Lantunan ayat-ayat cinta itu kembali hadir dalam kemarau hatiku yang kian gersang, dua ratus ayat cinta itu menggantikan sembilan puluh delapan harapan yang hanya menjadi kenangan yang kian menyesakkan. Kini seratus dua harapan baru telah menjemputku untuk menjadi wanita yang paling sempurna setelah jubah hitam sempat menyelimutiku saat aku merasa benar-benar rapuh.
1. kami dititis dewa aliran darah ini terbaur syailendra dan meurah silu nenek moyang kami perantauan pasai dan pagaruyung penegak risalah yang belum terkabar
Komentar Terbaru