PERBUATANMU TERGANTUNG APA YANG KAU PIKIRKAN
Oleh : Fathol Amin, s.Pd.I
Nasihat Untuk Diri Sendiri
Malam yang berselimut salju, rembulan menatap bumi dengan tajam, gemintang bersinar pijar kuning keemasan, suara hati semakin keras dalam rapalan do’a tanpa henti. Alam merangkul semua yang ada di pangkuan ribaannya.
Tahukah kau bahwa tak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok? Tahukah kau bahwa tak ada yang tahu kemana dirinya akan melangkah dari mana dan mau kemana akan melangkahkan kaki besok? Tahukah kau berapa kali kau akan tertawa bahagia dan berapa kali akan menangis berduka besok? Tahukah kau berapa lama lagi akan hidup? Dan berapa lama lagi akan mati?
Maka oleh karena itu berjalan di muka bumi biasa-biasa saja, jangan sombong jangan conkak, seolah kau tahu segalanya, seolah kau bisa berbuat apa saja, seolah kau mampu menghentikan dan menggerakkan perputaran lingkaran roda takdir.
Sesekali tertawakanlah dirimu sendiri jangan hanya bisa menertawakan orang lain, sesekali pandanglah kelemahan dirimu sendiri jangan hanya memandang kelemahan orang lain.
Akuilah kesalahanmu jika kau benar-benar salah, karena mengakui kesalahan itu bagian dari sifat kesatria, jika kau tak mau mengakui kesalahanmu padahal kau benar-benar salah itu bagian dari sifat pecundang.
Maukah kau dibilang pengecut atau pecundang???
Sekalipun kau tak suka dikatakan pengecut atau pecundang, kau akan tetap dikatakan seperti itu, karena nisbat yang ditujukan pada dirimu sesuai perbuatanmu, perbuatanmu sesuai dengan apa yang dipikirkan olehmu, sebutanmu sesuai apa yang diperbuat olehmu.
Kau mencuri karena kau berpikir untuk mencuri, kau merampok karena kau berpikir untuk merampok, jika kau mencuri maka kau akan disebut pencuri, jika kau merampok maka kau akan disebut perampok. Karena kau tidak akan bisa lari dari perbuatanmusendiri, karena perbuatanmu tidak akan bisa lari dari apa yang kamu pikirkan.
Selama kau berpikir buruk maka selama itu juga perbuatanmu akan buruk, selama kau berpikir baik maka selam itu juga perbuatanmu akan baik.
Maka jika disimpulkan ( perbuatanmu tergantung apa yang kau pikirkan, perbuatan tergantung apa yang kau niatkan ), oleh karena itu perbaiki pikiran, perbaiki niat maka perbuatan akan menjadi baik pula.
lentera4 tahun 26 minggu yang lalu
Mengomentari: lentera
Bulan kau terlihat murung.
Apa hal yang menyebabkan engkau begitu.
Akankah aku bermain asap di dekatmu.
Sehingga engkau ingin menyudahinya.
Engkau itu menawan kalau tersenyum
Terpancar menerangi sisi gelapku.
Bubuk kapur ku hamburkan seakan bahagiaku.
Namun ku tak sadar telah menyakiti mata indahmu
Bulan aku tahu aku salah.
Aku tahu bahagiaku telah mencemari ruang sempitku.
Ruangku tanpamu bagai sebuah lobang gelap.
Yang di tinggalkan sebuah pelita bersayap.
Kalau sudah begini.
Kepedihanmu kepedihanku bahagiamu bahagiaku.
Engkau dan aku adalah satu.
Di dalam satu beranda yang tidak ada yang boleh tahu.
Sekor burung terbang di bawah sinarmu.
Telah tahu jalan pulang di bawah pengawasanmu.
Jalan lebar atau terjal tidak hal.
Selama masih dalam naungan cahayamu.
Bulan aku tak mau berlama-lama memujimu
Aku mau sinarmu menjadi rahasiaku dan rahasiamu.
Di dalam sebuah ikatan suci sepasang kekasih.
Yang menyatu di balut rindu.
Bulan kau telah siapkan sebotol khamer.
Setelah ku tenggak terkaparlah dalam sebuah beranda.
Aku mabuk kepayang oleh cahaya berkialauan permata.
Terlepasnya kiswah pembalut imajinasi kita.
Desisan angin sepoi-sepoi .
Seakan berbisik lirih mencari sebuah fakta.
Hai…engkau sepasang kekasih ya?
Meledeklah ketawa kita berdua.
Kau menatapku dan aku menatap engkau.
Sambil berbisik lirih kau ucapkan.
Kalau kau pandangi aku terus.
Kau telah lupa realita.
Surga jasad akan lapuk di makan usia.
Pertemuan kita tidak kurang dari 4 jam saja.
Marilah kita bergegas merapikan diri
Sebelum garau ajal memutus seikat benang kita.
Rasa ini timbul tatkala membaca telaahan kakek hakimi untuk puisi pertama 4334 saya. Asli merinding..... Bulu tangan merinding. Tks kek hakimi komen untuk perbaikannya
Pertama kali saya haturkan permohonan maaf yang setinggi-tingginya kepada Bapak atas lambatnya respon saya terhadap komentar Bapak tentang puisi JANGAN MERASA SENDIRI yang bapak tulis di Jendela Sastra/Media Sastra Indonesia pada 28 Juni 2021, pk 15:57.
Saya terlalu fokus kepada mengunggah puisi. Sangat jarang melihat kolom komentar. Sangat tidak menyangka bahwa hari ini saya mendapat komentar tentang puisi-puisi saya, khususnya tentang bentuk 4334 dan 437.
Terima kasih atas komentar Bapak. Semoga tidak bosan membaca lagi puisi-puisi saya.
Semoga selalu sehat dan semoga mulia. Aamiin.
Kotabaru Karawang 05 Juli 2021_1330 WIB
Salam dan hormat saya
Hakimi Sarlan Rasyid
NB. Saya ingin menjalin pertemanan di facebook tapi kesulitan memilih akun. Agak banyak akun yang senama dengan mana Bapak. Kalau boleh tahu apa ciri khas akun Bapak.
Ke pangkuan Bapak Hakimi Sarlan Rasyid yang sangat saya hormati,
Saya sentiasa merasa dekat sekali dengan puisi-puisi Bapak.
Begitu menyantuni hati dan meruntun kalbu. Terima kasih Bapak Hakimi atas segala perkongsian pengalaman hidup yang sangat berharga.
Saya sangat menghargainya. Hinggakan memberi pengaruh yang besar dalam gaya penulisan saya kebelakangan ini.
Patokan #4334 cukup mengasyikkan ritmanya. Saya memohon maaf lantaran adakalanya menggayakan patokan #43342 mengambil kira digit 2 itu daripada 2 surah Al fatihah dan surah An Nas itu sendiri.
Sebagai seorang dosen Matematika saya begitu menghargai gagasan Bapak khususnya patokan #4334, #437 dan lainnya.
Terima kasih sekali lagi.
Oh ya... Saya juga amat terhibur dengan prosa Bapak antaranya, 'Botol Kulo Endi' yang cukup membuai rasa.
Syabas Bapak Hakimi.
Anak muridmu,
Mohd Nasir Mahmud (Kemirau @ Sang Murba)
https://scholar.google.com/citations?user=t2ZORncAAAAJ&hl=en
Saya tidak sengaja menemukan puisi ini saat mencari puisi yang bertema burung di senja hari. Saat membaca bait kedua, pada dua barus terakhir, saya dibuat terkejut. Menjadi puisi yang menghunjam.
puisi
Mengomentari: fathol amin
PERBUATANMU TERGANTUNG APA YANG KAU PIKIRKAN
Oleh : Fathol Amin, s.Pd.I
Nasihat Untuk Diri Sendiri
Malam yang berselimut salju, rembulan menatap bumi dengan tajam, gemintang bersinar pijar kuning keemasan, suara hati semakin keras dalam rapalan do’a tanpa henti. Alam merangkul semua yang ada di pangkuan ribaannya.
Tahukah kau bahwa tak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok? Tahukah kau bahwa tak ada yang tahu kemana dirinya akan melangkah dari mana dan mau kemana akan melangkahkan kaki besok? Tahukah kau berapa kali kau akan tertawa bahagia dan berapa kali akan menangis berduka besok? Tahukah kau berapa lama lagi akan hidup? Dan berapa lama lagi akan mati?
Maka oleh karena itu berjalan di muka bumi biasa-biasa saja, jangan sombong jangan conkak, seolah kau tahu segalanya, seolah kau bisa berbuat apa saja, seolah kau mampu menghentikan dan menggerakkan perputaran lingkaran roda takdir.
Sesekali tertawakanlah dirimu sendiri jangan hanya bisa menertawakan orang lain, sesekali pandanglah kelemahan dirimu sendiri jangan hanya memandang kelemahan orang lain.
Akuilah kesalahanmu jika kau benar-benar salah, karena mengakui kesalahan itu bagian dari sifat kesatria, jika kau tak mau mengakui kesalahanmu padahal kau benar-benar salah itu bagian dari sifat pecundang.
Maukah kau dibilang pengecut atau pecundang???
Sekalipun kau tak suka dikatakan pengecut atau pecundang, kau akan tetap dikatakan seperti itu, karena nisbat yang ditujukan pada dirimu sesuai perbuatanmu, perbuatanmu sesuai dengan apa yang dipikirkan olehmu, sebutanmu sesuai apa yang diperbuat olehmu.
Kau mencuri karena kau berpikir untuk mencuri, kau merampok karena kau berpikir untuk merampok, jika kau mencuri maka kau akan disebut pencuri, jika kau merampok maka kau akan disebut perampok. Karena kau tidak akan bisa lari dari perbuatanmusendiri, karena perbuatanmu tidak akan bisa lari dari apa yang kamu pikirkan.
Selama kau berpikir buruk maka selama itu juga perbuatanmu akan buruk, selama kau berpikir baik maka selam itu juga perbuatanmu akan baik.
Maka jika disimpulkan ( perbuatanmu tergantung apa yang kau pikirkan, perbuatan tergantung apa yang kau niatkan ), oleh karena itu perbaiki pikiran, perbaiki niat maka perbuatan akan menjadi baik pula.
Di Bawah Langit pabian 15 September 2019
Bulan
Mengomentari: lentera
Bulan kau terlihat murung.
Apa hal yang menyebabkan engkau begitu.
Akankah aku bermain asap di dekatmu.
Sehingga engkau ingin menyudahinya.
Engkau itu menawan kalau tersenyum
Terpancar menerangi sisi gelapku.
Bubuk kapur ku hamburkan seakan bahagiaku.
Namun ku tak sadar telah menyakiti mata indahmu
Bulan aku tahu aku salah.
Aku tahu bahagiaku telah mencemari ruang sempitku.
Ruangku tanpamu bagai sebuah lobang gelap.
Yang di tinggalkan sebuah pelita bersayap.
Kalau sudah begini.
Kepedihanmu kepedihanku bahagiamu bahagiaku.
Engkau dan aku adalah satu.
Di dalam satu beranda yang tidak ada yang boleh tahu.
Sekor burung terbang di bawah sinarmu.
Telah tahu jalan pulang di bawah pengawasanmu.
Jalan lebar atau terjal tidak hal.
Selama masih dalam naungan cahayamu.
Bulan aku tak mau berlama-lama memujimu
Aku mau sinarmu menjadi rahasiaku dan rahasiamu.
Di dalam sebuah ikatan suci sepasang kekasih.
Yang menyatu di balut rindu.
Bulan kau telah siapkan sebotol khamer.
Setelah ku tenggak terkaparlah dalam sebuah beranda.
Aku mabuk kepayang oleh cahaya berkialauan permata.
Terlepasnya kiswah pembalut imajinasi kita.
Desisan angin sepoi-sepoi .
Seakan berbisik lirih mencari sebuah fakta.
Hai…engkau sepasang kekasih ya?
Meledeklah ketawa kita berdua.
Kau menatapku dan aku menatap engkau.
Sambil berbisik lirih kau ucapkan.
Kalau kau pandangi aku terus.
Kau telah lupa realita.
Surga jasad akan lapuk di makan usia.
Pertemuan kita tidak kurang dari 4 jam saja.
Marilah kita bergegas merapikan diri
Sebelum garau ajal memutus seikat benang kita.
bagus... banget!!! makasih
Mengomentari: Senandika
bagus... banget!!! makasih bangmuzi
IZIN COPAS YA KAK
Mengomentari: Untukmu Palang Merah Indonesia
IZIN COPAS YA KAK
Kritik Masukan
Mengomentari: Pekat
Mohon Kritik dan Saran kedepannya teman-teman
Dikirim digital sabaraha
Mengomentari: Majalah Manglé Online (Majalah Budaya Sunda)
Dikirim digital sabaraha hargi carpon/carnyam
Izin Copas, terimakasih
Mengomentari: Untukmu Palang Merah Indonesia
Izin Copas, terimakasih
Puisi pertama
Mengomentari: PUISI PERTAMA MEREKA DI JENDELA SASTRA
Rasa ini timbul tatkala membaca telaahan kakek hakimi untuk puisi pertama 4334 saya. Asli merinding..... Bulu tangan merinding. Tks kek hakimi komen untuk perbaikannya
Dari semua puisi yang
Mengomentari: PUISI PERTAMA MEREKA DI JENDELA SASTRA
Dari semua puisi yang ditampilkan sungguh terkesan indah
Kecuali karya Iaf masih perlu banyak belajar dan membaca untuk menambah perbendaharaan kata
Terima kasih kakek. Selalu membimbing kami
Terima kasih atas
Mengomentari: SINAR
Terima kasih atas apresiasinya, sangat menjadi ilmu yang bermanfaat untuk penulisan kedepannya.
43342
Mengomentari: JANGAN MERASA SENDIRI
Mungkinkah Dia Bosan
Ada yang berubah hari ini,…. sepi
Saat Penggali kubur bekerja tak henti
Burung pewarta tak berdendang lagi
Adakah dia takut atau sekedar empati
Konon… Nyanyianmu pertanda jelek
Membuat orang berhati lembek
Takut…. Dan termehek-mehek
Berpulang adalah kepastian Tuhan
Berpulang bukanlah pilihan
Bukan karena burung kematian
Ada yang berpulang hari ini
Tapi ini bukan semata misteri
Adalah suratan takdir sang azali
Walau si pewarta tak berdendang lagi
Burung pembawa pesan
Mungkinkah dia Bosan
Cariu, 12721
Memeth Jack Jamhari menulis dengan patokan yang telah anda mulai.
No WA
Mengomentari: Malam Di Kotamu
Halo mbak Titin, maaf aku baru baca. Ini No WAku 0 8 1 271145412
Alhamdulillah ...terima kasih
Mengomentari: Mohd Nasir Mahmud
Kepada Yth : Mohd Nasir Mahmud
di Malaysia
Assalamu’alayk
Pertama kali saya haturkan permohonan maaf yang setinggi-tingginya kepada Bapak atas lambatnya respon saya terhadap komentar Bapak tentang puisi JANGAN MERASA SENDIRI yang bapak tulis di Jendela Sastra/Media Sastra Indonesia pada 28 Juni 2021, pk 15:57.
Saya terlalu fokus kepada mengunggah puisi. Sangat jarang melihat kolom komentar. Sangat tidak menyangka bahwa hari ini saya mendapat komentar tentang puisi-puisi saya, khususnya tentang bentuk 4334 dan 437.
Terima kasih atas komentar Bapak. Semoga tidak bosan membaca lagi puisi-puisi saya.
Semoga selalu sehat dan semoga mulia. Aamiin.
Kotabaru Karawang 05 Juli 2021_1330 WIB
Salam dan hormat saya
Hakimi Sarlan Rasyid
NB. Saya ingin menjalin pertemanan di facebook tapi kesulitan memilih akun. Agak banyak akun yang senama dengan mana Bapak. Kalau boleh tahu apa ciri khas akun Bapak.
Terima kasih Bapak Hakimi
Mengomentari: JANGAN MERASA SENDIRI
Assalamualaikum
Ke pangkuan Bapak Hakimi Sarlan Rasyid yang sangat saya hormati,
Saya sentiasa merasa dekat sekali dengan puisi-puisi Bapak.
Begitu menyantuni hati dan meruntun kalbu. Terima kasih Bapak Hakimi atas segala perkongsian pengalaman hidup yang sangat berharga.
Saya sangat menghargainya. Hinggakan memberi pengaruh yang besar dalam gaya penulisan saya kebelakangan ini.
Patokan #4334 cukup mengasyikkan ritmanya. Saya memohon maaf lantaran adakalanya menggayakan patokan #43342 mengambil kira digit 2 itu daripada 2 surah Al fatihah dan surah An Nas itu sendiri.
Sebagai seorang dosen Matematika saya begitu menghargai gagasan Bapak khususnya patokan #4334, #437 dan lainnya.
Terima kasih sekali lagi.
Oh ya... Saya juga amat terhibur dengan prosa Bapak antaranya, 'Botol Kulo Endi' yang cukup membuai rasa.
Syabas Bapak Hakimi.
Anak muridmu,
Mohd Nasir Mahmud (Kemirau @ Sang Murba)
https://scholar.google.com/citations?user=t2ZORncAAAAJ&hl=en
Izin copas kak terimakasih
Mengomentari: Untukmu Palang Merah Indonesia
Izin copas kak terimakasih
Permisi kalo boleh nanya pasi
Mengomentari: Rembulan Pucat Pasi
Permisi kalo boleh nanya pasi itu apa ya?itu ada di puisi pa sapardi jadi saya penasaran
Dan aku bertanya tentang
Mengomentari: Perempuan Jalang
Dan aku bertanya tentang puisi
Keren
Mengomentari: Renjana
Keren
re: Tanya
Mengomentari: Cara Membuat Tulisan di Jendela Sastra
Silakan sudah diterbitkan, untuk selanjutnya tulisan anda akan langsung terbit.
Terima kasih sudah bergabung dengan Jendela Sastra.
Keren
Mengomentari: Luka pada jahitan
Keren
Tanya
Mengomentari: Cara Membuat Tulisan di Jendela Sastra
Admin karya puisi aku ga bisa di terbitkan aku memang datang sebagai orang baru di jendela sastra
Aislaaah... "Eka" nama yg tak
Mengomentari: Cinta Itu Eka
Aislaaah...
"Eka" nama yg tak akan pernah lekang di lubuk hati dan pikiran Penulis...
Marvellous ????????
Mohon bimbingannya
Mengomentari: 4 PUISI PILIHAN MEREKA
Mohon bimbingannya Kakek
Masih terlalu sederhana memilih kata-kata
mengejutkan
Mengomentari: Burung-burung terbang melintasi senja
Saya tidak sengaja menemukan puisi ini saat mencari puisi yang bertema burung di senja hari. Saat membaca bait kedua, pada dua barus terakhir, saya dibuat terkejut. Menjadi puisi yang menghunjam.
Terima kasih
Puisi Aby adalah
Mengomentari: DUA HATI YANG MENGHITUNG RINDU
Puisi Aby adalah gaung
Inspirasi untuk berimaji
Padat berisi penuh makna