Skip to Content

Luka pada jahitan malam

Foto Willyshayudana
files/user/9130/VAPORGRAM1623176084517.jpg
VAPORGRAM1623176084517.jpg

Willy shayudana

Penyair

Puisi-puisi pembentukan 

 

Pengakuan

 

Jika waktu memutar keadaan ketika memulang kembali

Ku ingin hubungan yang memisah antara kelam,

Dan Merta kisah yang merajut membelam

Penuh yang salah dan tersalahkan, mempercaya di

Penghujung. Dan cinta adalah bahaya kepasrahan.

 

Ada yang ingin ku buka, di hadapan kau!

Ini mulut melucut kabut membuka suara

Hai cintaku, alasan di pangkalan Sukma telah lusuh

Meriak sih anak miskin memicing duka

 

Hidup membeda suatu merintang 

Ku ambil peduli, dan kau jauh tak mempeduli?

Pintu yang membuka telah siap jauh menyelam langit

Jauh mengabur pergi mepermaut luka sendiri

Dan kau tak mau tau-

Malam di antara pohonan manis,

Ku bertanya;

adakah sedikit rasa yang jatuh terbasah bujuk rayuan?”

Jalur menempuh terletak ranjau yang rumit 

Cukup! Ku ingin merdeka, juga dengan Nesda

Mesti ajal memisah-ku kan' berada sunyi

Ria di jalur dunia yang kau bentuk dan selamat jalan.

 

12, Juni 2021

Willy shayudana

 

 

 

 

Bungaku yang gugur

 

 

Dialah, bungaku (T.P.sari) mereka ria sebagai kekasih 

Memeluk pelangi dan menari-menari gelisah

Nanap menatap lama tubuhnya bersinar rembulan malam

Di rumah pandang tajam cinta kita bagikan berdua 

 

Waktu malam yang kelam 

Hujan membasahi kulit, berwangi doa 

Agar cepat. Bibir beradu ke angkasa, ke langit

Yang berbunga. Kita meminta sekali lagi

Adakah mesra menanti ajal

Ketika semua selesai secara murni,

Dan keindahan yang ku tanam-

Ku tanam, menabur segala tiba 

paksa dunia dengan kegagalan”

Tidak! Di lorong yang gelap bungaku 

Tetap tumbuh. Musti keadaan ku tagih

Deras membelam. Bisa katakan!

Dia yang jauh kini, tiup nyawa 

Tiup jiwa, bagaimana putus benang ibuku?

 

Masa rendah kekalahan itu,

Raba dada kita kan sampai

Menemui luka. Bungaku berjarak mati

Terbang kering berguguran

 

Juni, 2021

Willy shayudana

 

Penentuan

 

 

Tinggal kesepian yang menerjang rumah ini

Ini ruang penuh harap, penuh cinta?

Berapa waktu harus di nanti

Tiap jalan menghantam nyawa,

Hidup tak mengenal siapa kau!

Siapa yang mengada kemurnian jiwa?

Bahkan sedikit laju terhenti

Menghidupkan yang tak pasti,

Sedikit malam mempersiangku

Sedikit pula kita berbicara

Geming dunia, yang terbakar lagi 

Sudah!

Hembus tubuh tak peduli,

Sekilap pandangan serupa meliat rendah 

Keras membatu itu muka?

Menyerah enggan di sapa,

Dan aku-

Dalam Hitam mendera sunyi.

 

Juni, 2021

Willy shayudana

 

 

 

 

 

Sia-sia menerima

 

 

Tidak perempuan! Yang hidup dalam diri

Masih bergelincing lincah ganas memeluk gelap,

Kau keras tajam memaling mata, memicing dunia!

Lagu-lagu tipuan meninggi, tanpa makna di mengerti

 

Langit-langit di daerah perkotaan tidak mengajarkan

Apa-apa padaku! Bahkan segala cinta minta tak ria

Orna sunyi germelap keputusan-keputusan 

Orna sepi pada perempuan yang penuh permata

Segala telah tiba

Datang menyambut

Sia-sia menerima

Badan menyelam dingin 

Mata-mata yang kosong perih 

Darah membiru asin

Pahit!

Pahit!

Mengaum di udara

Mati 

Duka

Hati 

Terluka

 

29, Mei 2021

Willy shayudana

 

 

 

Yang kini tidak berumah

 

 

Tak sempat ria terpancar di muka

Ada sedikit waktu?

Mari isi sepi yang kering

Hitam di sekujur tubuh

Tapi!

Aku tak ikut pada alasan 

-dendam

Api membara di kepala!

-tak terjaga

Kehilangan tempat menyendiri,

Anak-anak bercita-cita;

“kebebasan bukanlah kekuasaan”

Tak terima segala bentuk permata

Tenaga mencurah mengalah

Kenali burung-burung di persinggahan

Berenang tak tau arah!

Kehilangan rumah sendiri

Menjadi gugur tak menama 

 

Mei, 2021

Willy shayudana

 

 

 

 

Buat pelukis alfitac

 

 

Antara

Malam menderu, ini mulut kelu membeku

Hujan menyinari muram

-terasa dingin

Air tajam kering, di mata berdoa 

Dia yang datang sendiri Berlari-lari

Jauh bangunkan cinta?

Itu muka!

Penuh warna. Di atas langit bertahta!

Beri nafas, sekali ruang ku kenali

Maka ku kan' mengabur

Dan Cintaku, kita terapit

-kau terlahir Gana 

Dan aku mengecil diri

Di daerah kosong! Mimpi mentanduskan

Mari kita lepas, lepas segalanya

Sekarang!

Biarku terbang jauh serupa gipsy 

Hari ketemu, hari mendarat

Cengkaman mata, ketemu batas!

Mengenal tiba, kan' mati tak bergerak.

 

Mei, 2021

Willy shayudana

 

Di bawah bulan

 

 

Malam yang bertanya mengapa kesepian berada kembali

Di langit yang merah, bulan yang merah 

Kau memberai suatu dunia!

Pernah dulu kita di buru, dan bibir beradu ke arah surga 


Pecah terbenah di bawah kaki sepasang gagak

Berteriak di kelopak mata bulan yang memerah 

Dan sedikit hitam mengalir air mata itu,

Rasa cemas luas pandang segala arah.


Bagaimana bisa ?

Kau sungguh menggila untuk bercium 

Gigitan merasai luka, dan terasai

Sungguh pun lebar kepuasan. o, kekasih


Apalah bulan memandang tajam

Hai! manusia ku menyinari Cinta dan bayang-bayang

Hai! Manusia ku menyinari cinta dan bayang-bayang


O, kekasih sekali hari itu mengulang lagi

Lagi kepada kisah yang baru, mata-mata 

AKu dan kau. Begitu erat di malam yang sepi 

Bayang-bayang sendiri akan meminta suatu kini


Jika hanya malam mengarungi kisah yang baru

Ku terbuka segala pintu, segala yang dulu pernah membentuk. Akulah yang tak pernah membagi,

Diantara kisah yang melupa dan mati di bulan sepi

 

Medan, Juni 2021

Willy shayudana

 

 

Cintaku jauh di luas samudera

 

Gadis manis, cintaku berada jauh di luas samudera
Tak mengira tujuh tahun sudah!
Masih sama, api yang mengobar di jiwa
Memancar malam, memancar tubuh
Perasaan kusut terlucut debu
Kentara tak sampai tuk bercium
Suara sengau laut
Di bawah bulan sepi
Ada suatu buat cintaku
Segala adalah kepuasan birahi
Sendiri! Telah ku bawak luka ini!
Bertahun-tahun bersama 'kan merapuh!
Mengapa cepat benar kau berlabuh
Sebelum cinta kita benahi kembali?
Gadis manisku, jauh di luas samudera
Kalau ku terluka mengembara, kau bahagia menyendiri
25, Mei 2021
Willy shayudanaGadis manis, cintaku berada jauh di luas samudera
Tak mengira tujuh tahun sudah!

 

Masih sama, api yang mengobar di jiwa

Memancar malam, memancar tubuh

Perasaan kusut terlucut debu

Kentara tak sampai tuk bercium

 

Suara sengau laut

Di bawah bulan sepi

Ada suatu buat cintaku

Segala adalah kepuasan birahi

 

Sendiri! Telah ku bawak luka ini

Bertahun-tahun bersama 'kan merapuh

Mengapa cepat benar kau berlabu

Sebelum cinta kita benahi kembali

 

Gadis manisku, jauh di luas samudera

Kalau ku terluka mengembara, kau bahagia menyendiri

 

25, Mei 2021

Willy shayudana

 

 

Malam Minggu

Lagu-lagu yang mengiringi kelamnya malam

kita bertemu bagai sepi yang tak kunjung selesai

melaju kereta, pilih segala kemesraan mendalam

merada hari ke hari menerima sendiri, 


dekat di persimpangan

hati merasa cemas

menatap mata yang beku dan kosong

masih terpendam menelusuri lorong-lorong berhadapan hilang bentuk, yang tiada arti


bagaimana kita bercerita? 

Sedangkan waktu menikam kesunyian ini

terbawa roh ke ujung penyesalan, yang harus dan tetap di kunyah


hanya sedikit ria bercampur tangan

berupa wajah berkaca-kaca dengan bibir terjahit

jalan terluang harap dan mati

begini juga bedil yang melacur doa? 


Malam yang panjang dan dingin

pada keramaian yang mengabur

di kaki malam yang sepi dan kabut angin 

tertiup suara, dan kisah cerita terlesu melebur.

 

Medan, April 2021

Willy shayudana

 

 

Abooi

 

Di dalam rumah tua bercerita kisah

Walau sebentar, kalbu merada dosa 

Debu suci memanggil, berapa waktu lagi beradah

Siap yang segala tiba - terberi pasrah duka

 

O, raut wajah melamun diri 

Nanak darah perlahan tak mengalir 

Sudah tau, dan ajal menanti 

Makam terbuka mendalam tak berarti

Lemas badan+pahit luka penyakit tua 

Sungguh dupa berbaris?

 

Sedekah ikhlas! Tak sadar geriah nyawa 

Tertidur abadi di kepala yang panas tinggi

Nafas selehai perlahan tak menghirup udara

 rubuh tubuh yang dingin seperti es Serbia 

Bagaimana begitu mudah untuk berpulang ?

 

O, hidup siapa yang tau!

Menentu hari semakin rendah, 

Sedangkan takdir datang menjemput.

Roh terlahan tercabut dari kerongkongan,

Jauh terbang ke alam sorga, berselimut susu.

 

22, Juni 2021

Willy shayudana

 

 

Tempat jalan pulang

 

Bukan ajal yang benar tertikam terali

Di atas mengubur suatu tiba 

Beri suatu hidup menyebur sorga sendiri

Bunda! Bunda!

Tak ku tau setinggi duka Maria 

 

Mdn, Juni 2021

Willy shayudana

 

 

 

 

 

 

 


Willy shayudana, penyair asal Deli Serdang, Sumatera Utara. Proses pembentukan puisi-puisi hidup, cita-cita dan cinta.


 

Komentar

Foto Willyshayudana

Keren

Keren

Willy shayudana

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler