Skip to Content

11 PUISI YANG MERASA YANG BERKARYA, SEBUAH ANTOLOGI

Foto Agung Gema Nugraha
files/user/14117/IMG_1777722371350.png
IMG_1777722371350.png

11 PUISI 

YANG MERASA YANG BERKARYA

KARYA AGUNG GEMA NUGRAHA

 

 


 

1.

BAGAI ACHILLES DAN KURA-KURA

 

Aku dan kamu ini waktu

Bagai Achilles dan kura-kura

 

Sekuat tenaga aku curahkan

Sejauh mata memandang

Melewati batasan-batasan

Setenang kamu berjalan

 

Secepat aku berlari

Seberapa jauh tempat terhenti

Serajin aku mencari

Kembali aku mesti menjumpai

Sementara garis-garis nasib

tak pasti dalam ruang 

di balik ruang ada ruang gaib

Memasuki pintu ke pintu

lagi-lagi bertemu 

 

Kemustahilan menjadi kemungkinan

Yang tak bisa kita tafsirkan





2.

ZENO DARI BARAT LAUT

 

Zeno dari barat laut

telah menempuh larut

mengukir paradoks

 

Tentang misteri batasan dan waktu

Menguatkan kembali satu teori

setia pada guru sejati

 

Membangun ruang pemikiran

yang mesti terpecahkan

 

Bunga keberuntungan jatuh

di dada Aristoteles

Dibuatlah pintu-pintu dan jendela

agar masuk udara kesegaran

bagi mata dan jiwa





3.

PUISI UNTUK

TENDER SURRENDER, STEVE VAI

 

Melodi itu terdengar seperti persahabatan

makhluk dunia lain yang sedang rundingan berdialog sambil berdialektika

 

Bagai mengawasi langkah-langkah arah

urat-urat tubuh lalu berlabuh

di ulu hatiku, teduh

 

Asing tenang beriring 

Bening nan nyaring

Ada Hening di kedalaman

Semarak menyeru keakraban

Padat menekan keyakinan

Membiru gunung di langit kejauhan

Not-not jumpalitan tetap bertujuan

Ada dingin berselancar dalam getar

membuat bulu kudukku merinding

berdebar-debar

 

Ada kasih kerinduan manis senyuman

dalam sentuhan tone tegas senar-senar

Ada gurauan canda tawa kebajikan

Gaya elegan berdamping kemampuan

tak terbantahkan

 

Ini keajaiban!

 

Gelombang ombak lautan berarakan

Harmonis di luar nalar batasan

Luwes bertenaga daya segala sukma

Dua karakter satu rasa menghantam baja

 

Kelembutan tajamnya naluri seni

Sebagai seorang gitaris dunia

Stevai, merangkai bisikan harapan

terpendam gejolak alam tiada padam

 

Setiap lompatan jari melahirkan

irama unik sistemik 

pernak-pernik indah hidup bermadah

teknik permainan berhamburan

berbicara bermakna

bermetamorfosis, menjadi, dan dinamis




4.

MENJELANG ZODIAK TAURUS

 

Menjelang Taurus, Aries meraih kembali

Pisces masih mencari di pagi bermentari

 

Gemini dalam duka hitam cinta

ditinggal kekasih setia

 

Oh hujan yang berpetir

longsor sungguh aku khawatir

Dan sampah jangan sebabkan banjir

 

Gagasan kebajikan dan ambisi

Taurus terencana matang

Anginnya sudah memberi kabar

 

Taurus, Taurus gunung didaki

tak perlu terlalu tinggi

Hipotermia 

bisa jadi sempitkan nafas di dada




5.

RUMAH ZODIAK ARIES BULAN APRIL

 

Rumah adalah singgasana

bagi perjalanan jiwa

Di antara seribu bisikan persoalan

eksternal yang tak masuk di akal

 

Angin memikul rezeki dari kejauhan

terbang sampaikan keberuntungan

Cinta mengalir bagaikan air kali

jernih diselimuti kehijauan pohonan

 

Aries bertapa dalam karya dan cipta

 

Rumah adalah singgasana

Mahkota pemimpin

Keberkatan bersanding




6.

DELAPAN BELAS APRIL

(KAA)

 

Teruntuk delapan belas April

Hati di dua benua terpanggil

Indonesia berbicara

Lantang dengan semangat kuat

membaja–menyala

 

Bandung, Gedung Merdeka

Saksi menuju masa depan cemerlang

Pintu kepedulian kemanusiaan

Antara kekhawatiran dan harapan

Dua puluh sembilan negara

Berembuk bersama

Memantapkan kembali budaya

Kerjasama ekonomi agar lebih berdaya

 

Negara-negara berkembang berjuang

Kolonialisme mesti ditentang

Karena merugikan 

Mengundang kehancuran

 

Negara berhak merdeka

dengan segala kedaulatannya

Jangan ada negara boneka!

Yang bisa dipermainkan seenaknya

Hak asasi manusia mesti terjaga

Neokolonialisme wabah penyakit

bagaikan bakteri 

yang menggerogoti negeri

Penjajahan tak boleh ada di muka bumi

 

Delapan belas April 

Bersinar cahaya kesadaran 

Solidaritas dibangkitkan

Perdamaian disuarakan

Hari baru nafas baru

Sembilan belas lima puluh lima

Konferensi Asia Afrika





7.

PENYAIR MALANG MELINTANG

 

Penyair yang malang melintang

adalah dia dalam dikotomi peradaban

Satu tubuh dua kehidupan

Antara cinta dan misi cita-cita

 

Angin membawanya ke air terjun

Penyair bermandi limpahan karunia

Matahari bagai koin kuning

Menyemprotkan angka nominal 

pada pandangan

 

Bimbang ia berputaran

Menelentangkan dua tangan 

Mengangkat satu kaki sambil bersiulan

 

Dan jawaban itu tak pernah ditemukan





8.

PENYAIR DI ATAS KASUR

 

Penyair di atas kasur

bersama khayalan ia bertempur

Jendela adalah benda kuno

yang mesti ia pelihara

dari pandangan penguasa siang

 

Dan angin bagai roh jahat

mengutuknya sekatuk laknat

 

Penyair di atas kasur

Kakinya terlipat lalu terulur

Seperti niat tekadnya maju mundur




9.

SERENADA APRIL

 

Hey hey hey hey

Hey hey hey hey

 

Dewi kelopak bunga melati

Putih berseri-seri

Ceria mewangi 

di bulan April bersemi

Menjadi nyanyian duniawi

 

Hey hey hey hey

Hey hey hey hey

 

Dewi serenada ungu laguku

Spiritualitas penggerak sajakku






10.

DI PARKIRAN

 

Anginnya tegak berkerut kening

cemberut tak bergeming

dan halaman bagai pulau es dingin

 

Sudah satu minggu

Peluitnya bisu temboknya tuli

tiada mendengar mesin bergetar

 

Tukang parkir itu berunding

bersama hening

Lamunannya nyangkut di cakrawala

Bingung anaknya SD harus outing class

Dan seragam agak kusam

Uang belum juga tergenggam

 

Wahai yang mencari

Ke mana rezeki akan berlari

Jika waktu tentu

Kembali juga kepadamu





11.

TUJUH PERI DI WARUNG REMANG

 

Pohon sawit berbaris berjejeran

Jalan dramatis menangis di pinggiran

Di warung remang-remang

Tujuh peri membisikan harapan

Semoga hari ini ada yang datang

 

Air hujan jatuh bercucuran

Seperti hati mereka gelisah tak keruan

Di dipan halaman teduhan

Lagu rindu sendu berwangi kemenyan

Setiap yang bernyawa memiliki kebutuhan

 

Awan masih hitam 

Nasib bulan agak kusam

Lambungnya ringan melayang-layang

 

Wahai tujuh peri yang mengunyah sepi

mencari rezeki 

menjemput keberuntungan diri

Sementara kamu berusaha

Dan jauh dari putus asa

Doa dalam asa takkan sia-sia

Bagian itu akan tiba pada saatnya

Tiada tertukar ke lain dunia

 

 

 

Agung Gema Nugraha

Bandung

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler