Pada sekumpulan huruf yang kau ramu
aku tersenyum...
dan pada setiap penjelasan yang kau urai
aku tersenyum, layaknya mengerti
yah, aku terus tersenyum... pada setiap apapun yang kau persembahkan
bahkan, dengan hanya kehadiranmu saja, dan meski tidak lebih dari setengah detik
dan walaupun sekedar dalam imaji
aku tersenyum...
senyum yang semakin lama semakin menjadi budak dari sebuah ketololan
engkau adalah diriku sendiri yang aku harapkan
bagaimana ini?
aku sebegitu rindu engkau, diriku...
bagaimana mungkin bisa terjadi?
sedemikian perih sebab ketidakmengertian
hidup atau mati
adalah dua kata yang masih ku pertanyakan dimana letak perbedaannya
.
dalam kediamanku, ramaiku-pun makin menjadi
Komentar
Tulis komentar baru