Skip to Content

68 PUISI UNTUK BULAN JULI, KRISTAL KESADARAN, SEBUAH ANTOLOGI

Foto Agung Gema Nugraha
files/user/14117/IMG_1783344591738_1.png
IMG_1783344591738.png

ANTOLOGI PUISI BULAN JULI 2026

ditulis tanggal 1-8 Juli

Karya Agung Gema Nugraha

 

 

 

 

 

 

 

 

 




68.

HASRAT MUSIKAL

 

Kamu ada di belantara hasrat musikal

yang berkekalan berpadu di lembah kalbu

 

Jari-jari cintaku yang berdebu

Memetik senar langit biru

Dalam pilu

aku perlihatkan ketegaranku

Inilah nyanyian dari kedalaman nuraniku

 

Kamu tak sanggup kusembunyikan

di tebal bebalnya saku baju dustaku



66.

MAKNA MUSIKALISASI PUISI 

 

Memusikalisasi puisi bagaikan menyantuni

kehampaan diri di istana kerajaan

melodi dan kata-kata

 

Nada yang mengembara 

menyatu bersama irama sang kembara

“Cintanya terlalu lama tiada kunjung tiba.”

Namun semangat perkasa

Adalah dentingan senar harapan

Berbunyi selalu bernyanyi

Menyampaikan pesan-pesan sunyi



65.

MENSYUKURI HARI

 

Mensyukuri hari-hari yang penuh

keberuntungan adalah mengolah daya

potensi di dalam jiwa agar setia berjaya

berbunga karisma dengan kemantapan

etika yang berbudi luhur

 

Terhadap alam dan kemanusiaan

Kita berdedikasi merangkai doa

di balik gubuk tirai harapan 

 

Tuhan selalu melimpahkan kebijaksanaan

Memberi jalan lapang dan pilihan terang




64.

MALAM BULAN JULI

 

Malam bulan Juli

Adalah perayaan bianglala di taman

bermain mimpi dan kehidupan

Ada seribu tukang dan pedagang

Rembulan gemilang

Tapi perih karena tak dipandang

Begitu juga bintang malang

Tiada mata memerhatikan

 

Malam bulan Juli

Nyanyian pasar, tawa, tangis jingga

Goresan bayang muka teman lama

berulang kali terbit seolah matahari

“Ini malam.” Hutang dalam kelam

Adalah hantu yang menipu rasa rindu



63.

SEPERTI IBNU SINA

 

Seperti Ibnu Sina yang mengembara

mengitari tubuh, angka, huruf dan alam

Aku mencari lubang-lubang

satu jalan berpori penyambung urat nadi

rindumu kepadaku di bawah kulit matahari

 

Angin terasa merinding di daging 

tapi membawa kesegaran nurani

menumpas panasnya emosi

Malam meresap dingin menusuk jantung

tipisnya dadaku yang kurang beruntung

 

Kekasih hati adalah dunia filosofi

pengobatan, fisika dan sistem ekonomi 

Tak terbantahkan ia berdaya naik turun

terkadang demam, influensa 

batuk berdahak atau napasnya sesak

 

Ibnu Sina sang polymath cerdas

Beruntai berlian terang tegas

Berkalung bunga pilihan langka

panutan semesta raya

Sementara aku gugur lebur

dungu berdebu karena cinta




62.

MUTIARA KAWAN LAMA

 

Mengungkap kebenaran lewat bahasa

yang kau ucapkan bagaikan mencari 

mutiara merenangi laut lepas

tanpa batas

 

Gelombang selalu menerkam

Karang tegak tajam kelam perkasa

Setiap jeratannya adalah belati

pembusukan luka

 

Dan mutiara itu pecah 

terbawa kuat arus menggerus

dunia antah-berantah 




61.

JATU BULAN JULI

 

Adalah cinta di balik kilap mutiara

 

Bukan perahu lintasan samudera

Tapi daya dari setiap kata

untuk saling percaya dan menjaga

 

Jatu bulan Juli

Adalah kebersamaan memaknai sepi

Di mana kehidupan tak boleh berhenti



60.

