Antologi Penyair Yang Telah Sampai, 16 Puisi
TUJUAN YANG BERBEDA
Sayembarakan kasihmu di antara muka-muka
yang haus manipulasi kecantikan berbicaramu
Aku tidak tertarik dengan pemujaan
moleknya majas perumpamaan
dalam retorika panggungmu
Biarkan kebisuan kataku memenuhi
lembaran buku-buku
dan ulasan puisi sederhanaku
Kita punya tujuan visi misi berbeda
Mungkin akan bersua pada suatu masa
Atau tetap terpisah luas tujuh samudra
MERAJUT MIMPI
Merajut kembali mimpi yang sirna
Aku berbicara lewat puisi
Kerenggangan masa kita bertemu
Menciptakan dalamnya telaga rindu
Biarkanlah ilalang politik cemburu
Teman bermuka empat dirasa tak perlu
memasuki gerbang hati kita
yang terbuka penuh kegembiraan
Cinta adalah pencerahan
Anugerah alam
Pertama tercipta kehidupan
SENARAI ROMANTIKA
Merayu dirimu dengan kata-kata ajaib
berharap luluh ke pangkuanku
Aku membuka senarai romantika
kamus bacaan lama yang terlupa
Terhanyutlah segala waktu
Pikiranku terbawa arus kali
indahnya puisi
Kisah duka, gembira dan sepi
Kehadiran kalimat keramat melenyapkan
keinginanku untuk memilikimu
GELAS PLASTIK
Menatap gelas plastik
di bawah urat-urat senja yang lentik
Aku menghabiskan waktu bersamamu
Menekuni diri dalam laju detik kalbu
Uang recehan terurai di meja
air mata sepi tulisan puisi
Semangatku sedikit terotak-atik
Terkaca pada genangan kopi
yang tumpah karena lelah bertepi
WANITA YANG MENANTI SUAMINYA
Kamar kontrakan yang selalu hambar
tanpa getar suara suaminya
Wanita dipusingkan dengan tagihan
tetangga dalam enam bulan terakhir
Menggurat berpagar pipinya
kendur luntur hiasan wajahnya
Pucat pasi menutup tirai sepi
Menanti
Kepiluan rasa palung samudra
Kunang-kunang pandangan matanya
Wahai wanita sejauh mana dia setia
Kehadirannya belum terlihat juga
PENYAIR YANG TELAH SAMPAI
Mencantumkan namamu dalam catatan
puisi kesunyianku
Pelarian cintaku sampai pada halusnya
ikatan benang-benang perasaan
naluri kasih sayangmu
Penyair yang sudah melewati bukit
lembah lelah dan kawah angan-angan
Tanpa singgahan kerinduan
Kini tergolek di satu pangkuan
Menyadari keterbatasan diri
sebagai manusia yang butuh teman setia
Kupilih kamu bersanding denganku
Maka sampailah kebenaran pencarianku
PENGELANA YANG TERASING
Terbiasa menggenggam tanganmu
dalam perjalanan senjaku
Ketiadaanmu mendukung kehampaan
gairah dendam langkahku
Sang pengelana yang telah melewati
berbagai alur pijakan hari-hari
keras lembutnya bulan-bulan
Kini terperangkap jerat bayangan
kata-kata kamar kesunyian
Melalui kesendirian
menerjemahkan keterasingan
KAWAN YANG BERKARISMA
Tak berkutik menyeringai
Seni berbicaraku terjuntai
saat berhadapan denganmu
Karisma pemikatmu meluncurkan
Senjata rahasia dari kedalaman
lautan samudra keilmuwan
Sungguh membuat terkesima
Zodiak Bintang Opiuchus menyala
Menaburkan energi semesta
Malam empat belas
Tak sanggup tatapan kulepas
MELEPAS RINDU
Kita berbicara apa saja
di tanah perak yang berdebu
karena hatiku mendengarkan hatimu
Obrolan seriosa dalam semalam
bagikan konser tunggal pertama
tanpa tawa dan kejutan romantika
Aku sudah melepas kulit rindu
ikatan ruh pada tembikar tabu
saat kau buat masa lalu
TANPA ARAL SUBAHA
Kita menari bersama iringan
melodi hari-hari yang dijalani
mengikuti irama sederhana
musik takdir tercipta
Tanpa aral subaha
Angin masih berhembus
berayun di bumi dengan pola mistis
Tak perlu bertanya mengapa
Kita manusia
Dosa dan kesalahan menyelinap
selalu mencari tempat pada diri
Lalu menyadari
Tanpa aral subaha
Keputusasaan gerbang kehancuran
Amarah tanda ketidakmampuan
menghadapi kondisi situasi
sosial, mimpi, dan pribadi
Pertengakaran ketidakluwesan pemikiran
Matahari besok kembali
Rembulan akan datang lagi
Menengok perdamaian cinta
Kasih sayang Tuhan Maha Kuasa
BAGAI KEMBANG MEKAR DI GURUN
Bagai kembang mekar
Di padang gurun sahara
Dalam puisi aku bertanya
Tapi tak mendapat jawaban
Modal utama negeri seni
Akan lenyap menjadi dunia mimpi
Jika respon hilang dalam dekapan
Bagai angin kembara
yang tak mendapat harga
Karya sastra kita lewat begitu saja
Menjadi ilalang rumput jalanan
tanpa tatapan ketajaman mata jiw
Persaaan mendalam
akan menjadi rembulan
yang dikarungi langit kelam
BUDAYA PUISI
Angin masih segar
menyentuh wajah permukaan samudra
Hatiku tegar
berlomba dengan AI dalam ekspresi rasa
Robot tak punya intisari
naluri kecerdasan alami
pikiran dan setitik cinta
Ia hanya menggenggam tema
Budaya puisi Indonesia
Mesti bangkit perkasa
membawa bendera manusia
yang memanusiakan
Kemerdekaan yang nyata
bagi daya cipta
Semakin banyak isu sosial
maka akan menambah kekayaan
diksi terlukiskan kata bermakna
tema berima nada berirama
TIGA JAM BERJALAN
Tiga jam berjalan melewati
pusaran debu gelombang zaman
Aku mengumpulkan jimat kesaktian
koin receh kehidupan
Demi pembelian buku pelajaran
lembar kerja siswa
yang menjadi pertanyaan
tanpa jawaban.
Pengembaraanku sampai kepadamu
Gerbang seratus juta langkah
tak ada jaminan
dunia khayalan keilmuan
yang tak menyimpan pijakan
Tiga jam aku kalah dalam berperang
melawan masa depan
SAJAK DUA PULUH KILO
Dua puluh kilo aku berjalan
Mencari mustika dua lembar uang
Untuk membayar buku pelajaran
Ekstrakurikuler, les, dan touring
Saat bulan, minggu, hari berdering
Sekolah Dasar tidak mudah
Meski tanpa masa depan
Banyak pikiran lelah
Yang mesti dikeluarkan
Menyalalah sukmaku
Menyentuh gerbang langit biru
Bersenandung nyaring suara gitarku
Kugandeng kamu dan kekalahanku
SAYAP CINTA
Sayap cintamu tidak peka
kembara terhadap kenyataan
Terlalu narsis dalam kepribadiaan
Aku ragu untuk mengakui
kamu sebagai pembimbingku
Teduhan itu ternyata sementara waktu
Dua puluh lima tahun
Aku di jalanan
Tak ada perubahan.
Tanpa pegangan meyakinkan
Kamu datang membawa kembang
berwangi angan-angan tanpa kepastian
Aku berpindah dari suatu keadaan
yang tanpa kutahu dan kumengerti
kenapa itu bisa terjadi?
Dan tetap di jalanan ini
Kusimpulkan bukan ujian kehidupan
Tapi rencana pembangunan manusia
dan alam kurang perhitungan
Dan pemberdayaan entitas dari ruang
niat baik terhalang sistem kolonial
Keserakahan untuk saling berdiri
menjatuhkan hati
PERMADANI PUISI
Puisiku datang bukan dari kebencian
Tapi dari bisikan sinar kepeduliaan
yang dijazahkan tuan malak metatron
Ia bagai hukan gerimis turun
saat kekeringan bumi tandus
Puisiku tumbuh sebagai rumputan
lalu ditebang dan terbang
Menjadi permadani
Pijakan perjuangan yang hilang
pandangan
Tapi ia hadir dalam kenyataan
Bandung

Komentar
Tulis komentar baru