
Lelaki renta berkecipak pipinya mengunyah ngunyah kudapan hangat. Menghirup udara gerimis senja. Di beranda ini kutemani dia. Beberapa potong tempe mendoan dan dua cangkir teh manis yang mengepul, jadi teman cengkerama.
Ayah, lelaki renta penggemar tempe. Menggilai berbagai macam jenis tempe dan aneka ragam olahannya. Aku, sang anak yang beranjak dewasa. Sekian tahun menemaninya dalam perburuan tempe.
Tempe..tempe..oh tempe..
Tidak akan pernah habis, faedah yang terkandung dalam sepotong tempe, bahkan konon khasiatnya mengalahkan sang biang, biji kedelai.
Tempe juga, adalah musuh dari musuh alami manusia. Penuaan dini.
Aku ingat, beberapa tahun lalu di bawah langit Papua..
Ladang kecipir menghijaukan mataku. Ayah bersenda gurau, membaur dalam panen raya penduduk lokal. Rona bahagia bersemburat di wajahnya. Sebentar lagi ia akan menunggu biji biji kecipir itu diolah jadi panganan lezat. Tempe khas papua. Tempe kecipir. Langsung dari pokok pohonnya. Psophocarpus tetragonolobus.
Ayah seorang vegetarian, yang kecanduan tempe sebagai lauk nomer satu. Baginya, tempe bukan hanya makanan raga, tapi juga soul food. Makanan jiwa. Ada filosofi di setiap bongkahannya. Lantas aku terusik. Mengapa?
Bukankah panganan ini diolah dari injakan kaki manusia saat memisahkan biji dengan kulit, lalu, dimana harkatnya? Ayah tertawa. Katanya, manusia lebih tahu apabila ia bisa menyelami lautan darahnya sendiri. Menemukan bahwa setiap sel, merah merekah gembira di asupi gizi. Dan tak perlu bayar mahal untuk itu. Cukup saja dengan sepeser dua peser, pun jadilah.
Kami dulu pernah berkitar kitar diantar pengayuh becak. Kota Malang, tujuan ayahku melepas penat lelah. Di sini miskin hiruk pikuk, angin masih menggigiti tulang, kabut menghalang pandang, sesekali. Bukan ayah namanya, kalau tak ingat perburuannya. Tempe khas Malang. Tempe Menjes. Terbuat dari bahan dasar kacang tanah dan kelapa. Nikmat di santap sore sore, bersanding dengan cabai rawit hijau super pedas. Sambil berlinangan kami menertawai mulut yang terbakar nikmat. Peluh tak ayal menetes di dahi. Padahal sore itu suhu derajat sedang rendah rendahnya. Tukang becak kami ajak mengistirahatkan betis bengkaknya sejenak, menyeruput wedang dan mengudap gorengan, tempe Menjes khas Malang yang lezat.
Aku betah mendengarkan cerita Ayah, tentang hikayat tempe. Saking tak inginnya mengurangi esensi kisah, Ayah menunjukkan padaku, sebuah buku usang, tebal sekali. Sampul depannya tertulis, Encyclopaedia van Nederlandsch Indie, terbitan tahun 1922. Di kitab itu tempe dilukiskan sebagai volk’s voedsel, atau makanan kerakyatan yang berbentuk kue. Apa tidak salah ya? Gelitik hatiku. Kue yang ku tahu kan semacam bolu, klepon, nagasari, dan sebagainya. Istilah kue untuk tempe kurasa kurang tepat. Ini menurutku.
Tapi dari sekian banyak cerita, aku masih menanyakan falsafah tempe. Yang belum juga dijawab oleh Ayah. Biar aku menemukan sendiri, ujarnya.
Baik, kalau demikian mestinya. Aku mengerahkan segenap kemampuan analisa filsafatiku. Menebalkan semua inderawi. Namun tetap aku tak puas akan kesimpulanku. Atau mungkin memang jangan sampai kita menyimpulkan mentah-mentah filosofi orang lain?
Sore ini kutanyai lagi kepada Ayah mengenai hal ini.
Tak dinyana, Ayah bergelimang tawa. Apakah kau belum juga menemukannya, di usia senja Ayah yang sudah beraroma tanah? Lontarnya.
Aku menggeleng pasrah.
Tempe, tempe..oh tempe.
Ia begitu mudah dijangkau. Mudah diolah. Mudah dicerna.
Sederhana. Bersahaja. Namun berkualitas.
Dan yang terpenting, berhasil menjelajahi dunia.
Aku termangu menatap renyah tawamu. Begitu sederhananya falsafah itu. Kukira akan tercetus untaian kata mutiara dari lisanmu, Ayah. Tapi kuyakin, kata kata jujur adalah kata yang tak terlalu kecentilan untuk dipoles. Kau memang pribadi apa adanya, Ayah, seperti tempe.
Written by Leil Fataya
Komentar
Tulis komentar baru