DISKUSI POLITIK BULAN JULI

 

Membicarakan politik bersamamu 

aku melepaskan diri dari kebencian

hatimu yang bimbang di persimpangan

bulan Juli ini

Apa dikata jika kita bukan siapa-siapa

Receh pun tiada nampak di mata

 

Kegalauanmu terjatu di jidatku

merayap gelap berat di kepalaku

Karena pembacaan makna lukisan

berita itu terjadi dari pantulan

fatamorgana padang gersang

Hutang tetap mesti terbayarkan

Frasamu membuatku sejenak susah buang air besar

 

Diskusi kita hanya menjadi uap

meluap ke angkasa

Karbondioksida ketika tertidur lelap

di atas bantal cinta



59.

KRITIK BULAN JULI

 

Kritik bulan Juli adalah pertentangan

antara ego dan ketidakmampuan

menghadapi zaman

 

Sinar langit menikam mimpi malam

Ambisi memuncak ke cakrawala

Di belantara hasrat yang selalu

mengembara ke berbagai arah

Kita lupa bunga-bunga cinta

pernah menjadi hiasan di dalam dada

Kemudian tersia-sia

Karena pengejaran dendam 

akan kehidupan – pencapaian tujuan

tidak pernah terselesaikan

 

58.

TEH BULAN JULI

 

Teh bulan Juli dari tangan kekasih

Adalah kehangatan tanpa bahasa

yang terwujud dari kehijauan 

semangat masa kini

 

Ia menjadi spirit

penegur perjuangan kala waktu

hampir berhenti di kaki sepi



57.

KRISTAL KESADARAN

 

Memecahkan kesadaran yang membeku

bagai es batu 

Aku mendapatkan kristal-kristal cemerlang

Kilauan pemikiran tak terduga 

dari delapan arah penjuru gerbang gaib

 

Oh kerlipan tanda mistik penuh keunikan

Bagaimana aku ungkapkan titik kejadian

kini telah tergambarkan jelas paripurna 

 

Angin tertuang ke dalam gelas kaca

Lalu luka berpulang ke asal lahir

Pergilah duka cita dendam derita

Karena kristal kesadaran 

Adalah pusaka bagi jiwa cakrawala



56.

MADU DARI IMAM GHAZALI

 

Mendapatkan madu dari Imam Ghazali

Bagai melimpah segala cahaya ilmu

tiga masa dalam satu metode berkarisma

Penuh perbawa 

Mengandung nektar sastra bahasa

 

Rasa memancar adalah ketulusan kesungguhan nyata seorang insan

Renungan kebenaran menyiram

kering pemikiran yang karam

di padang lautan zaman

 

Satu kalimat

menumbuhkan dialog spirit 

antara dua alam

 

Apakah ini keajaiban jiwa?

Setiap bab mengandung daya 

membuat berjaya roh dan tubuh

yang hampir rapuh 



55.

MENJUMPAI ARISTOTELES

 

Menjumpai Aristoteles 

Aku menyimak arus kali yang mengalir

dari hulu ke hilir dengan tenang

Meresap ke tanah dan bebatuan

 

(Di sini mawar telah tumbuh

berkembang mengeluarkan duri

dan semerbak wanginya menghiasi sepi)

 

Aristoteles berdiri bercakap murni

tentang daya akal karisma logika

Dan menemukan bait Nama

yang sebenarnya persis sama

jika diresapi dihayati

sejak dahulu kala hingga satu masa




54.

AGUNG GEMA BULAN JULI

 

Agung Gema masih inspiratif masif 

seperti jet tempur yang bermanuver

di langit jingga dua ribu empat puluh lima

Apakah ini serangan ide

ataukah gemuruh jiwa di antara mega

senja cakrawala kehidupan?

Yang pasti bukan buzzer bayaran

apalagi propaganda puisi dan tulisan

 

Uap dari palung pemikiran terdalam

Imajinasi-imajinasi perjalanan terekam

serupa sekam terhambur di awan

menggempur badan dan tanah basah

Bagai alang-alang rumputan planet tujuh

catatan mistik pinggiran 

mengetuk budi empati tertinggal

 

Agung Gema menyulap sikap

bak polymath alGeber 

mengubah bahan batuan biasa

menjadi emas menyala




53.

MENYIBAK

 

Serak berderak berbicara pengalaman

menyibak hikmah yang terkandung

dalam pahit peuheur-nya perjalanan

sahabat tempat berbagi pemikiran

Aku mendapatkan sungai frasa

makna kuat di lubuk jiwa

 

Setiap generasi punya kesempatan

untuk melawan deritanya

Tapi keraguan menjadi dinding

saat mesti melangkah 

kala hening hilang 

daya semangat perubahan

 

Ya akhirnya kita bertemu di sini

pada nominal usia berbeda

Lalu mencoba menjawab persoalan

lingkup sosial sakralnya 

dunia psikologi sejarah yang sama 




52.

SAHABAT DARI KAMPUNG LEGOK

 

Mendengarkan gema gemuruh 

gejolak jiwa sahabat setelah 

menyimak pasang surut

gelombang lautan dalam kehidupan

adalah merasakan betapa manusia

memiliki keterbatasan untuk berbuat

 

Kampung Legok Kampung Legok

Nama berganti 

waktu berputar tanpa henti

Dan sang matahari sudah tua kini

Rembulan yang dulu gagah berani

sudah lelah lunglai menyala malam hari




51.

YANG MENGEMBARA

 

Yang mengembara adalah benih

akal dan pikiran dari pancaran nyawa

konsekuensi kehidupan badan

 

Kamu kekasihku, riuh redupkan

panasnya bara hasrat di dada

Maka perjalanan panjangku

terhenti di kursi kasih sayangmu

bertahtakan harapan masa depan





50.

YANG BERNYAWA

 

Yang bernyawa yang tak boleh 

ditangkap apalagi dilombakan

 

Senyum-senyum menangkap ikan

Satu nyawa adalah napas kehidupan

 

Yang bernyawa mesti terpelihara

dengan cermat

Ada rasa ada kecewa kesakitan

Suatu saat bisa mungkin manusia





49.

ANGIN API

 

Angin Api Angin Api

Kita kentut sambil berdiri

Menggaruk-garuk kepala tanpa 

rasa gatal karena berpindahnya

suatu pandangan moral 

 

Angin Api Angin Api

Sakit di ulu hati, lambung dan pekerti

Menjadikan eksim di kulit kaki

Panasnya hari serupa tungku tirani

 

Angin Api Angin Api

Bagaimana kita mengemudikan ini?

Zaman yang kita tidak pahami 

Sikap gelap mata menyalak

 

Angin Api Angin Api

Kobaran gersang di musim paceklik

Memporak-porandakan cita dan harapan




48.

SISIR BESI

 

Sisir Besi 

pertarungan hidup bergengsi

Antara kecakapan dan teknologi

Kita tak lagi berpikir akan suatu arti

Karena rambut dirantai matahari

 

Sisir Besi

Kerasnya cinta dalam upaya jiwa

Menanti keajaiban tak kunjung tiba

 

Sisi Besi

Uang – kekuasaan memegang peranan 

yang melemahkan anugerah harapan




47.

MEMBUKA PINTU PERSAHABATAN

 

Membuka pintu persahabatan kembali

setelah berulang kali terkhianati

Seperti menanggung cakrawala gelap

yang merayap mendekap bumi

Terlalu banyak perumpamaan

Tiada menjadi cermin bagi kehidupan

Akhirnya tersia-sia juga dalam hina

dan cela derita karena kita memulainya

 

46.

MENGENDARAI PAGI

 

Mengendarai embun pagi 

memadamkan mimpi-mimpi malam 

kemarin yang terbakar karena amarah

perjalanan adalah menghidupkan

kembali diri dalam kesejatiannya

 

Maka aku tulis puisi ini

Sebagai kotak kenangan agar generasi

depan dapat menimbang akan emosi

sesaat dari ego sesat dan ambisi kuat

yang menyengsarakan



45.

YANG TERPECAH

 

Yang terpecah karena utang 

Sahabat melenggang otot meregang

Uang belum terbayarkan

Adalah pupuk karma di masa depan

 

Putus rantai, lautan tak berpa tai

Serabut rambut tersulut api dengki

dan urat-urat adalah babat

 

Semula kita erat saling salaman

Jika berjumpa tegur sapa tak lupa

Ramah dan tabah

Tapi kini petir itu menyambar-nyambar

Di depan mata

Dan hantu muka sangat seram

Menakutkan seperti film horor

Roh mimpi gentayangan 

Di malam menjadi mutan-mutan



44.

KERAK SAMPAH

 

Kerak Sampah Kerak Ludah

Mekar mengekar menjadi tikar

Motif lukisan di dinding buta

Apakah itu keajaiban tanpa mata?

atau seni berani protes sosial?

 

Kemarin kini sama seperti

ulangan yang belum ternilai

Salahkan siapa? Aku tak punya gaji

Untuk membersihkan, hasil mengamen 

tak cukup buat beli lap, sapu sarana

alat menjaga lingkungan

 

Kerak Sampah Kerak Ludah

Dahak dan ingus memberangus

Taman-taman, rumah, pemukiman



43.

SEBAGAI SENIMAN

 

Berbantal berlengan tak lupa

Aku kendalikan emosi jiwa

 

Hari itu selalu berbalik

Seperti guling

Biar bumi bertanding

Kita akan tidur pulas 

Lalu pura-pura ngelindur

 

Sebagai seniman

Aku punya harapan

Dalam goresan gambar

Atau tanda tangan terkaca

sikap yang kudekap



42.

KARYA KOPI

 

Karya kopi kemelut kangen

bercengkrama derita

karena larut lunglai dukacita

 

Pergumulan teori biru menggebu

Tapi kegagalan selalu ada melagu

 

Oh sandal-sandal jepit langit

Sampai kapan aku bisa merakit

melintasi sunyinya nebula 

menuju Sirius agar tiada tergerus

ego dan ambisi yang terus menerus?

 

Oh asbak-asbak di kepalaku

Rambut beriak hatiku mesti tegak




41.

DI MUSIM KERING

 

Agung Gema pulang, peniti hari

menautkan kusutnya pekerjaan rumah

agar tersambung terang harmonis

 

Sapu lantai berjodoh dengan cucian

piring dan baju kecuali rindu

Agak sedikit terlupakan dulu

Air toren mesti dinyalakan

biar penghuni merasakan kesegaran

Sampah harus dibuang

supaya tidak tertular penyakit panas

 

Semua kemustahilan bisa terjadi

dan dapat diatasi

Ternak – tanaman senang makanan

Seperti aku ngemil apa yang terpandang

 

Detik ke jam loncat bagai tupai

Padi menguning di malam hening

Suasana kendaraan sudah tak bising

 

Di musim kering



40.

BISINGNYA GANG

 

Bisingnya gang

Adalah kurangnya aturan

Angin menggelembung

Dan suara kendaraan lalu-lalang

Knalpotnya menggugurkan dedaunan

Akhirnya menjadi sampah berhamburan

Remaja bercanda bermain gitar

Di sudutnya mesra bercintaan

 

Bisingnya gang

Tanpa bintang apa yang bisa dilakukan

Kita perlu satu tokoh perbawa

untuk dihormati dalam karisma

Agar tak ada keributan setelah habis mega



39.

KAMBOJA KUBURAN TUA

 

Terbelalak teringat ia akan satu masa

Saat bunga kamboja menggoda 

“Itu kuburan tua!”

Beratus-ratus tahun tanpa jiwa

Anginnya santer

Suara-suara kabut merasuki mimpi

Jalannya rimbun tak tersentuh mentari

Malam pun getir dalam dan sepi

 

Ya telah lama tertinggal terasingkan



38.

KOPI LUKA

 

Kopi Luka hitamnya bersandar masa

di mana ia terkena lambung karena cinta

Oh lelaki yang terasing kata-kata kekasih

Masih melagu juga lewat sajak rindu

 

Kopi duka gocekan sendok tembaga

adalah ia hendak bicara

Pada alam hampa tanpa telinga

Lelaki tak boleh hanyut tenggelam telaga

Karena hidup bagai matahari

yang tak boleh meredup




37.

LELAKI MUDA POLOS

 

Terlalu tertengadah ia 

Melihat bunga kelayapan serupa Orion

menyala dengan jendela tangan terbuka

 

Nebula angan berhamburan sebagai

souvenir jelita di malam pertama

Dan ia polos menangkapnya sepenuh jiwa

 

Semua itu jutaan kilometer untuk teraih

Yang hijau muda batang pejuang 

mengedipkan mata berani bermimpi

Mengejar waktu masa depan

Adalah dengan giat di kala kini



36.

DUPA HARI

 

Dupa hari dupa yang tak pernah jadi

tumbuh sebagai kenyataan mimpi

Adalah hasrat terburu menggebu

akhirnya terbebani

Tinggal tangkai lamunan rimbun sepi 

 

Dupa hari mengigau aku

akan batasan persahabatan 

Ketergantungan duri di dalam badan

 

Dupa hari mengepul ke atap langit

Menyeru berbagai penguasa

kulantunkan mantra-mantra

nama-nama asing di bawah sinar bulan



35.

KAMPUNG SILUMAN

 

Kebun dan gubuk yang runtuh

Jejak jerami kutinggalkan dengan lapang

Tahun-tahun nanti kan tergantikan

 

Kampung siluman

Pernah ada setangkai harapan muda

Anginnya sejuk kureguk 

Embunnya dingin meresap merinding

Tiga puluh enam tumbak 

Tanah berombak

Ke mana arahnya jiwa berontak

Pohon kopi masih tegap 

Tapi hati enggan bersikap

Terlalu jauh bila kutempuh

 

34.

KEKASIH KEBERUNTUNGAN

 

Bagai al Khawarizmi yang berkutat 

dengan angka dan tanda pada matematika

Aku mengambil perwakilan elemen huruf

di bandul liontin lehermu 

Agar serasi dengan hitungan nama 

 

Kekasih kabut bayangan 

Dedaunan memiliki bentuk manuver

akan keberuntungan khasiatnya

Begitu juga dirimu mengembun fajar

kala turun dalam ingatan

Sehingga seribu puisi kuselesaikan

Karena ada kamu pada diriku




33.

GURU BUMI

 

Guru bumi 

Sang utusan dari galaksi bima sakti

Telah tertanam semangatnya

sebagai pemberi pencerahan malam

Sorot matanya adalah lembutnya angin

saat fajar pertama terbit

Dan wajahnya menjadi embun kesejukan 

hari harapan untuk masa depan



31.

BUNGA BESI

 

Bunga Besi Bunga Besi

Drama dendam melahirkan teka-teki

Ia terbentuk dari goresan gurinda

hubungan yang tersangkut misi

sebagai “ninja”

 

Bunga Besi keras – dingin

darahnya sudah terhisap doktrin

dari sulap kalimat yang membuatnya

tak boleh patah semangat



30.

KEJORA LIAR

 

Kejora liar kejora tak gentar

dengan ganasnya angin malam

 

Ia di pinggir jalan bagai patung 

termenung tiada bersenandung

Menantikan limpahan rezeki kelam

dari udara napas yang kasar

dan tak berperasaan

 

Kejora liar polos tertekan zaman

Karena ketentuan memaksa jiwa

untuk selalu berduka

Kejora tak tahu apa-apa

Mungkin pernah ia dikhianati cinta




29.

HADIAH KEKASIH BULAN JULI

 

Menyertakan martabak Bandung

kacang meses manis

sebagai hadiah perjalanan panjangku

saat hari sedang mendung

Kasihku berbinaran bintang bahagia

Betapa cinta tanpa celoteh

mendukung usaha dan keringat

yang jatuh ke tanah 

Pesannya serupa amanat keramat

 

Ah hakikatnya bagi segala kehidupan

adalah kesederhanaan dalam perhatian

sesuai kebutuhan dan keperluan




28.

SOTONG GORENG

 

Sotong Goreng Sotong Goreng

bersama tahu bulat lima ratusan

Aku mentraktir kekasihku

yang selalu lapang dalam zaman

 

Senja menggelayut di angkasa

Hatiku terpesona pada jingganya

cinta kita yang tiada butuh 

mahalnya harga

atau mewahnya suka ceria

 

27.

BAKSO IMUT

 

Bakso imut di balik kabut

mega bersatu padu

Menuntunku menemuimu

Kenangan kita saat hujan itu

 

Oh hangatnya cinta dalam sikap

ditemani saus pedas dan kecap

Adalah romantika waktu yang syahdu



26.

ASAP RINDU

 

Asap rindu asap kabut yang membiru

Ia terbang ke cakrawala hampa

Menjadi planet baru saat senjakala

 

Asap rindu keluh melepuh kehidupan

Angin mengintai dari delapan arah

Memojokkan sang pecinta dengan amarah

 

25.

INTROSPEKSI BULAN JULI

 

Melirik lagi masa sedetik tadi

adalah berintrospeksi diri

pada langkah manusia yang lalai

akan jalannya alam dan takdir

sehingga melupakan

adalah pengkhianatan akan kebaikan 

 

Kita tidak mau menjadi saksi

bagi kelemahan hati 

Dengan pergaulan pikiran gila logika

kita jadi tidak memahami satu nama

“rasa kasih cinta.”




24.

SETELAH KEMARAU BULAN JUNI

 

Setelah kemarau kemarin bulan Juni

yang penuh kesombongan

Hari ini sayap malaikat suci

mengepakkan kasih sayangnya

Tercurahlan air bekas ia bermandi

di telaga langit surga

menjadi kesederhanaan hujan bulan Juli

 

Insan tak perlu angkuh dengan materi

padahal keadaannya 

tiada pernah ia memahami

Insan lepaslah baju keegoanmu

sebab satu titik air menyegarkan

untuk kehidupanmu

rumit untuk kamu ciptakan





23.

HUJAN BULAN JULI

 

Ada muka yang membawa sukacita

dari rindu purba di bawah langit senja

Hujan bulan Juli

Kini telah turun lagi setelah tujuh tahun

bersembunyi karena langkah sehari-hari

awan tiada menepikan pesan harapan

mata air kehidupan surgawi

 

(Manusia melupakan kaitannya

dengan alam maka hujan pun enggan

memberi kedamaian)

 

Ada keangkuhan derita menjadi cerita

Hujan bulan Juli

menjadi penyadaran lelaki 

akan cintanya yang tak pernah ia akui



22.

PERTEMUAN SAHABAT BULAN JULI

 

Ia sudah bertemu jalanan berdebu

kubangan berlumpur dan selokan 

di bawah jembatan yang kotor

Bermandikan sampah berpadu lagu

kelu berbau seribu janji kehidupan

 

Juli, persahabatan akan berlangsung lama

Seperti bumi mengikuti matahari

 

Sebagai penyair 

kita menggelandang

ke lembah bunga berduri mimpi

menghirup uap kawah panas mengganas





21.

PENCIPTAAN PUISIKU

 

Puisiku ini terbuat dari sampah

kota, desa, jalanan – gang, dan rumah

yang diolah menjadi berlian merah

 

Gaji tersia-sia berhamburan sumpah

delapan penjuru arah

Lingkungan tiada bersih juga

Bagaikan hatiku kepadamu

 

Kita makan lalu terbuang

Kita mencari kerja terpaksakan

tanda tertanam malas-malasan

Pemanjaan adalah bulan di siang hari

Kita mendidik satu hal misteri

dengan pemenuhan kebutuhan

yang samar-samar penuh ketidakjelasan

Kurang menghargai potensi dalam diri

karena tidak peka kepada sang duka

Manusia lapar tak punya

Akhirnya selalu salah menunjuk orang

Menjadikan kebangkrutan harapan

masa depan

 

Maka pengangguranku adalah awal mula

penciptaan kritik tematik 

riak berontak rasa rematik 

Meski menukik tercekik

jari-jariku merayapi waktu membatu

berusaha bangkit dari lumpur dan debu




20.

ADA YANG TERTINGGAL

 

Ada yang tertinggal

Plato pemikir jitu dalam ide

Mewariskan mutiara-mutiara jiwa

Misteri metafisika 

 

Manusia bukan daging dan tulang

Tapi roh gemilang

Sejak zaman awal peradaban

Kaitan tali-temali gaib

telah terpasangkan 

Dari dunia berbeda ke tubuh sempurna

 

Kita lupa puisi dan sastra

Karena kandungan kurangnya kesadaran

akan hal yang menunjukkan “adanya”

hakikat rasa 

Terlalu terbungkus materi kasar

Akhirnya khawatir dan gentar



19.

ANGIN MITOLOGI

 

Angin mitologi

Adalah kekuatan energi hati

Ia bagai kesejukan yang lapang

Tapi juga ikatan perempatan 

stopan jalanan 

 

Angin mitologi

Tak bisa digenggam 

cuma terasakan menjadi batasan

 

Manusia memerlukan cerita

penyegaran dari panasnya api dunia

Kesemerawutan pikiran

adalah kerdilnya pengalaman

Dan tiada mendapat pencerahan

dari satu cerita masa lampau




18.

INI ADALAH BULAN JULI

 

Ini adalah bulan Juli

Dua ribu dua puluh enam

Katakanlah! Kenapa diam?

Jam waktu begitu liar

Jika mesti memastikan cintaku

Tak perlu kembali ke masa dulu

Tiga ratus juta tahun yang lalu





17.

KARPET RINDU 

 

Karpet Rindu

Terbang bagai meteor hitam

Betapa terbakarnya buah sanubari

Ketika tiba tanya di dalam diri

 

Karpet Rindu

Ketegaran penantian pilu

Semakin tipis teriris tangis

 

Cinta yang berabad-abad 

menjadi kepulan molekul berdebu



16.

KEMBALI KE LEUWI PANJANG

 

Kembali ke terminal Leuwi Panjang

adalah menemani nyanyi pagi

bulan Juli

setelah kegiatan sehari-hari terhenti

 

Bus kota kunaiki bersama mimpi

tanpa mengenyam raut muka

kekasih masa silam

Dan Dewi masih menunda tanda

Belum juga terbit di pelupuk mata

Tapi hidup tak boleh sia-sia

dalam kobarannya



15.

TANGIS BESI

 

Tangis Besi Tangis Besi

Betapa ganasnya satu pekerti 

Dan ia tak mau mengerti

 

Tangis besi Tangis Besi

Keras kaku pemikiran angan

Itu tak bisa dihancurkan



14.

PENA JULI 

 

Pena Juli 

Tintanya tersirap matahari

dari ufuk hari yang tak pasti

 

Pena Juli

Tiada tajam bagai gergaji

atau kilat pisau belati

Patah perintah hati nurani



13.

MAWAR TEMBAGA

 

Mawar tembaga

Adalah bunga persembahan zaman

Kebunnya sudah menjadi menara

Istrinya terbentur musim gugur

Segala jiwa keluarga menganggur

 

Mawar tembaga

Lelaki legam perkasa

Sudah lima tahun bertapa

bertambah tua muka

banyak berduka

Tak ada cinta 

jika tak menghasilkan 

Sebagaimana cahaya malam redam

bila bintang bulannya tenggelam

 

Ah kesendirian itu adalah pintu gila

Mawar tembaga




12.

BERAS BATIN

 

Beras Batin 

Angin menggelinding membawa kabar

tentang tanah subur tanpa penghuni

Sawah-sawah liar itu telah tertanam

gedung dan perumahan mewah

 

Beras Batin

Rakyatnya pergi ke lorong mega

Sambil melangkah menganga

menitikkan air mata tanpa suara

Karena bunyi habis termakan

excavator, tower crane

Palu besar menambah pilu

Concret pump, vibrator dan gergaji

menyayat sanubari

 

Beras batin




11.

PENYAIR PENGENDARA ALAM

 

Melepas bebas beban angan-angan

Adalah bentuk lain dari kedaulatan

dan keadilan daya manusia

 

Penyair adalah pengendara alam

tanpa perlu piagam penghargaan

Ia akan hidup 

Berdansa bersama kata

Biarpun di lingkaran hutan api

Tak butuh siraman wawasan tak pasti

atau seleksi bertaktik berbau politik

Karena sepi menjadi sahabat

bagi diri agar selalu bersemi

meresapi rasa rindu

Menyanyikan lagu mantra-mantra

Menyematkan diri pada restu leluhur





10.

PUISI TANPA KURASI

 

Adalah dia yang merasa langit kelabu

di dalam kalbu

Ada lorong sempit pada nadi langit

Puisiku tak butuh kurasi

Dia lahir dari cipratan sayap Mikael

sang pembawa hujan rahmat

kalimat keramat ibarat berkat

membasahi ranah beranda tua sastra

Biarkan berbicara

Mengabaikan mereka

Demi masa depan anak cucu kita



9.

RINDU BULAN JULI

 

Rindu bulan Juli bagaikan kali

yang membelah tengah hutan ingatan

 

Batu-batu setia bertapa

Gemericik air hadir berbicara

Serasa sesosok kekasih

Menyandarkan letih

 

Duhai dukacita pergilah ke rawa-rawa

Tenggelamlah di sana 

Biar kuhidupkan kemaraunya

dunia cinta bersama puisi dan kata




8.

DI ATAS SINGGASANA MIMPI

 

Menyendiri di atas singgasana mimpi

Aku bagaikan rembulan bulan Juli

Yang terbentuk dari tetesan air surgawi

Tak ada dendam ataupun khawatir

Benang-benang langit 

telah terkait

Esok begitu juga nanti

Adalah keyakinan pasti

Bahwa perjalanan manusia mengikuti

catatan Papan Kehidupan Misteri



7.

RUHANI BULAN

 

Ruhani bulan telah bangkit

bersama cancer menggeliat perkasa

Membawa nyanyian alam semesta

 

Oh air lautan yang memukau

berkedipan sinar bintang

di balik pohon bakau

 

Janganlah gemuruh gelombang itu

memekakan telinga

Karena kekhawatiran nyata

adalah ancaman memasuki senja



6.

MENULIS PUISI BULAN JULI

 

Menulis puisi bulan Juli

Adalah pengabdian harapan naluri

keadilanku pada negeri

Indonesia Sakti

 

Matahari memancar

Hatiku tergetar

Garisan elok nampak tiada berbelok memberi tanda keberuntungan

masa depan telah terang

dalam perjalanan gemilang

menuju bintang emas kehidupan

 

Sebagai penyair petualang

Aku menyingkap rahasia 

kehijauan kepulauan khatulistiwa

yang diapit dua benua dua samudra

Bahwa kebenaran rasa syukur itu

mesti ada; diolah diberdayakan

agar kehormatan manusia tetap terjaga




5.

MEMAHAMI SASTRA

 

Memahami sastra adalah mencoba

mengerti naluri manusia

Yang muncul melalui jembatan kalimat

tradisi kedirian tempat ia menggaruk

ruam-ruam sepi di kala terasa gatal

di lembaran pikiran dan hati

 

Menjenguknya berarti mendapatkan

bintang baru di cakrawala pengetahuan

Pandangan kebijakan akan adanya

suatu perasaan yang bagai tersembunyi

di ruang hampa namun mengudara

sayap-sayap kebebasan dunia

 

4.

TIADA YANG BERJAYA

 

Tiada yang berjaya selain cinta

Pada awal mula makhluk diberi nyawa

Cinta menjadi pokok murni

Kehidupan berdiri

 

Manusia Pertama kala turun dari surga

mengajarkan makna kejujuran rasa

Bagaimana kebenaran cinta itu

memerlukan pengorbanan, pengakuan 

dan penyerahan total

Sehingga keterkabulan terwujud

Seorang pilihan tunggal dari ratusan anak

adalah “Hadiah Ilahi” bagi kehilangan

dan tangisan yang bertahun-tahun

Maka dari situlah terbit keberadaan

Matahari datang membawa pencerahan

Harapan hingga akhir zaman





3.

MEREBUT KENANGAN JULI

 

Merebut kembali kenangan

yang pernah tertelan kesibukan sehari-hari

Aku mendapatkan segala bening air mata

pilu, haru; masa kanak-kanak 

telah membuahkan rindu

 

Setiap Lelaki punya nurani

Ia akan hadir ketika diingatkan lagi

Maka ucapan berakar dari naluri

yang disambungkan urat-urat kecil

unik, berakal dan gaib



2.

MEMASUKI JULI

 

Memasuki Juli adalah kembali

mencipta puisi

di bawah galaksi sepi

 

Angin ideologi pikiran yang bertabrakan

mesti tercairkan sebagaimana

elemen air di zodiak Cancer ini

 

Sejak zaman Enheduanna 

kemelut jiwa – sosial telah ada

Maka lahirlah kata-kata cermat

Untaian permata indah penuh berkat

Agar menjadi saksi 

eksistensi manusia mesti berdiri




1.

JENDELA PILIHAN

 

Membuka jendela 

Mengingat masa awal peradaban manusia

Di hujan lebat empat puluh hari

menenggelamkan bumi

 

Peleburan adalah kebangkitan baru

untuk membuka tiap tingkap langit biru

 

Oh takdir yang membawa perahu

dari satu kehidupan ke lain daratan

Teranglah bukit Judy, ararat, Turki

Karena sang utusan telah sampai 

membawa berkat – mukjizat

Dan catatan itu 

akan selamanya terkisah

menjadi sejarah keberadaan

Seorang Pilihan

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler