Skip to Content

16 Puisi, Antologi Penyair Yang Telah Sampai, Agung Gema N

Foto Agung Gema Nugraha
files/user/14117/IMG_1778195469938.png
IMG_1778195469938.png

Antologi Penyair Yang Telah Sampai, 16 Puisi

 

TUJUAN YANG BERBEDA


Sayembarakan kasihmu di antara muka-muka

yang haus manipulasi kecantikan berbicaramu

Aku tidak tertarik dengan pemujaan

moleknya majas perumpamaan

dalam retorika panggungmu


Biarkan kebisuan kataku memenuhi

lembaran buku-buku

dan ulasan puisi sederhanaku

Kita punya tujuan visi misi berbeda

Mungkin akan bersua pada suatu masa

Atau tetap terpisah luas tujuh samudra





MERAJUT MIMPI


Merajut kembali mimpi yang sirna

Aku berbicara lewat puisi

Kerenggangan masa kita bertemu

Menciptakan dalamnya telaga rindu


Biarkanlah ilalang politik cemburu

Teman bermuka empat dirasa tak perlu

memasuki gerbang hati kita 

yang terbuka penuh kegembiraan 


Cinta adalah pencerahan

Anugerah alam 

Pertama tercipta kehidupan





SENARAI ROMANTIKA


Merayu dirimu dengan kata-kata ajaib

berharap luluh ke pangkuanku

Aku membuka senarai romantika

kamus bacaan lama yang terlupa


Terhanyutlah segala waktu

Pikiranku terbawa arus kali 

indahnya puisi

Kisah duka, gembira dan sepi


Kehadiran kalimat keramat melenyapkan

keinginanku untuk memilikimu




GELAS PLASTIK


Menatap gelas plastik

di bawah urat-urat senja yang lentik

Aku menghabiskan waktu bersamamu

Menekuni diri dalam laju detik kalbu


Uang recehan terurai di meja

air mata sepi tulisan puisi


Semangatku sedikit terotak-atik

Terkaca pada genangan kopi

yang tumpah karena lelah bertepi




WANITA YANG MENANTI SUAMINYA


Kamar kontrakan yang selalu hambar

tanpa getar suara suaminya

Wanita dipusingkan dengan tagihan

tetangga dalam enam bulan terakhir


Menggurat berpagar pipinya

kendur luntur hiasan wajahnya

Pucat pasi menutup tirai sepi

Menanti

Kepiluan rasa palung samudra

Kunang-kunang pandangan matanya


Wahai wanita sejauh mana dia setia

Kehadirannya belum terlihat juga




PENYAIR YANG TELAH SAMPAI


Mencantumkan namamu dalam catatan

puisi kesunyianku

Pelarian cintaku sampai pada halusnya

ikatan benang-benang perasaan

naluri kasih sayangmu


Penyair yang sudah melewati bukit

lembah lelah dan kawah angan-angan

Tanpa singgahan kerinduan

Kini tergolek di satu pangkuan


Menyadari keterbatasan diri 

sebagai manusia yang butuh teman setia

Kupilih kamu bersanding denganku

Maka sampailah kebenaran pencarianku




PENGELANA YANG TERASING


Terbiasa menggenggam tanganmu 

dalam perjalanan senjaku

Ketiadaanmu mendukung kehampaan

gairah dendam langkahku


Sang pengelana yang telah melewati

berbagai alur pijakan hari-hari

keras lembutnya bulan-bulan

Kini terperangkap jerat bayangan

kata-kata kamar kesunyian


Melalui kesendirian 

menerjemahkan keterasingan 




KAWAN YANG BERKARISMA


Tak berkutik menyeringai

Seni berbicaraku terjuntai

saat berhadapan denganmu

Karisma pemikatmu meluncurkan

Senjata rahasia dari kedalaman

lautan samudra keilmuwan


Sungguh membuat terkesima

Zodiak Bintang Opiuchus menyala

Menaburkan energi semesta

Malam empat belas

Tak sanggup tatapan kulepas





MELEPAS RINDU


Kita berbicara apa saja

di tanah perak yang berdebu

karena hatiku mendengarkan hatimu


Obrolan seriosa dalam semalam

bagikan konser tunggal pertama

tanpa tawa dan kejutan romantika


Aku sudah melepas kulit rindu

ikatan ruh pada tembikar tabu

saat kau buat masa lalu





TANPA ARAL SUBAHA


Kita menari bersama iringan

melodi hari-hari yang dijalani

mengikuti irama sederhana

musik takdir tercipta

Tanpa aral subaha 

Angin masih berhembus 

berayun di bumi dengan pola mistis

Tak perlu bertanya mengapa

Kita manusia

Dosa dan kesalahan menyelinap

selalu mencari tempat pada diri

Lalu menyadari


Tanpa aral subaha

Keputusasaan gerbang kehancuran

Amarah tanda ketidakmampuan

menghadapi kondisi situasi 

sosial, mimpi, dan pribadi 

Pertengakaran ketidakluwesan pemikiran


Matahari besok kembali

Rembulan akan datang lagi 

Menengok perdamaian cinta

Kasih sayang Tuhan Maha Kuasa




BAGAI KEMBANG MEKAR DI GURUN


Bagai kembang mekar 

Di padang gurun sahara

Dalam puisi aku bertanya

Tapi tak mendapat jawaban

Modal utama negeri seni

Akan lenyap menjadi dunia mimpi

Jika respon hilang dalam dekapan


Bagai angin kembara

yang tak mendapat harga

Karya sastra kita lewat begitu saja

Menjadi ilalang rumput jalanan

tanpa tatapan ketajaman mata jiw

Persaaan mendalam

akan menjadi rembulan

yang dikarungi langit kelam 





BUDAYA PUISI


Angin masih segar 

menyentuh wajah permukaan samudra

Hatiku tegar

berlomba dengan AI dalam ekspresi rasa


Robot tak punya intisari

naluri kecerdasan alami

pikiran dan setitik cinta

Ia hanya menggenggam tema


Budaya puisi Indonesia

Mesti bangkit perkasa

membawa bendera manusia

yang memanusiakan 


Kemerdekaan yang nyata

bagi daya cipta


Semakin banyak isu sosial

maka akan menambah kekayaan

diksi terlukiskan kata bermakna

tema berima nada berirama




TIGA JAM BERJALAN


Tiga jam berjalan melewati 

pusaran debu gelombang zaman

Aku mengumpulkan jimat kesaktian

koin receh kehidupan

Demi pembelian buku pelajaran

lembar kerja siswa

yang menjadi pertanyaan

tanpa jawaban.


Pengembaraanku sampai kepadamu

Gerbang seratus juta langkah

tak ada jaminan

dunia khayalan keilmuan

yang tak menyimpan pijakan


Tiga jam aku kalah dalam berperang

melawan masa depan





SAJAK DUA PULUH KILO


Dua puluh kilo aku berjalan

Mencari mustika dua lembar uang

Untuk membayar buku pelajaran

Ekstrakurikuler, les, dan touring

Saat bulan, minggu, hari berdering


Sekolah Dasar tidak mudah

Meski tanpa masa depan

Banyak pikiran lelah

Yang mesti dikeluarkan


Menyalalah sukmaku

Menyentuh gerbang langit biru

Bersenandung nyaring suara gitarku

Kugandeng kamu dan kekalahanku





SAYAP CINTA


Sayap cintamu tidak peka 

kembara terhadap kenyataan

Terlalu narsis dalam kepribadiaan

Aku ragu untuk mengakui

kamu sebagai pembimbingku

Teduhan itu ternyata sementara waktu


Dua puluh lima tahun

Aku di jalanan

Tak ada perubahan.

Tanpa pegangan meyakinkan


Kamu datang membawa kembang

berwangi angan-angan tanpa kepastian

Aku berpindah dari suatu keadaan

yang tanpa kutahu dan kumengerti

kenapa itu bisa terjadi?

Dan tetap di jalanan ini


Kusimpulkan bukan ujian kehidupan

Tapi rencana pembangunan manusia

dan alam kurang perhitungan

Dan pemberdayaan entitas dari ruang

niat baik terhalang sistem kolonial

Keserakahan untuk saling berdiri

menjatuhkan hati




PERMADANI PUISI


Puisiku datang bukan dari kebencian

Tapi dari bisikan sinar kepeduliaan

yang dijazahkan tuan malak metatron

Ia bagai hukan gerimis turun

saat kekeringan bumi tandus


Puisiku tumbuh sebagai rumputan

lalu ditebang dan terbang

Menjadi permadani

Pijakan perjuangan yang hilang

pandangan


Tapi ia hadir dalam kenyataan

 

 

Bandung

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler