Lantunan ayat-ayat cinta itu kembali hadir dalam kemarau hatiku yang kian gersang, dua ratus ayat cinta itu menggantikan sembilan puluh delapan harapan yang hanya menjadi kenangan yang kian menyesakkan. Kini seratus dua harapan baru telah menjemputku untuk menjadi wanita yang paling sempurna setelah jubah hitam sempat menyelimutiku saat aku merasa benar-benar rapuh.
Padat. Seperti biasa, Jakarta tak pernah istirahat, leha-leha. Pun St.Jakarta Kota, tidak mau kalah dengan aktivitas di luar sana. udara saat itu panas tajam, lembab. membuat keringat tak henti hentinya bercucuran. desak-desakan pasti terjadi.
Ibu, aku baru sadar, ilusi itu kandang bagi elang yang tak punya hutan. Tempat dimana hanya bisa menatap kosong kearah bintang, mengurung sayap yang mestinya mengantar keluas langit.
Komentar Terbaru