ANTOLOGI PUISI BULAN JULI 2026
Karya Agung Gema Nugraha
68.
HASRAT MUSIKAL
Kamu ada di belantara hasrat musikal
yang berkekalan berpadu di lembah kalbu
Jari-jari cintaku yang berdebu
Memetik senar langit biru
Dalam pilu
aku perlihatkan ketegaranku
Inilah nyanyian dari kedalaman nuraniku
Kamu tak sanggup kusembunyikan
di tebal bebalnya saku baju dustaku
66.
MAKNA MUSIKALISASI PUISI
Memusikalisasi puisi bagaikan menyantuni
kehampaan diri di istana kerajaan
melodi dan kata-kata
Nada yang mengembara
menyatu bersama irama sang kembara
“Cintanya terlalu lama tiada kunjung tiba.”
Namun semangat perkasa
Adalah dentingan senar harapan
Berbunyi selalu bernyanyi
Menyampaikan pesan-pesan sunyi
65.
MENSYUKURI HARI
Mensyukuri hari-hari yang penuh
keberuntungan adalah mengolah daya
potensi di dalam jiwa agar setia berjaya
berbunga karisma dengan kemantapan
etika yang berbudi luhur
Terhadap alam dan kemanusiaan
Kita berdedikasi merangkai doa
di balik gubuk tirai harapan
Tuhan selalu melimpahkan kebijaksanaan
Memberi jalan lapang dan pilihan terang
64.
MALAM BULAN JULI
Malam bulan Juli
Adalah perayaan bianglala di taman
bermain mimpi dan kehidupan
Ada seribu tukang dan pedagang
Rembulan gemilang
Tapi perih karena tak dipandang
Begitu juga bintang malang
Tiada mata memerhatikan
Malam bulan Juli
Nyanyian pasar, tawa, tangis jingga
Goresan bayang muka teman lama
berulang kali terbit seolah matahari
“Ini malam.” Hutang dalam kelam
Adalah hantu yang menipu rasa rindu
63.
SEPERTI IBNU SINA
Seperti Ibnu Sina yang mengembara
mengitari tubuh, angka, huruf dan alam
Aku mencari lubang-lubang
satu jalan berpori penyambung urat nadi
rindumu kepadaku di bawah kulit matahari
Angin terasa merinding di daging
tapi membawa kesegaran nurani
menumpas panasnya emosi
Malam meresap dingin menusuk jantung
tipisnya dadaku yang kurang beruntung
Kekasih hati adalah dunia filosofi
pengobatan, fisika dan sistem ekonomi
Tak terbantahkan ia berdaya naik turun
terkadang demam, influensa
batuk berdahak atau napasnya sesak
Ibnu Sina sang polymath cerdas
Beruntai berlian terang tegas
Berkalung bunga pilihan langka
panutan semesta raya
Sementara aku gugur lebur
dungu berdebu karena cinta
62.
MUTIARA KAWAN LAMA
Mengungkap kebenaran lewat bahasa
yang kau ucapkan bagaikan mencari
mutiara merenangi laut lepas
tanpa batas
Gelombang selalu menerkam
Karang tegak tajam kelam perkasa
Setiap jeratannya adalah belati
pembusukan luka
Dan mutiara itu pecah
terbawa kuat arus menggerus
dunia antah-berantah
61.
JATU BULAN JULI
Adalah cinta di balik kilap mutiara
Bukan perahu lintasan samudera
Tapi daya dari setiap kata
untuk saling percaya dan menjaga
Jatu bulan Juli
Adalah kebersamaan memaknai sepi
Di mana kehidupan tak boleh berhenti
60.
DISKUSI POLITIK BULAN JULI
Membicarakan politik bersamamu
aku melepaskan diri dari kebencian
hatimu yang bimbang di persimpangan
bulan Juli ini
Apa dikata jika kita bukan siapa-siapa
Receh pun tiada nampak di mata
Kegalauanmu terjatu di jidatku
merayap gelap berat di kepalaku
Karena pembacaan makna lukisan
berita itu terjadi dari pantulan
fatamorgana padang gersang
Hutang tetap mesti terbayarkan
Frasamu membuatku sejenak susah buang air besar
Diskusi kita hanya menjadi uap
meluap ke angkasa
Karbondioksida ketika tertidur lelap
di atas bantal cinta
59.
KRITIK BULAN JULI
Kritik bulan Juli adalah pertentangan
antara ego dan ketidakmampuan
menghadapi zaman
Sinar langit menikam mimpi malam
Ambisi memuncak ke cakrawala
Di belantara hasrat yang selalu
mengembara ke berbagai arah
Kita lupa bunga-bunga cinta
pernah menjadi hiasan di dalam dada
Kemudian tersia-sia
Karena pengejaran dendam
akan kehidupan – pencapaian tujuan
tidak pernah terselesaikan
58.
TEH BULAN JULI
Teh bulan Juli dari tangan kekasih
Adalah kehangatan tanpa bahasa
yang terwujud dari kehijauan
semangat masa kini
Ia menjadi spirit
penegur perjuangan kala waktu
hampir berhenti di kaki sepi
57.
KRISTAL KESADARAN
Memecahkan kesadaran yang membeku
bagai es batu
Aku mendapatkan kristal-kristal cemerlang
Kilauan pemikiran tak terduga
dari delapan arah penjuru gerbang gaib
Oh kerlipan tanda mistik penuh keunikan
Bagaimana aku ungkapkan titik kejadian
kini telah tergambarkan jelas paripurna
Angin tertuang ke dalam gelas kaca
Lalu luka berpulang ke asal lahir
Pergilah duka cita dendam derita
Karena kristal kesadaran
Adalah pusaka bagi jiwa cakrawala
56.
MADU DARI IMAM GHAZALI
Mendapatkan madu dari Imam Ghazali
Bagai melimpah segala cahaya ilmu
tiga masa dalam satu metode berkarisma
Penuh perbawa
Mengandung nektar sastra bahasa
Rasa memancar adalah ketulusan kesungguhan nyata seorang insan
Renungan kebenaran menyiram
kering pemikiran yang karam
di padang lautan zaman
Satu kalimat
menumbuhkan dialog spirit
antara dua alam
Apakah ini keajaiban jiwa?
Setiap bab mengandung daya
membuat berjaya roh dan tubuh
yang hampir rapuh
55.
MENJUMPAI ARISTOTELES
Menjumpai Aristoteles
Aku menyimak arus kali yang mengalir
dari hulu ke hilir dengan tenang
Meresap ke tanah dan bebatuan
(Di sini mawar telah tumbuh
berkembang mengeluarkan duri
dan semerbak wanginya menghiasi sepi)
Aristoteles berdiri bercakap murni
tentang daya akal karisma logika
Dan menemukan bait Nama
yang sebenarnya persis sama
jika diresapi dihayati
sejak dahulu kala hingga satu masa
54.
AGUNG GEMA BULAN JULI
Agung Gema masih inspiratif masif
seperti jet tempur yang bermanuver
di langit jingga dua ribu empat puluh lima
Apakah ini serangan ide
ataukah gemuruh jiwa di antara mega
senja cakrawala kehidupan?
Yang pasti bukan buzzer bayaran
apalagi propaganda puisi dan tulisan
Uap dari palung pemikiran terdalam
Imajinasi-imajinasi perjalanan terekam
serupa sekam terhambur di awan
menggempur badan dan tanah basah
Bagai alang-alang rumputan planet tujuh
catatan mistik pinggiran
mengetuk budi empati tertinggal
Agung Gema menyulap sikap
bak polymath alGeber
mengubah bahan batuan biasa
menjadi emas menyala
53.
MENYIBAK
Serak berderak berbicara pengalaman
menyibak hikmah yang terkandung
dalam pahit peuheur-nya perjalanan
sahabat tempat berbagi pemikiran
Aku mendapatkan sungai frasa
makna kuat di lubuk jiwa
Setiap generasi punya kesempatan
untuk melawan deritanya
Tapi keraguan menjadi dinding
saat mesti melangkah
kala hening hilang
daya semangat perubahan
Ya akhirnya kita bertemu di sini
pada nominal usia berbeda
Lalu mencoba menjawab persoalan
lingkup sosial sakralnya
dunia psikologi sejarah yang sama
52.
SAHABAT DARI KAMPUNG LEGOK
Mendengarkan gema gemuruh
gejolak jiwa sahabat setelah
menyimak pasang surut
gelombang lautan dalam kehidupan
adalah merasakan betapa manusia
memiliki keterbatasan untuk berbuat
Kampung Legok Kampung Legok
Nama berganti
waktu berputar tanpa henti
Dan sang matahari sudah tua kini
Rembulan yang dulu gagah berani
sudah lelah lunglai menyala malam hari
51.
YANG MENGEMBARA
Yang mengembara adalah benih
akal dan pikiran dari pancaran nyawa
konsekuensi kehidupan badan
Kamu kekasihku, riuh redupkan
panasnya bara hasrat di dada
Maka perjalanan panjangku
terhenti di kursi kasih sayangmu
bertahtakan harapan masa depan
50.
YANG BERNYAWA
Yang bernyawa yang tak boleh
ditangkap apalagi dilombakan
Senyum-senyum menangkap ikan
Satu nyawa adalah napas kehidupan
Yang bernyawa mesti terpelihara
dengan cermat
Ada rasa ada kecewa kesakitan
Suatu saat bisa mungkin manusia
49.
ANGIN API
Angin Api Angin Api
Kita kentut sambil berdiri
Menggaruk-garuk kepala tanpa
rasa gatal karena berpindahnya
suatu pandangan moral
Angin Api Angin Api
Sakit di ulu hati, lambung dan pekerti
Menjadikan eksim di kulit kaki
Panasnya hari serupa tungku tirani
Angin Api Angin Api
Bagaimana kita mengemudikan ini?
Zaman yang kita tidak pahami
Sikap gelap mata menyalak
Angin Api Angin Api
Kobaran gersang di musim paceklik
Memporak-porandakan cita dan harapan
48.
SISIR BESI
Sisir Besi
pertarungan hidup bergengsi
Antara kecakapan dan teknologi
Kita tak lagi berpikir akan suatu arti
Karena rambut dirantai matahari
Sisir Besi
Kerasnya cinta dalam upaya jiwa
Menanti keajaiban tak kunjung tiba
Sisi Besi
Uang – kekuasaan memegang peranan
yang melemahkan anugerah harapan
47.
MEMBUKA PINTU PERSAHABATAN
Membuka pintu persahabatan kembali
setelah berulang kali terkhianati
Seperti menanggung cakrawala gelap
yang merayap mendekap bumi
Terlalu banyak perumpamaan
Tiada menjadi cermin bagi kehidupan
Akhirnya tersia-sia juga dalam hina
dan cela derita karena kita memulainya
46.
MENGENDARAI PAGI
Mengendarai embun pagi
memadamkan mimpi-mimpi malam
kemarin yang terbakar karena amarah
perjalanan adalah menghidupkan
kembali diri dalam kesejatiannya
Maka aku tulis puisi ini
Sebagai kotak kenangan agar generasi
depan dapat menimbang akan emosi
sesaat dari ego sesat dan ambisi kuat
yang menyengsarakan
45.
YANG TERPECAH
Yang terpecah karena utang
Sahabat melenggang otot meregang
Uang belum terbayarkan
Adalah pupuk karma di masa depan
Putus rantai, lautan tak berpa tai
Serabut rambut tersulut api dengki
dan urat-urat adalah babat
Semula kita erat saling salaman
Jika berjumpa tegur sapa tak lupa
Ramah dan tabah
Tapi kini petir itu menyambar-nyambar
Di depan mata
Dan hantu muka sangat seram
Menakutkan seperti film horor
Roh mimpi gentayangan
Di malam menjadi mutan-mutan
44.
KERAK SAMPAH
Kerak Sampah Kerak Ludah
Mekar mengekar menjadi tikar
Motif lukisan di dinding buta
Apakah itu keajaiban tanpa mata?
atau seni berani protes sosial?
Kemarin kini sama seperti
ulangan yang belum ternilai
Salahkan siapa? Aku tak punya gaji
Untuk membersihkan, hasil mengamen
tak cukup buat beli lap, sapu sarana
alat menjaga lingkungan
Kerak Sampah Kerak Ludah
Dahak dan ingus memberangus
Taman-taman, rumah, pemukiman
43.
SEBAGAI SENIMAN
Berbantal berlengan tak lupa
Aku kendalikan emosi jiwa
Hari itu selalu berbalik
Seperti guling
Biar bumi bertanding
Kita akan tidur pulas
Lalu pura-pura ngelindur
Sebagai seniman
Aku punya harapan
Dalam goresan gambar
Atau tanda tangan terkaca
sikap yang kudekap
42.
KARYA KOPI
Karya kopi kemelut kangen
bercengkrama derita
karena larut lunglai dukacita
Pergumulan teori biru menggebu
Tapi kegagalan selalu ada melagu
Oh sandal-sandal jepit langit
Sampai kapan aku bisa merakit
melintasi sunyinya nebula
menuju Sirius agar tiada tergerus
ego dan ambisi yang terus menerus?
Oh asbak-asbak di kepalaku
Rambut beriak hatiku mesti tegak
41.
DI MUSIM KERING
Agung Gema pulang, peniti hari
menautkan kusutnya pekerjaan rumah
agar tersambung terang harmonis
Sapu lantai berjodoh dengan cucian
piring dan baju kecuali rindu
Agak sedikit terlupakan dulu
Air toren mesti dinyalakan
biar penghuni merasakan kesegaran
Sampah harus dibuang
supaya tidak tertular penyakit panas
Semua kemustahilan bisa terjadi
dan dapat diatasi
Ternak – tanaman senang makanan
Seperti aku ngemil apa yang terpandang
Detik ke jam loncat bagai tupai
Padi menguning di malam hening
Suasana kendaraan sudah tak bising
Di musim kering
40.
BISINGNYA GANG
Bisingnya gang
Adalah kurangnya aturan
Angin menggelembung
Dan suara kendaraan lalu-lalang
Knalpotnya menggugurkan dedaunan
Akhirnya menjadi sampah berhamburan
Remaja bercanda bermain gitar
Di sudutnya mesra bercintaan
Bisingnya gang
Tanpa bintang apa yang bisa dilakukan
Kita perlu satu tokoh perbawa
untuk dihormati dalam karisma
Agar tak ada keributan setelah habis mega
39.
KAMBOJA KUBURAN TUA
Terbelalak teringat ia akan satu masa
Saat bunga kamboja menggoda
“Itu kuburan tua!”
Beratus-ratus tahun tanpa jiwa
Anginnya santer
Suara-suara kabut merasuki mimpi
Jalannya rimbun tak tersentuh mentari
Malam pun getir dalam dan sepi
Ya telah lama tertinggal terasingkan
38.
KOPI LUKA
Kopi Luka hitamnya bersandar masa
di mana ia terkena lambung karena cinta
Oh lelaki yang terasing kata-kata kekasih
Masih melagu juga lewat sajak rindu
Kopi duka gocekan sendok tembaga
adalah ia hendak bicara
Pada alam hampa tanpa telinga
Lelaki tak boleh hanyut tenggelam telaga
Karena hidup bagai matahari
yang tak boleh meredup
37.
LELAKI MUDA POLOS
Terlalu tertengadah ia
Melihat bunga kelayapan serupa Orion
menyala dengan jendela tangan terbuka
Nebula angan berhamburan sebagai
souvenir jelita di malam pertama
Dan ia polos menangkapnya sepenuh jiwa
Semua itu jutaan kilometer untuk teraih
Yang hijau muda batang pejuang
mengedipkan mata berani bermimpi
Mengejar waktu masa depan
Adalah dengan giat di kala kini
36.
DUPA HARI
Dupa hari dupa yang tak pernah jadi
tumbuh sebagai kenyataan mimpi
Adalah hasrat terburu menggebu
akhirnya terbebani
Tinggal tangkai lamunan rimbun sepi
Dupa hari mengigau aku
akan batasan persahabatan
Ketergantungan duri di dalam badan
Dupa hari mengepul ke atap langit
Menyeru berbagai penguasa
kulantunkan mantra-mantra
nama-nama asing di bawah sinar bulan
35.
KAMPUNG SILUMAN
Kebun dan gubuk yang runtuh
Jejak jerami kutinggalkan dengan lapang
Tahun-tahun nanti kan tergantikan
Kampung siluman
Pernah ada setangkai harapan muda
Anginnya sejuk kureguk
Embunnya dingin meresap merinding
Tiga puluh enam tumbak
Tanah berombak
Ke mana arahnya jiwa berontak
Pohon kopi masih tegap
Tapi hati enggan bersikap
Terlalu jauh bila kutempuh
34.
KEKASIH KEBERUNTUNGAN
Bagai al Khawarizmi yang berkutat
dengan angka dan tanda pada matematika
Aku mengambil perwakilan elemen huruf
di bandul liontin lehermu
Agar serasi dengan hitungan nama
Kekasih kabut bayangan
Dedaunan memiliki bentuk manuver
akan keberuntungan khasiatnya
Begitu juga dirimu mengembun fajar
kala turun dalam ingatan
Sehingga seribu puisi kuselesaikan
Karena ada kamu pada diriku
33.
GURU BUMI
Guru bumi
Sang utusan dari galaksi bima sakti
Telah tertanam semangatnya
sebagai pemberi pencerahan malam
Sorot matanya adalah lembutnya angin
saat fajar pertama terbit
Dan wajahnya menjadi embun kesejukan
hari harapan untuk masa depan
31.
BUNGA BESI
Bunga Besi Bunga Besi
Drama dendam melahirkan teka-teki
Ia terbentuk dari goresan gurinda
hubungan yang tersangkut misi
sebagai “ninja”
Bunga Besi keras – dingin
darahnya sudah terhisap doktrin
dari sulap kalimat yang membuatnya
tak boleh patah semangat
30.
KEJORA LIAR
Kejora liar kejora tak gentar
dengan ganasnya angin malam
Ia di pinggir jalan bagai patung
termenung tiada bersenandung
Menantikan limpahan rezeki kelam
dari udara napas yang kasar
dan tak berperasaan
Kejora liar polos tertekan zaman
Karena ketentuan memaksa jiwa
untuk selalu berduka
Kejora tak tahu apa-apa
Mungkin pernah ia dikhianati cinta
29.
HADIAH KEKASIH BULAN JULI
Menyertakan martabak Bandung
kacang meses manis
sebagai hadiah perjalanan panjangku
saat hari sedang mendung
Kasihku berbinaran bintang bahagia
Betapa cinta tanpa celoteh
mendukung usaha dan keringat
yang jatuh ke tanah
Pesannya serupa amanat keramat
Ah hakikatnya bagi segala kehidupan
adalah kesederhanaan dalam perhatian
sesuai kebutuhan dan keperluan
28.
SOTONG GORENG
Sotong Goreng Sotong Goreng
bersama tahu bulat lima ratusan
Aku mentraktir kekasihku
yang selalu lapang dalam zaman
Senja menggelayut di angkasa
Hatiku terpesona pada jingganya
cinta kita yang tiada butuh
mahalnya harga
atau mewahnya suka ceria
27.
BAKSO IMUT
Bakso imut di balik kabut
mega bersatu padu
Menuntunku menemuimu
Kenangan kita saat hujan itu
Oh hangatnya cinta dalam sikap
ditemani saus pedas dan kecap
Adalah romantika waktu yang syahdu
26.
ASAP RINDU
Asap rindu asap kabut yang membiru
Ia terbang ke cakrawala hampa
Menjadi planet baru saat senjakala
Asap rindu keluh melepuh kehidupan
Angin mengintai dari delapan arah
Memojokkan sang pecinta dengan amarah
25.
INTROSPEKSI BULAN JULI
Melirik lagi masa sedetik tadi
adalah berintrospeksi diri
pada langkah manusia yang lalai
akan jalannya alam dan takdir
sehingga melupakan
adalah pengkhianatan akan kebaikan
Kita tidak mau menjadi saksi
bagi kelemahan hati
Dengan pergaulan pikiran gila logika
kita jadi tidak memahami satu nama
“rasa kasih cinta.”
24.
SETELAH KEMARAU BULAN JUNI
Setelah kemarau kemarin bulan Juni
yang penuh kesombongan
Hari ini sayap malaikat suci
mengepakkan kasih sayangnya
Tercurahlan air bekas ia bermandi
di telaga langit surga
menjadi kesederhanaan hujan bulan Juli
Insan tak perlu angkuh dengan materi
padahal keadaannya
tiada pernah ia memahami
Insan lepaslah baju keegoanmu
sebab satu titik air menyegarkan
untuk kehidupanmu
rumit untuk kamu ciptakan
23.
HUJAN BULAN JULI
Ada muka yang membawa sukacita
dari rindu purba di bawah langit senja
Hujan bulan Juli
Kini telah turun lagi setelah tujuh tahun
bersembunyi karena langkah sehari-hari
awan tiada menepikan pesan harapan
mata air kehidupan surgawi
(Manusia melupakan kaitannya
dengan alam maka hujan pun enggan
memberi kedamaian)
Ada keangkuhan derita menjadi cerita
Hujan bulan Juli
menjadi penyadaran lelaki
akan cintanya yang tak pernah ia akui
22.
PERTEMUAN SAHABAT BULAN JULI
Ia sudah bertemu jalanan berdebu
kubangan berlumpur dan selokan
di bawah jembatan yang kotor
Bermandikan sampah berpadu lagu
kelu berbau seribu janji kehidupan
Juli, persahabatan akan berlangsung lama
Seperti bumi mengikuti matahari
Sebagai penyair
kita menggelandang
ke lembah bunga berduri mimpi
menghirup uap kawah panas mengganas
21.
PENCIPTAAN PUISIKU
Puisiku ini terbuat dari sampah
kota, desa, jalanan – gang, dan rumah
yang diolah menjadi berlian merah
Gaji tersia-sia berhamburan sumpah
delapan penjuru arah
Lingkungan tiada bersih juga
Bagaikan hatiku kepadamu
Kita makan lalu terbuang
Kita mencari kerja terpaksakan
tanda tertanam malas-malasan
Pemanjaan adalah bulan di siang hari
Kita mendidik satu hal misteri
dengan pemenuhan kebutuhan
yang samar-samar penuh ketidakjelasan
Kurang menghargai potensi dalam diri
karena tidak peka kepada sang duka
Manusia lapar tak punya
Akhirnya selalu salah menunjuk orang
Menjadikan kebangkrutan harapan
masa depan
Maka pengangguranku adalah awal mula
penciptaan kritik tematik
riak berontak rasa rematik
Meski menukik tercekik
jari-jariku merayapi waktu membatu
berusaha bangkit dari lumpur dan debu
20.
ADA YANG TERTINGGAL
Ada yang tertinggal
Plato pemikir jitu dalam ide
Mewariskan mutiara-mutiara jiwa
Misteri metafisika
Manusia bukan daging dan tulang
Tapi roh gemilang
Sejak zaman awal peradaban
Kaitan tali-temali gaib
telah terpasangkan
Dari dunia berbeda ke tubuh sempurna
Kita lupa puisi dan sastra
Karena kandungan kurangnya kesadaran
akan hal yang menunjukkan “adanya”
hakikat rasa
Terlalu terbungkus materi kasar
Akhirnya khawatir dan gentar
19.
ANGIN MITOLOGI
Angin mitologi
Adalah kekuatan energi hati
Ia bagai kesejukan yang lapang
Tapi juga ikatan perempatan
stopan jalanan
Angin mitologi
Tak bisa digenggam
cuma terasakan menjadi batasan
Manusia memerlukan cerita
penyegaran dari panasnya api dunia
Kesemerawutan pikiran
adalah kerdilnya pengalaman
Dan tiada mendapat pencerahan
dari satu cerita masa lampau
18.
INI ADALAH BULAN JULI
Ini adalah bulan Juli
Dua ribu dua puluh enam
Katakanlah! Kenapa diam?
Jam waktu begitu liar
Jika mesti memastikan cintaku
Tak perlu kembali ke masa dulu
Tiga ratus juta tahun yang lalu
17.
KARPET RINDU
Karpet Rindu
Terbang bagai meteor hitam
Betapa terbakarnya buah sanubari
Ketika tiba tanya di dalam diri
Karpet Rindu
Ketegaran penantian pilu
Semakin tipis teriris tangis
Cinta yang berabad-abad
menjadi kepulan molekul berdebu
16.
KEMBALI KE LEUWI PANJANG
Kembali ke terminal Leuwi Panjang
adalah menemani nyanyi pagi
bulan Juli
setelah kegiatan sehari-hari terhenti
Bus kota kunaiki bersama mimpi
tanpa mengenyam raut muka
kekasih masa silam
Dan Dewi masih menunda tanda
Belum juga terbit di pelupuk mata
Tapi hidup tak boleh sia-sia
dalam kobarannya
15.
TANGIS BESI
Tangis Besi Tangis Besi
Betapa ganasnya satu pekerti
Dan ia tak mau mengerti
Tangis besi Tangis Besi
Keras kaku pemikiran angan
Itu tak bisa dihancurkan
14.
PENA JULI
Pena Juli
Tintanya tersirap matahari
dari ufuk hari yang tak pasti
Pena Juli
Tiada tajam bagai gergaji
atau kilat pisau belati
Patah perintah hati nurani
13.
MAWAR TEMBAGA
Mawar tembaga
Adalah bunga persembahan zaman
Kebunnya sudah menjadi menara
Istrinya terbentur musim gugur
Segala jiwa keluarga menganggur
Mawar tembaga
Lelaki legam perkasa
Sudah lima tahun bertapa
bertambah tua muka
banyak berduka
Tak ada cinta
jika tak menghasilkan
Sebagaimana cahaya malam redam
bila bintang bulannya tenggelam
Ah kesendirian itu adalah pintu gila
Mawar tembaga
12.
BERAS BATIN
Beras Batin
Angin menggelinding membawa kabar
tentang tanah subur tanpa penghuni
Sawah-sawah liar itu telah tertanam
gedung dan perumahan mewah
Beras Batin
Rakyatnya pergi ke lorong mega
Sambil melangkah menganga
menitikkan air mata tanpa suara
Karena bunyi habis termakan
excavator, tower crane
Palu besar menambah pilu
Concret pump, vibrator dan gergaji
menyayat sanubari
Beras batin
11.
PENYAIR PENGENDARA ALAM
Melepas bebas beban angan-angan
Adalah bentuk lain dari kedaulatan
dan keadilan daya manusia
Penyair adalah pengendara alam
tanpa perlu piagam penghargaan
Ia akan hidup
Berdansa bersama kata
Biarpun di lingkaran hutan api
Tak butuh siraman wawasan tak pasti
atau seleksi bertaktik berbau politik
Karena sepi menjadi sahabat
bagi diri agar selalu bersemi
meresapi rasa rindu
Menyanyikan lagu mantra-mantra
Menyematkan diri pada restu leluhur
10.
PUISI TANPA KURASI
Adalah dia yang merasa langit kelabu
di dalam kalbu
Ada lorong sempit pada nadi langit
Puisiku tak butuh kurasi
Dia lahir dari cipratan sayap Mikael
sang pembawa hujan rahmat
kalimat keramat ibarat berkat
membasahi ranah beranda tua sastra
Biarkan berbicara
Mengabaikan mereka
Demi masa depan anak cucu kita
9.
RINDU BULAN JULI
Rindu bulan Juli bagaikan kali
yang membelah tengah hutan ingatan
Batu-batu setia bertapa
Gemericik air hadir berbicara
Serasa sesosok kekasih
Menyandarkan letih
Duhai dukacita pergilah ke rawa-rawa
Tenggelamlah di sana
Biar kuhidupkan kemaraunya
dunia cinta bersama puisi dan kata
8.
DI ATAS SINGGASANA MIMPI
Menyendiri di atas singgasana mimpi
Aku bagaikan rembulan bulan Juli
Yang terbentuk dari tetesan air surgawi
Tak ada dendam ataupun khawatir
Benang-benang langit
telah terkait
Esok begitu juga nanti
Adalah keyakinan pasti
Bahwa perjalanan manusia mengikuti
catatan Papan Kehidupan Misteri
7.
RUHANI BULAN
Ruhani bulan telah bangkit
bersama cancer menggeliat perkasa
Membawa nyanyian alam semesta
Oh air lautan yang memukau
berkedipan sinar bintang
di balik pohon bakau
Janganlah gemuruh gelombang itu
memekakan telinga
Karena kekhawatiran nyata
adalah ancaman memasuki senja
6.
MENULIS PUISI BULAN JULI
Menulis puisi bulan Juli
Adalah pengabdian harapan naluri
keadilanku pada negeri
Indonesia Sakti
Matahari memancar
Hatiku tergetar
Garisan elok nampak tiada berbelok
memberi tanda keberuntungan
masa depan telah terang
dalam perjalanan gemilang
menuju bintang emas kehidupan
Sebagai penyair petualang
Aku menyingkap rahasia
kehijauan kepulauan khatulistiwa
yang diapit dua benua dua samudra
Bahwa kebenaran rasa syukur itu
mesti ada; diolah diberdayakan
agar kehormatan manusia tetap terjaga
5.
MEMAHAMI SASTRA
Memahami sastra adalah mencoba
mengerti naluri manusia
Yang muncul melalui jembatan kalimat
tradisi kedirian tempat ia menggaruk
ruam-ruam sepi di kala terasa gatal
di lembaran pikiran dan hati
Menjenguknya berarti mendapatkan
bintang baru di cakrawala pengetahuan
Pandangan kebijakan akan adanya
suatu perasaan yang bagai tersembunyi
di ruang hampa namun mengudara
sayap-sayap kebebasan dunia
4.
TIADA YANG BERJAYA
Tiada yang berjaya selain cinta
Pada awal mula makhluk diberi nyawa
Cinta menjadi pokok murni
Kehidupan berdiri
Manusia Pertama kala turun dari surga
mengajarkan makna kejujuran rasa
Bagaimana kebenaran cinta itu
memerlukan pengorbanan, pengakuan
dan penyerahan total
Sehingga keterkabulan terwujud
Seorang pilihan tunggal dari ratusan anak
adalah “Hadiah Ilahi” bagi kehilangan
dan tangisan yang bertahun-tahun
Maka dari situlah terbit keberadaan
Matahari datang membawa pencerahan
Harapan hingga akhir zaman
3.
MEREBUT KENANGAN JULI
Merebut kembali kenangan
yang pernah tertelan kesibukan sehari-hari
Aku mendapatkan segala bening air mata
pilu, haru; masa kanak-kanak
telah membuahkan rindu
Setiap Lelaki punya nurani
Ia akan hadir ketika diingatkan lagi
Maka ucapan berakar dari naluri
yang disambungkan urat-urat kecil
unik, berakal dan gaib
2.
MEMASUKI JULI
Memasuki Juli adalah kembali
mencipta puisi
di bawah galaksi sepi
Angin ideologi pikiran yang bertabrakan
mesti tercairkan sebagaimana
elemen air di zodiak Cancer ini
Sejak zaman Enheduanna
kemelut jiwa – sosial telah ada
Maka lahirlah kata-kata cermat
Untaian permata indah penuh berkat
Agar menjadi saksi
eksistensi manusia mesti berdiri
1.
JENDELA PILIHAN
Membuka jendela
Mengingat masa awal peradaban manusia
Di hujan lebat empat puluh hari
menenggelamkan bumi
Peleburan adalah kebangkitan baru
untuk membuka tiap tingkap langit biru
Oh takdir yang membawa perahu
dari satu kehidupan ke lain daratan
Teranglah bukit Judy, ararat, Turki
Karena sang utusan telah sampai
membawa berkat – mukjizat
Dan catatan itu
akan selamanya terkisah
menjadi sejarah keberadaan
Seorang Pilihan

Komentar
Tulis komentar baru