aku merasakan
keheningan serupa riuh cinta
yang ditulis jemari wanita di dada
anaknya. aku membacakannya
di antara gemetar dedaun
ketika angin berlarian ke arahmu,
mengembalikan sebuah ingatan
tentang yang pernah pergi
dan menanti tuk kembali.
seperti yang kautemukan
di atas meja senja, selembar cerita
yang kembali kaubaca, nanti,
ketika malam menawarkan
segelas teh dan alunan merdu
sebagai doa untuk kita berdua
yang sama membayangkan sesuatu
yang terlahir dari rahim pagi
esok hari.
Beyrut, Maret 2015
Komentar
Tulis komentar baru