura-pura baik paduku dulu.” cetusku terus.

“Yasudalah, jika kau tersiksa.

Akhiri saja hubungan ini.”kata enjelina tanpa memikirkan perasaanku saat itu.”

 

Dia mulai melukis gambaran yang tak mampu aku lihat dengan sempurnah. Pun tulisan-tulisan yang pernah indah, tak lagi ku baca dengan jelas, walau kulebarkan mataku. Aku sungguh berada pada situasi yang tak pasti. Jiwa dan ragaku selalu saja bertengkar dengan setiap keputusan yang akan aku ambil.

Tiba-tiba saja enjelina pergi tanpa sepatah kata pun. Aku hanya mampu melihat tanpa membuka mulut untuk berkata. aku menangis tak bersuara, ku peluk dada yang sesak. Yang ada hanyalah hujan kecil, lalu menjadi genangan yang kedalamanya tak mampu di lihat dengan mata telanjang.

Jika ini adalah penyiksaan, maka aku harus bergegas untuk menghindar.



Demi malam yang pilu

Aku berjanji untuk pergi dan tidak lagi mengusik."Pintaku dalam hati"

 

Hari-hari berlalu.

Tak ada lagi pekerjaan merindu-rindu dengan bayang enjelina. Yang ada hanyalah mimpi yang takkaruang, yang membuat dadaku tak menentu, yang berdetak dengan tak biasanya. Kau tidak lagi menjadi nyanyian merdu, tidak lagi menjadi cerita penyemangat, tidak lagi menjadi alasan semangat, dan tidak lagi kubawa-bawa sebagai nama yang harus di pampang dalam keseharianku.

Kubiarkan kau pergi dengan apa maumu, sebab yang kau beri tidak lagi mesra serupa lalu-lalu, kata rindu tidak ada lagi kali ini, bahkan tidak ada pertemuan sejenak yang diharuskan untuk rutinitas pembawa semangat dalam keseharian.



Selamat tinggal.



 

“Di beranda tua,

kita adalah sepasang kenangan yang harus di benci dengan janji-janji penghianatan.

Kau harus membayarnya dengan kata maaf”

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler