Skip to Content

I REALLY LOVE YOU

Foto April hamaro
files/user/5627/10929030_1199083036774455_5759629212818020020_n.jpg
Aku Ingin Kamu

 

I Really Love You

April Hamaro (LaLa)

Kriiiiing….Kriiiiinggggg……………

Bel berbunyi nyaring ditelinga, pertanda untuk pulang.

Sementara seorang lelaki masih duduk terdiam di kursinya. Dia masih membereskan buku-bukunya yang berantakan diatas meja.

“Belum pulang Rez?” Tanya Evan, teman sebangkunya.

“Kamu duluan aja.” Jawab Reza singkat.

“Oke Brow.” Katanya sambil melambaikan tangannya.

Suasana ruang itu kini menyepi, tak ada suara sama sekali. Buku-buku itu telah tertata rapi didalam sebuah rangsel. Reza mulai melangkah untuk keluar ruangan, namun secarik kertas terjatuh dari atas meja. Ia menatap ke bawah, dan mulai memungutnya. Sebuah foto yang berukuran kecil.

“Uhmmmm…Fara.” Reza tersenyum kecil, lalu diselipkan kekantong celana abu-abunya.

***

Siang hari yang kian memanas. Sang raja api seakan bertahta diatas dunia, menebarkan pesona baranya yang menyengat peluh. Perpustakaan sekolah masih tampak ramai, namun suasananya sangat tenang tak ada suara sama sekali.

Reza behenti melangkah, ia tertegun memandang sebuah novel yang entah mengapa ada kekuatan darimana yang memaksanya untuk meraih novel itu I Really Love You. Namun, novel kini telah diambil lebih dulu oleh seorang gadis yang jaraknya  lebih dekat dengan novel itu.

“Tunggu..” Seru Reza mendekati gadis itu.

“Ada apa?” Kata gadis itu menoleh perlahan.

“Fara?” Katanya heran melihat sesosok gadis yang kini ada dihadapannya. Fara adalah cinta pertamanya.

“Maaf aku harus pergi” Fara tiba-tiba berlari menjauhi Reza.

“Fara…jangan pergi,” Seru Reza mengejar Fara namun dihadang oleh Dona.

“Za. Kamu mau kemana lagi?”. Tanya Dona.

“Jangan berani halangin aku kayak gini.” Ujar Reza kesal.

“Oh..jadi selama ini, kau menganggap bahwa aku telah mengganggumu. Baik. ” Ucap Dona penuh rasa kecewa dan pergi meninggalkan Reza.

Dengan gayanya yang dingin, Reza seperti tak punya salah apa-apa terhadap Dona. Dalam pikirannya hanya terbayang wajah Fara. Gadis itu benar-benar membuatnya lumpuh tak bisa berbuat apa-apa. Betapa tidak, dia adalah perempuan yang telah mengubah hidupnya selama ini. Watak Reza yang keras kini menjadi lunak karenanya. Dia tak lain adalah cinta pertama, belum bisa dikatakan seorang mantan kekasih karena kata putus itu belum sempat terucap diantara kedua insang tersebut.

***

Berbeda dengan hari-hari biasanya , Fara memilih untuk berdiam diri didalam ruangan.

“Kantin yuk,” Ajak Lena teman sebangku Fara.

            “Nggak laper ah.” Tolak Fara.

            “Please..aku minta diantarin dong,” Pinta Lena memohon.

            “Ya udah deh,” Kedua mata Fara berputar.

            “Kamu memang sahabat baikku,” Lena tampak sangat senang.

            Fara hanya membalas dengan senyuman kecut.

            “Ra..kok daritadi aku liatin kamu tuh sering celengak-celinguk kiri dan kanan. Nyari apa sih?,” Kata Lena heran.

            “Nggak kenapa-napa,” Fara tampak ragu.

            Tiba-tiba Reza datang dan mengambil kursi tepat didepan Fara.

            “Aduh…dia datang lagi,” Fara menutup wajahnya dengan buku paket yang dipegangnya.

            “Reza..”, Panggil Lena tanpa peduli dengan tingkahlaku Fara.

            “Len, kamu apa-apaan sih?”,

            “Nggak papa kok. Aku udah tau kali Ra.”

            Reza pun duduk tepat disamping Fara.

            “Fara…gimana kabarmu?aku senang banget hari ini”, Lesung pipi Reza sangat tampak bersama senyumannya.

            “Kalau aku sedih banget. Ngapain sih kamu pake gangguin aku terus. Dimana-mana ada kamu. Aku nggak suka,” Sahut Fara dengan nada tinggi.

            “Santai aja kali Ra. Aku udah tau kalau kamu masih sayang kan ma Reza,”

            “Lena. Aku udah lupain Reza,” Tegas Fara.

            “Udah lupain?tapi kamu masih selalu menjaga barang pemberian Reza. Gelang yang kamu pake buktinya. Itu dari Reza kan?Aku udah punya Dedi. Dan soal perasaanku ke Reza kemarin cuma obsesi aja,” Lena meraih tangan Reza dan Fara, lalu membiarkannya menyatu.

            “Lena apa-apan nih…”, Seru Fara.

            “Ra…aku benar-benar nggak bisa lupain kamu. Aku nggak akan bisa nemuin perempuan seperti kamu lagi. Nggak masalah lagi kan, Lena sudah merestui kita. I Really Love You…”, Reza menatap Fara dalam-dalam.

            Fara mencoba mengalihkan pandangan, tatapan Reza benar-benar tajam membuat semua perasaannya seakan kembali seperti dulu.

            “Mengapa kau tak mau memandangku Ra?”, Tanya Reza dengan lirih.

            Fara mulai angkat kepala, tak terasa air matanya menetes.

            “Reza…”, Fara mencoba tersenyum dalam tangisnya.

            “Fara…kamu mau kan menerimaku kembali”, Ulang Reza.

            Fara hanya mengangguk dan tersenyum.

            Mata adalah jendela hati. Mata memang tak bisa berbohong tentang perasaan, sekalipun mengatakan tidak.

 

 

 


Cerpen Ini pernah di Muat di Koran Fajar Makassar dan Koran Radar Bone

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler