Fajar mulai merekah di lereng gunung Semeru. Matahari menyembul,malu-malu. Suhu udara di sini mencapai titik rendah, 16 derajat Celcius. Membuatku dengan sukarela membungkus tubuh rapat-rapat dengan syal dan jaket tebal.
Di sebuah gubuk sederhana aku duduk menyongsong pagi, bercengkrama dengan para petani kopi. Gubuk yang mereka namai, komplangan. Semacam kedai kopi, begitulah. Suasana akrab menjalari kami dengan kehangatan yang kontras dengan gigil pagi. Apalagi baru saja kupesan, secangkir kopi Robusta. Kopi khas Semeru. Juaranya kopi, celetuk seorang petani.
Tertawa lalu manggut-manggut, antara mengerti dan tidak. Itulah aku saat ini. Para petani kopi saling melontar komentar dan gurauan dalam bahasa Jawa Timur-an. Tawa lebar mereka menular. Lamat-lamat aku tahu juga apa yang mereka bicarakan.
Syukur ya, nasib kita sekarang sudah lebih baik.
Iya, semenjak kita menanam kopi organik. Coba dari dulu ya…
Rasa kopi asal sini belum ada yang mengalahkan!
Karena kita menanam dengan cinta.
Maksudmu, memang dulu kita pernah menanaminya dengan kebencian?
Ya. Secara tidak langsung.
Maksudnya?
Secara tidak langsung kita menjejali tanaman kopi kita dengan kebencian, melalui pemakaian bahan kimia dan pestisida.
Bahkan bahan kimia yang disemprotkan berulangkali, justru membuat hama tanaman kebal, dan akhirnya, kita diberikan pestisida yang lebih beracun lagi.
Tanah kita jadi tercemari. Air tanah berpolusi.
Semua bahan yang tidak alami, sintetis, mematikan kita perlahan-lahan.
Tapi sekarang kan, kita memberikan pupuk yang berasal dari kandang kambing kita.
Dari alam, untuk alam.
Ah, kamu itu ngomong kayak orang pintar saja. Tapi benar juga..
Aku hanya bisa termangu mendengar para petani kopi yang beradu pikiran. Tiba-tiba ada sensasi hangat yang kurasakan. Sesuatu yang terlupa, karena hiruk pikuknya kehidupan kota.
Cinta. Cinta organik.
Kebun cinta organik, gumamku. Yang hanya bisa merekah subur dalam ragawi yang tanpa pretensi, tanpa tendensi. Lalu aku bertanya. Pertanyaan yang paling krusial di sepanjang usiaku.Perihal cinta yang kutanami untuk Tuhan. Cinta sintetik, atau cinta organik?
Apakah aku sudah mencintaNya tanpa tendensi untuk masuk surga?
Apakah aku sudah mencintaNya tanpa pretensi untuk memperkaya harta?
Dengan apa aku memelihara cinta untuk Nya? Dengan ketakutanku akan neraka, atau kengerianku akan nestapa?
Secangkir kopi Robusta yang mengepulkan wangi nikmat, langsung dari penjerangan di tungku tanah. Panas-panas ku seruput, sambil masih mencoba mereka-reka hikmah.
Para petani kopi melambaikan tangan. Mereka siap bekerja dengan cinta. Antara bahagia dan pilu, aku tersuruk di depan gubuk, di tengah belantara ratusan hektar kebun kopi, lereng gunung Semeru.
Dusun Pusungkejen,
Jawa timur.
Written by Leil Fataya
Komentar
Tulis komentar baru