Skip to Content

JALAN YANG MENOLAK DILALUI

Foto Rahmat adianto

Cerpen Filosofis–Eksistensial Berlatar Alas Roban

 

Rahmat menerima pesan itu pada pukul 01.43 dini hari, saat rumah kontrakannya sudah sunyi dan kipas angin berputar tanpa benar-benar mendinginkan apa pun. Ponselnya bergetar sekali. Nama yang muncul membuatnya tidak langsung mengangkat.

Sarina.

 

Ia membaca pesannya pelan.

Masih bangun? Aku perlu ke Kendal sekarang.

Rahmat duduk di tepi ranjang. Ia mengenal cara Sarina meminta tolong—tidak bertele-tele, tidak menjelaskan lebih dulu, seolah waktu selalu lebih sempit bagi hidupnya daripada orang lain. Ia mengetik balasan, berhenti sejenak, lalu mengirim.

Sekarang?

Jawaban Sarina datang hampir seketika.

Aku harus lewat Alas Roban.

 

Kalimat itu cukup untuk membuat Rahmat menghela napas panjang. Dari Gringsing ke Kendal, jalur itu memang satu-satunya yang masuk akal jika ingin sampai sebelum subuh. Jalur selatan terlalu jauh, sementara jalan pesisir belum sepenuhnya dibuka malam hari. Ia tidak menanyakan alasan. Ia juga tidak menanyakan apakah Sarina yakin. Hubungan mereka tidak lagi berada di tahap saling meyakinkan.

Lokasimu di mana? tulis Rahmat.

Depan rumah. Aku siap sekarang.

 

Rahmat mengambil kunci mobil. Ia tahu, jika Sarina mengirim pesan jam segini, itu bukan permintaan biasa. Sarina tidak pernah memanggilnya hanya untuk ditemani. Ia memanggil ketika sesuatu tidak bisa ia hadapi sendirian—dan Rahmat, meski lelah, masih menjadi satu-satunya orang yang ia percaya untuk berada di sampingnya di jam-jam seperti ini.

 

Ketika Sarina duduk di kursi penumpang, tidak ada pelukan, tidak ada basa-basi tentang sudah berapa lama mereka tidak bicara. Hubungan mereka telah lama tinggal pada hal-hal yang tidak perlu diucapkan.

“Kita harus sampai sebelum jam tiga,” kata Sarina sambil mengencangkan sabuk pengaman.

Rahmat menyalakan mesin. Ia tidak bertanya kenapa. Ia tahu, sebagian perjalanan tidak dimulai karena ingin, tetapi karena tidak ada pilihan lain.

 

Mobil melaju, meninggalkan kota yang masih menyisakan cahaya. Begitu memasuki hutan, lampu jalan menghilang, dan dunia menyempit menjadi kerucut cahaya di depan mereka. Rahmat merasakan sesuatu yang lama ia kenal: perasaan bahwa ia sedang memasuki wilayah yang tidak sepenuhnya tunduk pada niat manusia. Ia berpikir tentang hidupnya sendiri—tentang bagaimana ia selalu sampai di tempat-tempat ini bukan karena pilihan, tetapi karena keterpaksaan. Tentang bagaimana kebebasan sering kali hanyalah ilusi bagi orang-orang yang hidup dari keputusan orang lain.

 

Sarina menyalakan dashcam ketika mereka mencapai tikungan pertama yang terkenal rawan. Lampu kecil menyala merah.

“Untuk arsip,” katanya singkat.

Rahmat mendengar bunyi klik pelan ketika kamera mulai merekam. Radio mobil yang sejak tadi mati ikut hidup sebentar, mengeluarkan suara statis, lalu diam kembali. Rahmat mematikannya, mengira hanya gangguan kabel lama.

 

“Kamu dengar itu?” Sarina bertanya.

“Angin,” jawab Rahmat, meski ia sendiri tidak sepenuhnya yakin.

Beberapa menit berlalu. Sarina menatap layar kecil dashcam, lalu membeku. Tangannya bergetar.

“Putar ulang,” katanya.

Rahmat menepi. Ia tidak ingat mendengar apa pun selain suara mesin dan gesek daun. Namun di dalam rekaman, dari balik desis halus, muncul suara yang terlalu jelas untuk diabaikan.

Ina, jangan lewat sini.

 

Sarina menutup mulutnya. Napasnya tersendat.

“Itu suara ayah saya,” katanya. “Saya hafal nadanya.”

Rahmat merasakan tengkuknya dingin. Ini bukan ketakutan visual. Tidak ada bayangan. Tidak ada sosok. Hanya suara yang seharusnya tidak ada, tetapi hadir dengan terlalu tepat.

“Ini bukan pertama kali,” Sarina melanjutkan. “Setiap kali saya lewat sini, rekamannya berbeda. Seolah… seolah ia mencoba mengatakan sesuatu yang belum selesai.”

Di dalam dirinya, Rahmat mulai memahami bahwa ini bukan perjalanan biasa. Ini adalah perjalanan yang memaksa orang membawa pulang sesuatu—entah jawaban, entah luka baru.

Mereka menyusul sebuah truk kayu tua yang melaju lambat. Truk itu tersendat di tanjakan; mesinnya masih hidup, tetapi tenaganya seperti ditahan. Pak Darsa, sopirnya, menggeram pelan, memutar kemudi, dan dengan putaran gas terakhir meminggirkan truk ke bahu jalan berbatu. Lampu hazard menyala. Mesin masih berdetak tidak stabil.

 

“Dia selalu membuatku berhenti di sini,” kata Pak Darsa lirih.

Sarina menegang. Matanya menatap ke tepi hutan.

“Ririn,” katanya. “Dia ada di sana.”

 

Rahmat mengikuti arah pandang Sarina. Tidak ada siapa-siapa. Namun suara mesin truk yang kembali tersendat membuatnya sadar: sesuatu memang sedang terjadi, entah bisa ia lihat atau tidak.

Pak Darsa mematikan mesin. Suaranya berhenti sepenuhnya—seperti keputusan yang akhirnya diambil. Ia membuka pintu, mengambil linggis dari bawah jok, lalu menahannya di depan roda belakang. Linggis itu ditancapkan ke tanah dan aspal bahu jalan, mengganjal roda agar truk tidak mungkin bergerak lagi.

“Aku tidak akan lewat,” kata Pak Darsa. “Kalau kesalahan ini harus berhenti di sini, biarlah aku yang berhenti.”

Ia meletakkan kunci di dashboard, lalu duduk di tepi bahu jalan, membelakangi arah keluar Alas Roban.

 

Sarina menarik napas panjang. Bahunya turun.

“Dia tidak ada lagi,” katanya pelan.

Rahmat tidak langsung bertanya. Ia menatap truk, linggis, dan lelaki yang duduk diam di pinggir jalan itu. Baru kali ini ia melihat seseorang benar-benar berhenti—bukan karena rusak, tetapi karena memilih.

“Siapa?” tanya Rahmat akhirnya.

Sarina menoleh. “Ririn.”

Sejak remaja, Sarina menyimpan satu kliping koran lusuh—berita kecelakaan lama di Alas Roban. Tidak ada foto, hanya satu nama yang disebut singkat di akhir paragraf: Ririn, 9 tahun. Ayahnya pernah membaca berita itu keras-keras, lalu terdiam lama, seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak pernah jadi.

 

Sarina menatap ke tepi hutan. Napasnya tersendat.

“Dia seperti anak di berita itu,” katanya pelan. “Yang kecelakaan dulu.”

Ia merogoh tasnya, mengeluarkan selembar kertas terlipat yang sudah kusam.

“Nama ini,” katanya. “Aku sudah lama mengenalnya.”

Rahmat membaca singkat.

“Ririn.”

 

Jam di dashboard mobil bergerak pelan.

02.18.

Rahmat menyalakan mobil, tetapi tidak langsung pergi. Ia menoleh sekali lagi ke arah Pak Darsa, lalu ke arah hutan.

Untuk pertama kalinya, ia mengerti:
Alas Roban bukan tempat orang hilang.
Ia tempat orang berhenti membawa kesalahannya lebih jauh.

Ia melaju tanpa menoleh lagi.

 

Pagi datang dengan cahaya biasa. Tidak ada sirene. Tidak ada saksi. Sarina mematikan dashcam. Untuk pertama kalinya, rekaman itu kosong. Rahmat mengantar Sarina sampai tujuan tanpa bicara. Ketika ia kembali, ia menyadari satu hal sederhana: sebagian jalan tidak pernah benar-benar selesai dilalui.

Sebagiannya tinggal.

 

Tamat.

 


Cerita ini hanya karangan fiksi belaka, ada pun terdapat kesamaan nama dalam cerita, itu merpakan suatu kebetulan yang tidak disengaja

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler